KISAH KEBUN ROTAN NYAI HAPU
Ada sebuah cerita yang jarang terdengar oleh anak-anak zaman sekarang yaitu kisah Nyai Hapu.
Nyai Hapu ini adalah salah satu saudara kandung dari Santagin, yang merupakan tokoh cerita dalam asal usul Bukit Tunggal yang berada di desa Tuwung kecamatan Kahayan Tengah Kabupaten Pulang Pisau yang pernah kuceritakan pada beberapa waktu yang lalu.
Nyai Hapu tinggal bersama orang tuanya di pinggir danau Sabuah, Hulu Bukit Tunggal. Orang tua Nyai Hapu merupakan tokoh desa yang terkenal kaya karena memiliki banyak dayang-dayang dan juga jipen / pembantu.
Suatu ketika orang tua Nyai Hapu ingin mengajak jipen-jipennya pergi berladang ke hulu sungai Perisiang. Sebelum berangkat ke Hulu sungai Perisiang untuk berladang,orang tua Nyai Hapu, berpesan ke dayang-dayang supaya menjaga Nyai Hapu yang sedang di "kuwu" (dipingit).
"Jangan keluar rumah ataupun turun ke danau."pesan bapak Nyai Hapu.
" Iya,juragan"jawab para dayang-dayang tunduk.
Setelah keberangkatan bapaknya, Nyai Hapu merasa bosan dan ingin menyusul ke ladang orang tuanya. Iapun membujuk dayang - dayangnya, untuk mendayung ke hulu sungai Perisiang. Namun, dayang-dayang menolak.
Mendengar dayang-dayangnya menolak, Nyai Hapu pun marah dan memaksa, karena dipaksa akhirnya luluhlah hati dayang-dayang dan merekapun mendayung perahu ke hulu sungai Perisiang.
Di tengah perjalanan, tepat di daerah Tumbang Sahai, tiba-tiba perahu rombongan Nyai Hapu di terjang ombak yang berputar-putar membentuk lingkaran pusaran air. Perahu merekapun terbalik, dayang-dayang terhempas ke pinggir sungai dan berusaha berenang menyelamatkan diri. Tapi,Nyai Hapu ditelan oleh pusaran air dan tidak ditemukan oleh dayang-dayang.
Dengan perasaan takut,dayang-dayang berjalan menyusuri pinggir danau dan kembali ke Bukit Tunggal.
Saat orang tua Nyai Hapu pulang dari ladang dan mendengar kabar anaknya yang tenggelam, maka menangis lah mereka. Mereka berusaha mencari anaknya, namun tidak mereka temukan. Berhari-hari, hati orang tua Nyai Hapu dirudung duka mendalam. Hingga pada suatu malam, ayah Nyai Hapu bermimpi. Dalam mimpinya, ia ditemui oleh sesosok laki-laki tampan rupawan yang merupakan jelmaan Jata (buaya ghaib) penghuni Labehu Tumbang Sahai. Jata berkata
"Jangan khawatir,Nyai Hapu baik-baik saja. Ia sekarang tinggal bersamaku di istanaku. Dia ku ambil sebagai istriku. Dia hidup, hanya saja,dunianya sekarang berbeda dengan dunia kalian."katanya.
"Kembalikan anakku. Aku mohon."pinta ayah Nyai Hapu memohon kepada Jata.
"Tidak mungkin,aku mengembalikan istriku kepadamu."jawab Jata.
"Aku akan memberikanmu kebun rotan di Tumbang Sahai sebagai palaku (mahar adat) anakmu Nyai Hapu. Namun ingat pesanku ini, kebun rotan itu jangan di panen untuk diperjual belikan. Rotan itu hanya bisa dipanen untuk dijadikan tali untuk menangkap/memancing buaya ( tali sakang ) yang memangsa manusia." Pesan Jata.
Bapak Nyai Hapu terbangun dari tidurnya karena ayam jantan berkokok pertanda hari sudah pagi. Antara percaya dan tidak percaya, bapak Nyai Hapu di pagi hari itu,menceritakan mimpinya kepada istrinya dan berencana untuk mendayung ke arah Tumbang Sahai.
Setelah matahari muncul di ufuk timur, segeralah bapak Nyai Hapu mendayung ke arah Tumbang Sahai. Betapa terkejutnya dia, daerah yang selalu dilewatinya dan tidak pernah ada kebun rotan, tiba-tiba ditumbuhi kebun rotan yang sangat lebat.
Hati Bapak Nyai Hapupun menjadi tenang. Walaupun tidak dapat lagi bertemu anaknya, paling tidak,anaknya masih hidup di dunia yang berbeda.
Sekarang kebun rotan itu masih ada di desa Tuwung dan di sebut "Kebun Uwei Nyai Hapu"(uwei=rotan) oleh masyarakat setempat.
Konon katanya, ketika harga rotan sangat mahal dan kebun rotan Nyai Hapu sangat lebat,terdapat masyarakat yang tergiur untuk memanen rotan tersebut untuk dijual. Tidak lama setelah menjual rotan itu, orang tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Masyarakat setempat mengaitkannnya dengan pesan Jata dalam mimpi bapak Nyai Hapu bahwa tidak boleh diperjual belikan.
Hingga saat ini kebun uwei Nyai Hapu, bagi sebagian orang dipercaya sebagai tempat keramat. Tak jarang ada yang balampah mengantar sajen ke tempat itu,untuk meminta keturunan.