Bruggh!!!
Zico menutup pintu mobil dengan kencang. Ia sampai di mobilnya, setelah berlarian ke sana kemari, sembunyi di sana-sini bersama Carissa. Demi menghindari orang-orang yang mengejar mereka. Skandal yang Carissa timbulkan membuat banyak orang tertarik untuk mengetahui kebenarannya secara langsung. Tentu mereka tidak akan menyia-nyiakan kemunculannya yang tiba-tiba, setelah dikabarkan menghilang. Apalagi kemunculannya kali ini bersama seorang pria, yang akan menjadi topik hangat di berbagai media. Letak parkiran yang cukup jauh, membuat mereka kesulitan untuk segera pergi. Sedangkan orang yang mengejar mereka semakin banyak. Mereka sampai harus bersembunyi di belakang tempat sampah yang cukup besar, hingga orang-orang itu pergi karena tak jua menemukan mereka.
Kini Zico dan Carissa bersandar lemas pada kursi mobil. Nafas mereka yang terengah-engah saling bersahutan. Zico melihat jam tangannya, sudah pukul 23.00 malam. Rupanya mereka terus melarikan diri dalam waktu yang cukup lama. Zico menoleh ke arah Carissa, ada kekesalan yang memuncak dalam dirinya.
"Lihat! Apa kau masih ingin jalan-jalan setelah kejadian ini?" bentak Zico marah.
"Sudah kubilang untuk berhati-hati, mengapa kau ceroboh sekali?" lanjutnya penuh penekanan. Carissa menoleh dengan wajah menyedihkan. Ia tampak sangat kacau dan nafasnya masih terengah-engah.
"Apa kau menyalahkanku?!" hardik Carissa dengan suara tinggi.
"Memang siapa lagi yang harus disalahkan di sini?" balas Zico tak kalah tinggi. Kelembutan dan kehangatannya pada Carissa hilang. Kini Zico dikuasai oleh emosi.
"Kau pikir aku sengaja melakukannya!" tampik Carissa tak mau kalah.
"Jika kau tidak memaksa untuk jalan-jalan dan terus mengoceh tanpa memperhatikan langkahmu. Kau pikir ini akan terjadi?" jawab Zico sengit.
"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin jalan-jalan saja. Berada di rumahmu seharian ini membuatku bosan. Apalagi perlakuan mereka membuatku sangat tidak nyaman. Aku hanya ingin sedikit hiburan. Apa itu salah?!" bela Carissa sengit.
"Kau sendiri yang memaksa untuk tinggal di rumahku, dengan alasan kau takut, kau butuh perlindungan. Aku sampai menentang semua orang demi dirimu. Tapi sekarang kau malah ingin keluar jalan-jalan, apa itu masuk akal? Jangan bilang kau sengaja melakukannya!" tekan Zico.
"Apa maksudmu? Kau menuduhku? Aku ingin jalan-jalan karena bersama mu. Kukira kau bisa melindungiku, tapi ternyata kau malah membuatku kesusahan," sembur Carissa.
"APA? Justru kau yang menyusahkanku. Aku masih berbaik hati dengan membawamu lari dari mereka. Dan sekarang kau malah berbicara seperti itu! Mengejutkan sekali," dengus Zico.
"Kau kekasihku Zico. Harusnya kau menuruti keinginanku, melindungiku. Jika kau tidak menolak permintaanku, aku tidak akan terus merengek padamu. Dan hal ini tidak akan terjadi," berang Carissa. Zico menghela nafas berat seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa kau masih mencintaiku, Carissa?" tanya Zico, kini suaranya merendah.
"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Carissa balik.
"Karena aku tidak pernah lagi merasa dicintai olehmu. Kau memanfaatkanku, kau selalu memaksakan kehendakmu padaku. Kau marah saat aku tidak bisa memenuhi keinginanmu. Daripada kekasih, justru aku merasa seperti seorang budak," ungkap Zico, ada kesedihan dalam perkataannya. Carissa terhenyak mendengar hal itu.
"Itu ... tidak benar," bantah Carissa gugup.
"Kau bahkan ragu untuk menjawabnya," pungkas Zico mengakhiri perdebatan mereka.
Ia melajukan mobilnya menuju rumah. Carissa tak berkata apapun lagi, dia bungkam. Sepanjang perjalanan, mereka diam satu sama lain. Hening, Zico fokus menyetir walau dengan pikiran yang kacau. Sementara Carissa terus menggigiti kukunya, ia gelisah.
••••••••••••••••
Sesampainya di rumah, Zico langsung mengantar Carissa ke kamar tamu. Carissa sempat ingin memintanya untuk tinggal, tapi raut wajah Zico membuat ia mengurungkan niatnya. Bahkan Zico tidak menatap wajahnya, dan pergi begitu saja. Tanpa berbicara sepatah kata pun. Ia pergi menuju kamarnya dan Chisa.
Ceklek!!
Pintu kamar terbuka, Zico muncul dengan wajah lesu.
