Semilir angin dan rintik hujan disertai suara guntur terus menggelegar menghiasi sore itu. Hawa yang dingin membuat orang orang di desa enggan keluar rumah. Dan lampu lampu rumah telah dinyalakan karena cuaca mendung yang membuat suasana sore seperti malam hari.
Disebuah gubuk ditengah desa itu yang hanya diterangi oleh nyala api, seorang gadis berusia 9 tahun sedang menghangat kan tubuhnya di dekat tungku yang sedang menyala apinya. Rambut nya masih basah dan terlihat tetes tetes air masih menetes dari rambutnya itu. Tubuhnya pun masih menggigil menandakan ia kedinginan.
" apa ibu sudah pulang? " tanya Sean sambil menggosok gosok kan kedua tangan nya lalu menempelkan pada pipinya.
" Belum, ibu belum pulang dari tadi pagi. " suara gadis yang menjawab pada Sean terdengar dari bale bale yang tak jauh dari tungku itu.
( bale bale adalah tempat tidur/ranjang biasanya terbuat dari bambu. Bahasa daerah lembata, NTT.)
" Tata darimana saja? " tanya gadis yang lebih mudah itu sambil bangun dari bale bale.
" Saya pergi kebun dengan Bibi Maria. Engko lapar? " tanya Sean pada adiknya Ela.
" iya, saya lapar. " jawab Ela yang duduk dibale bale dengan tubuh yang masih terbungkus sarung.
" ini ada ubi kayu. Sudah matang nih. " Sean menyodorkan ubi kayu yang sudah ia kupas. Terlihat uap mengepul dari umbi itu. Ela mengambil ubi yang sudah dikupas itu lalu meniup niupnya, setelah ubi nya tidak terlalu panas ia pun memasukan kedalam mulutnya.
Sean melihat adiknya makan dengan lahap ubi yang ia kupas. Ia pun mengupas lagi ubi hingga piring itu terisi penuh ubi kayu.
" ayo makan lagi, nanti kakak bakar lagi ubinya. " kata Sean yang melihat adiknya berhenti makan.
" ah, bosan. Saya mau makan nasi dengan telur atau ikan. " ujar Ela sambil menatap lesuh pada piring yang berisi ubi.
" jangan melihat makanan seperti itu. Kita harus bersyukur karena bisa makan hari ini. " Sean mencubit pelan paha adiknya.
Ela hanya memanyunkan bibirnya, melihat itu Sean pun berdiri sepertinya ia sudah tidak kedinginan lagi.
" tadi kakak bahwa tomat. Apa kamu mau makan dengan lawar tomat? " tanya Sean pada Ela.
" hmmm, mau. " jawab Ela dengan wajah ceria. Sean beranjak dari tempat duduknya dan keluar sebentar. Terdengar suara krasak krusuk dari luar gubuk itu cukup lama, sepertinya Sean sedang mencari sesuatu. Beberapa detik kemudian suara krasak krusuk itu berhenti dan Sean sudah masuk lagi kedalam gubuk itu dengan menenteng tas ransel yang terbuat dari karung.
" engko coba cari tomat di tas ini. " Sean menyodorkan tas karung itu kepada Ela. Ela mengambilnya dan langsung memasukan tangan nya kedalam tas untuk memeriksa isi nya.
" aaaaaaahhhh.😱 " jerit Ela yang langsung mengeluarkan tangan nya dari tas dan langsung membuang tas itu ke arah Sean.
" hahahha.😂 " Sean tertawa melihat adikya yang ketakutan.
" ahhh ada belut." Ela terlihat kesal pada kakak nya. Sedangkan Sean masih tertawa melihat wajah adiknya yang kesal juga kaget.
" saya tidak mau bantu Tata bikin lawar. Tata sendiri bikin kah. " ujar Ela lagi yang sudah kembali membungkus seluruh tubunya dengan sarung.
" kalau saya sendiri bikin, jangan makan nih. " ujar Sean pada Ela.
" saya tidak akan makan, saya sudah kenyang. " sahut Ela yang tubuhnya sudah membentuk tanda tanya.
Sean mendekat ke bale bale dan menggoyang nya namun Ela tidak menggubris gangguan dari kakaknya itu. Melihat tidak ada reaksi dari adiknya sean pun membiarkan adiknya tidur. Sean mengeluarkan 2 ekor belut dan juga beberapa katak dari tas ransel. Ia membelah belut dan juga katak itu. Setelah itu ia membersihkan nya dengan air. Setelah merasa sudah bersih, ia ia memotong belut menjadi beberapa bagian dan menaruh belut di baskom lalu mengambil garam dari odong yang tergantung dekat perapian itu. Setelah itu, ia menaburkan garam pada belut dan katak. Setelah merasa cukup, ia mendiamkannya sebentar. Ia mengambil buah kelapa tua dibawah bale bale lalu mengupasnya menggunakan parang. Setelah itu, ia mulai memarut kelapa hingga bagian dalam tempurung kelapa itu mulai botak ia pun berhenti. Ia berdiri dan mengambil bawang merah dan juga ajinomoto diatas pare pare. Ia mengupas bawang lalu mengiris nya, ia berhenti sejenak lalu menyeka matanya yang pedih menggunakan bajunya.
