"Astagfirullah.... Apa kalian gila? Emang harus ya pake acara nakut-nakutin gitu?"
Arra, seorang gadis berhijab putih melayangkan sebuah protes kepada panitia saat mereka mengutarakan beberapa kegiatan yang akan dilakukan saat acara jurit malam nanti.
Sebuah kelompok remaja islam yang merupakan salah satu ekskul di sekolahnya, akan mengadakan sebuah acara bertajuk MABIT atau Malam Bina Iman dan Takwa. Arra yang merupakan salah satu dari anggota senior memang mendapat tugas sebagai panitia bersama teman-teman seangkatannya dan yang menjadi pesertanya adalah para anggota lain yang masih adik kelasnya.
"Tapi bukannya ini memang selalu ada setiap tahun? Semua peserta diwajibkan berjalan per kelompok menuju ke setiap pos yang sudah disediakan dan di setiap pos itu, kita akan memberikan sebuah materi atau simulasi tentang ilmu agama Islam?" Bian yang merupakan ketua dari seksi acara mulai mempertahankan apa yang sudah dia susun bersama teman-temannya.
"Tapi apa tidak berbahaya? Bukannya dengan kita menakut-nakuti mereka malah akan membuat iman mereka menjadi berkurang? Mereka jadi merasa lebih takut dengan para hantu daripada kepada Allah?" Arra yang saat itu menjabat sebagai seksi P3K kekeh menolak kegiatan horror itu. Bagaimanapun juga dia tidak mau kalau sampai ada peserta yang tiba-tiba jatuh pingsan, kesurupan, atau lebih parahnya lagi terkena serangan jantung.
"Tenanglah! Kami juga tidak akan seenaknya membuat acara jika tidak dengan persiapan yang matang. Kami akan menempatkan hantu bohongan itu di tempat-tempat yang agak sedikit terbuka, tidak dipojokkan atau di tempat yang sangat gelap."
Sebenarnya Arra masih saja tidak setuju dengan acara itu namun bagaimana lagi, berdasarkan vote para panitia, sebagian besar mereka setuju dengan acara menakut-nakuti itu. Akhirnya gadis itu pun hanya bisa pasrah dan berdoa semoga nanti tidak akan terjadi hal-hal yang buruk.
Beberapa minggu telah berlalu. Akhirnya acara MABIT pun tiba. Semua panitia dan peserta sudah berkumpul di sekolah dari sejak jam dua siang karena berdasarkan rencana yang sudah disepakati, acara akan dimulai ba'da Ashar.
Setelah menjalankan sholat Ashar berjamaah, mereka semua berkumpul di aula sekolah untuk mendengarkan beberapa sambutan dari ketua panitia dan juga Bapak Pembina, lalu dilanjutkan dengan materi pertama tentang Iman, Islam dan Ikhsan. Para peserta terlihat sangat antusias mendengarkan, sedangkan para panitia sudah mulai bersiap-siap dengan acara jurit malam yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
"Kamu kenapa sih, Ra? Dari tadi diem melulu?" tanya Susan, teman satu seksi Arra. Kini mereka sedang memeriksa kembali beberapa obat-obatan yang disediakan.
"Perasaanku gak enak, San." Jawab Arra setengah melamun.
"Mungkin kamu masih dongkol kali sama acaranya Bian."
"Gak. Bukan itu. Aku sudah tidak memikirkan lagi hal itu, tapi entah kenapa hatiku gelisah sekali."
"Sudah tenanglah. Ayo kita berkumpul dengan yang lain!" Mereka berdua pun berjalan ke arah aula. Sepanjang perjalanan, Susan terus saja berbicara, tapi Arra sama sekali tidak fokus dengan temannya itu. Pandangannya terus saja melirik kesana kemari, rasanya dia ingin sekali berlari tapi tidak tau kenapa.
Tepat pukul 10 malam, satu persatu peserta yang sudah dibagi menjadi beberapa kelompok itu mulai melangkah bergantian menuju pos-pos yang sudah disediakan. Arra sendiri, dia sudah tau dimana letak pos-pos panitia dan kemana jalur para peserta berjalan. Tapi sayang, dia tidak tau dimana Bian memposisikan para hantu bohongan itu karena pada saat membahas hal itu, Arra meminta izin ke toilet dan dia benar-benar lupa bertanya tentang hal itu pada Susan.
Suara jeritan dan tawa para peserta sayup-sayup terdengar, membuat para kelompok yang belum berangkat dan masih menunggu giliran di aula, penasaran dengan apa yang tengah terjadi.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Arra dan Susan ditugaskan untuk mulai berkeliling mengontrol situasi. Baru saja mereka keluar aula, tiba-tiba langkah kaki Susan terhenti. Arra yang melihat hal itu langsung membalikkan badannya, bertanya dengan menggunakan gerakan matanya.
"Ra, bisa gak, kamu kelilingnya sendiri? Perutku mendadak sakit, mungkin karena udara malam." Kata Susan sambil tersenyum kikuk.
"Hmm.. kebiasaan.." Jawab Arra dengan cemberut, sedangkan Susan langsung berlari ke toilet.
Dengan berbekal satu buah senter kecil, Arra pun mulai melangkahkan kakinya seorang diri menyusuri jalur para peserta. Jujur saja, rasa gelisah di hatinya belum juga hilang sampai saat itu. Ketika langkahnya mulai masuk ke lorong di pinggir lapangan.....
DUARRR
Rian yang sedang beracting sebagai pocong, lengkap dengan pakaian khas hantu lontong itu muncul mengagetkan Arra.
