Namaku Jackie, seorang informan, agen rahasia, juga mata-mata dari kepolisian Indonesia. Selain itu, aku juga merupakan senjata rahasia dari pihak kepolisan. Oleh karena itu, aku tidak banyak memiliki teman, karena aku dituntut untuk menyembunyikan identitasku rapat-rapat.
Setiap mengerjakan sebuah misi, aku selalu menggunakan nama samaran. Sebab itulah, aku memiliki banyak nama samaran, misalnya saja James, Erick, Rockie dan masih banyak lagi.
Sepanjang hidupku menjadi agen rahasia, dalam kurun waktu lima tahun setidaknya aku sudah mengerjakan hampir tiga puluh kali dan semuanya menggantungkan antara hidup dan mati.
Tugas terakhirku baru selesai satu minggu yang lalu. Jadi, saat ini aku sedang menikmati liburan. Tapi tentu saja aku harus siap jika ada hal mendesak dan pimpinan memanggilku.
Misalnya saja sekarang, saat aku sedang duduk di kursi di pinggir pantai dengan menggunakan celana pendek serta topi dan kacamata hitam sambil menikmati keindahan laut dan gelombang yang pasang surut. Ditambah lagi ditemani banyak wanita-wanita cantik yang merambah dan mengelus tubuhku. Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, "Tring… Tring… Tring…" sontak saja tanpa menunggu waktu lama, aku langsung mengeluarkan ponselku dari saku celana. Dan saat aku membuka layarnya, nama Pak Raven yang tertulis dengan jelas.
Oh iya, pak Raven adalah atasanku, sekaligus pimpinan divisiku.
Tanpa lama lagi, langsung aku terima telepon itu, "Hallo Pak, selamat siang." Ucapku.
"Jackie, kamu sedang ada dimana? Cepat terbang ke Jakarta, ada tugas yang harus kau selesaikan!" Jawab Pak Raven tanpa membalas salam dariku."
"Baik pak, laksanakan." Ucapku sambil mengunyah keripik singkong yang ada di tanganku.
Pak Raven tidak mengatakan apa-apa lagi setelah itu, beliau langsung menutup teleponnya.
Setelah sambungannya terputus, aku berdecak kesal, "Cih…" Begitu decak kesalku. Bagaimana tidak, baru saja aku ingin menikmati liburan, tetapi sudah diganggu. Tapi ya bagaimana lagi, itulah tugasku, jadi aku harus tetap melaksanakannya.
Aku berdiri dari tempatku, lalu aku merogoh saku celanaku. Ku keluarkan setumpuk uang dan langsung ku lemparkan ke atas.
Dengan cepat, wanita-wanita yang sebelumnya menggerayangi tubuhku langsung berlarian kesana-kemari untuk mengumpulkan uang yang aku lemparkan.
Setelah mereka sibuk berebut uang, aku langsung pergi meninggalkan tempat itu. Aku kembali ke villa tempatku bermalam, aku mengambil semua peralatan dan barang-barangku. Setelah itu aku pergi ke tempat kasir berada dan langsung membayar tagihanku.
Setelah urusanku disana selesai, aku langsung naik ke mobilku. Mobil berwarna biru dengan corak naga berwarna kuning menghiasinya. Mobil itu bermerek BMW X5, mobil pemberian dari pimpinan ku.
Mobil itu bukanlah mobil biasa, di dalamnya telah dilengkapi fitur-fitur khusus untuk membantuku. Mobil tersebut memang di desain dan dibuat khusus untukku menyelesaikan misi-misiku.
Misalnya saja pada bagian mesinnya, dipasang empat buah NOS untuk mempercepat perjalananku. Atau di samping kanan dan kirinya terdapat masing-masing satu senapan mesin yang bisa mengeluarkan puluhan peluru sekaligus.
Di bagian body nya pun tidak kalah hebatnya, dilengkapi dengan kaca dan body yang anti peluru.
Tanpa menunggu lama lagi, aku langsung menghidupkan mesin mobilku. Dalam hitungan detik, tidak terlihat lagi villa yang aku tempati sebelumnya. Ya, aku melaju dengan kecepatan tinggi.
*****
Dua jam kemudian,
Aku sudah sampai di markasku. Ku lihat sudah ada satu orang yang menungguku di depan pintu.
Aku mengenalinya sebagai Catrine, salah satu agen rahasia wanita terbaik yang kami miliki.
"Tugas apa yang akan diberikan ketua?" Tanyaku dalam hati.
Walaupun aku masih menebak-nebak tugas yang akan diberikan ketua, tapi sudah bisa dipastikan tugasnya pasti sangat sulit dan beresiko.
"Selamat datang Jackie," Sapa Catrine kepadaku sambil tersenyum lebar.
Aku tak menjawab sapaan itu, aku hanya membalasnya dengan senyuman dan langsung berjalan ke dalam markas sementara Catrine mengikutiku dari belakang.
