Berabad-abad yang lalu. Penyihir menguasai semesta ini. Mereka mengembangkan ilmu sihir berbagai macam jenisnya dan meneruskan nya pada keturunan mereka.
Semuanya tenang untuk beberapa saat. Sampai bencana itu datang. Sebuah spesies manusia baru yang merupakan penyihir sesat menguasai dunia. Mereka di sebut Vampire Witch.
Penyihir yang meminum darah manusia untuk bertahan hidup. Ada yang mengatakan bahwa mereka ada penyihir yang dikutuk.
Zaman perang pun dimulai. Para penyihir yang eksistensi mulai terancam mencoba menyingkirkan sebuah individu yang lebih kuat dari mereka. Bertahun-tahun lamanya dunia ini kacau penuh dengan peperangan. Sampai akhirnya, dewa tidak tega melihat makhluk nya saling membunuh satu sama lain hanya untuk kepentingan pribadi.
Ia pun menurunkan Berkat Dewa pada seorang pemuda yang bukan penyihir atau pun penyihir vampir. Manusia biasa yang lebih rapuh dari dahan pohon. Sekali kau memecahnya maka dia akan hancur.
Pemuda itu memiliki kekuatan suci dan dapat mengimbangi kekuatan dari para penyihir. Ia pun menyingkirkan masa masa suram dan menjadi seorang pemimpin sebuah negeri.
Penyihir vampir yang tersisa diberi wilayah sendiri di bagian utara. Tanah tanpa matahari serta kegelapan yang selalu menyelimuti nya. Namun sayang, negeri mereka tidak pernah makmur karena kekacauan selalu berada dimana mana. Sampai seorang penyihir vampir membantai seluruh rakyat yang ada dan menjadikan dirinya sebagai pemimpin dari negeri tersebut. Sekarang, hanya ada beberapa penyihir vampir yang tersisa. Wilayah yang sangat luas itu pun hanya ada satu kastil berdiri dan merupakan penyihir kelas atas yang ada di sana.
Dan kini tuan putri dari kerajaan matahari negeri sebelah ada di tangan raja kegelapan.
•••
"Anda membawa mainan baru?"
Rei, pengasuh sekaligus asisten dari pemimpin penyihir vampir. Ia hebat dalam segala bidang kecuali perasaan.
"Wahhh, aromanya wangi sekali~ Darimana kau mendapatkan nya?"
Kana, adik kembar yang sangat mencintai kakaknya secara melenceng.
"Hoy, panggil dia Yang Mulia,"
Haru, kakak kembar yang sangat membenci adik laki-laki nya.
"Aroma darahnya kuat. Apa dia penerima Berkat Dewa?"
Tada, seseorang yang sangat terobsesi dengan kehidupan manusia.
Pemimpin dari negeri kegelapan ini. Dia terlihat seperti anak berumur 15 tahun dengan wajah layaknya malaikat. Namun, dia adalah iblis kejam yang merupakan keturunan dari raja kegelapan terdahulu.
Rambutnya keunguan dengan senyum iblis yang melekat di wajahnya. Jubah hitam legam yang menutupi tubuhnya dan gadis kecil yang ia bawa adalah tuan putri kita.
Ia melangkah dan melewati para bawahannya tanpa menjawab satu pun pertanyaan.
"Aku hanya ingin kalian tahu ini. Dia adalah 'mainanku' jangan berani kalian menyentuhnya walaupun seujung rambut pun,"
DEG...
Aura yang sangat kuat membuat siapa saja menggigil ketakutan ketika melihat senyumnya itu.
"Semoga malam anda menyenangkan," Rei membungkuk melepas kepergian pemimpinya itu. Wajah kebencian keluar dari keempat orang tersebut. Raut wajah mereka mengatakan
'Apa lebih baik dibunuh saja?'
•••
Tap...tap...tap...
Langkah kaki yang bergema di antara lorong. Ia memasuki lantai atas dan menuju ruangan di ujung lorong. Sebuah pintu dengan ukiran kayu itu di buka perlahan.
