Pada awal naik tahta, Gandari mampu memimpin wilayah kekuasaannya dengan cermat, cerdas dan dapat dukungan penuh dari panglima (pembantu utama) nya. Mulai Panglima I sampai III, berikut bagian badan independen khusus pengembangan potensi prajurit perempuan.
Badan independen khusus perempuan ini, dilaporkan sudah melakukan beberapa kali pelatihan, yang berhasil menumbuhkan kekompakan dan kestian pada raja dan rasa cinta pada negara. Mendengar gebrakan awal Gandari begitu positif. Para mantan raja berikut panglima merespon sangat baik.
Mereka berharap, agenda agenda kedepan bisa membangun kembali kejayaan tempo dulu, sebagaimana capaian para raja sebelumnya. Karena bagaimana pun, tahta Gandari merupakan tahta yang pernah meraih puncak kejayaan, hingga tidak menyenangkan, bagi kerajaan lain, yang sama sama berada di bawah kekuasaan panji perisai.
Maka, saat itu timbullah banyak fitnah, segala gerakannya diproteksi, dikucilkan, bahkan ada pihak pihak sengaja ingin melenyapkan tahta itu dari bawah kekuasaan panji perisai. Kenapa? Karena atas nama keamanan kepentingan, dan ketidak nyamanan gerakan politik mereka.
Sebab, gerakan politiknya merasa terganggu, takut dirongrong. Kendati begitu, kerajaan ini tetap berdiri kokoh, menjulang, karena sudah berdiri puluhan tahun. Dengan prinsip, tidak ingin intervensi apalagi diintervensi. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.
Selama puluhan tahun, tahta ini selalu di nahkodai prajurit dari kalangan pria. Baru kali ini, semua berubah ketika prajurit dari kalangan kaum hawa sudah mulai bersaing secara kuantitas maupun kualitas. Hingga kemampuan prajurit perempuan, tidak bisa dipandang sebelah mata. Maka interaksi dalam kerajaan, kedudukan semua prajurit setara. Tidak ada yang di istimewakan. Semua menjalankan fungsi - tugas beserta kedudukannya.
Naiknya Gandari sebagai raja, tak lepas dari peran propaganda seorang mantan raja masa sebelumnya. Dari sudut pandangnya, sudah saatnya kerajaan ini dinahkoda seorang wanita. Pertimbangannya, bahwa; makin hari prajurit wanita makin mumpuni, kompak dan ke ilmuwannya pun, tidak perlu diragukan.
Tidak hanya itu, sang mantan raja juga, pernah memantau kerajaan kecil di wilayah lain. Bahwa kerajaan kecil itu, rajanya dari kalangan kaum hawa.
Bahkan, lebih menakjubkan, di mata mantan sang raja, wilayah kerajaan yang baru saja berdiri itu. Rajanya merupakan kaum hawa. Maka tatkala mantan sang raja di undang untuk melatih prajurit disana. Ia membeberkan bahwa dirinya tengah berada di kandang macan 🐯, kendati kerajaan ini masih berusia muda, tapi sepak terjang dan prestasi nya luar biasa, mampu mencetak cikal bakal pemimpin hebat, dari kalangan kaum Hawa.
***
Tidak berapa lama berjalan. Kini, tahta Gandari mulai goyah, ada riak kecil diantara prajurit yang menilai Gandari sudah mulai balelo. Ia tidak lagi memikirkan wilayah kekuasaannya, singgasana raja dibiarkan kosong, bahkan para pembantu utamanya juga tidak jelas perannya. Semua serba acuh, membiarkan roda pemerintahan menjadi timpang. Tak berjalan sebagaimana mestinya.
Padahal sejak awal dipilih, dikukuhkan sebagai raja, Gandari beserta para pembantu utamanya berkomitmen untuk berjuang bersama mengembalikan kejayaan kerajaan. Tapi sekarang berubah, semuanya seolah menghitamkan segala janji, dan akan mengaramkan kerjaan ini ditengah samudera yang aman.
Sebenarnya, pemerintahan Gandari saat ini; mestinya sudah menyelesaikan latihan wajib militer II. Karena latihan wajib militer I sudah dilakukan oleh raja sebelumnya, sebelum peralihan tahta ke tangan Gandari. Namun karena semua abai, latihan wajib militer II, belum dilaksanakan. Ini sangat disayangkan, mengingat Gandari juga harus melakukan perekrutan calon prajurit baru, guna melaksanakan latihan wajib militer I di bawah kepemimpinannya.
