Sebuah rumah tua yang berada di tepi jalan itu menjadi rumor bahwa terdapat hantu yang tinggal disana. Itu adalah kisah atau rumor lama yang sampai saat ini dipercaya oleh orang-orang. Akan tetapi hal itu sempat di perkuat dengan adanya korban di tahun lalu. Seseorang mati di dalam pekarangan rumah dengan darah berserakan.
Jo, orang yang tidak percaya dengan hal itu, coba untuk memastikan. Karena ia tidak percaya bila belum dilihat dengan mata kepala sendiri. Jadi Jo memutuskan untuk berjalan ke arah rumah itu pada malam yang sunyi tersebut. Jalanan di dekat rumah itu memang selalu sepi. Sebab kawasan itu berada di dekat pinggiran kota yang berbatasan langsung dengan hutan.
Seorang diri, Jo datang mendekati rumah itu. Senter berada di tangannya dan menerangi jalan yang dilaluinya. Rumah itu cukup besar dan tampak seperti gaya bangunan lama. Lelaki itu melangkah masuk lewat pintu yang sudah rusak tersebut. Suara membuka pintu tidak enak di dengar karena bagian engselnya sudah rusak parah. Bahkan sempat hampir tanggal saat dirinya membuka pintu itu. Jo sedikit kaget karenanya. Lalu ia mengembalikan pintu itu ke posisi semulanya.
Di dalam rumah itu sangat gelap. Tanaman liar sudah mememenuhi beberapa bagian rumah. Jo mengarahkan senternya ke segala arah untuk melihat seisi ruangan yang ada. Belum terlihat olehnya keanehan yang terjadi. Jo terus melangkah maju untuk menyusuri ruangan di dalam rumah tersebut. Satu persatu di masuki. Akan tetapi tidak ada kejanggalan disana. Jo pun terus berjalan menuju bagian belakang rumah. Terdapat beberapa ruangan, seperti dapur dan ruang berpintu yang Jo sendiri tidak tahu pasti ruangan apa itu.
Membuka pintu satu persatu. Tidak ada apa-apa. Hingga pada pintu ruangan terakhir, Jo tidak bisa membuka pintu itu. Ia merasa bahwa pintu itu terkunci. Kemudian Jo coba mendobrak karena merasa penasaran. Dobrakan dilakukan dan akhirnya membuka pintu tersebut.
Dilihatnya sekeliling. Ruangan yang berserakan itu tidak menampilkan kejanggalan apapun. Karena merasa tidak ada apa-apa, Jo pun berbalik untuk keluar dari ruangan itu. Namun...
"Brraaak!"
Pintu tertutup dengan keras. Jo terkejut dan memandang ke arah pintu itu. Tertutup dengan sendirinya, ia coba memegang gagang dan menariknya dengan kuat. Tetap saja pintu itu tidak bisa terbuka. Kini ia sudah berada di dalam ruangan gelap itu sendirian.
Karena merasa sudah terjebak didalam, Jo mencari cara untuk keluar dari sana. Jendela yang ada di ruangan itu sudah ditutupi dengan kayu. Jo pun mencari alat untuk membongkar kayu-kayu tersebut. Laci dan lemari di ceknya sembari memegang senter. Dan akhirnya Jo menemukan sebuah benda keras yang mungkin bisa menghancurkan kayu-kayu tersebut.
Jo mulai mengayunkan benda itu ke arah jendela yang tertutup tersebut. Beberapa pukulan tidak membuat kayu itu hancur. Dan menghabiskan waktu cukup lama untuk melakukannya.
Saat satu kayu berhasil dihancurkan, Jo mulai merasa senang dan makin semangat untuk menghancurkan kayu berikutnya. Seketika itu juga...
"Apa yang kau lakukan?"
Kata seseorang yang berada di belakang Jo. Lelaki itu melihat ke arah asal suara. Dan nampak olehnya seorang perempuan dengan pakaian putih berada di hadapannya.
"Apakah kau..."
Belum selesai ngomong, perempuan itu memberikan kode untuk diam. Dengan jari telunjuk berada di tengah bibir.
"Kau pasti memikirkan itu. Tetapi kau salah. Aku bukanlah yang seperti kau bayangkan."
Mendengar perempuan itu berbicara, membuat tangan Jo sedikit gemetar.
"Kalau bukan itu, lalu kau ini apa? Bagaimana bisa kau berada disini?" tanya Jo pada perempuan itu.