"Astagfirullah.. Riaaannn!!!" Arra yang kaget, refleks memukulkan senternya tepat mengenai kepala laki-laki itu.
"Hahaha.. Ampun Ra.. Sakiiitt..." Ringis Rian sambil tertawa.
"Gitu aja kaget. Jangan sambil melamun. Ntar ketemu hantu beneran loh." sambung Rian.
"Gak takut. Ntar kalau ketemu hantu beneran, tinggal baca aja Allohuma Bariklana Fima Rozaktana Wakina Adzabanar, dijamin hantunya kabur." jawab Arra.
"Loh kok bisa? Itu kan doa mau makan?" tanya Rian bingung.
"Emang. Jadi hantunya kabur soalnya dia mikirnya aku mau makan dia. Hahahaha..." ucap Arra sambil tertawa dan kembali melanjutkan perjalanannya.
Baru beberapa langkah kaki Arra menjauh, mata gadis itu kembali tertuju ke tempat dimana Rian tadi berdiri, di bawah pohon dan anehnya Arra melihat........
"Kenapa pocinya ada dua?"
Tanpa mau ambil pusing, Arra kembali berjalan. Kini langkahnya melewati lab. biologi. Lab ini dikelilingi dinding dan beberapa jendela kecil di atasnya. Kembali, mata Arra menangkap sebuah wajah sedang mengintip dari balik jendela itu. Wajah seseorang yang cukup tua namun jika dilihat dari diameter lingkaran wajahnya, tidak normal, karena lebih besar dari ukuran wajah manusia biasa.
"Siapa lagi itu yang bertugas menghantui di dalam lab biologi? Berani amat. Lagian gimana caranya itu anak bisa sampai ke jendela yang tinggi gitu?" Dengan berani, Arra berjalan mendekati pintu lab, mencoba mencari tau siapa temannya yang berani masuk ke dalam lab biologi malam hari. Akan tetapi, dia terkejut karena ternyata pintu lab biologi itu terkunci. Arra memundurkan langkahnya, mencoba melihat kembali ke arah jendela tadi.
"Hilang.. Kemana wajah itu? Wajah siapa sih?"
Saat dirinya sedang terpaku dengan jendela tersebut, seseorang menepuk pundaknya dan berhasil menyadarkan gadis itu.
"Susan, bikin kaget saja." ucap Arra.
"Kamu lagi ngapain disini? Lagi lihat apa?"
"Eh, gak... Gak apa-apa." elak Arra.
"Aku tadi ketemu Bian, katanya kamu disuruh nemenin Anita di kelas bawah paling pojok. Dia ditugaskan jadi hantu berbaju merah bareng Lidya tapi Lidya tiba-tiba pusing jadi langsung dibawa ke UKS. Nah, si Anita gak mau sendirian katanya. Dia minta ditemenin sama kamu."
"Kenapa gak sama kamu aja?"
"Ah kamu ini, Ra. Kan kamu tau sendiri kalau aku ini orangnya penakut. Hehehehe."
Arra hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar. Dengan terpaksa dia mulai melangkah turun melewati lorong untuk menuju kelas pojok bawah. Sesampainya disana, keadaannya memang sepi. Ada satu pintu kelas yang terbuka.
"Hmm.. mungkin itu kelasnya."
Arra masuk ke dalam kelas tersebut. Ternyata benar, dia melihat Anita sedang duduk di meja paling pojok belakang, menunduk, menggunakan baju merah dan wajahnya tertutup oleh rambutnya yang panjang. Hawa dingin tiba-tiba menyeruak, membuat bulu kuduk Arra berdiri. Tanpa berniat mendekati Anita, Arra duduk di bangku paling depan dekat pintu. Dia duduk bersender sambil bermain dengan ponselnya.
"Dandananmu serem amat, Nit.." tanya Arra tanpa menoleh.
"Hmm.." jawab Anita dengan suara yang begitu lirih.
Entah kenapa tapi dada Arra tiba-tiba terasa sesak saat mendengar suara Anita.
"Kamu tau, Nit. Tadi aku melihat wajah di jendela lab biologi tapi ternyata pintunya dikunci. Aneh banget ya?"
"Itu Kakek. Dia jahat. Kamu jangan mendekatinya." jawabnya masih dengan suara lirih.
"Kamu tau dari mana?"
Belum sempat Arra mendapat jawaban, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Susan menelepon.
"Hallo.." ucap Arra.
"Kamu dimana? Cepat ke aula! Ada yang sakit." ucap Susan dari balik telepon.
"Aku ke aula dulu, Nit. Kamu gak apa-apa aku tinggal sendiri?" tanya Arra yang dibalas dengan anggukan anak berbaju merah itu.
Sesampainya di aula, semua panitia sudah berkumpul mengelilingi peserta yang sudah mulai siuman. Namun bukan itu yang menarik fokus mata Arra, akan tetapi anak berbaju merah yang sedang duduk diantara para panitia. Iya, dia Anita. Arra pun mendekati Anita dan bertanya.
"Cepet banget kamu nyampe sini, Nit? Lewat mana?" tanya Arra. Anita mengerutkan dahinya.
"Maksudnya? Dari tadi juga aku disini. Iya sih tadinya aku mau nunggu kamu di kelas bawah pas Lidya dibawa ke UKS, tapi karena kamu lama, iya udah aku susul Lidya aja."
"Loh kalau Anita dari tadi disini, lalu anak berbaju merah yang tadi mengobrol denganku di kelas pojok bawah, siapa???"
###