Melihat suasana kurang kondusif, akhirnya beberapa para prajurit, melakukan koordinasi menyoroti roda pemerintahan Gandari, yang sudah mulai meresahkan, mereka berembuk melakukan perundingan gelap.
Dari hasil pertemuan gelap itu. Terjadi kesepakatan beberapa prajurit yang ingin melakukan pemberontakan (forum luar biasa). Yakni; dengan meminta Gandari turun tahta, melepaskan mahkota 👑 raja, mengangkat serta mengukuhkan raja baru. Maka, bergeraklah beberapa prajurit militan, menyampaikan pendapat di depan forum keluarga besar kerajaan, di dalamnya terdapat beberapa mantan raja, para pembantu dan lainnya.
"Salam hormat, maaf tuan sekalian! Kami hanya ingin menyampaikan, bahwa roda kerajaan saat ini, sudah mulai amburadul. Baik raja maupun pembantunya sudah apatis, kerajaan berlahan mulai ditinggal, sekarang tak terurus." Kata prajurit dengan membuka dialog.
"Dengan kondisi begini, kami sangat resah, karena kami merasa sudah tidak diperhatikan lagi." Tambah prajurit yang satunya.
"Demi kemaslahatan, bagaimana kalau kita adakan agenda untuk menggagas forum luar biasa, melengserkan Gandari, mengangkat raja baru." Teriak prajurit, penuh semangat.
Mendengar pembeberan beberapa prajurit itu, suasana kerajaan jadi geger. Para mantan raja, pembantu utama, berikut prajurit dan punggawa kerajaan terbelalak semua. Menyikapi suara aspirasi beberapa prajurit, menginginkan adanya forum luar biasa. Melengserkan Gandari, Gandari sebagai raja, sudah dianggap tidak amanah. Meninggalkan tanggung jawab, begitu juga dengan para pembantunya, sama sama tidak mau mengurus jalannya roda kerajaan.
Sedangkan, dalam waktu dekat. Kerajaan punya dua agenda besar, yakni; melakukan latihan wajib militer II. Berikutnya kerajaan mengadakan agenda latihan wajib militer I. Sedangkan agenda wajib militer I waktunya sudah mepet, karena momentum melakukan perekrutan prajurit baru mestinya sudah dimulai.
Tapi latihan wajib militer II, belum sama sekali diadakan. Ini di khawatirkan akan bertabrakan, bikin suasana kerajaan kacau balau.
Tidak hanya itu, jika kondisi sekarang didiamkan khawati berdampak buruk terhadap generasi kerajaan berikut nya. Yakni minimnya penjaringan terhadap prajurit baru, lalu kerajaan menjadi suram. Kerajaan akan tenggelam, dan sulit mengembalikan kejayaannya kembali. Maka forum keluarga besar bias, timbullah pro kontra, antara pro ganti Gandari dan tetap mempertahankan Gandari sebagai raja.
"Jalan terbaik penyelesaian polemik ini kita harus duduk bersama. Jangan gegabah mengambil suatu keputusan, apalagi dalam rapat tidak resmi. Baiknya kita rembukan bersama dalam forum resmi kerajaan, baru kita ambil keputusan." Beber salah satu mantan punggawa kerajaan. Akhirnya semua pada sepakat, kendati masih ada pihak kurang puas, menginginkan Gandari diganti melalui forum luar biasa secepatnya.
***
Sesuai kesepakatan, dua hari setelah bergulirnya isu turunkan Gandari, maka berkumpulah seluruh anggota keluarga besar kerajaan dalam forum resmi. Disana tampak dewan pertimbangan raja, mantan raja - pembantu utama raja, jajaran pembantu Gandari, berikut Gandari sendiri juga hadir dalam pertemuan tersebut.
Kendati tidak semua bisa hadir, forum sudah dianggap mewakili keterwakilan dari punggawa kerajaan. kali ini, rapat di pimpin langsung oleh dewan pertimbangan raja. Tanpa berwacana panjang, maka diberi kesempatan bagi seluruh anggota sidang untuk membeberkan apa sebenarnya yang terjadi pada pemerintahan Gandari.
Dewan pertimbangan raja, selama ini menganggap bahwa pemerintahan Gandari stabil dan mempunyai visi jelas, sekarang malah meresahkan dan mengkhawtirkan, sehingga timbul polemik bagi prajurit yang pemikirannya sangat kritis.
