Caca berjalan lesu menuju kantor ia bekerja. Sebagai receptionis, Caca wajib datang lebih cepat dari para karyawan lain. Sebenarnya datang lebih awal tidak masalah untuknya. Tapi pikiran beratnya kini bukan berada pada pekerjaan, melainkan keadaan ibunya yang kian hari semakin memprihatinkan.
Ibunya perlu di operasi. Tentunya butuh dana yang sangat banyak. Untuk pengangkatan ginjal, dana yang dibutuhkan tidak tanggung tanggung. Bahkan orang-orang yang di pikirnya bisa menolong pun angkat tangan karena besarnya uang yang Caca perlukan.
Dia tidak tau harus bagaimana lagi kemana mencari uang untuk operasi ibunya. Bahkan menjual rumah juga tidak akan memberinya uang yang cukup.
Tiba di meja receptionist, Caca melihat surat pemanggilannya menghadap bos besar perusahaan nanti siang.
Ada apa lagi?
Caca rasa dia tidak punya masalah apapun, tapi entah mengapa dia dipanggil menghadap pada bos besar itu.
Apa dia akan di pecat?
Oh, ini bukan waktu yang tepat untuk kehilangan pekerjaan. Caca butuh pekerjaan ini. Kalau tidak dari mana dia bisa menghasilkan uang untuk makan seluruh keluarganya. Belum lagi pengobatan ibunya.
Setengah hari ini Caca berusaha untuk bekerja dengan baik. Menyembunyikan wajah lesunya. Menampakan senyum manis pada siapapun yang datang.
Tepat saat jam makan siang, Caca di menuju ruang bos besar. Ruangan itu berada di lantai paling atas.
Dada Caca berdegap-degup merasakan perasaan tidak karuan tentang bagaimana nasib kedepannya. Caca berharap ini bukan berita buruk.
Caca mengetuk pintu dan masuk setelahnya. Seorang pria duduk di kursinya dengan konsentrasi yang penuh pada layar monitor.
Jam makan siang begini bos besar ini tidak juga keluar ruangan. Ya, Caca tau dia itu workaholic. Hobinya adalah bekerja. Maklumi saja tentang hal itu.
Dia juga yang memimpin perusahaan ini hingga menjadi sangat maju.
Pria itu lumayan dingin. Caca sendiri tidak tau pastinya bagaimana sikap Davian. Banyak berita tentang Davian tapi hanya berlabel gosip semata.
"Duduk," perintah Davian dengan nada datar.
Caca merasakan tubuhnya gemetar. Pasalnya bos besar ini jarang sekali berinteraksi dengannya. Kalau melihat Davian memang sering, tapi dia hanya menyapa Davian singkat sebagai formalitas.
Dengan gugup Caca duduk di depan Davian. Dia sedikit menunduk untuk menghindari pandangannya pada Davian. Bukan karena dia jijik dengan tampang Davian, pria itu mempunyai wajah tampan. Siapa memangnya yang akan merasa jijik. Tapi entah mengapa Caca takut dengan Davian. Kata orang, Davian sering bergonta ganti pasangan dan dia juga terkenal sangat kejam pada wanita
"Kamu punya pacar?" tanya Davian masih dengan nada datar.
Dahi Caca mengerut. Apa pertanyaan seperti itu normal di lontarkan seorang bos pada bawahannya?
"M-memang kenapa, Pak?" tanya Caca gugup. Peluh dingin membasahi dahi Caca.
"Jawab saja!" tegas Davian.
"Ti-tidak, Pak."
"Bagus."
Caca hampir membelak mendengar kata yang Davian ucapkan. Apa maksudnya Caca sangat bagus menjomblo? Dia tidak percaya jika bos ini selain kejam juga bermulut kasar.
"Memang kenapa, Pak?" tanya Caca mengulang pertanyaannya yang tadi.
"Menikahlah denganku," ucap Davian tanpa inotasi nada yang menunjukan reaksi apapun. Sangat datar.
Caca terdiam. Apa dia salah dengar? bosnya ini barusan berkata apa?
"Ma-maksud, Bapak?" tanya Caca merasa tidak mengerti.
"Apa kurang jelas? Kamu harus menikah denganku," tegas Davian menatap wajah Caca yang terlihat pucat karena rasa takutnya.
Caca tidak tau harus menjawab apa. Tapi dia merasa jika bos besarnya ini sudah gila. Apa kepalanya baru saja terbentur tembok?
Davian melemparkan sebuah kartu gold. "Kamu bisa memilikinya dengan syarat menjadi istriku," ucap Davian setelahnya.
Dalam diri Caca dia merasa direndahkan dengan pernyataan Davian. Rasanya seperti Davian menganggapnya wanita tanpa harga diri.
