Ayo .. ayo .. ayo ..
Sorak gembira muda-mudi, anak-anak hingga orang tua memenuhi sebuah lapangan kecil di tempatku berada.
Berbagai macam perlombaan sudah disiapkan oleh panitia lomba untuk memeriahkan dan memperingati hari kebangkitan nasional pada tanggal tujuh belas agustus.
"Nay, bisa minta tolong ambilkan tali tambang yang di atas sound itu?" Ucap Sisil menunjukan arah tali tersebut.
"Oke." Jawabku singkat, segera beranjak mengambil apa yang diminta Sisil tadi tak jauh dari tempatku duduk sekarang.
"Siapa yang nyimpen tali itu di atas begitu sih? ya ampun gimana cara aku ngambilnya?" Kataku menggerutu sendiri sambil melihat-lihat siapa tau ada yang bisa diminta tolong untuk mengambilkan tali tersebut.
Namun nihil, semua orang tengah sibuk dalam perlombaan yang sedang berlangsung.
Aku ambil kursi plastik dan kususun beberapa kursi agar lebih tinggi lagi, setelah aku rasa cukup tinggi. Aku naik ke atas kursi tersebut dan mencoba meraih tali itu. Namun sial, kaki kursi yang kugunakan kurang stabil penempatannya, membuat kursi itu bergoyang dan menjatuhkan tubuhku.
Kupejamkan mataku, menyiapkan diri untuk rasa sakit yang akan aku rasakan. Namun setelah beberapa lama aku tidak perasakan sakit sedikit pun.
"Nay, bangun berat tau." Ucap seseorang yang suaranya sangat aku hafal, kubuka kedua mataku.
"Ya ampun om, badan kecil begini dibilang berat." Kumengerucutkan bibirku seraya bangun dari atas tubuh om-ku.
Gema Azana Pristiawan, adik bungsu dari ayahku namun usianya seumuran denganku.
Aku Nazya Anindita anak sulung dari keluargaku.
"Badan sih boleh kecil, tapi beratnya itu ya ampun." Kata Gema, ku-ulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.
"Kamu mau apa, Naik-naik kebangku begitu? Apa kamu gak tau itu bahaya?" Imbuhnya menepuk-nepuk bokongnya yang kotor.
"Sebentar lagi lomba tarik tambang, salahkan orang yang menyimpan tali itu, kenapa juga menyimpannya di atas begitu!" Kataku seraya menunjuk sebuah tali yang terbaring cantik di atas sound yang tinggi dihadapanku.
"Kan bisa minta tolong kalau kamu gak bisa mengambilnya kenapa dipaksain dan membahayakan diri sendiri begitu." Omelnya sambil menggantikan tugasku mengambil tali tambang yang tadi inginku ambil.
"Tadinya begitu, tapi aku liat semuanya sedang sibuk. Ya, aku coba ambil sendiri tapi malah jatuh." Adu-ku menerima uluran tali yang diberikan Gema..
"Ya sudah bawa sana, dan jangan ceroboh lagi kalau gak mau terluka." Katanya lagi.
"Oke siap om-ku tersayang." Jawabku.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu! Usia kita sama jika kau lupa." protes Gema.
"Dan kau jangan lupakan kalau kau adalah adik dari ayahku, sudah sepantasnyaku panggil begitu bukan?" Protesku menukikkan sebelah alisku.
"Tapi jangan om juga, aku jadi merasa lebih tua kalau begitu." Kata Gema.
"Lalu kamu mau dipanggil apa, Om?" Kataku menekankan kata OM.
"Apa aja asal jangan Om, sayang gitu misalnya." Ide gila Gema.
"Gila-gila kamu, hahaha ,, oke kalau gitu, aku gabung sama mereka dulu ya sayang, Om-ku whee." aku berlari menjulurkan lidah, Gema pun hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hari semakin siang dan matahari pun semakin terik seolah siap membakar kulit, semua perlombaan sudah diselesaikan dengan baik waktunya bagi kami membersihkan sisa-sisa perlombaan.
Ya begitulah sibuknya menjadi panitia perlombaan, di mana kamu jauh-jauh hari sudah direpotkan dengan persiapan perlombaan, bahkan selesai acapun harus kembali sibuk untuk membersihkan kekacauan yang sudah kami persiapkan sebelumnya.