KRIETTTT....
Suaranya bergema di tengah sunyi nya malam hari. Memasuki ruangan tersebut, terdapat satu ranjang besar yang tergeletak di tengah ruangan. Tirai tirai tinggi nan tebal menutupi setiap celah cahaya yang menembus jendela. Ruangan itu gelap gulita. Hanya ada penerangan dari satu lilin di ujung kanan ruangan.
BRAKK...
Ia menutup pintu dengan keras dan membuat gadis yang ia gendong membuka matanya perlahan. Kesadaran nya mulai kembali.
"Wah~ Nona ternyata sudah sadar,"
Suara yang diiringi dengan tawa itu membuat Rui terkejut dan mendorong orang yang menggendongnya hingga keduanya sama sama jatuh terduduk di lantai.
BRUKKK...
"Kau membawaku kemana?!"
Tanya gadis kecil itu seraya mencari sebilah pisau yang ia kaitkan di pahanya.
"Kau mencari ini?"
Anak laki-laki itu sudah mengambilnya.
"Jangan kau mendekat satu langkah pun. Aku adalah putri satu-satunya raja,"
Ia berusaha menyelamatkan nyawanya. Namun hanya dibalas senyuman di wajah yang setengah tertutup tudung itu.
"Kau putri ya? Bagaimana kalau aku bilang, aku raja di tempat yang tengah kau singgahi?"
Tangan seputih salju itu membuka tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Di balik tudung tersebut terlihat wajah seorang lelaki muda. Rambut keunguan sebahu dengan mata merah muda.
Dia benar-benar seperti anak kecil!
'JDERRR!!'
"Akh, dia imut banget~" Tanpa sadar hal tersebut terucap dari mulut Rui. Dia mudah luluh pada wajah imut.
"Ha? Apa yang kau katakan tadi?"
Aura menekan begitu terasa. Rasanya ada jarum yang menusuk setiap pori pori tubuh. Membuat siapa saja bergidik ketakutan ketika berada di sana.
"Ahh, kau pasti terkejut kenapa tiba-tiba ada disini,"
Lelaki kecil itu berjalan mendekat. Rasa takut membuat tuan putri itu mundur merapat ke dinding.
Ia pun berjongkok di depan tuan putri seraya tersenyum. Wajahnya manis namun kedua taring di mulutnya kembali membuat gemetaran.
"Salam kenal, tuan putri yang manis. Kau bisa memanggilku Shiyu. Ngomong-ngomong, baumu manis sekali,"
Tangannya yang dingin itu membelai rambut tuan putri dengan lembut. Mengusapnya ke belakang dan memperlihatkan leher putih bersih yang setengah tertutup kerah baju.
"A-apa yang mau kamu lakukan?" sekujur badannya gemetaran melihat dua taring di depan matanya.
'Dia vampir'
KYAAAA!!!
Teriakannya bergema sampai lantai pertama. Rei yang tengah menuang teh pada cangkir terkejut dan teh nya tumpah kemana mana.
"Dia itu nona bangsawan atau gorila? Teriakannya menusuk telinga," gumamnya seraya membenarkan kacamata yang jatuh ke depan hidungnya dan di balas tertawa lepas Kana yang tengah mengelap tengkorak kepala manusia yang ia pegang sedari tadi.
"Ughh, jangan tertawa terlalu keras, air liurmu mengenai ku. Menjijikan,"
Haru yang tengah duduk santai menyingkirkan adiknya menjauh dari sisinya. Dia sangat membenci duplikat nya itu.
"Padahal Yang Mulia tidak pernah mau langsung meminum darah langsung dari tubuh manusia. Kenapa dia sekarang begitu?"
Ucap Tada seraya tersenyum layaknya pangeran. Kita benar-benar tidak boleh menilai dari luarnya saja.