Mendengar pertanyaan itu, si perempuan tersebut langsung berbalik badan dan berkata bahwa dirinya adalah pemilik rumah tersebut.
Lantas Jo langsung beranggapan bahwa perempuan yang dilihatnya sekarang ini adalah seorang hantu. Perempuan itu langsung tertawa seketika dan mengiyakan anggapan Jo tadi.
"Benar. Tapi yang kumaksud adalah aku ini bukan kuntilanak."
"Mau ya atau tidak, kau tetap hantu." kata Jo padanya.
Lalu perempuan itu berbalik dan memandang Jo dengan tatapan serius.
"Ada apa kau kesini?" tanyanya menekan.
"Aku kesini hanya ingin tahu mengenai rumor itu."
"Rumor? Rumor apa yang sudah memakan waktu bertahun-tahun? haha." ucap perepuan itu dengan tawa di akhir.
Jo diam dan tidak membalas ucapan perempuan itu. Kemudian Jo bertanya padanya tentang sesuatu.
"Jika kau adalah pemilik rumah ini, maka kau pasti tahu bagaimana seseorang mati disini kan?"
tanya Jo dengan rasa penasaran.
"Mati?"
"Iya. Tahun lalu ada orang yang mati di dalam pekarangan rumah ini." lanjut Jo menjelaskan.
Perempuan itu coba berpikir. Dan akhirnya ia pun ingat. Dia mengakui bahwa ada seseorang yang pernah mati pada waktu itu di area rumah ini. Namun perempuan itu berkata bahwa bukan dirinya yang menjadi pelaku atad kejadian itu.
Jo terkejut, lalu kembali bertanya mengenai siapa dalangnya.
"Kau ingin tahu?" tanya perempuan itu pada Jo.
"Tentu saja. Jadi siapakah dalang pembunuhan itu?"
Perempuan itu sedikit mendekat. Lalu berkata...
"Dia sendirilah yang melakukannya."
Ucapan itu membuat jo sedikit terkejut karena dugaan selama ini sudah salah.
Perempuan itu memastikan bahwa bukan dialah yang membuat orang itu mati. Tetapi karena keinginan sendirilah yang menjadikan dia mengkhiri hidup di kawasan itu dan berujung sebuah rumor.
"Aku hanya melihatnya. Aku tidak tahu kenapa dia berada disini. Akan tetapi dia ingin mati agar tidak di ketahui oleh orang-orang. Dan tetap saja baunya tetap tercium juga. Jadi bukan salahku."
"Kenapa kau tidak menolongnya?" tanya Jo dengan sedikit menekan.
"Aku menolongnya? Dia tetap akan mati. Karena senjata tajam itu sudah berada di dekat bagian tubuhnya. Dan jika aku muncul, pasti dia akan mengakhiri hidupnya secara cepat. Aku masih ingat wajah keputus asaan itu."
Ungkap perempuan yang merupakan saksi mata kejadian itu.
"Jadi hanya kau saja yang melihatnya?" tanya Jo.
"Iya. Siapa lagi? Kawasan rumah ini memang sepi. Dan palingan hanya satu dua kendaraan yang lewat di dekat sini. Lagian ngapain juga hantu menolong orang?"
"Jadi begitu ya ceritanya. Aku kira ada orang yang
membunuhnya. Ternyata salah."
Kemudian perempuan itu berkata pada Jo, agar dirinya segera kembali pulang. Pintu seketika terbuka dengan lebar. Yang mana tadinya terkunci. Jo pun menuju ke pintu tersebut. Sebelum pergi meninggalkan rumah itu, lelaki tersebut menanyakan hal terakhir pada perempuan yang merupakan pemilik rumah.
"Kenapa kamu menyuruhku untuk pulang dengan cepat?"
"Karena malam ini lagi purnama. Ketika bulan purnama terlihat jelas, maka diriku akan berubah lebih ganas dan menyeramkan. Dan tidak segan-segan membunuh orang-orang yang ada di sekitar sini. Jadi aku menyarankanmu untuk segera pergi sebelum purnama terlihat."
"Pergilah sebelum purnama terlihat dari balik awan-awan itu." lanjut perempuan itu dengan nada tinggi.
Jo langsung berlari dan keluar dari rumah tersebut. Setelah berada di area luar rumah, lelaki itu mendengar suara gaduh dari dalam rumah yang barusan di masukinya.
Beberapa benda terlempar ke arah Jo dan hampir mengenainya. Karena situasi tidak aman, maka Jo memutuskan untuk pergi dari sana.
-----SELESAI-----