Hari itu semua tampak biasa saja seperti hari-hari yang telah berlalu. SMK TUNAS BANGSA hari Sabtu bebas pelajaran, sekolah hanya di isi dengan ekstrakurikuler ada basket, futsal, sepak bola, cheerleader, paduan suara, dance, dan lainnya.
Cinta Kirana Putri alias Ciki (panggilan akrab dari teman-temannya) yang dengan santai berjalan bersama teman-teman sekelasnya melewati lapangan basket. "Mengapa kepalaku sakit sekali ya?" tanya Cinta dalam hati.
Tak ada angin tak ada hujan "Duuukk!!!!.. Bruukk!!!.." suara bola basket mengenai kepala Ciki, dan Ciki jatuh tersungkur. "Ooouuhhh Shiiitt, nggak ada akhlak bener siihh!!" umpat Ciki.
"Astaga Cik itu hidung kamu juga berdarah!!" seru Diana.
"Awaas minggir minggir minggir!!" seru Xavier.
"Hai maaf maaf, aku mewakili teamku untuk minta maaf atas kecerobohan kami, kamu nggak apa apa kah, yuukk kubantu ke..." tiba-tiba kesadaran Ciki menghilang.
Suasana menjadi gaduh teriakan memanggil nama Ciki menggema. "Awas kalian minggir semua, aku akan menggendongnya ke UKS, tolong bantu hubungi keluarganya yaahh!!" Ucap Xavier sambil berlari, karena darah yang keluar dari hidung Ciki tak wajar.
"Dokter dokter tolong ada yang pingsan dokter!!" teriak Xavier.
"Astaga Ciki sayang kamu kenapa nak? Semoga kamu nggak kenapa-kenapa sayang" Ucap cemas sang Dokter UKS yang tak lain adalah Tante dari Ciki.
"Maaf Dok tadi salah satu anggota team basket ada yang tidak fokus dalam permainan yang mengakibatkan bola tak tertangkap dan mengenai Ciki saat itu kebetulan sedang lewat pinggir lapangan Dok." Cerita Xavier menjelaskan, tapi sepertinya kurang respon dari sang dokter.
"Cepat bawa 1 ambulance ke SMK TUNAS BANGSA, pasien kritis!" Ucap Dokter dalam panggilan telepon.
"Aahh!! Terimakasih segera membawa Ciki kemari, sebentar lagi ambulance datang, dan iyaah saya Dokter Arum tante dari Ciki sekaligus Dokter jaga di sekolah ini, Permisi dulu yaahh saya jemput ambulance di depan." Jelas Dokter Arum.
“Separah apakah sakit yang ada di tubuhmu Cik? Mengapa Dokter Arum sepanik itu dan mengatakan jika kamu kritis?“ tanya Xavier kepada Ciki tapi hanya di dalam batinnya.
Tiga hari sudah berlalu, tetapi Xavier belum mendapatkan kabar tentang Ciki. Memang bukan dia yang membuat insiden tersebut tapi entah mengapa dia merasa tidak tenang. Selama dua hari ke sekolah Xavier bolak-balik ke ruang UKS dengan harapan dia bertemu Dokter Arum dan ingin menanyakan keadaan Ciki, tetapi hasilnya nihil Dokter Arum tak pernah muncul bahkan Dokter UKS diganti untuk sementara.
"Aaarrghh!!! Bagaimana keadaanmu Cik?“ teriak Xavier frustasi di lapangan basket, kemudian duduk termenung di bangku pinggir lapangan.
"Dooooorrrrr!!!?" Kejut dari teman-temannya serempak.
"Astaga!! Sialan memang kalian, apa kalian kurang kerjaan sampai-sampai mengagetkanku seperti itu?" Ucap Xavier kesal.
"Elo kenapa brother, keliatan galau aja dua hari ini?"
