Plak!
"Kamu ini bisanya malu-maluin aja, Kenzo!" bentak laki-laki paruh baya. Rudy Samuel, itulah nama Papa nya Kenzo.
"Papa gak mau tau, cepetan kamu nikahin peremuan itu!" sambung Rudy.
"Gak bisa gitu dong, Pah," tolang Mama nya Kenzo. Astria Albara.
Kenzo memang sudah merceritakan semuanya tentang dirinya yang sudah mengotori anak orang kepada orang tuanya, begitupun dengan adiknya.
"Kalo, Kenzo nikah sama peremuan murahan itu. Terus gimana sama Nadia?" sambung Astria.
"Azka setuju sama omongan, Mama. Abang berngsek bangat jadi cowok, udah tau dua hari lagi mau nikah sama Kak Nadia. Kalo belum siap nikah, setidanya jangan malu-maluin keluarga," ujar adiknya Kenzo. Samuel Azka Albara, umurnya cuma beda dua tahun sama Kenzo. Namu, Azka lebih harmonis dan bobrok.
"Diam!" bentak Rudy.
"Kenzo, Papa mau kamu bawa permpuan itu ke rumah sekarang!"
"Gak bisa, Pah." ucap Kenzo.
"Bilang aja dia gak mau kesini, karena dia malu udah hamilin anak dari Ayah pengusaha," sindir Astria.
"Tau nih, Papa. Azka aja gak kenal sama permpuan itu, Papa se-enaknya aja nikahin dia. Kita aja gak tau asal usul keluarganya,"
"Azka, Mah! Stop! Kalo kalian ngomel terus, masalah Kenzo samapai besok pun gak bakalan selsai," amuk Rudy.
"Kenapa kamu gak bisa bawa dia kesini?" tanya Rudy ke Kenzo.
"D-dia lagi di rumah sakit, Pah." jawab Kenzo.
"Alah, paling cuma setingan. Iya gak, Dek?" sindir Astria. Dan di balas anggukan oleh, Azka.
"Mah! Udah berapa kali Papa bilang diam? Kalo, Mama sama Azka ikut ngomel terus. Lebih baik kalian masuk saja ke kamar!" kesel Rudy.
"Papa, apan sih. Orang kami ngomong apa adanya iya kan, Mah?"
"Bener dong, Sayang."
Baru saja, Rudy hendak berbicara. Dengan cepat Kenzo mencegahnya.
"Pah, biarkan saja!"
Rudy menarik napas gusar. "Keputusan Papa sudah bulat, Kenzo tetap harus nikahin permpuan itu setelah dia keluar dari rumah sakit,"
"Pah, gak bi--"
"Dia sakit apa?" Potong Rudy.
"Kenzo juga gak tau, Pah. Waktu Kenzo kesini, dia masih di cek di UGD,"
Astria di buat kesel oleh suaminya. Dia pergi ntah kemana. Sedangkan Azka, dia memilih masuk ke kamarnya.
"Mending kamu cepetan kesanah, dan jagain terus. Takutnya Mama atau Nadia sakitin dia. Masalah keluarga Nadia sama acara nikah kamu, biar Papa yang urus,"
"Iya, Pah.
"Namanya siapa? Kamu belum kasih tau namanya sama Papa?"
"Namanya Kia, Pah."
Rudy hanya mengangguk.
"Kenzo, pulang dulu Pah!" ujar Kenzo sambil mencium tangan Rudy.
Ketika Kenzo sudah bener-bener pergi, Rudy mencari keberadaan istrinya. Rudy mencari ke kolam renang, karena tadi Astria kearah situ. Dan bener saja, Astria ada di sanah. Tapi dirinya sedang menelpon seseorang.
"Telepon sama siapa?" tanya Rudy dari belakangnya.
Astria segera mematikan teleponnya, dan berbalik. "Eh, a-anu P-pah," jawab Astria gugup.
"Anu siapa?" ketus Rudy.
"Kelayen. Iya, bener kelayen." jawab Astria.
"Coba Papa liat teleponnya!"
"Gak boleh,"
"Kenapa?" tanya Rudy.
"Bentar, Mama mau BAB dulu," alih Astria, dengan cepat dia pergi masuk kedalam rumah.