"Kau baru pulang?" tanya Chisa yang tengah fokus membaca sebuah buku, rupanya ia masih terjaga.
"Iya," jawab Zico, suaranya terdengar begitu lesu, Chisa pun menoleh.
"Kenapa? Kau terlihat kacau," ujarr Chisa seraya melihat Zico dari atas sampai bawah.
"Tak apa, aku hanya lelah," kilah Zico.
"Ohh," sahut Chisa singkat.
"Aku akan tidur di sini. Tolong, jangan usir aku!"
"Lalu kekasihmu?" tanya Chisa. Ia tidak ingin Carissa mengganggu ketenangannya, dengan memaksa untuk tidur bersama. Zico hanya menggeleng.
"Ya sudah, beristirahatlah," ucap Chisa kembali fokus pada bukunya.
Zico pun mengganti bajunya. Lalu ia berbaring di samping Chisa. Sejenak ia menatap Chisa yang tengah fokus membaca. Dia memakai gaun piyama berwarna putih dan renda hitam. Ia juga memakai kacamata, rambut panjangnya yang hitam dibiarkan terurai sepinggang. Zico tersenyum, istrinya begitu cantik. Suasana hatinya membaik setelah melihat Chisa. Zico pun tertidur karena kelelahan.
Keesokan harinya, Zico ikut sarapan seperti biasa. Tapi dia menjadi sangat pendiam, ekspresinya tampak sangat muram. Semua orang yang melihat hal itu merasa heran, kecuali Chisa. David sempat bertanya ada apa dengannya, tapi Zico hanya menggeleng dengan senyum yang dipaksakan. Ia tidak menceritakan tentang kejadian semalam pada siapapun. Ia tahu ayahnya akan semakin marah jika sampai mengetahuinya.
Setelah sarapan Zico pergi ke entah kemana, tanpa menemui Carissa terlebih dahulu. Padahal ini hari Minggu, jadi Zico tidak pergi ke perusahaan. Ia hanya mengirim pesan agar Carissa memesan makanannya dari luar, Zico juga mentrasfer sejumlah uang pada rekeningnya untuk membeli makanan itu. Suasana hatinya sangat buruk, hingga ia tidak mau menemui kekasihnya itu. Dia hanya pamit pada David dan Serena untuk pergi ke suatu tempat. Mungkin ia ingin menenangkan diri.
•••••••••••••••
Sejak sarapan Zavier terus menghindar dari Chisa. Ia tak berani menatap Chisa seperti kemarin lagi. Setiap ia berpapasan dengan Chisa, maka ia akan mengalihkan pandangannya, pura-pura tidak melihat, atau bahkan berbalik arah. Chisa menyadari hal itu, tapi ia sengaja mempermainkan Zavier. Layaknya predator yang sedang mempermainkan mangsanya terlebih dahulu sebelum dijadikan santapan. Chisa yang sudah puas mempermainkan Zavier pun, akhirnya menegurnya. Ia sengaja menghalangi jalan, saat Zavier hendak lewat dengan terburu-buru.
"Mau kemana?" tanya Chisa, ia berdiri tepat dihadapan Zavier.
Deggg!! Zavier tersentak, ia langsung menundukkan wajahnya tanpa menjawab pertanyaan Chisa. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Teringat semua cerita Chriss tentang kebengisan pemimpinnya itu saat bertarung. Dan sekarang orang itu tepat berada dihadapannya.
'Tenang Zavier, tenang. Kau ini seorang pria, bersikaplah seperti biasa, seolah kau tidak mengetahui apapun tentangnya," batin Zavier.
Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri. Sementara Chisa tersenyum miring melihat Zavier. Di matanya, Zavier terlihat seperti anak kecil yang takut dimarahi ibunya, setelah melakukan sebuah kesalahan. Padahal tubuhnya begitu tegap dan tinggi, tapi ia tunduk dihadapan Chisa yang tubuhnya jauh lebih kecil darinya.
"Zavier," panggil Chisa seraya menjulurkan tangan hendak menyentuhnya. Zavier replek mundur kebelakang, Chisa tersenyum puas. Dia memang melakukan itu hanya untuk memancing reaksi Zavier.
"Ke ... kenapa kau tersenyum?" tanya Zavier hati-hati.
"Karena tingkahmu lucu sekali," jawab Chisa tanpa menghilangkan senyumannya.
"Aku? Lucu?" tanya Zavier gugup, kini ia melihat Chisa yang sedang tersenyum. Chisa mengangguk seraya menatapnya.
'Ya Tuhan, dia cantik sekali saat tersenyum. Tapi kenapa identitasnya begitu mengerikan?' batin Zavier mengeluh.
"Tapi kenapa kau tegang sekali?" Chisa sengaja menanyakan hal itu, padahal ia sudah tahu apa penyebabnya.
"Ti ... tidak, aku biasa saja," kilah Zavier.
"Lalu kenapa kau sangat berkeringat?" tanya Chisa lagi. Ia masih saja menpermainkan Zavier.