"Gimana keadaan Ciki sekarang ya, kenapa kemarin Dokter bilang jika keadaan Ciki kritis, kalian tahu nggak siih dia dirawat dimana?" cerocos Xavier yang bikin geleng kepala teman-temannya.
"Santai brother, tanya satu-satu oke." Jawab salah satu temannya.
"Eeeehh guyss kenapa kita nggak tanya ke temen-temen Ciki aja siih dirawat dimana." Usul teman Xavier yang lain.
"Aaaahh iyaa, kenapa nggak dari kemarin mikir gitu yaa, elu juga kenapa baru sekarang ngomongnya." jawab Xavier sambil beranjak.
Setelah tadi Xavier kesana kemari mencari informasi dari teman-teman Ciki, dapatlah satu informasi jika Ciki sedang koma di RS SEJAHTERA yang tak lain adalah rumah sakit milik keluarga Xavier sendiri.
"Kenapa gue bego banget siih, kenapa nggak dari kemarin aku tahu astagaaa."
"Semoga kamu baik-baik aja Ciki," do'a Xavier sambil mencari baju ganti untuk segera ke rumah sakit.
Seperti mendapatkan ilham, tak lupa Xavier mampir membeli seikat mawar putih favorit Ciki, ya Xavier tau bunga favorit Ciki berkat ke 'emberan' mulut sahabat-sahabat Ciki.
Sesampainya di rumah sakit Xavier hanya bisa bertemu dengan kedua orang tua Ciki, dan hanya bisa melihat gadis cantik nan pucat itu dari balik kaca pembatas. Tanpa Xavier sadari dia meneteskan air matanya untuk gadis yang tak sadarkan diri itu.
"Terima kasih nak kamu telah menolong Ciki saat dia jatuh pingsan kemarin." Ucap Mama Ciki.
"Tidak perlu sungkan Tante, Ciki anak yang baik siapa pun pasti akan cepat menolong saat itu jika saya tak ada."
"Maaf Tante, boleh saya titip bunga ini dan salam semoga Ciki cepat kembali kepada kita semua, kita teman-teman Ciki rindu sosoknya yang periang." Ucap Xavier karena tak mampu lagi melihat tubuh kaku dengan berbagai selang pembantu.
"Terima kasih nak, pasti Tante sampaikan."
"Om Tante jangan bersedih yah, saya akan meminta papa untuk mencarikan Dokter Spesialis hebat untuk Ciki agar segera sadar dan pulih."
"Sekali lagi terima kasih nak, apakah orang tua kamu Dokter juga disini nak Xavier?" tanya Papa Ciki
"Iya betul Om, nama Papa Dokter Wijaya."
"Ma, itu bukannya Dokter yang menangani Ciki yaa???“ tanya Papa Ciki ke istrinya.
"Eeehh betulkah nak? Ada berapa nama dokter Wijaya disini nak?" timpal Mama Ciki.
"Sepertinya hanya Papa deh Tan," balas Xavier sambil berfikir.
"Aaaahhh iya benar, Dokter Wijaya pernah bilang jika memiliki seorang putra yang akan lulus tahun ini dari sekolah yang sama dengan Ciki kita kan Ma?" Ucap Papa Ciki menjelaskan.
Tak berapa lama Xavier pamit pulang kepada kedua orang tua Ciki.
"Om, Tante, Xavier pamit pulang dulu ya, bolehkan saya sering menjenguk Ciki kemari." ucap Xavier meminta persetujuan.
"Silakan nak boleh saja, siapa tau dengan ada beberapa orang yang sering mengajak ngobrol Ciki bisa terangsang indranya."
"Baik Om Tante, Xavier permisi dulu, selamat malam." Pamit Xavier mengakhiri.
Dua bulan kemudian.....
Hampir setiap hari sepulang sekolah, Xavier selalu datang ke rumah sakit sekedar menjenguk atau menemani Ciki untuk berbicara, bahkan Xavier sambil belajar untuk ujian yang akan dilaksanakan minggu depan.