Pertama dewan pertimbangan raja memberikan kesempatan berbicara kepada prajurit yang ingin mengkudeta Gandari, tujuannya biar lebih menyorot pada persoalan, tidak lebar kemana-mana. Selanjutnya kesempatan kedua, diberikan kepada Gandari untuk berbicara, berikutnya kepada mantan punggawa kerajaan, yang diundang secara resmi pada pertemuan resmi kali ini. Setelah itu semua hadirin, diberi kesempatan menyampaikan pendapat nya.
"Kondisi kerajaan sekarang, sebagaimana dibeberkan pada forum tidak resmi sebelumnya. dari sudut pandang kalangan prajurit, sungguh sangat naif, kami menilai raja beserta pembantu utamanya, sudah tidak punya dedikasi - loyalitas. Sekarang mereka ogah, mereka tidak peduli akan masa depan nasib kerajaan, khususnya bagi prajurit yang belum mengikuti latihan wajib militer II." Beber Seno Pikatan, Prajurit yang terkenal kritis dan sedikit arogan pemikirannya.
"Kami selalu bertanya, kemana gerangan sang raja, berikut para pembantu utamanya seolah olah tidak punya gereget lagi memikirkan nasib kerajaan, bahkan persiapan wajib militer II pun raja beserta pembantu utamanya tidak ada yang hadir dalam forum resmi. Ini tidak boleh didiamkan! Karena kerajaan masih punya agenda latihan wajib militer I, dan jika hal ini sampai tertunda maka kami akan kehilangan moment besar, bakal kehilangan aset yang sangat berharga." Lanjut Seno Pikatan.
Setelah Seno Pikatan menyampaikan pendapatnya. Forum langsung menghangat, Sebagian para pembantu utama Gandari tidak terima dengan pandangan itu. Pandangan itu, dianggap menghakimi, dinilai subjektif, tidak mencerminkan prajurit setia pada kerajaan. Forum jadi kacau balau, nyaris rusuh. Semua bertahan dengan pendapat masing masing. Dewan pertimbangan raja kelabakan, tidak bisa mengendalikan forum, kian memanas.
Melihat situasi makin tidak stabil, lantaran adanya perdebatan para pembantu utama Gandari dan kubu Seno Pikatan. Maka mulailah mantan punggawa kerajaan berbicara menengahi. Langkah pertama, ia meminta Gandari menjelaskan apa sebenarnya terjadi. Sampai menimbulkan polemik di dalam pemerintahan nya.
"Saya mohon maaf bila akhir ini, tidak bisa mengurus kerajaan dan dianggap sudah balelo, tidak amanah lagi. Penilaian kalian tidaklah salah. Saya emang lalai, sudah tidak bisa konsen mengurus kerajaan ini." Beber Gandari dengan raut pucat berdiri diantara keluarga besar kerjaan.
"Coba jelaskan, kenapa demikian? Katakan sejujurnya. Mungkin sebagian sudah paham problematikanya, tapi mungkin yang lain pula tidak pernah tahu. Khususnya para mantan raja dan para mantan punggawa." Pintanya.
Gandari menarik nafas, lalu mulailah bercerita apa sebenarnya terjadi. Kenapa sekarang, ia tidak bisa total mengurus kerjaan dan dianggap balelo, berikut dinilai mengkhianati sumpah pengukuhan. Tapi baginya, bukan berarti tidak ingin berjuang memajukan tahta kerajaan. Ia masih punya komitmen untuk tetap memimpin, sampai tuntas masa tugasnya di kerajaan ini.
"Dari pembeberan Gandari, akar permasalahannya sudah ketemu. Gandari menyatakan masih punya komitmen. Sekarang tinggal kalian, terutama pembantu utama Gandari. Apakah juga masih punya komitmen bersama Gandari membangun kerjaan ini lebih baik." Semua yang hadir dalam forum seketika menyatakan siap.
Siap bahu membahu berjuang bersama Gandari membangun kerjaan. Tidak terkecuali, Seno Pikatan dan para pendukungnya. Maka, saat itu pula, dibentuklah panitia latihan wajib militer II dengan konsep sederhana. Adapun ketuanya di mandatkan kepada Seno Pikatan.
***
Nyatanya hari pelaksanaan latihan wajib militer II, baik Gandari, pembantu utama nya tidak ada yang hadir mengawal keberlangsungan agenda itu. Hingga mengundang polemik lagi, kubu Seno Pikatan berang, begitu pula dengan pro lengserkan Gandari.
Lalu bersuaralah lantang kembali Seno Pikatan, bahwa; Gandari bersama pembantu utamanya melanggar komitmen pada pertemuan waktu lalu, yang mana telah dihadiri dewan pertimbangan raja dan para mantan punggawa kerajaan. Mereka tidak menampakkan batang hidungnya. Ini jelas, ketidak hadirin mereka menunjukkan bahwa mereka benar benar sudah balelo, tidak bisa dipercaya lagi.
