Tok. Tok. Tok. Assalamualaikum. Tok. Tok. Tok. Assalamualaikum. Ipit.. Elin.. Putra.. Assalamualaikum..
“Pukul berapa ini” ucapku dalam hati. Aku meraih jam tangan yang aku simpan di bawah bantalku.
“Pukul 3 pagi, siapa yang bertamu jam segini” batinku sambil mengusap wajahku.
Tak lama aku dengar pintu depan di buka, dan terdengar suara orang lagi bercakap-cakap. Aku keluar kamar karena penasaran apa yang sedang terjadi.
“Ada apa, Nte” kataku. Tanteku terdiam sejenak, kemudian dia memandang orang tersebut.
Tamu itu namanya Tante Niar, masih kerabat jauh Papaku. Sedangkan Tanteku yang nginap di rumahku itu adik kandung Ibuku, biasa kami memanggilnya dengan Tante Emi.
Tak lama, Kakakku keluar kamar juga. Memandang dengan tatapan yang menyiratkan pertanyaan yang sama.
“Kalian cepat berkemas, ikut Tante Niar. Berangkat ke Medan. Papa rindu” begitu kata Tante Emi.
“ Trus, Tante gimana. Gak ikut sekalian ke Medan” kataku kemudian. “Tante pulang ke Sago aja, Lin. Nanti setelah kalian berangkat” jawab Tante Emi.
Di sinilah kami di atas mobil travel yang membawa kami bertiga beserta Etek Aspah, adik Papaku yang bungsu, menuju kota Medan Labuhan.
Sepanjang perjalanan Kakak dan Adikku asyik bernyanyi. Sedangkan aku sedang menikmati perut mual akibat mabuk kendaraan.
Sepintas lalu aku lihat Etek Aspah yang duduk paling belakang seperti menangis. Aku sempat bertanya kenapa beliau menangis. Dia terlihat berusaha tersenyum dan berkata “ Gak apa-apa, Cuma kelilipan”. Oke aku percaya, tapi tak lama kemudian aku mendengar sayup-sayup isakkannya. Aku menoleh kembali ke arah belakang, tapi aku tidak menemukan sosoknya di sana. Hanya suara tangis tertahan yang terdengar.
Terbesit kecurigaan di hatiku, ada apa ini. Kubuang pandanganku ke jendela mobil travel sambil mengingat serangkaian gelagat aneh orang dewasa yang ada di sekitarku. Mulai dari Tante Emi, Tante Niar, sahabat Papa, yang sebelum kami berangkat ke Medan, kami singgah dulu di rumahnya, karena tidak ada yang menjamin biaya keberangkatan kami ke Medan. Dari teman Papa itu, pengemudi travel mengantongi cincin istrinya sebagai jaminan karena posisinya teman Papa juga tidak memegang uang cash. Kemudian, gelagat aneh Etek Aspah, yang terus menangis di jok belakang.
Di sepanjang jalan aku terus berdo’a, semoga papa sehat-sehat saja. Karena keberangkatan Papa ke Medan adalah untuk melakukan serangkaian pengobatan atas penyakit kanker paru-paru yang di deritanya.
Hari sudah menunjukkan pukul 5 petang ketika kami sampai di rumah Pak Uwo, abang Papa yang kedua. Di rumah itu terlihat seperti bekas orang kemalangan. Ada bendera kuning di depan rumah, ada kursi plastik yang sudah tidak beraturan letaknya, juga ada beberapa orang dewasa pria yang masih duduk-duduk ngobrol di halaman rumah.
Kakak dengan Adikku langsung turun ketika mobil travel yang membawa kami berhenti di depan rumah Pak Uwo. Tak lama setelah Kakak dan Adikku masuk ke dalam rumah Pak Uwo, terdengar tangisan dan raungan dari dalam rumah.
Aku terpaku di depan pintu, memandangi Ibuku yang menangis sambil memeluk Adik dan Kakakku.
“Elin, sini. Kemarilah Nak “ kata Ibuku, sambil merentangkan tangannya, mengisyaratkan ingin memeluk diriku.
Aku berjalan perlahan ke arah Ibuku. Ibu langsung memelukku sambil menangis seraya berkata “ Papa sudah gak ada Nak. Papa sudah pergi”.
Aku hanya terdiam tanpa berkata apa-apa. Bingung harus bersikap seperti apa. Hal itu sudah kuduga sebenarnya. Tapi untuk anak yang masih berusia 13 tahun, situasi seperti itu begitu tiba-tiba, dan mengejutkan.
Hari sudah beranjak malam. Ketika rumah Pak Uwo, tidak lagi ramai dengan para pelayat. Di sinilah aku bersama Ibu, Adik dan Kakakku. Di kamar yang kata Ibu tempat Papa menghabiskan hari-harinya untuk melakukan serangkaian pengobatan alternatif sambil menunggu Pak Uwo kembali dari berlayar yang rencananya Papa akan di bawa berobat ke Singapura.
Dalam diam aku merangkai kenangan yang terlintas di benakku. Sudah 3 bulan lebih tak bertemu papa. Sudah banyak tempat Papa datangi untuk mengobati sakitnya. Kami menyusul Papa ke Medan dengan harapan dapat melepas rindu, tapi kenyataan yang bertolak belakang yang harus kuterima.
Aku menangis dalam gelapnya kamar. Ibu mencoba menenangkanku. Tapi entah mengapa tangisku tak jua reda. Teringat semua kelakuan yang dengan sengaja aku lakukan untuk membuat Papa jengkel. Kerasnya papa dalam mendidikku, yang kata Ibu semua di lakukan Papa karena rasa sayangnya padaku, agar aku menjadi anak yang kuat, yang dapat menjaga keluarga.
Aku hanyalah seorang anak kecil. Yang merasa Papanya pilih kasih, ketika sikap yang berbeda di tunjukkan pada Kakak dan Adikku.
Bagaimanapun adanya Papaku, saat seperti ini baru terasa, betapa aku sangat kehilangan Papaku. Dalam hati kecilku, aku sangat menyayanginya..
Papa aku rindu....