Kata demi kata, baris demi baris kalimat ini tersusun rapi menjadi kepingan paragraf yang menyatu dengan definisi. Hambar, namun di setiap pijakan kalimat ini tidak akan mengisahkan sebuah buku resep yang kurang komposisi. Tidak menceritakan semangkuk bubur kurang bumbu, dan kisah ini tidak akan menceritakan secangkir teh kurang gula. Hambar, benci tapi sayang ada yang bisa menjelaskannya?
Rasa benci memang bisa di sembunyikan, di balik tabir tulusnya sebuah senyuman. Tidak ada yang mengetahui betapa hebatnya senyuman itu menyelimuti kobaran amarah yang terus tersulut. Tidak padam, namun meski padam pun masih meninggalkan jejak berupa bara yang terus menyala hingga mampu kembali menyulut setiap hal kecil yang terjadi. Api kebencian bagaikan lava pijar yang selalu siap menyemburkan panasnya, tersimpan begitu rapi di balik perhatian kecil yang selalu terucap.
Hambar, apalah artinya jika hubungan hanya status belaka tanpa adanya sebuah komitmen yang terjalin. Cinta? Tidak, jangan konyol cinta bisa memudar seiring waktu berjalan bagaikan musim yang terus berganti. Cinta tidak bisa hanya menatap ke satu titik saja, karena itu berpaling adalah solusinya. Aku selalu percaya, bahwa cinta adalah reaksi kimia. Gabungan antara feromon, endorfin, dan serotonin karena seiring waktu berjalan tanpa disadari zat - zat tersebut perlahan menguap.
Cinta bisa menghilang, namun kasih sayang, empati dan tentu saja jika komunikasi masih berjalan maka kata cinta akan terus menyala. Untukmu, aku tidak tahu akan bertahan sampai mana. Namun jika Tujan berkehendak, aku akan menjadi orang pertama yang akan terbangun di sebelahmu dan berkata 'Semua akan baik - baik saja, selama kita memiliki kita' namun meski begitu ada rasa benci yang tidak bisa terdeskripsikan.
Aku membencimu di setiap nafasku berhembus, di setiap jantungku berdetak, dan di setiap nadiku berdenyut. Aku benci saat kau mengekangku, aku membenci setiap kali kau menyiksa fisik maupun batinku dan aku benci setiap kali menatap matamu. Karena setiap menatap iris kelam itu, bukan cinta yang aku lihat namun hanya obsessi semata.
Semunafik itukah cinta? Kala jiwa, raga, dan hatiku selalu berkata kalau aku sangat mencintaimu namun akal sehatku begitu membenci setiap perlakuanmu. Memang tidak ada yang sempurna, dan kekurangan itu aku menerimanya.
Meski hambar dan sedikit pahit.