Mendengar woro woro itu, keluarga besar kerajaan geger lagi. Nyaris semua jengkel, marah pada Gandari dan para pembantu utamanya. Hal ini pula, memantik Arya Panduko marah besar kesekian kalinya. Arya Panduko, sebagaimana diketahui, merupakan mantan raja, juga sebagai orang dibelakang kesuksesan Gandari menduduki tahta.
Sebagai penyokong utama Gandari, Arya Panduko jauh sebelumnya, sudah mewacanakan pada keluarga besar kerajaan, sudah saatnya tahta kerajaan dikendalikan oleh prajurit dari kalangan perempuan. Ternyata usulan itu, mendapatkan respon positif, bahkan pendiri kerajaan pun bersepakat. Bahwa masa berikutnya kerajaan dipimpin oleh raja perempuan.
Akhirnya pada forum tingkat tertinggi kerajaan, Gandari terpilih jadi raja! Kendati pada proses pemilihan Gandari harus bersaing ketat dengan Joyo Anabrang dan Laksmi Pramuwardhani.
Kali ini, Arya Panduko buka suara lagi, bahwa Gandari beserta pembantu utamanya segera dilengserkan. Batas toleransi sudah tidak ada. Mereka benar benar lalai, balelo. Ia pun segera menyarankan bentuk tim secepatnya agar forum segera menentukan pengganti Gandari, kerajaan perlu diselamatkan, dari orang gagal menjaga amanah. Mereka sudah tidak bisa menjalankan roda kerjaan, bila dibiarkan; akan berdampak buruk terhadap kejayaan kerajaan. Kerajaan akan ambruk, runtuh; ditinggal para punggawa nya, roda kerajaan jadi stagnan. Bila hal itu terjadi, kerajaan tinggal cerita, tinggal puing puing saja, sulit untuk dirintis kembali.
Senada dengan Arya Panduko, muncullah gagasan dari mantan punggawa lain, dia awalnya diam saja. Tidak mengikuti perkembangan tahta Gandari, apatis, acuh tak menghiraukan isu tentang tahta. Kini ia menjadi garda terdepan, menggalang kekuatan melengserkan Gandari. Ia hanya memberi woro woro; yang pro turunkan Gandari, mari merapat. Kita gagas bersama, agar polemik ini segera menemui titik terang nya.
Maka merapatlah, sebagian prajurit pro ganti Gandari, disana Kebbo Amangka, dari kalangan prajurit muda, menceritakan kondisi terkini kerajaan. Selesai membeberkan. Maka Mantan punggawa kerajaan, selaku mediator, merumuskan konsep turunkan Gandari. Semua pada bersepakat, akomodasi semua beres, tinggal pelaksanaannya. Gandari sudah dapat dipastikan, akan kehilangan tahtanya. Sejarah akan mencatat bahwa Gandari raja pertama dari kalangan wanita, juga kehilangan tahta sebelum purna tugas.
***
Rupanya, berita tentang pembentukan panitia pengulingan tahta Gandari. Menjadi isu hangat dalam keluarga kerajaan, gerakan taktis digalang beberapa prajurit muda ini, sampai juga ke telinga Arya Panduko, mendengar hal itu, ia merespon positif, tidak heran; apalagi kaget. Karena bagaimana pun, dirinya kecewa kepada Gandari, ia bersepakat jika Gandari dilengserkan secepatnya.
Namun, Jauh sebelum itu, ketika kondisi kerajaan masih kondusif. Gandari pernah sowan ke Arya Panduko; menceritakan roda kerajaan, berikut problematiknya. Saat itu, Arya Panduko mendukung penuh segala kebijakan Gandari. Ia berpandangan bahwa; Gandari, sudah menjalankan roda kerajaan dijalur benar, tidak ada gonjang ganjing, kegaduhan macam sekarang. Sekarang beda cerita, kerjaan mengalami kepincangan, karenanya; butuh dirombak sedemikian rupa.
***
Suatu hari; Gandari berhasil diculik, didudukkan, diajak bicara baik baik. Sekaligus minta pembeberan tentang ketimpangan jalannya roda pemerintahan, tentang fungsi, kedudukan, tugas Gandari sebagai raja. Selain itu pula, sebagai bentuk tanggung jawab Arya Panduko, yang telah mengusungnya, melakukan lobby lobby keberhasilan Gandari sebagai raja.