"Awas aja kalo Mama sembunyin sesuatu dari Papa," teriak Rudy.
******
Pov Kesya.
"Permisi, Dokter Reni!" ujarku, ketika masuk keruangan sahabat dari kuliah dulu.
"Loh ko gak ada?" batinku heran.
Biasanya dia kalo sudah magrib gini, sedang santai-santai di ruangannya. Tapi ko gak ada? Apa masih ada pasien? Kalo masih ada, biasanya dia selalu minta tolong padaku.
"Dokter Kesya ada di sini! Kirain di dalam ruang gak ada siapa-siapa," ucap salah satu Suster. Yang kaget melihatku ada di dalam ruangan.
"Tadinya sih saya kesini mau ketemu sama Dokter Reni, tapi ko dia gak ada di ruangannya. Suster tau gak Dokter Reni di mana?"
"Dokter Reni, ada di UGD. Beliou sedang oprasi pasien yang sedang kritis, Dok." jawab Suster.
"Namanya siapa Sus, kalo boleh saya tau?" tanyaku.
"Kalo gak salah, Zaskia Amelia Sanjaya." jawabnya.
"Nama itu." batinku.
Dengan cepat aku keluar dari ruangan Reni. Dan berlari ke UGD, kulihat ada dua orang yang sedang tidur di kursi rumah sakit. Siapa dia? Pikirku.
Aku masuk kedalam UGD, baru saja masuk. Aku mendengar tangisan yang pernah aku denger dari beberapa hari lalu.
"Dokter gak bohong, kan?"
Teriaknya, orang itu. Aku berjalan dua langkah, mendekat ke arah tirai ruangan oprasi. Niatnya sih ingin menguping.
******
Pov Author.
Kia sudah siuman dari 2 menit yang lalu, tapi dirinya masih saja lemes. Kia terus saja menangis, mendengar kondisi yang di alami sekarang.
"Mbak, sudah jangan menagis. Insyaallah, Mbak pasti kuat!" ucap Dokter yang tadi menangani Kia. Reni Rahmawati, itulah namanya.
"Dokter bohong, kan?" teriak Kia.
"Saya gak bohong, Mbak. Dari pemeriksan memang Mbak Kia mengalami penyakit kangker. Kalo saja tadi Mbak tidak segera di tangani, mungkin Mbak kekurangan darah." ujar Reni.
"Terus gimana sama kandungan saya, Dok?" tanya Kia.
"Hah, kandungan?" tanya Reni memastikan.
"Iya, Dok. Gimana sama calon beby saya?"
"Mbak Kia tidak hamil,"
Deg.
"Coban apa lagi yang engkou berikan." batin Kia.
"T-tapi waktu it--"
"Maap, Mbak Kia saya sudah berbohong," ujar Kesya keluar dari persembunyiannya.
"Kesya, maksud kamu apa bicara begitu?" ucap Reni.
Kesya mendekat kearah Kia, dia meraih tangan Kia yang sekarang sedang di inpus.
"Mbak, boleh marah sama saya. Saya minta maap!" ujar Kesya dengan tangisanya.
Kia mengusap air matanya yang ada di pipi, dan berkata, "Bisahkah Dokter Kesya berbicara jujur?"
Kesya mengangguk.
"Waktu saya kasih suntikan penenang ke Mbak Kia, Mbak Kia tidur pulas selama 15 menit. Dan waktu itu juga, sesorang laki-laki masuk keruangan saya sama Suster yang mengantarkan Mbak ke ruangan saya. Disitu juga, tes sudah keluar.
Laki-laki itu membawa pistol. Laki-laki itu mengancam saya begitupun Suster, kami harus mengikuti kemaunya. Kalo tidak, nyawa kami begitupun keluarga gak akan selamat. Saya disitu takut, Mbak. Saya dan Suster mengangguk atas permintaannya, dia memberikan saya tugas yang berkaitan dengan Mbak Kia.
Dia meminta hasil tesnya di ganti dengan tes kandungan, saya sebenarnya berat disitu Mbak. Disisi lain Mbak Kia harus seger di kasih tau sakit yang ada di tubuh, Mbak. Saya juga tidak tau apa maksudnya orang itu. Saya hanya menuruti kemauannya saja, setelah tes itu di ganti. Dia pergi dari ruangan saya." jelas Kesya.
