Seperti biasa, aku duduk diatas salah satu nisan menunggu pelanggan datang. Orang-orang biasa menyebutku perempuan nakal, perempuan penggoda, bahkan ada yang menyebutku pelacur, kalau aku menamai diriku sendiri penjaja cinta.
Aku tahu, dipandang dari sudut manapun oleh siapapun tidak akan ada yang membenarkan tindakanku. Aku pun tak ingin membela diriku sendiri karena apapun alasannya yang aku lakukan adalah salah.
Satu-satunya hal yang membenarkan aku melakukan semua ini adalah uang. Cara yang mudah dan cepat untuk menghasilkan uang adalah dengan menjajakan diri seperti yang aku lakukan.
Aku adalah seorang gadis desa yang tanpa sengaja terjerumus pada agen penjualan orang. Waktu itu aku dijanjikan untuk menjadi pekerja rumah tangga atau bekerja di salah satu pabrik di kota. Tapi yang terjadi aku malah dijual kepada om-om senang oleh agenku.
Pertama kali aku melayani tamu rasanya tubuhku remuk redam. Aku tak bisa bangun selama beberapa hari setelahnya. Laki-laki itu sangat kasar, bahkan aku merasa seperti diperkosa karena aku ingin membebaskan diri.
Entah berapa yang didapat oleh mucikari yang menyebut dirinya agen tenaga kerja itu, yang jelas aku hanya diberi lima lembar uang seratus ribuan. Tapi sialnya, ketika aku menerima uang itu rasanya aku akan bisa menaklukkan dunia. Mengenaskan bukan?
Setelah beberapa tahun aku bermain, aku mulai tahu kalau aku hanya dijadikan perahan oleh mucikari yang mencarikan aku pelanggan. Sekarang disinilah aku, menjajakan diriku di area pekuburan cina yang cukup terkenal di kotaku. Aku tak mendapat sebanyak yang aku terima biasanya, tapi paling tidak aku bisa mengatur jam kerja dan tarifku sendiri. Satu lagi alasan aku menjajakan diri di tempat ini karena mucikari ku dulu sampai sekarang masih mencari dan mengejarku.
Namaku Juwita, orang yang mengenalku biasa memanggilku Ita. Nama itu juga yang aku pakai untuk menerima dan melayani pelanggan, dan inilah kisahku.
Malam ini, suasana sangat tenang seperti biasanya. Aku menikmati mi instan rebus yang aku pesan di salah satu bedak penjual minuman dan mi instan.
"Masih belum ada pelanggan, Ta?" tanya Mak Jum.
"Belum Mak Jum." Mak Jum adalah salah satu pemilik bedak dan tukang pijit sekaligus juga sering memberiku pelanggan bila ada yang berminat.
"Hati-hati makannya, jangan tergesa-gesa. Nikmati makanannya, mumpung masih belum ada yang ngebooking."
"Iya, mak." Mak Jum aku anggap seperti orang tua buatku. Dia yang merawatku ketika aku sakit, dia juga yang membantuku menemukan tempat untuk tinggal dan sembunyi.
Segelas kopi siap menemani, setelah mi ku nanti tandas kusantap, tidak lupa juga kutelan sebutir vitamin untuk menjaga staminaku.
"Jangan minum obat barengan sama kopi, nggak baik buat lambungmu," Mak Jum selalu cerewet mengingatkan kebiasaanku meminum obat atau vitamin dengan kopi.
Jawabanku pun selalu sama, "iya", sambil aku anggukkan kepala dan memberi sebuah senyum.
"Iyamu itu biasanya hanya di bibir saja."
Setelah menghabiskan makananku, aku kembali menunggu, duduk tenang melihat orang lalu lalang sambil sesekali memperbaiki makeup ku.
"Hari ini hawanya lebih dingin dari biasanya mak."
"Iya, mak juga merasa begitu, anginnya menggigit sampai tulang."
"Suatu saat nanti aku ingin berhenti mak, biarlah aku jadi pembantu asal halal. Kalau Aji sudah tidak membutuhkan biaya lagi."