Sesampainya di ruangan pimpinan, Pak Raven ternyata sudah menunggu kedatanganku. Saat ia melihatku, pak Raven langsung bangkit dari tempat duduknya dan melemparkan setumpuk buku yang berisi laporan dan misi yang akan aku kerjakan.
"Itu adalah laporan misi yang akan kau lakukan bersama Catrine." Begitu tukas pak Raven.
"Kau ingat Jacob?" Tanyanya kepadaku.
Mendengar nama Jacob, aku langsung mengangguk. Aku tentu saja mengenalinya, bahkan jika aku kehilangan ingatan pun aku pasti akan tetap mengingatnya.
Bagaimana tidak, Jacob adalah satu-satunya sasaran yang bisa lepas dari genggaman tanganku. Bukan hanya berhasil kabur, dia juga berhasil membuat luka dibagian perutku dan sampai saat ini tidak bisa hilang.
Bisa dibilang, Jacob adalah musuh bebuyutanku. Dan orang yang harus aku dapatkan baik itu hidup maupun mati.
Jacob sendiri merupakan bos mafia yang kejam dan haus kekuasaan, kekayaan maupun sex. Dia mengumpulkan pasukan untuk melindunginya dan bisnisnya.
Jacob adalah pengedar narkoba yang sangat terkenal di Asia. Banyak yang ingin menangkapnya, tetapi tidak ada yang berhasil melakukannya.
Aku terdiam sejenak, sementara Pak Raven mengangguk sambil tersenyum puas setelah melihat aku melamun untuk beberapa waktu. Sebab ia juga tahu cerita tentangku dan Jacob.
"Dari laporan yang ku terima, Jacob saat ini sedang berada di Jepang. Dia sedang menjalankan bisnisnya disana. Tugasmu dan Catrine adalah menangkap Jacob baik dalam keadaan hidup maupun mati."
"Siap laksanakan," Ucapku dan Catrine dengan tegas tanpa menunggu lama.
*****
Tiga hari telah berlalu, persiapan demi persiapan telah dilakukan. Hari ini kami siap untuk berangkat ke Jepang. Untuk menyembunyikan identitasku dan Cetrine, maka kami berdua pergi menggunakan pesawat terbang seperti rakyat biasa.
*****
Tepat pada tanggal 16 Maret 2020, aku dan Cetrine tiba di Jepang. Kami menyamar sebagai sepasang suami istri yang sedang melakukan liburan. Sebab itulah, saat di bandara tidak ada security yang curiga kepada kami.
Dengan membawa sebuah koper, kami berdua meninggalkan bandara dengan menaiki sebuah mobil berwarna hitam. Tentu saja itu bukanlah mobil biasa, di dalamnya sudah ada informan dari Jepang yang siap membantu misi kami. Namanya Yamada.
Di perjalanan kami mulai membahas tentang Jacob dan bisnisnya, berapa banyak anak buahnya dan semua yang berhubungan dengan Jacob.
Ternyata Jacob sudah berada di Jepang sejak dua bulan yang lalu, tapi informasi itu tidak begitu menarik untukku dan Cetrine sebab kami juga sudah mengetahuinya dari buku laporan yang diberikan Pak Raven.
Jacob juga ternyata tinggal di Tokyo, dia menyembunyikan bisnisnya dengan baik di kota sebesar itu. Hal tersebut menandakan bahwa Jacob tidak bisa dianggap remeh.
Jacob juga memiliki dua orang kepercayaan, yang pertama bernama Bruce, seorang ahli senjata api yang ia datangkan dari Inggris. Sementara yang kedua adalah Chen, seorang ahli beladiri yang ia datangkan dari China. Kedua orang tersebut menjadi tameng terakhir dari Jacob.
Tanpa disadari, ternyata kami telah sampai di hotel tempat kami menginap. Dengan identitas yang telah diberikan, kami dengan mudah untuk masuk kesana. Kami berencana untuk istirahat hari itu dan mulai menjalankan misi keesokan harinya.
*****
17 Maret 2020
Kami mulai bergerak melaksanakan rencana yang telah kami siapkan tadi malam. Menggunakan peralatan lengkap yang telah disiapkan, kami memulai aksi kami.
Misi di mulai
*****
Kami telah sampai di salah satu tempat bar milik Jacob. Rencana kami dimulai dari sana.
Dengan menggunakan identitas palsu, lagi-lagi kami dengan mudah untuk masuk kesana.
Sesampainya di dalam, kami disambut dengan orang-orang yang sedang berpesta, baik itu minuman beralkohol, narkoba ataupun hanya sekedar merokok dan bermain wanita. Musik rock dan metal pun mengisi tempat itu.
Kami mengambil satu meja untuk duduk, tidak lupa juga kami memesan minuman dan makanan agar tidak ada yang curiga.
