Malam pertama pernikahan, menjadi tangis tragis keluarga.
Namaku Vania, dia seorang manager perusahaan properti. Orang-orang memanggilnya Vani. Dia berumur 22 tahun.
Mentari mulai tenggelam tapi aku belum juga pulang. Banyak sekali barang-barang yang masuk ke perusahaan sehingga aku jadi lembur.
Aku tak sendiri, aku ditemani bos muda dan sekertarisnya yang cantik. Bos muda itu bernama Pak Albarak, laki-laki berumur 28 tahun. Keturunan bangsa Belanda. Bos muda itu suka sekali berkencan dengan gadis-gadis Eropa di sebuah hotel. Selain pemilik perusahaan dia jug pemilik hotel itu. Tak ada yang berani untuk melarang Pak Albarak membawa keluar masuk gadis-gadis Eropa.
Rembulan yang menyinari jalanku, tersorot lampu mobil dari arah belakang. Sempat takut untuk pulang sendiri. "Mari aku antar pulang" Sambil menurunkan kaca mobilnya. "Tidak usah, itu taxinya sudah datang, terimakasih tawarannya" Jawabku.
Baru-baru ini aku merasa aneh dengan sikap Pak Albarak kepadaku. Suara burung hantu membuat bulu kudukku berdiri, ku buka pintu rumah, terlihat begitu sepi. "Mereka pada kemana" cetusku.
Berdering suara ponsel, lagi-lagi Pak Albarak menelfon ku "Udah sampai rumah belum" ucapannya begitu manis. "Udah sampai" balasku singkat. Pak Albarak terkenal sangat kaku dengan perempuan lokal. Baru kali ini aku mendapatkan perhatian dari bos muda yang kaku itu.
Ponsel ku berbunyi lagi "Vani, ayah sama ibu sedang pergi ke Bogor satu minggu" pesan chat dari ayah.
Minggu ini, hari liburku aku berencana dengan pergi dengan Pak Albarak ke kedai coffe
yang belum pernah aku coba. Pak Albarak memakai kemeja hitam lebih tampan daripada saat di kantor. Setibanya kami di kedai coffe, aku menunggu Pak Albarak yang sedang memarkir mobilku.
Ada 2 anak laki-laki yang masih berusia anak sekolahan yang mencoba meenganguku. Terlihat Pak Albarak yang sedang berlari menuju ke arahku, tangannya langsung "plakkk...." Menampar salah satu laki-laki yang menganguku.
Kecemasan Pak Albarak takut aku kenapa-kenapa membuat ku merasa terlindungi. "Kamu tidak apa-apa kan?" Menatapku dan mengandengku masuk ke dalam. Tak lama ponselku berdering, aku mengangkat telfon dengan menjauh dari Pak Albarak. Itu sahabat lama yang menelfonku, mengajak ketemuan hari esok.
Seharian ini aku ditemani oleh Pak Albarak, sifat asli Pak Albarak terlihat saat dia cemas jika terjadi sesuatu padaku. "Ternyata Pak Albarak orangnya setia dan perhatian"cetusku sambil senyum-senyum sendiri di sofa.
Malam mulai larut aku pergi ke tempat fotocopy yang kebetulan itu tidak jauh dari rumahku. Terlihat sambaran petir, pertanda akan turun hujan. Hujan turun dengan begitu derasnya, aku berlari menuju ke sebuah halte dengan baju yang begitu basah.
Terlihat jalanan begitu sepi, tak ada satupun kendaraan yang melintas. Tak lama tersorot lampu mobil dari arah utara, mobil itupun berhenti. Pemilik mobil turun dan menghampiriku. "Siapa dia?" Dadaku bergetar kencang. "Hai nona, mari aku antar pulang? Namaku Zen" sapaan yang begitu ramah. "Hai, namaku Vani, terimakasih rumahku tak jauh dari sini" Tak berani menatap laki-laki tersebut.
Karena Zen memaksa aku diantar pulang sampai rumah. "Terimakasih Zen" sambil teriak
dari teras depan.
Dia hanya senyum lalu pergi. Aku segera berganti baju.
Aku membuka laptop untuk mencari identitas Zen. Ternyata dia seorang captain pilot yang tampan dan banyak digemari perempuan.
Aku mencuri salah satu foto Zen, langsung aku pindahkan ke galeri.
"Maaf Zen, aku mencuri fotomu" sambil tersenyum
"Bagaimana aku bisa mendapatkan nomor ponselnya" sambil mengeser-ngeser beranda sosmed milik Zen.
Setelah ku mencuri foto Zen, aku bisa tidur pulas.
Terdengar suara ayam jantan berkokok, aku segera terbangun dari tidurku. Dari jendela lantai kamar atas terlihat ada 2 mobil terparkir, mereka Pak Albarak dan Sekertarisnya.