"Bagaimana kabar adikmu itu?"
"Kabar terakhir dari Bulik kondisinya stabil, meskipun masih harus menjalani kemo dan penyinaran, dia baik-baik saja."
"Kapan kamu terakhir melihat adikmu, Ta?"
"Setahun yang lalu mak."
"Bukannya aku ingin mempengaruhi kamu, tapi jangan terlalu percaya sama orang lain. Kadang keluarga adalah orang yang paling kejam dalam hidup kita. Atas nama keluarga, saudara mereka bisa berbohong, menipu untuk kepentingan mereka sendiri. Sekali-sekali pulanglah, jenguk adikmu lihat dengan mata kepalamu sendiri bagaimana keadaannya."
Aku diam, bukannya aku tak tahu hal itu, aku hanya berusaha mempercayai apapun yang mereka katakan. Karena aku dan Aji adikku sudah tidak lagi memiliki orang tua, bagaimana mungkin Bulik yang merupakan adik ibuku sendiri akan melakukan tindakan setega itu.
Keheningan kembali menyergap sekeliling kami. Tak lama kemudian ada sebuah mobil sedan berhenti di area parkir. Seorang laki-laki keluar dan berjalan mendekati kami.
"Ada yang bisa saya bantu, om?" tanya Mak Jum.
Biasanya memang seperti itu, Mak Jum selalu waspada dan berhati-hati.
"Jangan panggil saya om, Bu. Masa masih muda dan ganteng begini dipanggil om?" ucap laki-laki tampan yang sekarang berdiri di hadapanku. "Apa kamu bebas hari ini?" tanyanya kali ini mengarahkan pandangannya padaku.
Aku masih mempertimbangkan untuk menjawab ketika Mak Jum membuka suara mewakili aku, "Memang mau apa sampeyan?"
Laki-laki itu tersenyum mendengar kata-kata Mak Jum, "mau ngajak jalan-jalan juwita, namanya Juwita kan?" tanyanya beralih padaku.
"Boleh, tapi tarif berlaku per-jam."
" Tidak masalah, berapapun besarannya, tidak akan menjadi masalah buatku. Kamu juga bisa memegang kata-kataku, kita hanya akan jalan malam ini, tidak lebih."
Senyumnya yang menawan, membuat aku lupa siapa aku sebenarnya. Apakah aku terlalu serakah kalau malam ini aku ingin menikmati kodratku sebagai wanita yang pantas untuk dihormati?
Laki-laki itu mengulurkan tangannya, membawaku menuju mobil dan memperlakukanku begitu terhormat. Dia membukakan pintu, memasangkan sabuk pengaman bahkan membenarkan posisi dudukku agar aku merasa nyaman.
Selama perjalanan lagu cinta yang lembut mengalun perlahan. Malam ini aku benar-benar diperlakukan sebagai seorang wanita. Kami makan, aku diminta menemaninya belanja bulanan dan sudah hanya itu. Kemudian kami kembali ke tempatku yang sesungguhnya di area makam. Hebatnya lagi, dia tetap mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu kepadaku.
"Ini terlalu banyak," ucapku karena sungkan menerima kebaikan hatinya.
"Terima saja, aku berterimakasih karena kamu sudah bersedia menemaniku," senyumnya akan menjadi seulas senyum yang tak akan pernah aku lupakan.
Aku kembali menempatkan diriku di sebelah Mak Jum yang masih setia menungguku, ku ulurkan selembar seratus ribuan sebagai rasa syukurku, "simpan saja, aku tak butuh uangmu. Kamu jauh lebih membutuhkan dari pada aku," tolak Mak Jum halus.
"Mbak," aku merasakan tangan mungil menarik-narik atasan bajuku yang baru saja tadi beli, dibelikan tepatnya.
"lah, kamu siapa dek...kok malam-malam ada di sini?" tanyaku heran melihat anak seumuran Aji pada jam segini ada di area pekuburan.
"Beri aku makan, aku lapar," ucap anak kecil itu menghiba.