"Teman-teman sekalian, mari kita lihat pertandingan antara Mr. Jhonny dan Mr. Benjamin. Buat diri kalian nyaman karena pertandingan akan segera dimulai." Suara tersebut terdengar jelas di telingaku.
Aku tersenyum tipis, karena hal itulah yang dari tadi kami tunggu-tunggu. Pertandingan yang bisa membawa kami bertemu dengan Jacob. Bukan tanpa alasan, pertandingan itu dibuat untuk mencari bibit-bibit unggul yang menguasai beladiri untuk dijadikan pengawal Jacob. Selain itu, pertandingan itu bisa menghasilkan uang yang banyak.
Hampir lima menit berlalu, para penonton sudah mulai mengumpulkan uang mereka untuk taruhan. Ku lihat ada yang bertaruh pada Mr. Jhonny, ada juga yang bertaruh pada Mr. Benjamin.
Tentu saja aku, Cetrine dan Yamada tidak ingin melewatkan kesempatan, kami juga ikut bertaruh. Aku dan Cetrine memilih bertaruh pada Mr. Jhonny sementara Yamada kami minta untuk bertaruh pada Mr. Benjamin. Jadi, siapapun yang menang, kami tetap mendapatkan uang. Yah bisa dibilang itu cara terbaik untuk menghemat uang.
Tidak menunggu waktu lama, sang wasit mulai memasuki arena, diikuti Mr. Jhonny dari sudut merah dan Mr. Benjamin dari sudut biru.
"Mulai!" Teriak sang wasit.
Berkumandangnya teriakan sang wasit, mengawalinya pertandingan antara Mr. Jhonny dan Mr. Benjamin.
Sorak-sorai penonton lalu mengikuti jalannya pertandingan. Ada yang meneriakkan nama Mr. Jhonny, ada juga yang meneriakkan nama Mr. Benjamin. Mereka tampak sangat bersemangat menonton pertarungan itu.
"Mr. Jhonny!"
"Mr. Benjamin!"
Begitulah sahut-sahutan antara para penonton.
*****
Pertarungan antara kedua pria gagah itu berlangsung cukup lama, kadang Mr. Jhonny yang barada dalam keadaan terpojok, kadang juga Mr. Benjamin yang dalam posisi tersebut.
Wajah mereka pun tidak bisa terhindar dari kerasnya pertarungan mereka. Bonyok dan luka serta darah sudah menghiasi tubuh bagaikan hal yang sudah biasa bagi mereka. Dan akhirnya, Mr. Benjamin harus mengakui kemenangan dari Mr. Jhonny.
Berakhirnya kekalahan Mr. Benjamin menjadi pertanda berakhirnya juga pertarungan.
"Ayo… ayo siapa lagi yang ingin mencoba kekuatan Mr. Jhonny." Teriak sang wasit sambil mengangkat tangan Mr. Jhonny.
Sesuai rencana yang telah kami susun, Yamada yang akan menjadi penantang selanjutnya dari Mr. Jhonny.
"Wah… wah… tampaknya kita kedatangan pendatang baru dalam pertarungan ini." Teriak sang wasit saat melihat Yamada berjalan ke tengah arena.
Bersamaan dengan itu, mataku terfokus pada seseorang yang sedang duduk menyaksikan pertandingan dari lantai dua bangunan.
Ya, dia adalah salah satu orang kepercayaan Jacob, Chen.
Seolah sudah diatur, mata kami tiba-tiba bertemu. Jika dia melihat wajahku, tentunya dia bisa dengan mudah menyadari identitasku, sebab itulah sebelum kami melakukan misi, aku sudah membuat perbedaan pada wajah dan rambutku. Aku menggunakan rambut palsu yang agak panjang dan juga diikat. Pada wajahku sendiri kini sudah dihiasi kumis dan jambang, membuat aku berbeda dengan biasanya.
"Hadirin sekalian, harap bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan menyaksikan pertarungan antara Mr. Jhonny dan Mr. Misaki." Ucap sang wasit. Kali ini Yamada juga menggunakan identitas palsu bernama Misaki.
"Tanpa berlama-lama, siapkan uang taruhan kalian karena pertarungan ini tampaknya akan lebih memuaskan daripada sebelumnya." Sambung sang wasit dengan sedikit nada mengejek dan tersenyum penuh arti saat melihat ke arah Yamada.
Bukan tanpa alasan, Yamada memiliki tinggi hanya sekitar seratus tujuh puluh sentimeter sementara lawannya, Mr. Jhonny memiliki tinggi sekitar seratus sembilan puluh sentimeter. Selain itu, tubuh Yamada juga tidak terlalu besar hanya sekitar 60 kilogram sementara Mr. Jhonny memiliki berat sekitar tujuh puluh lima sampai delapan puluh kilogram.
"Mr. Jhonny siap?"
"Mr. Misaki siap?"
