Tok! Tok! Tok!
Ketukan demi ketukan itu terdengar. Aku membuka mataku perlahan. Hanya hitam yang terlihat. Udara terasa sangat menipis. Aku berusaha bergeliat ke kiri dan ke kanan. Namun, ruangan yang aku tempati terasa sangat sempit. Pergerakkanku terasa sangat kaku.
Aku mengernyitkan hidungku. Ada sesuatu yang menyumbat dalam rongga hidungku. Aku menghembuskan napasku dengan kuat, dan segumpal kapas terlempar begitu saja. Aku sedikit lega. Aku mulai bernapas dalam ruangan terasa sangat sempit.
Perlahan tanganku menyentuh langit-langit ruangan yang terasa sangat dekat dengan kepalaku. Aku menyentuhnya terasa kasar dan setiap langit terasa terbuat dari kayu. Aroma kayu itu masuk ke dalam hidungku. Aku mengernyitkan keningku lagi. Sepertinya aku mengetahui ruangan apa ini. PETI MATI!
Kreeeettt! Kreeeet!!! terdengar suara berderit, dan pletakkk! ruangan sempitku seakan di jatuhkan ke dasar tanah. Ada guncangan sedikit,dan suara tangis dan jeritan terdengar sayup-sayup.
"Ah tidak!" jeritku memukul langit-langit peti. " Aku masih hidup, mengapa kalian meletakkan diriku di peti mati?"
Aku terenyuh menangis dan menggedor-gedor pintu yang telah terpaku itu. Namun, kekuatan tanganku betangsur-angsur hilang. Mendadak aku merasa konyol, bukankah ini yang kuharapkan. Tidur di tempat yang sempit, yang kedap udara, dan hanya kegelapan yang kulihat. Lalu, mengapa harus menangis terjebak dalam ruangan yang akan mengantar pada tidur yang panjang? Aku terkekeh. Lalu, sayup-sayup aku mendengar satu demi satu kalimat panjang turut berduka cita.
"Mereka menangis juga ketika aku tidur? Dulu ketika aku bangun, mereka hanya memiliki bibir untuk mengeritik, tanpa mendahulukan mata untuk terbuka melihat."
Aku menangis dalam gelap. Namun, satu ujung bibirku naik ke atas kemudian. Aku di dalam tanahpun bisa menilai, bagaimana setiap orang terdekat hanya berair mata setelah aku mengalami tidur yang panjang. Apakah mereka menyesal? Mungkin iya! Mereka menyesal setelah aku tinggalkan. Tidak ada yang sebaik diriku lagi, atau tidak akan pernah ada yang sama dengan diriku lagi. Tidak akan pernah ada. Kita hanya di ciptakan satu, unik, dan tidak akan pernah ada yang menyamakan lagi. Kematian setiap manusia adalah kepunahan.
"Air mata yang kalian miliki. Tidak akan pernah berguna lagi. Uluran tangan kalian tidak akan pernah berguna lagi, jika aku telah memilih tidur selamanya."
Tak lama kemudian. Segala sesuatu terdengar makin senyap, dengan gundukan tanah merah yang terlihat membubung tinggi menutup ruang peristirahatan terakhirku.
"Tidak perlu banyak teman. Karena lubang itu hanya di sediakan untuk dirimu sendiri. Jika pun aku lahir kembali dan harus bangun, maka aku akan bangun dengan tanganku sendiri. Bahagia milikku sendiri. Sedih milikku sendiri. Dosaku bahkan milikku sendiri."
***