Aku memandang bening matanya, tak tega rasanya memberi dia makan dengan uang yang aku peroleh dari menemani om-om senang seperti tadi. Cukup Aji saja yang menerima uang itu untuk biaya pengobatannya.
Aku ambil dompet kecil tempatku menyimpan uang dari menjual hasil rajutan. Masih ada sisa uang di dalamnya, "Mak, buatkan dia mi instan dan teh hangat."
Mak melirik sumber uang yang aku keluarkan, Mak tahu kalau aku juga mengirim sembako untuk makan Aji dari sumber uang yang sama, "simpan saja uangmu, pakai untuk membeli kiriman sembako buat adikmu."
"Jangan mak, biarkan aku yang beli kali ini, usianya sama dengan Aji, aku ingin merasa benar-benar makan dengan Aji adikku, lagi pula uang ini masih cukup untuk mengirim sembako buat Aji."
Dengan cekatan Mak Jum membuatkan makanan untuk anak itu, mi yang masih panas dan teh hangat tersaji menggugah selera. Tanpa menunggu lama, anak kecil itu menandaskan makanannya.
"Kalau kakak boleh tahu, siapa namamu?"
"Aji."
"Wah kebetulan, kakak juga punya adik yang namanya Aji."
Anak kecil itu tersenyum, "aku juga punya kakak yang pergi jauh dariku kak," jawabnya.
"Sepertinya nasib kita sama ya, mau kakak antar pulang?"
"Boleh, memang kakak nggak takut mengantar aku pulang?"
"hahaha...kenapa mesti takut, area pekuburan ini tempat bermain kakak tahu."
Aku melihat gigi putihnya muncul ketika dia tertawa mendengar kalimatku.
"Aku rindu pada kakakku, kadang aku nangis sendiri nunggu dia pulang, tapi dia nggak pernah datang."
"Sudah, nggak usah ditunggu, barangkali kakakmu masih sibuk dengan pekerjaannya seperti kakak sekarang."
"Aku sering berdoa supaya kakak aku baik-baik saja dan dia segera pulang."
"Mau pulang sekarang?" tanyaku. Dia menjawab dengan anggukan kepala, rambutnya yang lurus dengan potongan model poni akan ikut bergoyang ketika kepalanya bergerak.
"Ayo", kuulurka tanganku. Tangannya terasa begitu dingin, hatiku jadi menggigil membayangkan betapa anak kecil ini kedinginan, "tanganmu dingin."
"Dulu pernah hangat, tapi sekarang nggak lagi. Tapi aku senang bisa berkenalan dengan kakak."
Aku tertawa kecil, kupegang erat tangannya. Ingin rasanya kualirkan kehangatan ke tubuhnya melalui tanganku.
"Sudah, kakak antar sampai di sini saja, aku sudah tahu jalan pulang."
"Kamu yakin? perumahan penduduk masih agak jauh di sana loh."
"Iya aku yakin, kakak langsung pulang ya, sudah malam biar kakak nggak jatuh sakit."
"iya...iya," ada yang aneh dengan hatiku, aku merasakan kedekatan meskipun kami baru kenal. Aku tunggu dia berjalan menjauh, sambil sesekali melambaikan tangan ketika dia menoleh padaku.
Ketika aku kembali ke tempat Mak Jum, aku langsung di semprot olehnya, "kamu giman sih ta, anak belum selesai makan kok diantar pulang."
"Ah, masa sih Mak. Perasaan tadi Ita lihat mi nya sudah habis kok."
"itu apa?" mata Mak Jum menunjuk pada semangkuk mi instan yang masih utuh dan teh hangat yang masih penuh dalam gelas.
Sepertinya harus diomeli anak ini kalau bertemu lagi. Tapi aku yakin tadi dia makan dengan lahap, apa aku yang salah lihat ya.
"Mak aku pulang dulu. Nggak tahu kenapa, badan aku rasanya capek sekali, padahal aku hanya menemani jalan saja malam ini."
Mak Jum menjawabku dengan anggukan kepala, aku lihat waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tanganku menunjukkan pukul sebelas malam. Masih sore, biasanya aku selalu pulang di atas jam satu malam.
