Bunyi gesekan antara roda-roda besi itu menggerogoti kenyamananku. Stasiun kuno itu penuh dengan orang-orang bermantel hitam panjang yang mondar-mandir di antara pintu stasiun.
Namaku Aleca, 17 tahun. Aku telah tiba, dan kini menarik koper tua ini dengan keberatan. Sambil melangkah di antara serombongan orang, aku menimang-nimang perkataan kakek sebelumnya.
*******
Sebuah tempat di desa ini. Brownville, begitulah orang-orang menyebut kastil tua itu. Dahulu itu adalah rumah seorang arsitek tua yang bangkrut dan jatuh miskin. Ia menjualnya kemudian pergi entah ke mana, namun belum ada satupun yang membeli kastil itu.
Ketika suatu pagi, penduduk melihat sebuah keluarga tiba-tiba saja menghuni rumah itu. Anak laki-laki tunggal mereka terkadang berlalu-lalang di sekitar perumahan penduduk, bermain dengan hewan-hewan peliharaan penduduk. Sayangnya mereka sangat tertutup, tidak ada satupun orang yang mengenal ataupun berani menyapa. Keluarga itu jarang terlihat. Hingga perlahan-lahan tidak seorangpun sadar akan kejanggalan aneh.
Di suatu hari yang berhujan, itu terjadi. Sang ayah yang biasanya tampak pucat saat bertemu orang lain, sang ibu yang bahkan hampir tidak pernah terlihat, dan anak laki-laki mereka yang biasanya bermain di luar, mereka semua menghilang begitu saja. Tidak ada yang tersisa, bahkan tanda-tanda bahwa mereka pernah tinggal sudah tidak ada.
Papan yang sebelumnya dipasang saat rumah itu dijual kembali ke tempatnya semula, kayunya terlihat baru seperti saat arsitek itu meninggalkannya. Padahal jelas-jelas kayu itu telah bertahan selama musim ke musim sebelum keluarga itu datang dan akhirnya lapuk. Dan di hari-hari berikutnya, seorang pemuda menanyakan hal itu kepada tetangganya yang lain. Ia khawatir jika telah terjadi sesuatu pada keluarga itu.
"Kau bicara apa? Keluarga apa yang kau maksud? Disana kan selalu kosong sejak pak tua itu meninggalkannya"
Jawaban mereka selalu sama. Mereka sama-sama tidak tahu. Pemuda itu kebingungan. Ia sadar, hanya dirinyalah yang masih mengingat mereka. Hingga tua ia masih mengingatnya. Lalu ia menyimpannya sendirian untuk diceritakan kepada keturunannya nanti. Dia adalah kakekku.
*******
Aku terus berjalan. Mengakhiri memori itu dengan sebuah tanda tanya. Apakah orang-orang sengaja melupakan keluarga itu?
….
Ting tong
Jariku menekan bel berulang-ulang. Tidak ada jawaban dari dalam. Kesal sekali dibuat menunggu begini.
Semenit kemudian, bibi berteriak dari dalam, menyuruhku sabar. Aku menunggu hingga bibi membukakan pintu, lalu kemudian menarik masuk koperku yang terus berderik selama ditarik.
Saat makan malam, kami tidak banyak bicara. Aku tidak akur dengannya. Aku juga tidak terlalu suka padanya yang selalu menyalahkan ayahku atas apa saja. Permasalahan kecilpun bisa saja jadi bencana bila di tangannya.
"Besok kau mau ke mana?" ia bertanya tanpa menatapku.
"Entahlah," aku pasrah saja walaupun hanya bosan-bosanan di rumahnya. Lagipula aku tidak akan memberitahukannya tentang rasa penasaranku pada kisah Brownville itu.
Cepat-cepat kuselesaikan makananku, lalu pergi tidur.
Kupandangi ruangan kamar itu hingga mataku lelah sekali. Tanganku meraih-raih sakelar lampu dan mematikannya. Tiba-tiba saja aku terperangah saat berbalik. Sebuah bayangan besar, bayangan rumah dengan atap runcing terlihat di dinding kamar. Jantungku berdegup kencang, berpikir bahwa kastil itu mungkin saja berada dekat dengan rumah bibi.
Dengan secepat kilat, aku menyambar jendela, mengintip lewat kaca yang mulai berembun. Sayangnya tidak terlihat apa-apa. Sekarang sudah larut malam, lampu jalanan bahkan sudah dimatikan. Aku bergegas menutup kain jendela dan bersembunyi di balik selimut. Mungkin besok aku bisa memeriksanya, pikirku.
Saat kusadari, bayangan itu telah hilang. Rasanya kamar ini semakin hangat tidak seperti sebelumnya. Dan aku akhirnya bisa tertidur.