"Maaf Ciki mungkin kamu belum begitu dekat dan dalam mengenalku, tapi aku juga tak dapat memungkiri jika selama ini hati, perasaan, dan pikiranku hanya ada kamu. Aku sebelumnya juga tak pernah merasakan perasaan yang seperti ini kepada gadis lain. Ya meski kamu tau aku dikenal dekat dengan beberapa gadis di sekolah, tapi satu pun aku tak pernah dekat dengan mereka. Sejak awal aku tak paham ini benar perasaan cinta atau iba saja, tapi sekarang aku yakin ini adalah rasa tulus dari hati jika aku benar-benar jatuh hati padamu, aku mencintaimu Cinta Kirana Putri."
"Aku mencintaimu." Ulang Xavier sambil menggenggam tangan Ciki.
Tanpa Xavier sadari Ciki meneteskan air matanya, dan saat tahu Xavier segera memanggil dokter untuk memeriksa Ciki, ternyata dokter saat itu adalah papanya sendiri. Xavier menjauh ke sofa agar tak mengganggu pekerjaan tim medis. Tak berapa lama orang tua Ciki masuk ke dalam ruangan juga.
"Bagaimana keadaannya nak," tanya Om dan Tante bersamaan.
"Ciki memberikan respon tadi Om Tante, jadi saya segera memberitahu ke papa."
"Syukurlah, semoga ini awal yang baik untuk tahap penyembuhannya, terima kasih nak sudah membantu kami terutama Ciki." Ucap mama Ciki sambil berlinang air mata dan menggenggam kedua tangan Xavier.
"Iya Tante, semoga saja, Om dan Tante jangan sungkan jika butuh bantuan Xavier akan bersedia membantu kok."
Tak lama kemudian akhirnya Dokter Wijaya dan Papa Ciki mengobrol untuk membicarakan keadaan Ciki sekarang. Dari sana baru Xavier ketahuuli jika ternyata Ciki mengalami penggumpalan darah dan penyempitan di beberapa pembuluh darah di dalam otaknya.
Setelah menjelaskan kepada Papa Ciki, Dokter Wijaya memberikan kode untuk Xavier segera mengikuti ke ruang kerjanya.
"Om Tante, Xavier pamit pulang dulu ya, mungkin beberapa hari ke depan Xavier tak bisa jenguk Ciki, dikarenakan Xavier ada Ujian kelulusan, mohon do'a restu Om dan Tante yaa." Pamit Xavier sekaligus meminta do'a restu.
"Iya nak tak apa, kami akan mendoakanmu semoga ujian lancar dan diterima di Universitas terbaik nantinya." Ucap Papa Ciki sambil mengelus kepala Xavier.
"Tok tok tok!!!“ tanpa jawaban dari yang punya ruangan Xavier langsung masuk begitu saja dan langsung to the point ke Papanya.
"Pa tadi ada apa, loohh Mama disini?“ ucap Xavier berjalan untuk mencium tangan Mamanya.
"Anak Mama udah besar yaa Pa sekarang."
"Iya Ma udah kenal namanya mencintai dengan tulus looh Ma," ledek Dokter Wijaya dan istrinya.
"Aaahh Mama Papa iihh, kan malu." timpal Xavier dengan muka merah.
Di ruang itu Dokter Wijaya dan istrinya menasehati anak bungsu kesayangannya untuk tak mematahkan semangat juang Ciki, dan memberitahu kemungkinan buruk saat nanti Ciki siuman.
Dan Xavier tetap pada pendiriannya untuk tetap mendampingi Ciki sampai kapan pun, bahkan jika memungkinkan Xavier ingin bisa mengobati penyakit Ciki. Oleh karena itu nanti saat lulus sekolah, Xavier ingin mengambil kuliah kedokteran seperti Sang Papa, hal tersebut Xavier pikirkan setelah beberapa bulan ini menemani Ciki yang terbaring.
