Namaku adalah Akarin. Sore ini aku sedang berencana untuk membuntuti seorang laki-laki yang sudah satu tahun lamanya kuincar. Dengan sabarnya aku mengekori langkah pria itu tanpa sepengetahuan si empunya. Aku akui aku adalah gadis yang pemalu, tapi disisi lain aku juga memiliki sifat yang agak posesif jika menyangkut dengan percintaan.
Bukan tanpa alasan aku mengikuti pria yang kusukai saat ini, pasalnya tadi siang aku mendapat info dari salah satu orang yang sekelas dengannya, bahwa pria idamanku akan menembak seorang wanita.
Jujur aku masih belum percaya dan memutuskan untuk mengikutinya. Jantungku masih saja berdebar-debar tak karuan, padahal aku sudah mencoba menetralkannya dengan menarik nafas panjang. "Ni anak mau kemana sih, kok daritadi gak sampai sampai ya?." Tanyaku pada diri sendiri.
Akhirnya kakiku dapat berhenti berjalan, ketika aku sudah melihat langkah kaki pria itu terhenti. Samar namun pasti, aku mendengar suara wanita yang menyebut nama seseorang yang sangat kusukai itu.
"Hmm..Kau sudah datang rupanya Teichi,"
"Ahh iyaa... Anu...Aku akan mengatakannya berkali-kali sampai kau menerimaku bahwa aku mencintaimu, Yuika,"
"Haha...Baiklah baiklah tidak ada alasan ku untuk menolak jika kau terus seperti itu, lagian kau tidak pernah menyerah selama ini mengejar ku, aku jadi pasrah saja,"
Seketika aku tersentak mendengar hal itu, kemudian tanpa sadar air mata sudah mengalir melewati pipiku. Aku merasa selama ini penantianku sia-sia, lagian apa yang sudah aku perbuat untuk bisa dekat dengan Teichi? Tidak ada. Bahkan tidak pernah sekalipun aku berani untuk bertegur sapa dengan Teichi, bagaimana bisa jika seperti itu aku akan diakui oleh Teichi?!.
Kemudian aku berlari menjauh dari sana. Aku merasa putus asa dan kecewa terhadap diriku sendiri yang pengecut.
"Cinta pertama ku kandas?! Entah kenapa aku tidak ingin mengakuinya, aku juga ingin menjadi seseorang yang pantang menyerah untuk mendekatinya...namun, jika aku melakukan hal itu, maka aku terlihat seperti seorang parasit yang ingin merusak hubungan mereka"
Aku terus menangis tanpa sadar orang-orang di sekeliling ku sudah lama memperhatikan. Untung saja tempat itu masih tergolong tempat yang sepi dan beberapa orang yang melihatku seperti itu hanya cuek, kemudian melewati begitu saja.
*
Sudah tiga bulan berlalu dari hari dimana aku mengalami insiden patah hati. Aku hanya dapat diam saja dan bersedih hati melihat seseorang yang kusukai itu sepertinya terlihat bahagia dengan orang lain yang lebih baik dariku.
"Kenapa aku tidak bahagia? Bukannya cinta itu tidak harus memiliki?" batinku.
Aku beranjak pergi keluar kelas kemudian tanpa sengaja aku malah bertemu dengan Teichi.
"Hei bisakah aku meminta daftar absen kelas kalian?" tanya Teichi padaku.
Aku hanya dapat diam tak bergeming. Jantungku terus berpacu dengan cepat tanpa henti. Teichi kemudian melambaikan tangan di wajahku untuk menyadarkanku dari lamunan.
"O-oh iya ma-maf, bentar yaa." Ucapku gagap, kemudian aku langsung berlari ke arah meja guru dan mengambil benda yang dicarinya itu.
"Hei! namamu adalah Akarin kan?"
"I-iya"
"Waw namamu imut yah... Baiklah terimakasih Akarin" ucap Teichi kemudian berlalu pergi.
Diam-diam tanpa kusadari wajahku telah memerah, kemudian mulai berasap dan pikiranku pun mulai meletup-letup tak karuan.
"Dia memujiku? Dia mengatakan namaku imut? Dia... Dia berterima kasih padaku?Ohh tidak, aku ingin mati bahagia sekarang!"
Saat baru saja aku melangkahkan kaki ke luar ruangan sekolah, aku dikejutkan dengan pertengkaran dua insan yang sangat kukenal.
"Kau! berhentilah mengikutiku! Berhentilah membantuku dan menempel padaku! Aku tidak suka seperti itu! Aku merasa tidak bebas kau tahu?"
"Tapi aku hanya ingin membuatmu bahagia saja, aku tidak ingin melihatmu kesusahan,"
"Kau ingin membuatku bahagia? Maka tinggalkanlah aku dan asal kau tahu, kau adalah kesusahan terbesar dalam hidupku, segitu tidak percayanya kah kau padaku selama ini?!"
Aku tidak tahan melihat ini semua...