" ahh sakit. " sungut nya pelan. Setelah merasa matanya tidak lagi perih, ia keluar dari gubuk itu. Suasana di luar gubuk sudah sangat gelap serta rintik hujan sedikit mulai redah, suara jangkrik menghiasi malam itu. Sean berdiri didepan gubuknya lalu memandang sekitarnya. Rumah rumah tetangga terlihat terang benderang karena mereka menggunakn lampu dari desa. Karena keluarga nya tidak mampu membayar uang listrik, jadi sean dan keluarga nya hanya menggunakan pelita sebagai penerang. Sean masuk lagi dengan membawah sebuah bambu yang sudah dipotong sekitar 40 cm dan beberapa lembar daun pisang yang basah. Ia meletakan bambu dan daun pisang diatas pare pare, selanjutnya ia mengambil belut dan katak yang sudah di lumuri garam itu. Ia kembali mencuci belut dan katak. Ia mengambil kelapa, bawang merah yang sudah ia iris lalu ia campurkan ke belut dan katak, ia pun menambahkan sedikit ajinomoto dan garam. Setelah sudah tercampur semuanya, iapun memasukan belut dan katak kedalam bambu lalu ia menutup bambu itu dengan daun pisang. Ia menambahkan kayu api lagi ditungku, setelah cukup, ia menaruh bambu yang berisi belut dan katak itu ke atas tumpukan kayu yang sudah mulai terbakar itu.
" aduh panas sekali tata. " Ela yang sedari tertidur, terbangun karena merasa tubuhnya panas.
" api nya besar sekali tata. Nanti terbakar bagaimana tata? " lanjutnya lagi.
Mendengar keluhan adiknya Sean pun mengecilkan api dengan mengeluarkan beberapa kayu yang terbakar lalu menyiram nya dengan air.
" belut sama katak nya sudah tata bikin lome. Sekaranh engko bikin lawar tomat ew. " suruh sean pada Ela.
" tata bikin lome? Pasti enak nih" ujar Ela
" kalau sudah matang baru enak, coba kalau belut nya masih hidup. Takut nya minta ampun. " ujar Sean pada adiknya. Ela yang mendengar perkataan kakak nya hanya cengengesan.
" Nama nya juga orang takut. " ujar ela beberapa detik kemudian.
" engko bikin lawar ew, tata sudah cape lew. " seru sean pada ela.
" oke bos. " sahut Ela yang langsung beranjak dari bale bale. Ia mengambil tomat dan cabe rawit, mencucinya lalu memotong motongnya. Ia mengambil mangkuk dan menaruh tomat serta cabe rawit yang sudah dipotong itu ke dalam mangkuk.
" Tata taruh garam dimana? " tanya Ela sambil tangannya bergerak mencari toples garam.
" ada disini. Ini ada bawang merah sudah saya iris, jadi tidak perlu iris lagi. " Sean menyodorkan toples garam dan landas berisi bawang merah yang sudah di racang. Ela mengambil toples dan landas yang diberikan kakaknya. Ia menambahkan garam, micin dan juga bawang yang sudah di racang kedalam mangkuk berisi tomat. Ia lalu mencampur semua bahan sambal itu menggunakan sendok, lalu mencicipinya.
" tata ada jeruk nipis kah? " tanya Ela sambil melihat kakaknya.
" ini. " Sean memberikan satu buah jeruk nipis yang ia ambil dari tas ransel.
" oh sip, lawar tomat kalau tidak ada jeruk nipis itu kurang enak. " ujar Ela sambil memeras jeruk nipis yang sudah ia potong.
" Tapi kemangi juga tidak ada itu. " Sean menanggapi nya.
" tidak apa apa kalau tidak ada kemangi. Yang penting ada jeruk nipis. " ujar Ela lagi sambil mencampur sambal itu, ia lalu mencicipinya lagi.
" yah ini baru mantap. " ujar Ela kemudian.
Ia meletakkan mangkuk berisi sambal buatannya itu di meja, lalu duduk di dekat tungku disamping Sean.
" apa loma nya belum matang?" tanya Ela. " sebentar lagi kah, ini butuh proses. " jawab Sean ketus, tangannya masih sibuk membalik bambu yang berisi belut dan katak itu.
" saya sudah lapar le tata. " Ela berbicara sambil memegang perut nya.
" Tadi bilang sudah kenyang " ujar Sean yang tersenyum melihat tingkah adik nya itu.
