Tiba-tiba segala kekacauan mengerikan di sekitar kami menghilang. Namun tv masih menyala dan barang-barang masih berserakan seakan mengatakan pada kami bahwa segala yang kami alami sebelumnya bukan mimpi semata.
Aku langsung menghampiri telepon dan menghubungi resepsionis kembali.
"Mbak! Di kamar nomor 666 itu sebenarnya ada penghuninya apa tidak?!" ucapku sambil berteriak kesal.
"A.. Ada kok mbak... Kalau ribut lagi kami pasti akan..."
"Apa lagi! Gausah bohongin saya!!!" teriakku semakin kencang.
"Iya mbak, maaf... Sebenarnya kamar nomor 666 memang sejak dulu tidak ada yang menghuni, kamar itu selalu kosong" ucap mbak resepsionis dengan nada takut.
"Sh**t!!!" umpatku dengan frustrasi.
"Zel, kita check out aja ya" ucap Krystal yang masih tersedu-sedu saat berbicara akibat menangis.
"Iya, kita keluar sekarang, bantuin aku masukin barang-barang aku ke koper ya" ucap ku
Akhirnya kami dengan cepat keluar dari hotel setelah aku memberikan muka masam pada kedua resepsionis wanita dan seorang bellboy.
Pukul 3.30 akhirnya kami sampai di rumah Krystal. Om dan tante sedang berada di luar kota untuk menghadiri acara pernikahan kerabatnya, jadi kami hanya di sambut oleh seorang satpam dan seorang bibi pembantu yang memang tinggal di rumah Krystal.
Sepertinya Krystal masih enggan untuk membahas hal tadi, jadi aku hanya ikut berbaring dan tidur di kamar Krystal.
Saat pagi hari, bahkan setelah sarapan Krystal masih tetap tidak membahas masalah tadi malam, jadi kami hanya membicarakan hal-hal lain yang menyenangkan.
Hingga saat siang hari ketika kami sedang duduk bersantai dikursi dekat kolam renang tiba-tiba Krystal berinisiatif untuk membahas masalah tadi malam.
"Zel, kamu tau ngga, kalo sebenarnya suara gedebuk itu bukan dari kamar sebelah" ucap Krystal sambil mengaduk jus jeruk di tangannya.
"Ha? Bukannya emang iya ya?"
"Ngga, itu dari kamar kita. Dan kamu tau ngga suara gedebuk itu sebenarnya apa?"
"Apa?" ucapku dengan jantung berdegup kencang.
"Itu cewe baju merah lagi jedotin kepalanya ke dinding di kamar kita sampe berdarah-darah"
Tiba-tiba aku merasa merinding, pantas saja Krystal terlihat begitu takut.
"Kamu liat dia nari kan?". "Iya" ucapku semakin waspada.
"Dia ga nari, tapi emang leher, kedua lengan sama kedua kakinya tulangnya patah semua, jadi dia kelihatan goyang-goyang padahal dia sebenarnya sedang berjalan"
"Hahh?!" teriakku tertahan, jadi selama ini cewe yang aku kira menari ternyata hanya berjalan namun berlenggak-lenggok hanya karena tulang patah!. Kepalaku tiba-tiba terasa pusing.
"Dan apa kamu tau hal yang paling seram?", aku hanya melihat ke arah Krystal dengan wajah antisipasi.
"Kamu waktu ngintip kadang keliatan nari, kadang cuma keliatan gelap gitu doang kan?"
Aku tak ingin menjawabnya.. Aku hanya diam...
"Sebenarnya bukan lampunya mati atau gimana tapi..." ucap Krystal lalu menjeda ucapannya dan melihat ke arahku.
"Itu karena kamu sama hantu cewe itu lagi sama-sama ngintip" ucap Krystal.
Jadi yang aku kira gelap itu ternyata karena mata ku dan hantu wanita itu sedang bertatap-tatapan?
Sekian, terima kasih like nya ^^