Kia yang mendengarnya, tak henti-hentinya menangis, begitupun dengan Dokter Reni.
"Mbak mau kan maapin saya?" lirih Kesya.
Kia mengangguk. "Ini bukan salah, Dokter. Kalo boleh tau ciri-ciri yang sudah mengancam Dokter bagai mana mukanya?"
Kesya menggeleng. "Dia memakai baju hitam seluruh tubuhnya, dia juga memakai topeng yang bergambar harimau."
"Sangat sulit, bilang Mbak Kia mau mencarinya," timpal Reni.
"Siapa dia? Kenapa banyak rahasia dan coba'an yang Kia alami." batin Kia.
"Dok, Kia boleh minta tolong gak?"
"Apa?" tanya Kesya dan Reni barengan.
"Tolong jangan kasih tau siap-siapa tentang penyakit Kia, dan Kia minta tolong sama Dokter kalo Kia ini lagi hamil,"
"Tap--"
"Kia, mohon Dok!"
Kesya dan Reni mengangguk.
"Yasudah, Mbak Kia istirahat saja. Jangan memikirkan kondisi Mbak, Mbak baru saja saya kemol. Takaunya nanti, Mbak perutnya sakit lagi," saran Reni.
"Kalo boleh Kia tau, apa Kia masih bisa di beri waktu hidup?" tanya Kia.
Kesya dan Reni berpandang muka. "Saya rasa penyakit kangker yang Mbak Kia alami sudah satu tahun. Apakah Mbak Kia sudah tau penyakit kangker selama satu tahun ini?"
"Hah, satu tahun? Enggak, Dok. Kia baru tau sekarang aja kalo Kia punya penyakit Kangker," lirih Kia.
"Apa selama satu tahun ini, Mbak Kia ngeras ada yang aneh di tubuh Mbak?" tanya Kesya.
"Enggak, Dok. Tapi waktu SMA, Kia Selalu sering ngersain pusing, mimisan, rambut rontok, perut sakit, dan kalo mau makan selalu mual. Tapi pas Kia masuk kuliah, Kia udah gak ngerasain lagi paling cuma perut sakit dan mimisan." terang Kia.
"Mbak Kia, apa sebelumnya sudah cek ke rumah sakit?" tanya Reni.
Kia menggeleng. "Kia gak punya uang buat cek kerumah sakit,"
"Kenapa tidak minta sama orang tua?" tanya Kesya.
"Kesya," bentak Reni.
Kia tersenyum. "Ayah waktu itu lagi gak kerja, sedangakan Bunda sehari-harinya bantu tetangga buat ketring. Kia gak mau kasih tau kalo Kia sakit, karena Kia gak mau Bunda sama Ayah kerja keras cari biaya buat berobat Kia. Buat makan aja Kia sama kelauarga udah bersyukur bangat masih di berikan makanan."
Kesya dan Reni yang mendengarnya ada raut kesedihan di hati kecilnya. Dulu Reni dan Kesya selalu makan enak, dan uang selalu mereka dapat dengan biaya yang lumayan untuk mereka soping.
"Ternyata dalam kebahagian aku dapat, di lain sisi ada sesorang yang sedang butuh pertolongan." batin Kesya.
"Hidupku memang indah, tapi dalam keindahanku hanya sebagian yang engkou berikan." batin Reni.
Reni dan Kesya memeluk Kia erat, Kia yang dapat pelukan tiba-tiba hanya bisa menangis.
"Kalo kamu butuh apa-apa, Saya pasti bantu. Insyaallah," bisik Kesya.
Reni melepaskan pelukannya, di ikututi oleh Kesya.
"Dok, berapa lama lagi saya hidup?" tanya Kia.
Berat rasnya buat mengasih tau pada Kia, tapi Reni percaya kalo Kia pasti kuat untuk semua ini.
"Kamu jangan sedih, ya! waktu kamu cuma 2 tahun lagi," ucap Reni.
Deg.
Sory for typo.
Jangan pelit² kasih jejak and Krisan nya😅Nulis sama mikir itu emang gak gampang, tapi ada loh yang paling gampang yang aku paling cepet mikir. Yaitu, dapet THR dari orang² yang paling tersayang misalnya si Ehemm🤭