Tanya sang wasit kepada mereka dan mereka menanggapinya dengan anggukan.
"Mulai!"
Dengan bergemanya kata "mulai" ku lihat Mr. Jhonny dengan garangnya berlari ke arah Yamada. Dengan tangan kanan yang terkepal siap memukul tubuh Yamada, Mr. Jhonny yakin bisa melumpuhkan Yamada dengan satu serangan itu.
"Hiyahhhhh…." Begitu teriak Mr. Jhonny sambil berlari ke arah Yamada.
Nyatanya tidak semudah yang ia pikirkan, aku melihat Yamada membuat kuda-kuda. Dia tarik kaki kanannya ke belakang dan saat Mr. Jhonny hampir mendekatinya, Yamada mengangkat kakinya dan dia ayunkan ke atas.
"Bukkkkk." Suara keras terdengar. Kejadian itu terlalu cepat. Bahkan banyak yang tidak menyadari apa yang terjadi.
Kaki Yamada mengenai leher dari Mr. Jhonny. Dan satu serangan itu ternyata membuat Mr. Jhonny jatuh ke lantai dan pingsan.
Semua orang terkejut. Sebagian terperangah dan sebagian lagi menutup mulut mereka. Sorak-sorai yang tadi terdengar kini digantikan dengan kesunyian. Tidak ada suara sama sekali. Bahkan jika ada langkah kaki orang yang berjalan ataupun suara orang menelan ludah, maka suara itu akan terdengar dengan jelas.
Semua baru tersadar saat Chen membuka suaranya.
"Kau sungguh hebat. Tidak kusangka kau akan mengalahkan Mr. Jhonny dengan satu kali serangan." Kulihat ucap Chen yang berdiri di lantai dua sambil menunjuk ke arah Yamada.
Aku tersenyum tipis karena rencana kami tampaknya berhasil sementara Yamada memberi hormat kepada Chen. Bukan karena Yamada menghormatinya ataupun takut padanya, tapi untuk membuat Chen benar-benar percaya padanya.
Hari itu, satu rencana kami berhasil dan awal mula misi kami dijalankan.
*****
18 Maret 2020
Malam sebelum kami berangkat ke salah satu bar milik Jacob, aku, Cetrine dan Yamada sudah membuat rencana dan rencana kami berhasil dengan mulus.
Yamada kini sudah berada di tempat persembunyian Jacob. Sementara aku dan Cetrine sudah bersiap-siap untuk menjalankan rencana selanjutnya. Sebelumnya kami sudah memasang alat pelacak di tubuh Yamada untuk mempermudah kami mengetahui keberadaannya. Selain itu, kami juga menyembunyikan satu hal dari Yamada, dan kami mendapatkan sesuatu yang sangat penting dari itu.
Kami pergi mengendarai mobil yang kami pakai di hari sebelumnya, kami mengikuti arah Yamada menggunakan google map.
Hampir tiga puluh menit lebih kami melakukan perjalanan dan akhirnya kami tiba tidak jauh dari lokasi Yamada terlacak.
Aku sengaja memarkirkan mobil agak jauh dari lokasi, agar tidak menaruh kecurigaan. Sebab aku yakin, tempat persembunyian Jacob pasti dihuni oleh anak buahnya dan dijaga dengan super cepat.
Aku dan Cetrine turun dari mobil, kami bawa senjata yang telah kami siapkan sebelumnya. Setidaknya aku membawa lima pistol bersamaku. Dua kupegang sementara satu di bagian pinggang dan dua lainnya di kaki kiri dan kananku. Aku juga tidak lupa menyelipkan dua buah pisau di bagian kakiku.
Rencananya kami akan menyelinap secara diam-diam ke tempat itu.
Dari yang Yamada jelaskan saat kami membuat rencana, pergudangan tempat persembunyian Jacob terdiri dari puluhan gudang. Dan ada satu bangunan yang sangat besar dan memiliki beberapa tingkat. Bangunan itu terdapat di bagian tengah pergudangan dan diyakini tempat tinggal Jacob.
*****
Kami mulai masuk ke pekarangan gudang. Kami memilih jalan belakang karena kami pikir tidak terlalu ketat penjagaannya dibandingkan di bagian depan.
Awalnya rencana kami berjalan dengan mulus sampai akhirnya kami sudah masuk agak dalam.
Tiba-tiba saat kami sedang berjalan mengendap-endap kami melihat sekitar sepuluh orang anak buah Jacob yang sedang berjalan ke arah kami.
Dengan sigap aku menutup mulut Cetrine, setelah itu kami bersembunyi di salah satu bangunan yang ada ditempat itu.
"Plak.. plak…" Terdengar dengan jelas suara langkah kaki dari anak buah Jacob. Untungnya mereka hanya sekedar lewat saja dan tidak mengetahui keberadaan kami.