Tapi ada kepuasan tersendiri saat kita aktif dalam sebuah lingkungan, seletih apapun tubuh namun semua itu tidak terasa karena canda tawa yang selalu terjadi saat berkumpul dengan teman-teman lainnya.
Seminggu berlalu sejak perlombaan itu terlaksana, seperti kesepakatan sebelumnya.
Kami semua panitia yang terlibat, akan berlibur ke sebuah air terjun yang masih berada di daerah tempat kami tinggal.
Semua perlengkapan yang kami butuhkan sudah disiapkan sebelumnya dan hari ini kami akan berangkat ke curug Cikuluwung yang terletak disuatu desa di Bogor.
Selama satu jam kami menempuh perjalanan dari tempat kami tinggal dengan menggunakan sepeda motor jadul, kini perjalanan itu tak bisa lagi ditempuh dengan kendaraan.
Kami melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki, manapaki jalanan yang cukup licin dan berbatu tebing-tebing dan jalanan yang cukup curam membuat kami harus berhati-hati dalam melangkah, salah memijak kami akan terjun bebas ke dalam jurang.
Saat aku berjalan mengikuti teman-teman yang lainnya kakiku terpeleset karena jalanan yang ku pijak begitu licin, membuat perhatian semua temanku terfokus padaku.
Aaaaaaahhhhhh...
"Nazya."
"Dek."
Teriak teman-temanku dan Gema.
Beruntung tanganku refleks meraih sebatang akar yang cukup kuat untukku genggam, menyadari nyawaku di ujung jurang, tubuhku bergetar hebat. memperkuat genggamanku pada akar yang ku raih tadi.
"Tunggu sebentar, jangan lepas genggaman kamu dek." Kata Gema dengan wajah yang begitu pias.
"Ada yang bawa tali?" Imbuhnya menatap yang lainnya.
"Gue bawa bro." Kata Abbiya seraya mencari benda yang dipinta Gema tadi lalu memberikan.
Melempar ujung tali itu ke arahku, sedangkan Gema dan Abbiya menahan ujung tali lainnya bersiap menarik tubuhku dan memintaku untuk meraih tali itu.
"Dek, ambil talinya." Kata Gema.
"Aku takut, Om." Suaraku terdengar bergetar dengan tangan yang sudah lelah menahan tubuhku agar tidak terjatuh, melihat ke bawah tubuhku semakin bergetar hebat.
"Kamu jangan liat kebawah kalau takut Nay, dengerin aku. Ambil tali itu lalu tutup mata kamu." Kata Abbiya.
"Ayo Nay kamu pasti bisa." Kata temanku yang lainnya.
"Come on, kamu anak yang berani bukan? Ambil talinya." Rayu Gema.
Aku memberanikan diriku untuk meraih tali yang tak jauh dariku, dan berhasil. Aku mendapatkannya, seperti yang dikatakan Abbiya sebelumnya, aku memejamkan mataku agar rasa takutku berkurang. Ku eratkan genggamanku pada tali tersebut hingga perlahan tubuhku tertarik ke atas.
Ku rasakan genggaman tangan pada pergelangan tanganku, aku yakin hampir sampai tapi merasakan kaki masih menggantung, aku memberanikan diri untuk membuka mata.
Pandanganku tertuju pada seseorang yang tengah menatap dan menggenggam tanganku dengan erat. Gema dan Abbiya dua orang yang tengah membantuku naik ke atas dari sisa tebing yang ada.
Saat kakiku sudah berpijak pada tanah, aku sangat terkejut saat merasakan tubuhku sudah ada dalam dekapan seseorang dengan tubuh yang masih bergetar hebat.
"Abbi." Kataku mencoba melepaskan pelukan pria itu namun sulit entah apa maksudnya pria itu memelukku dengan posesif.
"Biarkan tetap seperti ini sebentar aja Nay." Kalimat itu yang terlontar dari mulut Abbiya, ku lihat tatapan tak suka dari mata Gema dari balik tubuh Abbiya.
Tak lama kemudian ada tangan seseorang yang memegang bahuku dan melepaskan pelukan Abbiya dari tubuhku kemudian menariknya ke dalam dekapannya.
"Bodoh, lo bodoh dek." Kata Gema dengan tubuh yang tak kalah bergetarnya denganku.
"Sory om, tadi itu_" Kataku terputus karena Gema memotongnya.
"Udah diem, bodoh." Katanya menekankan kata bodoh pada kalimatnya, aku pun langsung terdiam.
