Sekilas tentang dirimu membuatku cinta. Semakin dalam akan dirimu sulit ku lupa. Anggun untaian pernah kau rangkai. Perihal ketulusan hingga keindahan yang kau punya. Akan tetapi penaku masih bergeming ragu. Tuk membuka kembali lembaran baru. Sebelum menyakinkan gelora asmaraku. Setelah penaku berdarah di masa lalu.
Bimbang, pasrah, kini perasaanku. Apakah angan ini hanyalah angin yang dingin? Ataukah kisah ini hanyalah kasih akan kesahku? Dengan segala keterbatasanku, barangkali hanya inilah kerelaan hatiku.
Seperti hujan manis di atas tanah yang kering. Akan sulit untuk menulis cerita yang lebih indah, lebih jujur, atau lebih penuh. Siapa yang menganggap semua cermin adalah sama, Bagaimana ia bisa tahu??
Beberapa hal tidak pernah bisa dirasakan. Tidak peduli seberapa keras yang kau katakan. Bahkan jika kau telah mengatakannya kepada seseorang, orang ketiga takkan bisa menggambarkannya.
Dulu kau sangat mengagumi, indahnya hubungan kita berdua. Kau bangun megah perasaan ini. Bahagia untuk selamanya. Tapi mengapa engkau pergi. Melukai janji yang kau ucap. Jika memang kau tak benar-benar cinta. Cintaku tak mungkin terluka. Seharusnya kau ada di sampingku. Bercanda tawa bersama diriku. Namun mengapa kau datang dengan cintamu? Bertamu di relung sukmaku?
Sejujurnya aku tak mampu melihat bahagiamu dengannya di mataku. Andai masih bisa ku ungkapkan semua, seluruhku masih selalu ada untuk mencintaimu.
Kita berusaha untuk memahami, kita menangis dengan kepala di tangan. Jembatan yang kita bangun untuk menghubungkan jarak yang membuat kita lupa. Kebencian membagi kita, cinta mengingatkan kita. Dari kemanusiaan kita bersama, semoga bisa menjadi sekilas bayangan.
Gairah yang bersinar dalam hatimu, seperti tungku cerah membakar. Sampai kau berjuang melalui gelap, kau tidak akan pernah tahu bahwa kau masih hidup. Tidak pernah tahu, kau tidak akan pernah tahu.
Ketika kau menyerah untuk cahaya, kau dapat menghadapi hari paling gelap. Jika kau membuka matamu, dan kau menaruh kepercayaanmu dalam cinta, pada malam-malam yang dingin dan tak ada habisnya, kau tidak akan sendirian.
Kemudian ia datang di kepalaku seperti memberi mimpi. Membuat suara dalam benakku dan memaksaku melakukannya. Ia mewujudkannya dalam nyata. Mengalir pada padanganku hingga sekitarku selalu tentangnya. Cinta, apa yang kau mau? Menerror di setiap malamku.
Perlahan kau pun menjauh, mimpi pun menjadi gelap. Namun suaranya tetap menggema, bahkan semakin menjadi. Menaruh harapan dan misteri. Seolah aku harus mencarinya, seolah ku bertanggungjawab adanya, seolah aku adalah masalahnya.
Sejak saat itu, ketenangan mulai pudar. Serpihan hati berserakan, hingga buatku tak sadar engkau di antara ada dan tiada.
Terlepas semua beban di hati. Ku tahu kini kan beranjak sunyi. Tak perlu lagi ku tuk berambisi. Kepergianmu janji yang kau beri. Sementara ku kan berlari. Membunuh keangkuhan diri. Merelakan dirimu pergi. Kesempurnaan yang kau impikan.
Bukan karena kurangnya cinta. Semesta tak ingin kita bersama. Mencoba memahami cinta yang terluka. Mengobati hati di tempat yang berbeda. Kisah terakhir untuk dirimu. Sajak dari pesan terakhirku. Tak lagi ku mengejar dirimu. Bahagialah dengan kekasih barumu.
Sekencang apapun angin berlari. Mentari kan tetap menyinari pagi. Seindah apapun dedaunan menari. Kehidupan akan terus terjadi. Kisah yang pernah ada. Takkan pernah membuat kita lupa. Kesalahan yang pernah tercipta. Kan terselesaikan pada waktunya.
Sekalipun pada yang berdosa. Martir maupun penggila dunia. Tetap berputar pada poros semesta.Kemudian lenyap tak tersisa. Dari hati maupun ingatan. Sekalipun cinta dan kebencian. Pertarungan melawan hidup. Hanya untuk mengenal kesendirian.