Sementara Gandari hanya tertunduk, tidak berkutik, hanya bisa meminta maaf.
"Maafkan saya bila tidak amanah." Kata Gandari
"Realita Ini tak ubahnya ngilas balik sejarah silam, dulu rajanya hilang, sekarang rajanya ada, tapi tak bisa memimpin. Dan biasanya orang yang berjuang meneruskan tugas raja, akan mendapatkan banyak hikmah, kaya pengalaman, tertanam jiwa besar. Ia akan bijak melihat realitas, bukan sok bijak. Ia tak akan bermain aman, karena jiwanya sudah tertempa keadaan." Tegas dia
"Meninggalkan tanggung jawab, dan tanggung jawab itu malah diemban bukan oleh orang yang berwenang wewenang. Itu merupakan perkara rusak, tidak adil. Tapi itu terlihat indah karena demi kemaslahatan. Bukan kepentingan. Maka beruntunglah orang itu, bila dalam jiwanya bertanggung jawab, kendati itu bukan wewenangnya, meski itu pula termasuk perkara rusak, tidak adil, karena sesungguh nya yang demikian itu, keberadaannya mempunyai kemaslahatan bagi orang lain." Tegas Arya Panduko.
"Mohon maaf. Saya bukan pemimpin bisa mengemban amanah. Saya juga bukan seorang bijak. Mungkin saya juga perusak. Iya hidup saya memang penuh ketidak jelasan. Tidak bertanggung jawab. Tidak punya rasa peduli terhadap lingkungan sekitar." Begitu kata Gandari penuh penyesalan.
"Namun kenapa, mereka melilih saya, mengemban amanah sebesar itu? Jika memang meyakini bahwa saya tidak amanah". Kilah Gandari
"Jangan salahkan mereka, ini bukan perkara menyalahkan. Titik nya pada perkara tanggung jawab (amanah). Bila seorang itu, lalai terhadap tanggung jawabnya, sudah dapat dipastikan, ada beberapa faktor memengaruhi, hingga ia pun jadi balelo." Tukas Arya Panduko.
Suasana hening, tidak ada suara terdengar dari keduanya. Mereka sama sama berfikir, Gandari berfikir, bagaimana menjelaskan supaya semua orang percaya bahwa dirinya tidak pernah balelo, masih komitmen, meneruskan tahta kekuasaannya. Namun untuk menjelaskan semua itu, Gandari tidaklah mempunyai mental. Dirinya sudah dianggap salah, akhirnya ia pun merasa berada diposisi serba salah, menjelaskan salah, tidak menjelaskan juga salah.
Hanya pembantu utamanya bisa memahami, berikut prajurit masih setia dengannya. Mereka tetap menjalin komunikasi tentang keberlangsungan tahta, dan mereka siap menjalankan roda kerjaan, kendati Gandari tidak ada, tidak bisa hadir. Mereka berkomitmen akan bahu membahu, menangani program program kerajaan dengan suka rela, menjalankan sesuai hasil program kesepakatan musyawarah kerja para punggawa nya. Sampai akhir tugas Gandari pada kerajaan ini.
"Coba flashback kebelakang, awal ketika kamu ingin dicalonkan sebagai raja. Coba ingat!" Perintah Panduko
"Tidak...... Aku tidak ingin mengingat itu lagi! Aku emang tidak amanah, dan sebenarnya aku tidak ingin dipilih jadi raja waktu itu! Gandari menutup mata dan telinga."
"Baik, cuma ada dua cara menyelesaikan polemik ini, jika kamu merasa tidak amanah. Pertama kau harus mundur, kalaupun engkau tidak siap menyatakan di depan keluarga besar kerajaan. Kau bisa gunakan cara lain, dengan membuat surat pernyataan. Adapun yang kedua, dengan cara proses forum luar biasa. Cara ini begitu mudah dan taktis." Kata Panduko.
"Ini tidak etis jika tetap dibiarkan! Engkau tiada maksimal menjalankan, menahkodai singgasana raja, malah yang penuh ikhlas dan meluangkan waktunya mengurus agenda agenda kerajaan dicurigai, diolok-olok punya kepentingan." Lanjut Panduko.
"Barangkali, perlu dekoreksi lagi, penilaian macam begitu. Dan argumen macam barusan, sebaiknya jangan pernah menelaah satu sumber saja. Melainkan semua sumber harus diserap, kaji secara seksama. Sebelum memberi simpulan!" ujar Gandari
"Sekali lagi maafkan aku, karena tidak amanah!" Pungkas Gandari.