"Jangan pulang terlalu malam Mak."
Kuhitung langkah kaki yang kuambil satu-satu. Kerikil dan debu turut berterbangan ketika sandalku menyentuh jalanan. Sepatu hak tinggi aku simpan dalam tas plastik dan kutenteng sambil ku ayun-ayunkan di tangan. Sesekali kepalaku mendongak menghitung bintang di langit.
Mendekati kamar kos sederhana yang kubayar bulanan, dimataku hanya terbayang kasur empuk tempat aku membuai mimpi. Sampai dalam kamar, aku panaskan air setelah panas tanpa menunggu mendidih aku tuang ke dalam bak untuk kubuat mandi.
Merebahkan tubuh, setelah mandi dari lelah seharian terasa nyaman dan melenakan.
"Kakak...kakak...," aku merasa tubuhku digoyang seseorang. Dalam kondisi antara sadar dan tidak aku berusaha membuka mata, "Aji..."
Aku lihat Aji tersenyum, lucu. Tanpa terasa air mataku mulai merembes membasahi pipi, "Aji", aku berusaha mendekat dan meraih tangannya tapi semakin aku mendekat semakin cepat pula Saji menjauh, "Aji..." teriakanku tertahan tercekat di tenggorokan.
Aku membuka mataku dengan paksa, ketika kusentuh dengan tangan ternyata pipiku benar-benar basah, "Allah apa yang tadi aku impikan?" sejenak aku tersadar, sejak kapan aku mengingat Tuhan? Air mataku makin deras mengalir. Aku bangun dan membuka almari, mukena ku masih ada disitu. Ingin aku ambil, tapi aku tarik kembali tanganku, tubuhku terlalu kotor untuk memakainya.
Keesokan harinya aku mengalami hal yang serupa. Lelaki muda itu mendatangi aku, mengajakku makan dan terakhir dia akan memberi aku uang sebagai ucapan terimakasihnya padaku karena sudah menemani katanya. Ketika selesai aku kembali ke warung Mak Jum, Aji akan mendatangiku dan minta mi seperti biasa, dia akan makan dengan lahap tapi tak pernah menghabiskan mi yang aku beri, selalu begitu selama beberapa hari.
Sampai suatu ketika laki-laki itu bercerita...
" Kamu tahu kenapa aku selalu mengajakmu makan dan tak pernah memintamu melayaniku di ranjang? padahal aku tahu kamu adalah penjaja cinta."
Aku memandang mata coklatnya lekat. Beberapa hari bertemu aku jadi tahu betapa tampannya dia.
"Karena kamu ingin membuang uangmu?" jawabku asal.
Dia tersenyum mendengar jawabanku, kemudian melanjutkan kalimatnya, "ada seorang anak yang memintaku mencarimu."
"Apa? Seorang anak?"
"Ya seorang anak berusia delapan tahun. Dia adalah seorang pasien penyakit kronis yang divonis dokter hidupnya tinggal beberapa Minggu lagi."
Hatiku berdebar kencang mendengar ucapannya, "namanya Aji, pasien sebuah RS di sebuah kota di jawa tengah dan dia memberiku foto ini."
Lelaki itu memberikan sebuah foto kepadaku. Aku pandang lama foto itu, itu adalah fotoku beberapa tahun yang lalu. Aku mulai terisak, tangisku tak terbendung, air mataku mengalir deras tanpa henti.
Kupeluk foto itu erat sambil kusebut nama Aji berkali-kali, "Aji...maafkan mbak Ita Ji...maafkan mbak Ita," aku tersedu betapa nelangsa hatiku meninggalkan Aji berjuang melawan sakitnya.
"Apakah dia kesakitan?" tanyaku diantara sedu sedan.
"Terkadang...yang membuat aku iba dia selalu sendirian, tidak ada yang menemani. Karena itu ketika dia memintaku mencarimu, aku benar berniat untuk bertemu denganmu."
Tangisku makin keras, sesal ku tiada guna, harusnya aku menemani Aji apapun yang terjadi.