Setelah kami rasa situasi sudah aman, aku mengajak Cetrine untuk berpencar dan menjalankan kembali rencana yang telah kami susun sebelumnya. Cetrine setuju, kami berjalan ke arah yang berbeda.
*****
Setelah berpisah dengan Cetrine, aku mulai melanjutkan rencana ku. Aku mengendap-endap dari satu gudang ke gudang lain, bukan hanya sekedar lewat saja, aku juga sudah memasang bom waktu di tempat strategis yang aku lewati. Memang hal itu sudah masuk dalam rencana kami sebelumnya.
Sekitar se jam berlalu, ku pikir semuanya sesuai dengan rencana ku, tetapi nyatanya tidak semudah itu. Saat aku sedang mengendap-endap di salah satu gudang, aku tidak sengaja menyenggol sebuah pipa dan menjatuhkannya. Sontak saja suara keras terdengar dan tidak lama kemudian tiga orang mendatangi tempat itu.
Aku sudah bersembunyi, ku pikir mereka tidak mengetahuinya tetapi ternyata ada satu kesalahan yang kulakukan. Aku bersembunyi diantara tempat yang gelap dan terang. Akhirnya mereka melihat bayanganku. Aku bisa mendengar salah satu dari mereka berteriak. "Siapa disana?" Begitu teriaknya.
Aku tetap diam, berharap mereka tidak memeriksa tempatku. Bukannya aku takut ketahuan, tapi kalau bisa memilih aku tidak ingin memulai baku tembak dengan mereka. Sebab hal itu akan mengundang lebih banyak lagi orang yang datang.
Tapi nyatanya harapanku tidak sesuai, mereka tetap memeriksa ke arahku. Tidak punya pilihan lain, terpaksa aku menembak ke arah mereka.
"Door!" Satu tembakan ku berhasil mengenai salah satu dari mereka.
"Door! Door!" Dua orang lainnya tidak sempat untuk menembakku karena mereka sudah tewas ditangan ku.
Benar saja tebakanku, tidak lama kemudian datang lagi orang lain. Kali ini hampir sepuluh orang.
Aku bersembunyi, mencoba membunuh satu persatu dari mereka.
Rencanaku berhasil, dalam kurun waktu lima menit, kesepuluh orang itu berhasil tewas ditangan ku.
Aku mempercepat lajuku, tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku lebih berhati-hati bergerak. Tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Baru saja aku merasa lega, tiba-tiba suara sirine dengan jelas terdengar. Hanya satu tebakanku, aku dan Cetrine sudah ketahuan dan yang menyalakan sirine itu jelas membuat peringatan kepada yang lainnya.
Dengan demikian, aku menambah lagi lajuku dari sebelumnya.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini aku tidak berniat sembunyi-sembunyi lagi. Aku menembak setiap orang yang kulihat. Ada juga yang ku bunuh menggunakan pisau di kakiku.
Aku bergerak dengan lincah bagaikan tidak kenal takut dan mati. Setiap orang yang kulihat ku habisi dengan cepat.
Dan akhirnya aku sampai di bangunan terbesar yang dijelaskan oleh Yamada sebelumnya.
Tidak ingin membuang waktu, aku langsung masuk dari pintu belakang. Baru saja aku masuk, aku sudah disambut oleh lima orang.
"Door! Door! Door!" Suara tembakan mereka terdengar dengan jelas olehku. Dan semuanya mengarah kepadaku, beruntung ada pipa besi yang bisa kujadikan tamengku.
Setelah tidak terdengar lagi tembakan, aku mulai membalas. "Door! Door!" Satu orang berhasil terkena tembakan ku tepat dibagian kepalanya.
"Door! Door!"
"Piu! Piu!" Tembakan demi tembakan saling membalas kami lesatkan. Beruntung tidak ada yang berhasil mengenaiku. Sebaliknya, aku berhasil melumpuhkan dua orang lainnya.
Aku berpindah lagi tempat sembunyi. Ku dengar ada satu orang yang mengendap-endap didekatku. Dengan insting yang kuat, aku bergerak dengan cepat melempar pisauku. Dan berhasil, pisau itu tertancap dengan tepat di leher musuhku.
"Door!" Musuh terakhir menembak ke arahku, beruntung aku berhasil menghindarinya.
Tampaknya musuh terakhir ini lumayan hebat, aku berhasil dipojokkan olehnya, tidak bisa bergerak dengan leluasa. Setiap kali aku mencoba mengintip, dia dengan cepat menembak ke arahku.
Baku tembak di antara kami cukup sengit, tetapi baik aku maupun dia berhasil menghindari tembakan itu.
Saat peluru dia tidak berhasil mengenaiku, aku berpikir untuk membalas lagi tembakannya. Tetapi ternyata peluru di pistolku habis, sebenarnya bisa saja aku mengeluarkan pistol lainnya, tapi aku memiliki rencana lain. Aku pura-pura melemparkan pistolku tersebut dan berharap musuh membuka badannya. Dan benar saja, rencanaku berhasil. Dia benar-benar mendekat ke arahku.