"Ah ... udaranya sedikit panas disini, jadi aku berkeringat," sahut Zavier seraya mengelap keringat di dahinya. Dia menjawab seperti itu padahal udara tidak panas sama sekali.
"Emmm ... begitu," jawab Chisa mengangguk-angguk. Zavier merasa sedikit lega. Dia pikir Chisa percaya dengan alasannya dan pembicaraan ini akan segera selesai. Agar ia bisa cepat pergi dari sana.
"Apa kau bisa mengantarkanku?" celetuk Chisa. Baru saja Zavier merasa sedikit lega, kini Chisa membuatnya semakin tegang.
"Ke ... kemana?" tanya Zavier terbata-bata.
"Ke dokter hewan. Kucing yang kemarin ku tolong kondisinya sudah membaik. Aku ingin memeliharanya tapi ia harus melalui pemeriksaan dan suntik vaksin terlebih dahulu. Aku sedikit kerepotan jika harus memegangnya sambil menyetir. Kau mau'kan membantuku?" tutur Chisa beralasan.
"Ahh, i ... iya aku mau." Zavier sempat berpikir kenapa Chisa tidak minta tolong pada supir saja. Tapi ia terlalu takut untuk menolak permintaannya.
"Syukurlah, kukira kau akan menolak. Kalau begitu ayo bersiap-siap," ajak Chisa, ia melangkah hendak pergi dari sana. Tapi Chisa menghentikan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Zavier yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
"Oh ya, tolong bawa masker dan topi juga ya," pesan Chisa, Zavier heran.
"Untuk apa?" tanya Zavier memberanikan diri.
"Penyamaran," jawab Chisa singkat.
"Tapi kenapa? Bukankah kita hanya akan pergi ke dokter hewan?"
"Iya itu benar. Tapi ...." Chisa menggantung kata-katanya, ia berjalan mendekati Zavier.
"Kita akan pergi ke markas White Fox juga," lanjut Chisa berbisik, Chisa tersenyum lalu pergi begitu saja. Rupanya ia sudah mengetahuinya. Chriss langsung memberikan laporan setelah ia memberitahukan identitas Chisa pada Zavier.
Seketika Zavier lemas ia bersandar pada dinding, nafasnya tercekat. Keringat dingin semakin membajiri tubuhnya. Jantungnya berdebar begitu kencang. Tubuhnya bergetar, ketakutan terus membayang-bayanginya.
"Dia ... dia sudah mengetahuinya. Bagaimana ini? Apa dia akan membunuhku? Aaahh ... Sial sekali! Aku tidak akan mencari tahu tentangnya jika kejadiannya akan seperti ini. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" gumam Zavier menyesal.
Ia memukul-mukul tembok disampingnya. Kemudian Zavier teringat perkataan Chriss. Semua akan baik-baik saja, jika ia tidak menimbulkan masalah. Zavier memikirkan perkataan Chriss itu dalam-dalam. Akhirnya ia pun bertekad untuk ikut dengan Chisa. Ia harus menghadapinya, jika ingin menyelesaikan masalah ini. Zavier menghela nafas berat.
"Baiklah, aku tidak bisa terus menghindar. Aku harus menghadapinya. Ini konsekuensi dari perbuatanku," tekad Zavier. Dia pun bersiap-siap untuk pergi bersama Chisa.
Beberapa menit kemudian Chisa sudah siap, ia membawa kucingnya dalam dekapan. Rupanya Zavier sudah lebih dulu menunggunya digarasi. Ia juga memakai kacamata dan topi, serta masker yang masih ia pegang.
"Kau cepat juga," tegur Chisa.
"Tangkap ini!" Chisa melemparkan kunci mobil miliknya. Zavier menangkapnya dengan cepat.
"Ini ...." Zavier sedikit bingung.
"Akan lebih mudah jika memakai mobilku." Zavier pun mengerti.
"Emm ... apa kita akan pergi ke dokter hewan dulu?" tanya Zavier ragu.
"Iya, coba lihat dimana alamat kliniknya?" Chisa menunjukkan kartu nama yang diberikan oleh Dokter Sinha kemarin.
"Ahh ... aku tahu tempat ini!" seru Zavier setelah membaca alamatnya.
"Baguslah, segera pergi ke sana," pungkas Chisa. Mereka pun pergi ke alamat yang dituju.
••••••••••••••••••
Dari dalam kamar, Carissa terus menghubungi Zico. Tapi berapa kali pun ia mencoba tetap tidak ada respon. Bahkan nomornya malah tidak aktif. Umpatan-umpatan kasar terus keluar dari mulutnya karena tak jua mendapat jawaban. Ia mondar-mondar ke sana kemari sambil mengigit ujung kukunya dengan gelisah. Sebenarnya Zico pergi kemana?
Holla selamat malam para readerku 🤗😅❤️
Seperti biasa Author postingnya malem ya😊
Cerpen ini juga ada di novel ku