"Entahlah. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Mungkin otaknya jadi tumpul karena hidup selama beradab-abad,"
Keempatnya kembali diam dan melakukan aktifitas sendiri sendiri. Mungkin lebih baik menjauh dari mereka jika tidak ingin merasakan neraka haha.
•••
Kedua taring yang kini menancap di leher tuan putri membuatnya tidak bisa bergerak. Baju bagian atasnya terbuka dan hanya menyisakan korset yang ia pakai sampai menutupi dada. Tangannya digenggam erat sampai ia tidak bisa memberontak.
Darah segarnya mengalir dan menodai semua yang dilewatinya. Bibirnya yang dingin itu terus menempel dan rasa haus nya sama sekali belum terpenuhi.
Tuan putri tidak bisa berbuat apa-apa. Pandangannya mulai kabur karena kehilangan banyak darah. Ia sempat berpikir bahwa akan mati kehabisan darah.
'Sial, kepalaku sakit' ia pun kehilangan kesadaran.
Semerbak bau darah sampai mengisi seluruh kastil. Keempat orang yang tengah berada di ruang makan itu mencium bau tersebut dan hasrat untuk mencicipi nya.
"Baunya kuat sekali," Rei langsung membuka jendela untuk menghilangkan aroma yang mengisi seluruh ruangan.
"Bukankah para budak itu belum dikirim?" ucap Haru yang terpaksa membiarkan adiknya tidur di pahanya.
"Jangan-jangan nona bangsawan itu...," Tada menutup buku yang tengah ia baca dan mengalihkan pandangannya pada Rei.
"Aku merasa tidak asing dengan wajah gadis itu,"
•••
"Sepertinya aku kelewatan,"
Shiyu berdiri dan mengelap darah yang ada di ujung bibirnya. Ia tersenyum dan mengangkat tubuh gadis itu ke atas ranjang.
Ia tidak membenarkan baju gadis itu yang terbuka. Selimut tebal ia selimutkan dan kelambu ranjang ia tutup rapat.
Lelaki muda itu keluar dari kamarnya. Di depan pintu dia berbalik sebentar.
"Selamat tidur, gadis manis,"
BRAK!!
"Nona kecil itu tunangan anda kan?"
"Astaga kaget aku!"
Shiyu dikejutkan oleh suara Rei yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.
"Anda sudah tahu sejak awal kan?" sambung Rei dan membuat tuannya mengalihkan pandangannya.
"Ah-! Sudahlah, lebih baik kau ganti bajunya itu dan bersihkan bekas darahnya,"
"Anda menyuruh saya melihat tubuh seorang gadis?"
Shiyu yang hendak pergi menatap Rei dan membuatnya bergidik.
"Kau baru saja menentang perintah ku,"
"Maafkan saya. Akan saya laksanakan segera,"
•••
Pagi~
'Panas. Seluruh badanku terasa panas, mahkluk itu menggigit ku. Dia itu vampir kan? Apa dia akan menghabiskan seluruh darahku?'
Tik...tok...tik...tok...
Jam dinding terus berputar dan mata gadis itu mulai terbuka. Dia bangun tiba-tiba dan kepalanya mulai berdengung.
"Akh! Kepalaku rasanya mau pecah. Aku belum mati kan?"
Tuan putri itu menyibak kelambu ranjang dan perlahan turun dari ranjang yang lumayan tinggi itu.
GEDUBRAKKKK
"Selimut sialan. Kenapa aku sering sekali jatuh dari ranjang. Aduh!"
Ia merasakan nyeri yang amat sangat di lehernya. Gigitan masih berbekas di sana.
'Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir Aku digigit vampir. Dia menghisap darahku dan hampir membunuhku. Seharusnya aku tidak kemari, akhh Anne!"
"Ummm, Nona ini benar-benar berisik di pagi hari, ya,"
Seseorang berbisik di telinga nya dan ia berbalik melihat sosok yang tersenyum manis itu.
"Selamat pag-,"
PLAKK!!!
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus lelaki kecil itu.
•
•
•
Bersambung~
hehe, lanjutannya di update dalam waktu dekat