Serasa melayang tubuhku, padahal lagi terlentang menatap plafon kamar kami.
"Percaya gue bu, gue ngga ngapa-ngapain. Dianya aja yang terus-terusan nempelin gue. Mungkin dia pikir gue bisa diporotin karna gue yang pegang kas operasional. Pasti gue dikira bos besar yang lagi tebar pesona." katanya menutup omongan sebelumnya bahwa dia sedang didekati seorang perempuan.
Terdengar agak setengah bercanda buatku jadi bingung mau ngomong apa.
"Dianya nempelin ayah.. apa ayah ngga ngelakuin apa-apa buat ngindarin dia?" kataku akhirnya bereaksi.
"Gimana mau ngindar? Gue sama temen-temen gue mesti tetep di sana, dan itu warungnya dia tempat kita makan. Kalo aja ada warung lain bu."
Kami memulai percakapan itu. Dari tengah malam sampai mendekati subuh.
Pengakuan suamiku yang membuatku merasa tak percaya. Ku kira pernikahan kami akan berjalan mulus-mulus saja. Karena kami cuma orang biasa yang punya cita-cita membangun rumah tangga sebisa mungkin tanpa cela.
Bagaimana tidak? Sewaktu kami pacaran dulu, kami ngobrolin banyak hal. Hal penting yang selalu ku ingat, pertanyaan yang dilontarkan ke masing-masing setelah kami pada akhirnya sepakat untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Dia bertanya padaku. Bagaimana jika status kerjanya tetap kontrak atau bahkan kontraknya tidak lanjut sebagai karyawan di Bank Swasta.
Ku tanya balik. Apa yang masih bisa dia kerjakan, pekerjaan halal apapun, aku masih bisa terima dan tidak malu.
Baiklah, katanya. Dia akan bekerja halal apapun karena aku tidak malu.
Dia tanya padaku, apa ada yang menjadi ganjalanku, menyilahkanku untuk bertanya padanya.
Ku tanyakan, bagaimana seandainya kita ditakdirkan lama tidak diberikan keturunan?
Dia jawab, itu masalah perumpamaan yang tidak bisa dijawab sebelum terjadi.
Kita jalani dulu, kompromi, baru cari jalan keluarnya. Berpisah adalah pilihan terakhir, katanya dulu.
Dia katakan kembali, dia tidak akan bisa terima perselingkuhan. Kalau aku lakukan itu, dia akan bunuh aku & laki-laki itu.
Aku menanggapinya dengan senyum, ku katakan insya Allah tidak.
Begitulah. Kami dari kalangan biasa. Keluarga kami berdua keluarga yang sederhana dan taat. Kami menghindari perzinahan sedapat mungkin selama pacaran. Meski bukan ta'aruf yang semestinya. Kami bersungguh-sungguh untuk menjadi lebih baik sebelum berumah tangga.
Tapi apa saat ini yang ku alami?
Walaupun menurutnya dia bukan lagi berselingkuh. Karena dia mengakui dan belum melakukan apa-apa dengan perempuan itu. Tetap saja hatiku sakit dan sedih mengetahuinya.
Aku tidak menyesal kalau dulu tidak ku katakan aku akan lakukan hal yang sama jika dia yang selingkuh. Karena saat ini pun tidak ada keinginan untuk membunuhnya dan perempuan itu.
Aku malah bertanya padanya, apa salahku hingga dia sampai terlibat dan kesannya dia menikmati perhatian dari wanita lain itu.
"Lo ngga ada salah bu.. Gue aja yang lagi tersesat. Tolong jangan tinggalin gue. Tetep dengerin curhat gue. Gue takut kalo sampe gue lupa diri sama keluarga kita. Selama di sana gue selalu ingat anak perempuan kita, supaya gue ngga ngelakuin hal yang salah. Gue takut karma ke anak kita bu."
"Uda sebanyak ini kita ngobrol, ibu belum dengar permohonan maaf ayah. Apa ayah ngga ngerasa bersalah?"