" itu kan tadi, sekarang sudah lapar lagi. " ujar Ela dengan wajah yang dibuat buat.
" iya tunggu sebentar lagi, ini sudah hampir masak. " ujar Sean pada adiknya.
" Tata kenapa mama belum pulang? " Tanya Ela pada kakak nya
" mungkin masih banyak cucian. " jawab Sean
" tapi ini kan sudah malam." ujar Ela lagi
Sean hanya diam, ia tidak menanggapi perkataan adiknya itu. Ela pun tidak berbicara lagi, karena merasa tidak ditanggapi. Mereka berdua duduk diam sambil menunggu bakaran mereka itu matang.
" ok sudah matang. " seru Sean yang mengeluarkan bambu dari tungku.
Ia mengambil piring lalu membuka daun pisang yang menutup pada lubang bambu. Saat ia mengeluarkan daun pisang itu, uap dari dalam bambu itu pun mengepul.
" hmm, aroma nya enak sekali tata. " ujar Ela sumringah.
Sean hanya tersenyum melihat adiknya. Ia menuangkan loma ke piring, lalu Ela langsung mengambil sendok dan mencicipinya.
" wah enak tata. " ujar Ela sambil mengacungkan jempol ke Sean.
" enak? " tanya Sean tidak yakin.
" benar, enak tata. Ini coba Tata cicipi. " Ela menyodorkan sendok berisi loma ke hadapan Sean. Sean meniup niup sebentar lalu ia memasukan nya ke mulut.
" hmm enak. " ujar Sean sambil mengangguk anggukan kepalanya.
Sean mengambil piring lalu membagi loma itu ke 2 piring.
" ini untuk mama, kita makan yang ini. " ujar Sean sambil menutup piring yang berisi loma dengan porsi lebih banyak dari piring yang dipegang Ela.
" iya tata. " Ela mengangguk pada kakak nya. Sean mengambil ubi dan menaruhnya dipiring.
" nanti kalau setiap pagi ada makanan malam yang masih ada, pagi itu harus dipanaskan. biar tidak basi. " pesan Sean pada Ela.
" ayo makan. " Suruh Sean pada Ela. Mendengar kakak nya sudah memperbolehkannya makan, Ela langsung menyambar ubi lalu memakannya dengan loma.
" hey, makannya pelan pelan. Nanti keselek." ujar Sean yang melihat adik nya itu makan dengan cepat. ia lalu melap mulut adiknya yang belopotan menggunakan tangannya. Ela terkesiap melihat tindakan kakak nya itu. Ia berhenti makan dan melihat kakak nya.
" Tata ada belajar kelompok malam ini? " Tanya Ela yang sudah melanjutkan makannya.
" tida. " jawab Sean.
" Tata tapi sekali hari ini. Tata mau kemana? " tanya Ela lagi. Sean tidak menjawab adiknya itu, ia asik menikmati makanannya. Tidak mendapat jawaban dari kakak nya, Ela pun makan perlahan. Suasana hening, Dua bersaudara itu duduk di dekat tungku sambil makan dengan lahap. Sedangkan diluar, hujan yang tadi nya redah kini semakin deras.
" kenyang. " ujar Ela pada kakak nya.
" duduk dulu, jangan langsung tidur. " Sean mengingatkan adiknya.
" iya tata. " jawab Ela. Sean menghabiskan makanan di piring itu. Ia lalu mencuci piring dan menaruhnya di rak.
" Ela, nanti kalau taruh piring, sendok dan mangkuk disini. kalau baskom taruh dirak paling bahwa. " Sean menunjuk setiap rak yang ia maksud.
" iya. " jawab Ela asal.
Ela masih duduk disamping tungku dengan wajah yang terlihat menahan kantuk. ia memperhatikan setiap gerak gerik kakak nya. Kakak nya tampak lebih banyak bicara hari ini. Biasanya kakak nya akan menyuruhnya untuk membereskan peralatan makan yang kotor setelah selesai makan. Jika ia menolak, kakak nya akan membersihkan tanpa berbicara. tetapi saat ini, kakak nya malah menunjuk setiap hal yang harus ia lakukan ketika selesai makan.
" tata, mama belum pulang nih. Hujan juga semakin deras nih. " ujar Ela yang masih memperhatikan kakaknya. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan, agar kakak nya tidak terus berbicara.
" engko tidur saja duluan, nanti tata tunggu mama." Sean menyuruh adik nya untuk segera tidur.
Ela tidak menyahuti kakaknya, ia bangun dari duduk nya dan berbaring di bale bale. Ia menutup bagian bawah tubuhnya dengan sarung. Ia lalu memejamkan matanya, karena sudah sangat mengantuk ia pun langsung terlelap.