"Kamu gak apa-apakan Nay." Kata Sekar temanku yang ikut dalam pendakian ini.
"Gak apa-apa kok, makasih ya kalian udah nolongin aku, maaf udah buat khawatir juga." Aku sungguh tak enak hati karena aku membuat perjalanan ini tertunda.
"Kita balik aja atau gimana?" Kata Abbiya.
"Jangan, ayo kita lanjutin aja." Kataku.
"Kamu yakin gak apa-apa?" Ucapnya meyakinkanku.
"Iya aku gak apa-apa, ayo kita lanjutin." Jawabku dengan mode yakin, walau sebenarnya tubuhku masih bergetar hebat karena kejadian tadi.
"Tapi lo jangan jauh-jauh dari gue, denger gak?" Tegas Gema memelototkan matanya.
"Iya, iya om." ucapku sedikit menunduk.
Kami pun melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati, aku berjalan diantara Gema dan Abbiya. Entah kenapa sejak kejadian tadi mereka lebih posesif terhadapku terutama Gema sepanjang perjalanan tak pernah dia melepaskan genggamannya pada tanganku.
Sampai akhirnya kami sampai pada tempat yang kami tuju sebuah tempat yang sangat sunyi dan nyaman, suara air yang dan burung-burung yang menyejukkan jiwa.
Kutarik nafasku dalam-dalam menikmati setiap hembusan angin yang menyapu kulit putihku.
"Kamu suka?" Suara seseorang yang sangatku kenal memecah kesunyian.
"Heemm,, tempat yang sangat indah, perjalanan yang melelahkan dan penuh rintangan terbayar lunas saat sampai di sini." Kataku menatap Gema.
"Ya, tempat seperti ini memang membawa aura positif tersendiri bagi penikmat alam." Kata Gema.
"Ya kamu benar, kamu gak mau bergabung sama mereka?" tanyaku seraya menunjuk posisi temanku yang tengah sibuk membasahkan diri di bawah guyuran air terjun.
"Kamu? Aku gak mau kecolongan lagi, lebih baik menjaga orang yang ku sayang di sini. Cukup tadi aku hampir aja kehilangan dia." Katanya lagi yang membuatku sangat terkejut, apa katanya? Orang yang ku sayang?
"Ma-maksudmu?" Kataku terbata.
"Aku suka sama kamu Nay, do you want to be my lover?" Katanya yang membuatku semakin terkejut.
"Kamu jangan gila, Om. Kita ini keponakan dan paman." Ku tak menyangka perhatiannya selama ini ternyata bukan hanya sebagai om pada keponakannya.
"Ya, dan aku sangat menyesali itu. Kenapa hati ini berlabuh pada keponakanku sendiri." Kata Gema memandang jauh ke depan dengan hembusan nafas yang terasa berat didengar.
"Dan kamu tau, itu sangat tidak mungkin, kalau keluarga tau apa yang akan mereka lakukan!" Kataku menatap wajah orang yang selama ini selalu ada di sampingku.
"Tidak akan ada yang tau, akan kusimpan perasaan ini untukmu dan untukku sendiri, bersama siapapun kamu kelak perasaan ini akan tetap sama dan aku akan selalu ada untukmu." Kata Gema memandang wajahku.
"Sudah lupakan perasaan yang tidak tau tempat ini, ayo kita nikmati alam yang indah ini." Imbuhnya menarik pergelangan tanganku lembut.
'Apa kata dia tadi? Lupakan? Gimana caranya aku lupain apa yang diungkapkannya tadi, apa dia ini gila?' Kata batinku.
Mengikuti ke mana langkah Gema dan bergabung dengan teman lainnya, kupercikkan air ke arah yang lainnya hingga membuat pakaian mereka sedikit basah karena ulahku.
"Nay." Panggil Abbiya setelahku menengok ke arahnya ia membalas memercikkan air ke arahku, ups bukan percikkan ini seperti menyiram. Air yang tumpah ke tubuhku jauh lebih banyak.
"Basah woy." Kataku berkacak pinggang.
"Bodo kita ke sini buat main basah-basahan bukan?" Kata Abbiya dan disusul gelak tawa yang lainnya.
Ku lihat kearah Gema yang tengah terduduk disalah satu batu besar tak jauh dari tempat kami.
☆☆☆☆☆
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun.