"Ada bu, ayah ngerasa salah. Ibu ga bisa liat ayah susah payah cerita ini? Takut ibu marah, takut ibu sedih. Gue bingung banget bu. Seminggu gue timbang-timbang, akhirnya gue ngga tahan, gue ceritain ini ke lo bu. Maafin gue ya bu. Maaf kalo nanti ke depannya lo masih harus dengerin crita gue yang pasti nyakitin lo, bikin lo sedih. Tapi jangan diemin gue bu, jangan tinggalin gue."
Aku diam sribu basa. Masih berharap ini cuma mimpi buruk yang menghiasi tidur. Ya Tuhan. Engkau sedang menaikkan derajatku.
"Bu.. ? Jangan diem aja.. tolong tenang ya bu"
"Mana ada di dunia ini, istri yang mesti tenang dengerin pengakuan selingkuh suaminya?" suaraku tercekat isakanku
"Jangan sebut gue lagi selingkuh bu.. gue sedih dengernya.." katanya.
Aku diam berusaha menahan tangisku. Rupanya dadaku sudah penuh sesak untuk tidak meluapkan air mataku. Beberapa menit berlalu, tangisanku makin mengiba meski tetap tanpa suara. Aku takut dua anakku terbangun. Pasti buatku tambah sedih kalau mereka lihat ibunya lagi nangis seperti ini. Penjelasan apa yang bisa diterima anak berumur 3 dan 1 tahun?
"Bu.. mmm.. maafin gue bu.. " Suamiku menarikku, memelukku kemudian. Sesenggukanku, ku labuhkan di dadanya.
Paginya kami tutup obrolan dengan tekad kami berdua. Aku akan membantunya lepas dari godaan perempuan tersebut.
Suamiku setuju untuk beberapa hal saranku untuk menjauhinya, beberapa hal tidak. Perempuan tersebut sampai setuju jadi istri kedua kalau suamiku terima. Benar-benar gila. Ku minta agar suamiku tidak meninggalkan sholatnya.
3 bulan lamanya proses gangguan tersebut berlangsung.
Suamiku memang terpaksa masih bekerja di lingkungan mereka karena tugas dari kantornya yang harus mendapatkan barang jaminan dari seorang pengusaha yang sedang dipakai di lokasi tersebut.
Akhirnya dia sudah mulai jarang ke lokasi mulai bulan ke tiga. Tidak tiap minggu lagi, hanya sebulan sekali. Pun begitu perempuan tersebut tetap berupaya mencari dan mendekati suamiku.
Aku tak henti-hentinya berdoa agar suamiku tetap jujur dalam masalah ini. Walaupun menjadi sangat menyakitkan untuk didengar di kupingku. Aku berusaha sabar dan tegar.
Suamiku pada akhirnya cerita kalau dia mulai muak dengan yang dia rasakan pada perempuan itu. Yang awalnya menyukai perhatian yang dia dapatkan dulu. Apa dalam hal ini ada unsur kleniknya? Entahlah. Aku berusaha tetap mengingatkan suamiku akan sholatnya.
Akhirnya setelah bulan ke 6, tugas kerja suami pun benar-benar selesai di sana. Tapi.. perempuan itu masih menghubungi suamiku di kantor.
Padahal sudah tidak pernah diterima teleponnya. Ku sarankan untuk ganti nomor ponselnya.
Akhirnya suamiku menggantinya walaupun dia merasa tidak enak dengan rekan kerjanya. Tapi itu harus dilakukan demi tidak ada lagi gangguan.
Setelah semuanya berlalu, kami bertekad untuk menomor satukan kejujuran, komunikasi dan ketaqwaan untuk semua masalah rumah tangga kami. Agar kami bisa menyelesaikan masalah hingga kami tetap langgeng berumah tangga. Karena kami berangkat dari niat yang tetap ingin bersama dalam pernikahan kami.