"Kamu tahu apa yang dia minta, dia berpesan untuk selalu mengajakmu makan karena dia tidak mau kamu kelaparan."
Kalimat selanjutnya sudah tak kudengar lagi, aku merasakan badanku seringan kapas kemudian aku tak ingat apa-apa lagi.
Aku bangun dalam sebuah ruangan serba putih, malam makin larut, aku ingat aku tadi menemani lelaki itu makan malam.
"Kamu sudah bangun?" ternyata dia masih menungguku dan duduk di sofa yang disediakan untuk keluarga dalam kamar perawatan.
Aku menganggukkan kepala. Kepalaku masih pusing.
"Aku ingin pulang menemui Aji," kalimatku selanjutnya terucap. Entah mengapa aku ingin saja menyampaikan keinginanku untuk pulang.
Lelaki itu tersenyum mengiyakan, "aku akan antar kamu menemui Aji, sudah lama aku tidak mengunjungi anak itu."
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," tolakku. Kenapa? karena aku tidak mau merepotkan lelaki ini, apalagi hutang Budi padanya.
"Jangan menolak, toh meskipun kamu tidak ingin pulang, aku tetap akan ke sana karena memang waktuku untuk berkunjung."
Aku diam, tidak ada gunanya menjawab, besok pagi aku akan berangkat diam-diam. Aku pejamkan mataku, aku butuh istirahat agar besok bisa berangkat dalam kondisi segar.
Ketika paginya aku bangun dari tidur, aku lihat lelaki itu melihatku sambil tersenyum.
" Aku sudah bilang kan, aku akan mengantarmu."
"Aku tak mau punya hutang budi pada siapapun."
"Bayar saja pertolonganku nanti, aku butuh pegawai untuk menerima tamu di salah satu hotelku, aku rasa itu bukan hal yang sulit untukmu. Lagi pula aku akan menggajimu dengan layak."
Aku diam, aku pikir kesempatan tidak akan datang dua kali. Kalau aku bisa hidup layak, aku akan membawa Aji berobat di kota dan mengajak Mak Jum tinggal bersamaku, membantuku merawat Aji, "baiklah, tawaranmu terlalu hebat untuk kulewatkan."
"Bersiaplah, semakin pagi kita berangkat semakin cepat kita sampai. Semalam juga aku sudah cukup tidur, jadi sekarang sudah merasa segar."
Perjalanan yang membutuhkan waktu tidak terlalu lama menjadi sangat lama untukku, aku sudah tidak sabar bertemu Aji.
Mobil berhenti di sebuah area pemakaman, "Siapa yang akan kita kunjungi di sini?" tanyaku
"Orang tuaku," jawabnya, "dan seseorang yang lain".
Aku mengikuti langkahnya, kamu berhenti di sebuah makam yang tertulis nama seseorang.
"Ini makam ibuku dan itu makam ayahku," tunjuknya.
Mataku tertarik dengan sebuah makam dengan ukuran lebih kecil, " itu makam siapa, mengapa belum ada nama di nisannya?" tanyaku.
"Itu makam adikku, dia adikku setidaknya untuk beberapa bulan kebelakang. Dia meninggal beberapa Minggu lalu karena sebuah penyakit. Aku memanggilnya Aji."
"Aji?" tanyaku
"Ya Aji, seorang anak lelaki yang sudah aku anggap adikku sendiri, yang memintaku untuk mencari kakak perempuannya dan menjaganya agar tidak kelaparan."
"Huaa...," aku meraung keras, "aji...aji...maafkan kakak dek...huaaaa."
"Mengapa kamu tidak bilang padaku sejak awal kita ketemu, mengapa kamu menundanya selama ini...huaaaa...Ajiii..."
Aku merasa lelaki itu menggenggamkan sesuatu di tanganku, ketika aku lihat, itu adalah foto Aji...seorang anak lelaki dengan potongan rambut berponi tersenyum menyembulkan gigi putihnya menghadap kamera.
Sedetik kemudian pandanganku memudar kemudian gelap, aku merasa berputar dalam lubang gelap tak berujung yang membuatku sesak nafas.