Keesokan paginya, tepat setelah bibiku pergi bekerja, aku diam-diam pergi berjalan-jalan. Rasa penasaranku pada suatu hal selalu saja mengalahkan ketakutanku. Semengerikan apapun sebuah kisah, tetap saja tidak bisa mengalahkan rasa penasaranku. Entahlah, selalu begitu. Aku berjalan ke samping rumah, di mana jendela kamarku mengarah.
Sebuah pohon besar berdiri tepat di sebelah rumah bibi. Aku baru menyadarinya. Kulit pohon itu berwarna hitam. Lumut-lumut melapisinya, ada juga tanaman sulur. Rasanya agak aneh melihat sebuah pohon besar di perumahan sebagus ini.
Tapi aku tidak terlalu mempedulikannya. Selanjutnya, aku menelusuri ke belakang rumah hingga hutan di belakangnya. Tidak ada tanda kehadiran kastil atau rumah besar yang mirip kastil.
Aku menyerah. Dengan bertanya sekali lagi ke dalam diriku, kakiku masih melangkah jauh kembali ke rumah bibi. Itu dia pohonnya, aku bisa melihatnya dari kerumunan pohon yang lebih kecil ini. Rasanya pohon itu sedikit lebih mencolok. Aku berjalan pulang mengikuti arah pohon itu. Tetapi seiring dengan langkah kakiku, semua suara bising jalanan jadi semakin sunyi. Apa aku berjalan ke arah yang benar?, pikirku. Sudah jelas itu pohonnya, pasti tidak salah.
Namun, otakku mengetahui bahwa tidak terdengar lagi suara khas pemukiman. Kenapa aku merasa sekarang seperti jauh dari rumah. 5 menit aku diam berpikir. Padahal sudah 10 menit atau lebih aku berjalan. Tetapi sepertinya pohon itu masih sama jauhnya.
Kini aku tersesat. Ya, aku tahu itu. Lalu apa yang harus kulakukan?
Aku terus-terusan berteriak di dalam hati. Aku panik pada keadaan ini. Sebentar lagi bibi akan pulang. Jika dia mengetahui aku tidak sedang di rumah, dia akan mengeluhkan kepada ayah. Sial, aku harus cari jalan keluar.
Mendadak di detik itu juga, angin kencang meniup daun-daun. Sehingga sepersekian detik, kukira aku melihat daun-daun terbang di sekitarku. Dan berikutnya tanpa kusadari, sesuatu, ya, sesuatu yang besar berada di belakangku.
Sebuah kastil besar bergaya kuno.
Kupikir aku sedang berkhayal tentang menemukan apa yang kucari selama ini. Tetapi tidak, aku bisa merasakan kakiku gemetaran dan suara napas ini benar-benar napasku. Angin menyerbu dedaunan yang beterbangan menampar wajahku. Seakan membangunkanku dari lamunan. Ya, aku takjub dan tidak menyangka akan menemukan kastil ini. Aku tidak masalah jika tidak pulang tepat waktu.
…
Dengan gugup, aku berjalan ke bangunan tua itu. Suara langkah di atas dedaunan begitu memecah kesunyian. Tapi itu bukan suaraku. Sialnya lagi, suara itu terdengar dari belakangku, tepat di belakangku.
Aku berbalik cepat, melihat sebuah kapak dihempaskan ke arahku. Lalu menghindar dengan terburu-buru. Napasku tak teratur, dan jantungku bagai berlarian tak menentu. Orang itu lalu berlari pergi meninggalkanku yang bingung dan takut.
Belum juga aku menginjakkan kakiku, tetapi sebuah tanda bahaya lebih dahulu menghampiriku. Aku masih ketakutan, terus menenangkan diriku untuk segera kabur. Tapi sebuah pikiran jelek melintas begitu saja. Sudah lelah sampai di sini, kenapa tidak sekalian saja memeriksa ke dalam kastil? Lagipula ini adalah kesempatan sekali seumur hidup, pikirku konyol.
Dengan waspada, aku masuk ke dalam kastil itu. Betapa mewahnya, batinku. Dinding-dindingnya masih begitu bagus. Ada banyak lukisan artistik di dalamnya. Aku cukup terkesan. Tetapi entah kenapa udara terasa dingin sekali, terlebih lagi ini adalah musim panas. Aku menebak-nebak mungkinkah karena lukisan-lukisan itu semuanya melukiskan pembunuhan. Karena itu, mungkin aku merasa sedikit takut. Ya, aku meyakinkan diri mengganggap ini hal biasa.
Namun, aku tidak tersadar pintu dari arah lain terbuka pelan. Tapi bukan karena angin. Sebuah tangan muncul dibaliknya. Saat menoleh ke arahnya, sebuah mata biru menatapku. Perlahan-lahan ia menampakkan dirinya. Tapi yang membuatku jauh lebih terkejut adalah pisau yang menancap di dadanya.