"Huh? Kalian sedang bertengkar? Lalu mengapa Teichi disalahkan? Padahal dia tidak bersalah! Dia hanya ingin melakukan hal yang membuat pacarnya bahagia, lagian kau juga jarang memberitahunya hal-hal yang kau sukai dan kau juga bertindak seperti tidak mengenal Teichi! Kau terlalu sibuk dengan urusanmu sendiri dan tidak memperhatikan pacarmu! Lalu apa salahnya jika Teichi memberimu sedikit perhatian?."
Tanpa kusadari aku mengangkat bibirku untuk membela Teichi, sekarang aku sungguh menyesal karena berlagak kenal dengan Teichi dan tahu tentang hubungan mereka. Mulai sekarang aku merasa akan disebut sebagai pengganggu hubungan orang lain dengan tampangku yang sok polos.
Yuika melirik tajam kearahku."Sejauh mana kau tahu hubungan kami?" tanyanya sinis.
Aku tidak dapat berkata-kata lagi, lidahku terasa sangat kelu dan mataku kini sudah berkaca-kaca.
"Maafkan aku, aku tahu karena aku melakukannya, aku... Aku selama ini mencari tahu tentang kalian, aku ingin tahu apakah kalian bahagia, karena aku menyukai Teichi, sekali lagi maafkan aku...." Tuturku sambil terus menundukkan kepala, sedangkan rinai air mataku yang jatuh kini sudah membasahi lantai yang kupijak.
Yuika menghembuskan nafas kasar kemudian berlalu pergi dengan langkah tergesa. Dengan cepat Teichi mengejarnya untuk meluruskan keadaan namun sepertinya sia-sia. "Ahhh aku memang pemeran antagonis yang bodoh!." Rutukku pada diri sendiri.
Selang beberapa hari setelah hari itu, aku mendengar kabar bahwa Teichi dan Yuika sudah putus, padahal mereka adalah pasangan populer yang menjadi perbincangan hangat di antara para remaja. Yah tentu saja aku juga terkenal karena disebut-sebut sebagai orang ketiga yang membuat hubungan mereka berakhir.
Aku hanya dapat tersenyum miring mendengar kabar itu. Aku tidak dapat menyangkalnya karena bagiku itu adalah sebuah kenyataan bahwa aku benar-benar merupakan orang ketiga yang membuat hubungan mereka hancur.
"Hei jangan melamun terus" Ucap seseorang yang sangat kukenal. Aku melirik singkat ke arah sumber suara dan mendapati Teichi yang sudah duduk di sampingku.
Aku langsung menggeser tempat duduk untuk membuat jarak di antara kami. Laki-laki itu malah tertawa kecil, sejurus kemudian kembali dengan wajah seriusnya lagi.
"Bagaimana kamu bisa menyukaiku?" Tanyanya padaku yang sukses membuatku langsung menatapnya.
"Ahh itu, aku tidak bisa mengatakannya" Aku merasa tidak yakin jika aku harus mengatakan pada orang yang kusukai ini. Bisa saja dia menganggapku aneh dan tidak mempercayaiku.
"Tidak apa katakan saja, itu tidak akan menjadi masalah jika hanya di ketahui oleh kita," jawabnya yang ternyata diluar dugaanku.
"Kau dulu, pernah menyelamatkanku dari pembulian, kalau saja kau tidak datang dan mengajakku pergi dari sana, aku tidak tahu bagaimana nasibku"
"Huh? Kapan itu?" tanyanya padaku.
"Hmmm...ku rasa itu sudah lama sekali, mungkin saat kita pertama kali masuk SMA, saat itu mereka membawaku ke tempat yang agak sepi dan mengacak-acak isi tasku kemudian mereka menyiram bajuku dengan minuman yang mereka beli, lalu saat mereka mendengar suara orang mereka pergi bersembunyi,"
"Ups...! Tanpa sadar aku menceritakan terlalu banyak," batinku.
"Seingat ku aku melihatmu tersungkur di tanah dan membawamu ke UKS, aku kira kau hampir pingsan karena sakit hehe... Maaf aku dulu tidak terlalu memperhatikan sekitarku." Dia terlihat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena merasa kikuk.
"Tidak apa....Oh ya Teichi, apa tidak masalah jika seseorang melihat kau sedang disini denganku?" tanyaku untuk memastikan.
"Haha tidak masalah sama sekali, aku tidak peduli dengan ucapan orang lain, lagipula hubungan ku dengan Yuika hanyalah cinta sepihak, aku terus memaksanya untuk menjadi pacarku, setelah kami berpacaran pun aku terlalu berlebihan padanya, namun aku tidak memikirkan perasaannya, dia dari dulu terlihat seperti tidak menyukaiku sama sekali. Jadi dalam hal ini akulah yang salah lagipula aku kurang mengerti tentang apa yang harus aku lakukan karena itu adalah pengalaman pertamaku berpacaran haha, sepertinya ini akan sulit untuk melupakannya,"
Lagi-lagi tubuhku bergerak di luar kendaliku dan berdiri menghadap ke arah Teichi. "Aku.... Tidak jadi deh hahaha..."
Huftt... hampir saja aku keceplosan!.
"Apaan coba, kau ingin bercanda?" Tanya Teichi dengan wajah herannya. Sepertinya dia ingin tahu apa yang ingin aku ucapkan. Tapi aku tidak ingin mengucapkan hal itu sekarang, karena aku belum membuatnya menyukaiku.