"Menyerah lah man!" Ucapnya sambil tersenyum ke arahku. Sementara aku bersembunyi di tempatku sebelumnya.
Aku tidak menjawab, dan saat dia benar-benar sudah berjalan mendekat ke arahku dan tidak memiliki pelindung.
"Door!" Dengan cepat ku tembakan pistolku lainnya. Dan akhirnya aku berhasil membunuhnya.
Tidak menunggu lama lagi, aku langsung naik ke lantai selanjutnya. Disana ternyata aku sudah ditunggu oleh belasan orang lainnya. Seperti sebelumnya, kami melakukan aksi baku tembak. Tapi kali ini tidak berlangsung lama, sebab tembakan ku mengenai semua sasaran yang ada.
Ku langkahkan kakiku menuju lantai tiga. Ternyata disana aku sudah ditunggu oleh beberapa orang. Tetapi ada yang berbeda dari sebelumnya. Disana aku melihat seorang yang aku kenal. Dia adalah Bruce, salah satu orang kepercayaan Jacob.
"Wah Jackie, aku memang sudah menduga bahwa kau bisa sampai kesini. Tapi kali ini kau tidak akan lolos ditangan ku." Ucapnya sambil tersenyum tipis.
Seperti biasa, aku tidak menjawab selain tersenyum tipis kepadanya.
Tanpa menunggu waktu lama, langsung ku tembakkan pistolku ke arahnya.
"Door!"
Peluruku meleset.
"Wow, tembakan yang bagus. Tapi sayang kali ini masih meleset." Ucap Bruce.
"Cih!" Dengus kesalku.
Setelah serangan pertamaku gagal, ku lihat Bruce menginstruksikan anak buahnya untuk berpencar.
Aksi baku tembak kembali berlangsung di antara kami.
"Door!"
"Piu!"
Tembak menembak diantara kami terus berlangsung. Satu persatu anak buah Bruce berhasil aku lumpuhkan. Dan akhirnya tinggal aku dan Bruce.
Seperti di lantai satu sebelumnya. Aku kehabisan peluruku.
"Cih!" Decakku kesal, karena itu adalah pistol terakhirku.
Ku lempar pistol itu ke arah Bruce tetapi dia berhasil menghindarinya. Tidak ingin memberiku kesempatan, dia mulai menembaki ke arahku.
"Piu! Piu! Piu!" Tembakan demi tembakan melesat ke arahku, dan akhirnya mengenai salah satu bagian tanganku.
Ku pegang tanganku yang terkena tembakan itu sembari berdecak kesal.
Aku tidak tahu lagi bagaimana aku bisa melewati tempat itu. Hanya satu yang terpikirkan olehku saat itu. Bahwa aku akan menemui ajalku.
Tetapi ternyata Tuhan masih berada di pihakku. Saat Bruce sedang mendekat ke arahku tiba-tiba saja terdengar suara tembakan.
"Door!"
Ku lihat Bruce mematung sejenak, dia juga menoleh ke arah belakang sambil memegangi perutnya yang kini telah bersimbah darah. Ternyata Cetrine yang melakukan itu.
Aku bernafas lega, selain bisa melewati kematian di depan mata, aku juga masih bisa bertemu dengan Cetrine kembali.
"Jackie, kau tidak apa-apa?" Tanya Cetrine sambil berlari ke arahku.
Aku mengangguk, saat Cetrine sudah hampir mencapai tubuhku, dia langsung memelukku.
"Maafkan aku yang datang terlambat." Bisiknya di telingaku. Dari yang ku dengar, tampaknya dia menangis. Dan satu hal yang baru aku sadari, ternyata Cetrine memiliki perasaan khusus kepadaku.
"Tidak, kau tepat waktu, buktinya aku masih hidup sampai saat ini." Jawabku sambil membalas pelukannya.
Saat kami sedang berpelukan, tiba-tiba aku mendengar suara tepukan.
"Plak… plak… plak… wow, sungguh romantis!"
Saat kulihat, ternyata itu adalah suara Jacob. Bukan hanya dia sendiri, tetapi di belakangnya ada Chen. Dan yang sudah kami duga sebelumnya, Yamada juga ada disampingnya Jacob.
Aku langsung melepaskan pelukanku dari Cetrine dan kami menghadap ke arah rombongan itu.
"Kau tidak terkejut melihat Yamada bisa berada bersamaku?" Tanya Jacob sambil tersenyum puas.
"Tidak, karena kami sudah mengetahuinya bahwa Yamada bersekongkol denganmu." Balasku. Aku tidak membual, memang aku dan Cetrine sudah mengetahui tentang itu saat malam sebelum kami berangkat ke tempat ini.