Sesuai dengan perkataannya kala itu, tak sedikitpun perhatian Gema berkurang. Dia menjagaku dengan sangat baik walaupun tidak secara langsung, saatku membutuhkan sandaran dia selalu ada. Aku sangat bahagia karenanya, walau takdir mengatakan kami tidak bisa bersatu dalam sebuah hubungan kekasih tapi aku sangat bersyukur mempunyai sosok yang sangat menyayangiku seperti dia.
Pagi itu, saatku hendak pergi bekerja, Gema menghampiriku.
"Dek mau berangkat gawe?" ucapnya.
"Iya, aku berangkat dulu ya om, udah telat nih." kataku memakai helm pink kesayanganku.
"Iya kamu hati-hati, karena yang selalu menjagamu tidak akan bisa selalu bersamamu." Katanya dengan suara sendu.
"Apa maksudmu?" Aku sedikit he=an dengan ucapan dia kali ini.
"Tidak ada, aku hanya mau bilang, suatu saat kamu harus terbiasa dengan ketiadaanku." katanya lagi, terlihat kabut di matanya.
"Kamu bilang apa? Jangan ngawur, sudah aku jalan dulu sampai ketemu nanti sore. bye." kataku melajukan sepeda motorku.
Semua kebahagiaan yang selalu aku rasakan berubah seketika saat mendapatkan telepon dari seseorang.
Drrtttt ... Drrtttt
Terdengar dering ponsel dari dalam tas, namun sang pemilik ponsel tersebut tidak menyadarinya. Hingga panggilan itu berulang kali terdengar, hingga telepon kantor yang berdering memecah konsentrasi wanita cantik berusia 23tahun yang tengah
mengerjakan tugasnya.
"Nayza, ada telepon untukmu." Kata seorang resepsionis di tempatku bekerja.
"Owh iya terimakasih." Kataku menerima sambungan telepon itu.
"Nay, pulang sekarang!" Kata seorang pria dibalik teleponnya.
"Ini siapa dan ada apa?" Kataku, entah mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya dan kakiku melemas seakan tak mampu menopang tubuhku.
"Ini om, pulang sekarang Gema kena musibah." Katanya dengan suara yang bergetar.
"A-apa yang terjadi?" Kataku menitihkan air mata.
"Dia tenggelam, kamu pulang sekarang." Katanya lagi.
Tanpa menunggu lama lagi, kut.inggalkan telepon itu dan berlari meninggalkan gedung tempatku bekerja.
Dalam perjalanan pulang tak putusku selalu berdoa untuk keadaan Gema, tak mau membayangkan yang jauh lebih buruk. Aku selalu memanjatkan doa untuk keselamatannya.
"Jangan tinggalkan aku, plis jangan tinggalkan aku." Racauku dalam hati.
Jalan yang sangat lenggang karena ini masih jam kerja, tak butuh waktu lama untuk aku sampai di rumah Gema.
Kulihat bendera berwarna kuning terkibar di sepanjang jalan menuju rumah itu, menguatkan diri apa yang aku lihat itu salah, melangkahkan kaki agar cepat sampai dan melihat orang yang sangat berarti dalam hidupku masih baik-baik saja.
Namun kenyataan pahit harusku telan, saatku melihat banyaknya orang yang keluar masuk ke dalam rumah itu, dan kudengar lantunan ayat alqur'an di sana.
Hatiku hancur saat melihat seseorang terbujur kaku dengan tertutup selembar kain diantara banyaknya pelayat.
Tak sanggup lagi berkata, hanya air mata yang mampu berbicara.
Orang yang berjanji akan selalu ada untukku kini sudah tiada meninggalkanku karena takdir ilahi.
Selamat jalan ketempat keabadian, namamu mempunyai tempat tersendiri di dalam hidupku.
Selembar foto yang ku punya, akan kujaga dengan baik. Sebagai obat rinduku padamu.
Huaaaa...mewek boleh gak sih?? Entah kenapa tulisanku kali ini,penuh dengan emosi dan tanganku bergetar hebat🙈🙈🙈
💞💞
Terimakasih yang masih setia mengikuti karya-karyaku yang masih jauh dari kata sempurna.
💞💞
Terutama untuk keluargaku RRF.
💞💞
Abangku.bang Rizky Rahm.
Ka sulis,kak syfa,ka neza,ka markonah.
Terimakasih banyak atas ilmu dan suportnya selama ini..
I love u more💞💞💞