Tidak lama kemudian, Teichi terlihat tak bergeming, rahangnya mengeras dan tangannya mulai mengepal. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apa aku berbuat kesalahan?.
Teichi menarikku dengan cepat ke dalam pelukannya.
CUP
Dia mencium bibirku lembut kemudian melepaskannya. Hal itu adalah sesuatu yang sangat tidak terduga bagiku dan langsung membuat seluruh wajahku memerah seperti tomat. Ini adalah serangan tiba-tiba yang tidak adil. Padahal dia masih tidak mencintaiku, namun kenapa dia melakukannya padaku.
"Ciuman pertama ku, ku berikan padamu," Ucapnya sambil tersenyum lembut ke arahku. Lagi-lagi aku tak kuasa untuk menahan tangis, tubuhku bergetar hebat, sebenarnya apa yang terjadi padaku? Aku merasa dipermainkan dan dijadikan tempat pelarian.
Beberapa saat kemudian wajahnya kembali murung. "Maafkan aku...." Ucapnya kemudian berlalu pergi meninggalkanku sendiri yang tengah larut dalam pertanyaan besar dipikiran ku.
Dengan langkah gontai aku pergi ke arah yang berlawanan dengannya, kemudian aku melihat seorang wanita yang sedang menangis tersedu-sedu. Aku menghampirinya dan ketika dia berbalik, hatiku merasakan guncangan hebat.
"Kau! kau curang, menikung dari belakang itu tidak bisa di benarkan!" Teriaknya padaku.
"Sebenarnya..apa yang terjadi?" tanyaku dengan nada lesu.
"Aku barusaja jalan dengan kak Tanaka untuk memberikan proposal yang diminta guru, kemudian aku terpeleset dan kak Tanaka menolong ku, tidak sengaja aku jatuh ke dalam pelukannya, namun tidak disangka ternyata kalian berdua sedang...dihadapan...ku hiks...!"
Aku langsung syok mendengar hal itu. Ternyata pikiranku tidak salah. Aku memang dijadikan tempat pelarian saat itu. Kenapa? Kenapa dia harus melakukannya padaku yang sangat mencintainya.
"Maaf, aku tidak tahu apa-apa," ucapku kemudian langsung berlari pergi.
"Kenapa ini, duniaku sangat hancur berantakan, katanya hanya cinta sepihak? Tetapi mereka sebenarnya...,Ahh iya..orang tua dan keluarga ku juga bercerai berai, temanku menjauhiku, semua orang membenciku, aku juga di permainkan olehnya... Sebenarnya apa salahku?"
"Akarin! Awas..!" Teriak Teichi yang langsung menarik tanganku dan menyelamatkanku lagi.
Tindakan yang dilakukannya itu membuatku jatuh ke dalam pelukannya....
"Aku lelah dengan permainan hidup ini... Tidak bisakah aku mati saja..." ucapku lirih.
"Apa yang kamu lakukan bodoh! Sadarlah!!" Dia mengguncang bahuku namun aku masih tidak bisa menatap matanya.
"Aku... keluarga ku...temanku...cintaku... Semuanya hancur, aku dibenci oleh mereka..dan aku juga membenci hidupku sendiri, jadi biarkan aku mati!" Aku kali ini bisa menatapnya. Tatapan yang ku pancarkan begitu penuh kebencian terhadap diriku sendiri. Aku sangat sangat lelah dengan hidupku.
"Kau...." Dia melihatku dengan tatapan iba.
"Kau tidak tahu, sebenarnya masih ada orang yang menyayangimu di dunia ini,"
"Lalu siapaaaa.... Katakan padaku siapa orangnya?! Katakan...tidak bisa kan?! kau malah diam! kau bahkan juga membenciku, dia...dia juga ternyata menyukai mu, tidak ada alasan lagi untukku berada disini,"
"Aku tidak membencimu! Aku menyayangimu, aku juga mencintaimu,"
"Bohoonggg! Aku tidak mau dengar apapun! Aku tidak suka dibohongi!" Aku benar-benar teriak padanya. Pada orang yang selama ini paling kutakuti bila dia tahu tentang kehidupanku.
Teichi memelukku lagi, aku tidak suka yang dia lakukan sekarang ini. Menghiburku? Aku malah merasa seperti dikasihani saja.
"Aku ingin melindungimu, aku ingin membuatku mencintaimu, apakah itu salah?"
Deg!
Perasaan ini... lagi-lagi tidak pernah hilang. Perasaan ingin memiliki, ingin....ingin bersandar sedikit di pundaknya.
Tubuhku mulai lemas dan tidak berdaya lagi. Langkahku goyah namun ditahan olehnya. Dia pun berlari panik sambil membopong tubuhku untuk menyelamatkanku. Baru pertama kalinya keinginan dalam hidup ku, yaitu disayangi dapat terpenuhi.
"Teichi Kun...jangan berbohong padaku...atau aku mungkin tidak kuat lagi...." Ucapku sebelum kehilangan kesadaran.
END~