Wanita. Ia seorang wanita dewasa. Dan perutnya, ia sedang hamil besar. Aku ketakutan dan berpikir bagaimana untuk memanggil polisi. Wanita itu dalam bahaya.
Tetapi terlambat, ia terjatuh tiba-tiba. Lalu tangannya menunjukku seakan meminta bantuan. Ia sempat berbisik lirih.
"..Per....gi….."
Aku mengetahui itu sebagai peringatan. Setelahnya, tubuhku mendadak beku mendengar suara tawa aneh menggelegar. Suara tawa anak kecil, tapi tawa itu terdengar gila. Setiap nadanya melengking aneh. Aku menyadari suara itu berasal dari tangga di sampingku.
Dan benar, saat menengadah ke atas tangga seorang anak laki-laki memelototiku dengan tersenyum lebar. Wajahnya penuh oleh titik-titik cairan merah. Dan tangannya benar-benar berwarna merah. Darah segar mengalir dari tangannya, menetes-netes di anak tangga. Aku tertegun, menatapnya dengan bayangan ketakutan luar biasa.
Di luar dugaanku, anak itu tiba-tiba berlarian liar menuruni tangga sambil tertawa. Aku tahu, ia menujuku.
Dengan panik dan ketakutan, aku kabur dari sana. Aku tak ingin ia mendapatiku dan membunuhku. Aku sadar anak itu tidak beres. Ia pasti membunuh ibunya. Oh ibu?! Apakah mereka adalah keluarga yang hilang itu?
Aku menelan ludah sambil berlari kencang. Air mata berjatuhan di pipiku. Aku hilang arah, saat menoleh ke belakang suara tawa anak itu mendekat. Makin terdengar, sampai aku bertanya-tanya. Anak seperti apa yang lari secepat ini?
Dalam pelarian itu, sebersit pikiran muncul di kepalaku. Jika ibunya dibunuh oleh anak itu, lalu dimana ayahnya? Apakah ia masih hidup? Kalau begitu aku harus meminta tolongnya.
Dengan lari yang sudah tidak terlalu cepat lagi, aku memutar jauh kembali ke kastil. Hatiku mengatakan aku harus menemukan ayahnya. Mungkin saja ia bisa menolongku, pikirku.
…
Langkah terakhir, dan aku akhirnya tiba di kastil semula. Namun, kali ini aku berjalan mengendap-endap di samping kastil itu. Suara tawa anak kecil itu tidak terdengar sama sekali.
Aku mengintip dan berjalan ke ruangan-ruangan tanpa ketahuan. Sampai kemudian aku tiba di ruangan yang terlihat seperti dapur. Saat mencari-cari, mataku menatap tak percaya. Sebuah benda hitam gosong dan melepuh. Aku hampir muntah ketika menyadari itu adalah tubuh manusia. Rambutnya sepertinya habis terbakar. Rahang dan bentuk wajahnya seperti seorang pria. Itu pastilah ayahnya. Aku juga melihat bekas gigitan kecil di kepalanya. Yang satu itu tidak ingin kutebak gigitan apa. Aku sudah cukup melihat fakta mengerikan ini.
Saat beberapa lama, bau gosong tidak mengenakkan menutupi dapur itu. Aku nyaris pingsan dan ingin segera keluar. Aku batuk-batuk dan bergegas keluar untuk menghirup udara segar lalu menemukan seorang anak kecil yang berdiri di depanku tersenyum lebar-lebar.
"Kakak.."
Ia mengangkat kapak di belakangnya, lalu mengibaskan ke arahku.
Hening.
...
******
Mataku sakit sekali. Aku mengulurkan tanganku ke atas, memperhatikannya lama sekali.
Tunggu dulu, aku masih hidup???
Aku memperhatikan sekelilingku bagai kerasukan. Saat ini aku berada di samping rumah bibi. Sepertinya aku jatuh tertidur di atas daun-daun ini.
Saat memperhatikan tempat ini aku mengingat sesuatu yang sepertinya hilang. Pohon besar itu, sudah tidak ada. Jelas-jelas sebelumnya ada di sini. Aku bahkan menyentuhnya sedikit. Kenapa bisa…
Dengan ketakutan aku melangkah ke dalam rumah. Jantungku terasa seperti habis lari maraton. Aku juga yakin, itu bukan hanya mimpi.
Setelah itu, bibi akhirnya pulang. Aku ingin sekali menceritakan hal tadi padanya. Tetapi kuurungkan. Biarlah orang selanjutnya yang mendengarnya yang akan melanjutkannya.
—END