Sebenarnya jauh dalam lubuk hatinya Caca ingin menampar keras keras Davian agar pria itu sadar jika dirinya marah besar dengan tingkah terlalu berkuasa Davian.
Tapi Caca harus sadar diri. Dia hanya seorang karyawan yang menggantungkan hidup di perusahaan Davian. Jadi dia harus menjaga rasa hormat setinggi mungkin.
"Maaf, Pak. Saya rasa anda bisa menawarkan hal ini pada orang lain. Saya tidak membutuhkannya," tolak Caca sopan. "Kalau begitu saya permisi," pamit Caca sambil berdiri ingin pergi.
Davian tidak percaya dengan reaksi Caca. Tidak disangkanya Caca akan menolak.
"Tunggu!" tahan Davian. Kemudian dia melemparkan kunci mobilnya keatas meja. Tepat di samping kartu gold yang diberikannya pada Caca. "Kau bisa mengambil mobilku asal kau menikah denganku. Selain mobil kau bisa memiliki apapun yang kau inginkan. Aku tidak akan membatasinya. Tapi dengan catatan kau menjadi istriku."
Itu penawaran yang luar biasa. Wanita mana yang sanggup menolak? Andai saja itu tawaran yang diberikan dengan baik dan tanpa ditukar dengan apapun, Caca pasti akan langsung menerimanya. Dia butuh uang! Tapi karena penawaran ini dilontarkan Davian padanya dengan persyaratan dia harus menikah dengan Davian, Caca rasa dia harus berpikir puluhan atau bahkan ribuan kali untuk menerima itu.
"Maaf, Pak. Saya banyak pekerjaan," tolak Caca mencoba untuk segera pergi.
Tapi lagi-lagi Davian menahan Caca. Berjalan kedekat wanita itu dan menatap caca dengan pandangan tak terbaca.
"Kau sangat sombong, Nona," kata Davian masih dengan wajah datarnya. "Aku masih punya satu kesempatan. Jika kau keluar dari ruangan ini dan berubah pikiran, masih ada waktu sampai tengah malam nanti untuk mengambil kesempatan emasku ini."
Caca menahan geramnya sekuat tenaga. berusaha sekuat mungkin agar tidak meledak dan membentar atau bahkan berteriak pada atasannya ini. Bisa-bisa Caca langsung kehilangan pekerjaan bila dirinya kehilangan kendali.
Sebisa mungkin Caca mengukir senyumnya. Bersikap sesopan mungkin meski atasanya ini sangat tidak sopan. Dia membungkuk dan pamit pergi.
Sepeninggal Caca yang tubuhnya menghilang dari balik pintu, Davian termenung di tempatnya. Merasakan desir napsunya yang kian meronta ingin menuntaskan keinginannya untuk merenggut Caca dalam pelukannya.
Davian menutup mata. Bergumam jika dia harus bersabar sedikit lagi untuk mendapatkan wanita yang ia diidamkan untuk menghangatkan ranjangnya.
***
Caca berlari cepat menuju rumah sakit saat kakaknya menelpon jika ibu mereka mengalami serangan lagi. Air mata tak henti henti keluar dari sudut matanya sambil dirinya berlari menyusuri lorong menuju ruangan inap ibunya.
"Gimana ibu, Kak?" tanya Caca dengan napas tersengkal.
Wanda, kakaknya Caca berdiri dengan tubuh yang lemas. Dia cukup kaget saat menatap ibunya kembali mengalami serangan.
"Masih ditangani dokter, Ca. Kamu gak apa-apa ninggalin tempat kerja?" tanya Wanda khawatir.
"Caca sudah izin, Kak," balas Caca sambil duduk di samping kakaknya.
Beberapa menit berikutnya dokter keluar. Caca dan wanda langsung berdiri dengan benak penuh tanya bagaimana keadaan ibu mereka.
"Gimana, Dok?" tanya Caca harap harap cemas.
Dokter menghela napas. "Tidak ada cara lain. Ibu kamu harus di operasi secepatnya," kata Dokter itu dengan nada kasihan. Dokter tau jika Caca tidak punya dana yang cukup untuk operasi. Operasi pengangkatan ginjal membutuhkan dana yang tidak tanggung tanggu besarnya.
Mata Caca terpejam. Memutar kepalanya agar dia menemukan cara. Caca tidak boleh membiarkan ibunya kenapa-napa. Serangan itu terus terjadi bahkan lebih sering dari biasanya.
Sebuah ingatan membuat Caca membuka matanya. "Lakukan opersinya, Dok. Saya akan siapkan dananya," ucap Caca yakin dan pasti.
Setelahnya tanpa bicara apa-apa lagi dia beranjak dari sana. Tidak dihiraukannya panggilan Wanda yang bingung dengan reaksi Caca.