Baru aku melihat ke arahnya saja dia langsung menelfonku.
" Pagi Vani"
"Aku tunggu kamu di depan" sambil berdiri di depan mobil.
Aku tak mengeluarkan sepatah katapun langsung saja kumatikan telfonku dengan Pak Albarak.
"Apaan sih Pak Albarak? Maunya itu apa coba?" Merasa agak kesal. Aku keluar menemui Pak Albarak naik mobil.
"Pagi Vani" senyum ramah.
"Pagi" jawabku.
"Bareng aku aja, nggak usah bawa mobil sendiri" menunjukkan perhatiannya.
"Tidak, makasih tawarannya, nanti aku pulang kerja ada janji ketemu temen jadi bawa mobil sendiri" dengan nada ramah.
Aku berjalan sambil berpikir "Apakah Pak Albarak tertarik denganku, sedangkan aku tidak" sambil mengangkat alis.
Sore itu aku pulang kerja awan begitu cerah tiba-tiba saja mendung membuatku tak jadi bertemu dengan teman-teman ku. Aku berhenti di supermarket untuk belanja bulanan. Ada laki-laki yang mendekatiku.
"Kamu Vani kan?" Menunjuk ke arah ku
" Zen" menunjuk kembali
"Vani, aku boleh minta nomor ponsel mu?" Mengeluarkan ponsel.
"Oohh.. boleh" menjulurkan ponsel ke Zen.
"Aku duluan ya Zen" berjalan pergi meninggalkan laki-laki tampan itu.
" Iya" hanya senyum.
Oohhhmygood... Aku tak nyangka bakalan ketemu lagi dengan Zen. Laki-laki dengan wajah begitu manis membuat hatiku berdebar kencang.
Zen mengirimkan sebuah pesan "Hai" dengan lambaian tangan. Aku usil lagi, mencuri foto Zen di Profil itu. Hatiku berdebar lagi membaca chat dari Zen. "Hai.." melambaikan tangan balik.
"Zen... Aku boleh tanya sesuatu??" Sambil bergemetar tanganku. Tiba-tiba dia offline, aku maklumi dia seorang captain pilot pasti sibuk.
8 jam kemudian dia membalas chatku.
"Kamu seorang captain pilot bukan?" Disertai emot tutup mulut.
"Kok kamu tau?" Penasaran
"Zen kamu tak perlu tau, aku tau darimana" dengan emot tertawa. Zen tertawa balik.
2 bulan kenalan dia menautkan hati padaku. " Setelah 2 tahun aku menjadi pilot, aku pulang akan melamarmu" meyakinkan hatiku.
Aku menangis bahagia. Dia benar-benar laki-laki yang sangat tanggungjawab dengan ucapannya. Dia pulang melamarku, tak lama kami langsung menikah.
Di malam pertama pernikahan, Zen ditelfon direktur nya untuk membawa penumpang dari Jakarta ke Bali. Aku sempat tak menyetujui Zen berangkat kerja di malam pertama pernikahan. Dia berkata " Saya harus bertanggungjawab". Aku menyiapkan barang-barang yang akan dibawa Zen.
Dia berpamitan kepadaku "Jaga baik-baik dirimu, aku minta maaf jika tidak bisa menjagamu dengan baik" dengan wajah yang begitu tak rela meninggalkan ku.
Aku hanya menangis. "Jangan menangis, ketika aku pulang nanti rumah kita akan ramai" sambil memeluku. Zen berkata pada ibunya dan ayahnya "ayah...ibu.. maafkan Zen jika banyak salah" sambil mencium ibu dan ayahnya. Ibu dan ayahnya Zen tak memahami perkataan anaknya.
Baru beberapa jam Zen berangkat, terdengar kabar bahwa pesawat yang di kendarai oleh Zen terjadi kecelakaan di laut. Aku langsung segera menelfon Zen, "Zen angkat telfonku, aku mohon Zen apakah kamu baik-baik saja, Zen dengarkan saya angkat telfonku, ayo angkat Zen" aku dan keluarga Zen semua gelisah terutama ibunya Zen.
Ayah, ibu, dan aku baru sadar apa yang dikatakan Zen tadi sebelum berangkat itu kata-kata berpamitan Zen untuk pergi selamanya.
Ada berita lagi bahwa captain pilot yang bernama Zen Ronald belum ditemukan. Berita itu menambahkan banjir air mata dari aku dan ibu Zen. Betapa hancurnya hatiku dan ibu Zen, aku yang baru saja menikah sudah di tinggal pergi untuk selamanya, sedangkan ibu Zen dia yang merawat Zen dari kecil bahkan ibu Zen menganggap Zen masih seperti anak-anak.