Karena tanpa Yamada ketahui, selain memasang alat pelacak kami juga memasang penyadap suara kepadanya. Jadi semua yang mereka katakan kami bisa mengetahuinya. Kami tidak menyangka ternyata Yamada sudah lama menjadi bagian dari Jacob dan mengkhianati kepolisian Jepang.
"Sangat pintar!" Jacob kembali bertepuk tangan.
"Sebenarnya aku bisa membunuh kalian disini, tapi aku sedang berbaik hati. Bagaimana kalau kita memainkan sebuah permainan. Jika kau menang, kalian bisa pergi, tapi jika kalian kalah kalian akan mati disini?" Ucap Jacob.
Aku tidak menjawab, aku berpikir sejenak lalu melihat kembali ke arah rombongan Jacob. Disana selain Jacob, Chen dan Yamada aku bisa melihat ada lima orang lainnya dan mereka semua memegang satu senapan serbu di tangan mereka.
Tidak punya pilihan lain, aku memilih tawaran itu dan mengikuti permainan Jacob.
Ternyata aku harus mengalahkan Yamada dalam pertarungan satu lawan satu.
"Tapi boss!" Ku dengar Yamada mulai protes pada Jacob.
"No… No… No… Tidak ada tapi-tapian." Ucap Jacob.
Tidak punya pilihan lain, aku mengikuti permainan itu. Lagipula aku ingin sekali membuat remuk badan Yamada, pengkhianat negara itu.
Setelah beberapa persiapan, kami mulai mengambil langkah pertama. Baik aku dan Yamada harus menunjukkan kemampuan terbaik kami, sebab diantara kami harus ada yang mati baru pertarungan ini berakhir.
Aku mulai serangan pertama, memang pertarungan Yamada dan Mr. Jhonny sebelumnya sudah di rencanakan pihak Jacob, tapi aku tau kemampuan Yamada. Dia merupakan salah satu petarung terbaik yang ada, sebab itulah aku tidak meremehkannya.
Serangan demi serangan mulai ku lancarkan, sementara Yamada kadang menghindarinya dan kadang juga menangkisnya. Hampir lima menit kami bertarung, tidak ada satupun dari kami yang terkena pukulan ataupun tendangan. Oleh karena itu, kami mundur secara bersamaan, mengatur nafas kami.
Setelah beberapa saat kemudian, kami melanjutkan pertarungan kami. Kali ini kami mulai saling terkena serangan. Kadang aku terkena pukulan kadang juga sebaliknya. Kadang aku terkena tendangan kadang juga sebaliknya.
Awalnya pertarungan kami berimbang, tapi lama-kelamaan, aku berhasil mengetahui kelemahan Yamada. Ternyata dia memiliki luka dibagian pahanya. Aku bisa mengetahuinya saat kami beradu tendangan, dia terlihat agak pincang.
Sontak saja aku langsung menyerang kelemahannya itu. Ku tendang berkali-kali kakinya yang pincang itu. Dia berteriak, "Argh!" Begitu teriaknya. Aku memilih seolah-olah tidak mendengarnya.
Ku pukul tepat ke arah dadanya, membuatnya termundur beberapa langkah. Tidak ingin membiarkannya menarik nafas, aku melompat ke arahnya. Kali ini aku menyerang bagian kepalanya. Ku pukul kepalanya dengan sikut ku. Lalu kemudian ku pukul lagi rahangnya dengan kepalan tanganku. Dan serangan selanjutnya, ku tendang bagian dadanya membuatnya dalam keadaan setengah berdiri. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku langsung maju lagi dan ku tampar kedua telinganya menggunakan telapak tanganku.
Kulihat darah mulai mengucur dari telinga, mulut dan hidungnya.
Saat itu, diriku seolah-olah sudah dirasuki setan, setelah itu aku langsung menendang ke arah bagian lehernya. Dan serangan itu menjadi serangan terakhirku untuknya. Yamada menghembuskan nafas terakhirnya.
Ku dengar tepuk tangan dari Jacob. "Bagus sekali, tapi itu bukan terakhir. Kali ini kau akan menghadapi Chen. Jika kau bisa mengalahkannya, maka aku benar-benar akan melepaskanmu.
Kalau kau kalah aku akan membunuhmu, dan menjadikannya budak sek ku!" Ucap Jacob sambil menunjuk ke arah Cetrine dan menjilati lidahnya sendiri.
Hal itu membuatku sedikit emosi, tapi aku tahan sebab aku tahu dia memang berniat memancing amarahku.
Kali ini aku benar-benar harus memenangkan pertandingan ini. Sebab aku tidak ingin terjadi apa-apa pada Cetrine.
*****
Tiga menit berlalu, aku dan Chen hanya saling memandangi satu sama lain. Mataku dan matanya bertemu. Jika mata bisa bertarung, maka mata kami sudah bertarung saat itu.