***
Ela terbangun tepat suara ketukan itu berakhir. Nyala pelita yang menggantung di bahwa pare pare menyilaukan matanya. Ia menengok kebelakang punggung nya, ia tidak melihat kakak nya yang biasanya tidur bersamanya. Ia memperhatikan ranjang ibunya, mungkin saja Sean tidur bersama ibunya. Namun ranjang ibunya kosong.
" jam berapa ini? " gumam Ela. Ia berpikir, mungkin kakak nya pergi menjemput ibunya. Ibunya bekerja serabutan, dan hari ini ibunya mencuci pakaian dari keluarga pak Kepala Desa. Jika sampai malam belum pulang, biasanya kakaknya akan menyusul ibunya lalu membantu ibunya agar pekerjaan cepat selesai.
" Tok Tok Tok. " suara ketukan berbunyi lagi. Ela tidak langsung menyahut, ia berdiam sebentar. Ia tidak mendengar suara ibunya atau kakak nya, jika itu ibu atau kakak nya mereka pasti sudah memanggil nya.
" Tok Tok Tok. " suara ketukan lagi.
" Siapa? " tanya Ela dengan waspada
Tidak ada sahutan dari luar gubuk itu.
" Tata" panggil Ela saat melihat bayangan seperti kakaknya.
" hemmm. " suara dari luar gubuk itu membuat Ela legah. Ia bangun dari ranjang nya dan berjalan menuju pintu.
" Tata mau buat saya takut toh? " tanya Ela sambil membuka pintu. Dddrrtttt. Suara pintu dibuka.
" mama, tata. " panggil Ela saat tidak melihat siapa pun.
" Mama, Tata. " panggil Ela lagi, namun tidak ada sahutan. Seketika ia merinding, terlebih lagi suasana diluar sangat gelap dan angin bertiup cukup kencang. Ia langsung menutup pintu lagi dan berlari ke atas bale balenya. Ia menarik sarung nya menutup tubuhnya dan tiba tiba pelita padam. Ela tidak bisa menahan ketakutan nya, ia pun langsung berteriak sambil menangis memanggil kakaknnya.
" Ela Ela. " terdengar suara memanggilnya.
" Ela Ela. Ina buka pintu dulu. " Ela tidak menyahuti panggilan itu. Ia malah semakin ketakutan dan terus menangis. Tiba tiba suara pintu didobrak. Pintu pun langsung terbuka.
" Ela, ini bibi Maria ina. " ujar wanita itu.
" mari kita bahwa dia, tidur dirumah saja. " ujar suami bibi Maria. Pria yang mendobrak pintu tadi. Pria itu mendekati Ela yang meringkuk di bale bale lalu menggendong nya.
Keesokan paginya, Ela terbangun mata nya sembab. Ia memandang sekeliling nya dan menyadari bahwa ia tidak berada dirumahnya. Ia bangun dan turun dari ranjang itu. Ia mendengar suara tangisan ibunya dari luar. Ia pun bergegas keluar kamar. Ia melihat ibunya memukul mukul dadanya lalu menangis. Disampingnya ada bibi Maria yang mencoba menenangkan ibunya.
" Mama kenapa? " Tanya Ela sambil berjalan menghampiri ibu dan bibi maria. Namun langkah nya terhenti, saat melihat kakak nya terbaring di bale bale dan terbungkus sarung. Wajah nya pucat, kedua hidungnya ditutup kapas Dan Ela melihat beberapa sepupunya duduk disisi ranjang itu. Ela langsung terduduk lemas dilantai, ia kini menyadari apa yang terjadi. Beberapa sepupunya menghampiri nya dan membimbing nya untuk duduk dikursi. Apa yang terjadi? Ela terus bertanya tanya dalam pikiran nya. Sepupu nya terus mengoceh tentang kronologi kakak nya bisa tewas. korban tabrak lari, begitulah inti perkataan sepupu nya itu. Ela hanya membisu memandang jenasah kakak nya itu. Dan perlahan airmata nya pun jatuh.
" Tata, tata, tata" panggil Ela sambil menggoyang jenasah kakak nya Sean. Namun tak ada sahutan dari tubuh tak bernyawa itu. Ia pun langsung menangis sejadi jadinya.
" apa Tata sudah punya firasat, maka tadi malam tata pesan saya ini itu kah? " jerit Ela
**Tamat**
Loma : makanan khas Lembata, berupa daging yang dicampuri parutan kelapa yang sudah di bumbui dengan brambang, bawang garam dan penyedap rasa. cara masaknya, dimasukan ke bambu dan ditutupi daun pisang lalu dibakar.
Engko : kamu
Tata : panggilan untuk kakak.
bale bale : ranjang / biasanya terbuat dari bambu
pare pare : tempat yang dibuat dari bambu atau kayu yang berfungsi menaruh jagung atau hasil kebun lainnya. dan dibahwa pare pare biasanya di buat tungku untuk memasak.