Hari kelulusan pun tiba, Xavier lulus dengan nilai sempurna, banyak teman laki-laki yang iri dengan kesempurnaan seorang Xavier Wijaya. Anak konglomerat, pujaan hati para gadis, IQ diatas rata-rata, tak pernah sombong, berteman dengan semuanya.
Rumah Sakit SEJAHTERA....
Xavier berada di ruang perawatan Ciki, setelah pengumuman kelulusan.
"Hai Ciki sayang."
"Eeehhh nggak apa kan aku asal panggil sayang tanpa persetujuanmu?"
"Okelah nggak apa, xixixixi." Cerocos Xavier bermonolog.
“Oohh ya Cik, aku lulus dengan nilai terbaik loohh banggakan banggakan jelas dong masa nggak."
"Kapan kamu bangun Cik, apa kamu nggak capek tidur terus?"
"Apakah kamu nggak mau ngobrol sama aku ya Cik?" Ucap Xavier melanjutkan molognya dengan Ciki dan berharap mendapat respon.
Disaat itu Xavier bercerita panjang lebar. Tak berapa lama, entah kalimat Xavier yang mana yang sudah memberikan rangsangan pada Ciki untuk meneteskan air mata nya lagi.
"Dokter Ciki Dok!!" teriak Xavier panik.
.
.
.
.
Setelah insiden Ciki merespon ucapan Xavier saat itu, selama satu bulan penuh jangankan bertanya pada Sang Papa, Xavier juga sama sekali tak pernah mengunjungi Ciki.
Xavier hanya fokus dan tekat bulat pada jam belajar tambahan untuk mendaftar perguruan tinggi kedokteran.
Niatnya untuk mendampingi dan merawat gadis pujaannya dan demi membantu menyembuhkan orang lain sangat tinggi. Sesekali dia teringat dengan Ciki, dia hanya bisa membuka Handphone untuk melihat beberapa potret Ciki yang tersimpan.
Ruang perawatan Ciki....
Xavier yang menemani Ciki sendirian mulai bermonolog melepas rindu.
"Hai sayang, apa kabarmu hari ini, kamu lebih cantik sayang?"
"Xixixixi baiklah, karena kamu nggak protes kupanggil sayang, mulai sekarang dan seterusnya aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang." ucap Xavier dengan senyuman lebar terukir.
Seperti biasa tak henti-hentinya Xavier berbicara seolah-olah dia mengobrol seru bersama Ciki. Sampai akhirnya Xavier.....
"Maafkan aku Ciki, mungkin sebentar lagi aku akan pergi jauh dan tak akan bisa menemanimu lagi seperti ini."
"Aku akan pergi ke Inggris untuk mengejar cita-citaku yang pada akhirnya akan berlabuh disisimu kembali untuk menemanimu dan merawatmu."
"Aku sudah berhasil dan terdaftar menjadi salah satu mahasiswa baru di University of Oxford Cik, kampus yang ku impikan untuk menggapai cita-citaku."
"Memang konsekuensinya aku tak bisa menemani hari-harimu."
"Jangan sedih yaa, secepatnya aku akan selesaikan pendidikanku, dan segera kembali untuk memelukmu."
"Jika nanti saat aku pergi, dan kamu mulai terbangun dari tidur panjangmu, satu hal yang kuminta 'jangan pernah kamu lupakan aku '."
"Meskipun nanti aku akan jauh darimu Selamanya Cintaku hanya untukmu Cinta Kirana Putri."
"Aku pamit sayang." Ucap Xavier mengakhiri percakapannya dengan tetesan air mata sambil mencium punggung tangan Ciki.
Xavier pun segera beranjak dan keluar, karena tak sanggup lagi menahan air matanya.
"Sampai jumpa Ciki sayang." batin Xavier.
Sesaat setelah Xavier menutup pintu ruangan. Ciki memberi respon lagi dengan tetesan air mata dan menggerakkan beberapa jari, tetapi mata masih enggan terbuka dan dengan tubuh yang masih tetap kaku.
.
.