Ku lihat Chen sudah ingin memulai pertarungan. Dia mengangkat kakinya dan menendang ke arahku. Tapi belum sampai ke tubuhku, dia sudah menarik kakinya kembali. Tampaknya dia mencoba mempermainkan aku.
Tidak seperti menghadapi Yamada, kali ini aku memilih untuk bertahan terlebih dahulu. Sebab Chen adalah orang yang sangat sulit untuk dihadapi.
*****
Jurus demi jurus kugunakan begitu juga dengan Chen. Wajahku kali ini sudah dipenuhi luka dan darah sementara Chen hanya sedikit goresan saja. Memang sulit untuk mengalahkan pria itu.
Aku selalu berhasil ia pojokkan. Misalnya saat ini, aku berhasil terkena tendangannya. Sepertinya tidak ingin membiarkanku menarik nafas, dia langsung kembali menyerang ke arahku. Dia memukulku dengan bertubi-tubi. Kadang ke bagian perutku, pinggangku dan juga wajahku. Dan semua pikulan telak mengenaiku. Sebenarnya aku berusaha untuk menangkis ataupun menghindarinya, tapi aku tetap tidak bisa.
Aku dipaksa untuk bertekuk lutut dihadapannya. Rasanya nafasku sudah mulai tidak beraturan dan terputus-putus. Tubuhku mulai gemetaran, tubuhku seakan-akan sudah mencapai batasnya.
Aku memejamkan mataku, ku lihat Chen mendekatiku.
Tapi, sebelum Chen sampai padaku, tiba-tiba ku dengar suara teriakan dari seseorang.
"Jackie!!!" Saat kulihat, itu suara Cetrine. Ku lihat air mata sudah membasahi pipinya. Entah mengapa, setelah melihat itu, seakan-akan Tuhan memberiku kekuatan. Tubuhku yang sudah lemas, kini seakan bertenaga lagi. Bahkan sakit yang sebelumnya kurasakan, kini sudah tidak terasa lagi. Aku menutup mataku sekali lagi setelah itu.
Lalu ku dengar suara lainnya setelah itu, "Hiyahhhh!!!" Aku membuka mataku ternyata itu suara Chen yang sudah berniat melakukan serangan terakhir padaku. Kakinya hampir sampai ke leherku, tapi aku langsung menangkapnya.
Lalu aku berdiri dan langsung ku lemparkan tubuhnya.
'Boom' Tubuh Chen terhempas ke lantai. Aku bisa mendengarnya mengerang kesakitan.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, kali ini aku langsung berdiri. Aku harus melesakkan serangan terakhirku jika aku ingin memenangkan pertandingan.
Saat Chen mencoba bangkit, aku melompat ke arahnya. Dan 'Krakkk' lututku mengenai bagian leher Chen. Akhirnya Chen pun tewas ditangan ku.
Ku lihat Jacob mencoba menembakku. Tapi aku sudah menduganya sejak awal. Ku keluarkan pistol yang sebelumnya ku ambil dari Bruce.
"Door!" Tembakanku berhasil mengenai pergelangan tangannya membuat pistol miliknya terlempar.
Ku lihat juga lima orang anak buahnya mencoba menembakku. Tapi Cetrine berhasil menembak mereka terlebih dahulu. Dua diantara mereka berhasil terkena tembakan Cetrine. Sementara tiga lainnya berhasil sembunyi dan membantu Jacob.
Ku lihat mereka mulai lari sambil membawa Jacob.
Aku dan Cetrine tidak mencoba mengejar mereka, sebaliknya aku mengajak Cetrine untuk secepatnya berlari.
Saat tiba di depan jendela lantai tiga itu, aku dan Cetrine langsung mengajaknya melompat. Ku lihat ada atap bangunan lainnya di bawah yang bisa menyelamatkan kami.
Benar saja, sesaat setelah kami melompat, ledakan besar terjadi. Gudang demi gudang mulai hancur. Dan yang terakhir adalah gedung tempat kami sebelumnya.
Memang sebelumnya aku dan Cetrine sudah memasang bom disetiap bangunan yang kami lewati. Hal itu sudah kami rencanakan semalam sebelumnya.
Kami berhasil selamat dari ledakan itu. Sementara Jacob dan tiga anak buahnya? Aku yakin mereka sudah hancur terkena ledakan itu.
Akhirnya misi kami berhasil.
*****
Seminggu telah berlalu, aku dan Cetrine juga sudah kembali ke Indonesia.
Kali ini aku dan Cetrine sedang menikmati liburan kami. Aku memilih untuk mengajaknya ke Pantai Kuta Bali. Aku juga menyuruhnya mematikan handphone kami, agar tidak ada yang menganggu liburanku kali ini.
Aku dan Cetrine bersenang-senang disana. Sekaligus menjadi akhir cerita ini.