Claudia.
Itulah nama dari wanita idaman Barav. Claudia yang ia cintai dan ia sayangi itu tampak tak melihat diri Barav yang ada di belakangnya.
Perjalanan yang kami lakukan ini hanya sekedar jalan-jalan biasa. Atas permintaan Claudia, Barav mau menurutinya. Meski hanya sebagai teman jalan, Barav tetap senang karena bisa dekat dengan wanita yang disukainya itu.
Sesekali Claudia mengajaknya bicara, lalu berjalan menuju berbagai tempat yang ada di penjuru kota. Melelahkan, namun juga menyenangkan. Barav menikmati suasana kebersamaan itu dengan perasaan bahagia.
Kegiatan itu berlangsung sangat lama. Dan berakhir pada sore hari. Saat matahari terbenam dengan latar langit bewarna jingga, mereka berdua memandang ke atas seraya menikmati penutupan dari kegiatan jalan-jalan keduanya.
Matahari tenggelam secara perlahan, hingga tiada tampak lagi. Claudia memutuskan untuk pulang. Barav pun mengantarkan wanita itu pulang dengan mobilnya. Menuju sebuah rumah yang selalu ia lewati kala merindu, membuat Barav merasa sedikit sedih. Ditambah dengan berakhirnya kegiatan hari itu, membuat hati Barav makin sedih.
Sesampainya di depan rumah Claudia, wanita itu keluar dari mobil. Kemudian dia melambaikan tangan sambil mengucapkan terima kasih. Barav membalasnya dengan senyum, lalu pamit pulanh setelahnya. Mobil mulai berjalan pelan. Claudia beranjak pergi memasuki rumah. Barav memandang ke arah Claudia yang tengah memasuki rumah tersebut. Dengan perasaan campur aduk, lelaki itu menatap sang wanita tercinta. Walau hanya dalam hati semata dan tidak bisa diungkapkan sebab terhalang akan satu hal.
Claudia sudah memiliki pacar yang berada jauh dari kota tempat tinggal wanita itu saat ini.
Barav lebih memilih mempertahankan hubungan pertemanannya meski rasa suka itu tetap ada dalam hatinya sampai sekarang.
-----SELESAI-----