Luka ini begitu congkak, disaksikan oleh purnama yang menyala terang. Terdampar ia pada gubuk kegelisahan. Hingga kesunyian begitu mudah menyudutkan rasa. Jangan biarkan waktu ini berkarat. Sebab penderitaan pun tak membutuhkan syarat, yang tlah tersirat pada pesan yang kau buat. Dan kau pikir itu pesan yang terhebat?
Lentikan jariku pun perlahan merangkak. Lambat laun menelan setiap kepedihan. Menuju gerbang penyesalan yang mendalam. Sapaan angin malam pun mengguyur perih.
Ia memandangi ku disana penuh ragu. Hingga purnama pun menertawakan kesedihan ini. Sungguh malang nasib serutumu, yang kau hisap tanpa sentuhan rindu.
Kurakit perlahan hingga penuh, hingga tak satupun terlewatkan. Sampai saat purnama menyerang, terukir kehampaan bersambut nyanyian badai. Selang waktu yang tak bertepi, menguak rahasia dibalik jutaan misteri. Emosi yang tak henti meninggi. Selimuti duka hingga perkelahian hati. Bertajuk suram dunia yang sunyi. Bergetar hingga berakar-akar, terombang-ambing lalu terbakar, hingga kini tak kunjung mekar.
Wahai pohon yang tumbuh tak berbunga. Suaramu menjadi derap langkah jiwaku. Di tanah kering selepas hujan pilu. Kini kau tercipta dalam hatiku. Duhai pohon yang tumbuh tak berbunga. Peluk lah kesaktian sunyi jiwamu. Hangatkan tubuhmu yang rapuh itu. Dengan butiran luka hasratmu.
Tak pernah kutahu inginku, apa yang menjadi sebuah harapan. Selalu saja ada celah kesedihan yang berujung penderitaan. Kerisauan selalu selimuti hati, membuat segalanya menjadi tak berarti. Andai engkau ada disini menemani, memeluk erat jiwa ini yang lelah menanti.
Kau bilang, engkau ingin menjumpai, tapi mengapa engkau bersembunyi. Kepergianmu tak beralasan ini, membuatku kian mengernyitkan dahi. Seakan takdir menyembunyikan ku. Buatku harus menguak rahasia di wajahmu. Kemana lagi kisah ini kau bawa pergi? Disini, rindu hanya mampu meratapi.