"Zel, mau kemana?" ucap Krystal sambil menahan tanganku. "Nelfon resepsionis" ucapku seraya melepas tangan Krystal.
"Halo, mbak. Itu di kamar sebelah nomor 666 ribut lagi kaya ada suara gedebuk gitu. Tolong ya mbak, ini udah malem terlalu mengganggu" ucap ku yang lagi-lagi dijawab dengan nada aneh dan ragu-ragu oleh sang resepsionis.
Hebatnya setelah menelfon resepsionis suara pukulan di kamar sebelah tiba-tiba berhenti. 'Ah, mungkin aku terlalu banyak mikir, pasti orang beneran bukan hantu dan udah di tegur sama resepsionis' batinku.
Saat berbalik aku melihat Krystal yang wajahnya terlihat agak pucat. "Tal, tenang aja, itu penghuni sebelah emang agak nyebelin, bahkan kemarin malem juga dia ribut-ribut nyetel la..." belum selesai aku berbicara tiba-tiba suara lagu kembali terdengar.
"Nah, pasti lagi nari dia" ucap ku dengan santainya dan berjalan ke arah lubang kecil di tembok. "Zel, mau kemana? Jangan kesana!". "Udah tenang aja"
Akhirnya aku mengintip melalui lubang kecil itu, seperti sebelumnya aku melihat wanita berbaju merah sedang menari.
"Nah kan, apa aku bilang" ucap ku seraya berbalik dan melihat Krystal yang ternyata sudah berada di belakangku.
"Coba deh liat" ucap ku. Namun Krystal hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap ke lubang kecil itu dengan panik.
"Tapi rasanya kok kamar sebelah ini lampunya ga pernah hidup ya. Bentar deh aku liat" ucapku sambil kembali mengintip.
"Hazel jangan!!!" teriak Krystal saat aku sedang mengintip. "Aneh kok tiba-tiba gelap lagi kaya tadi pagi. Apa mungkin penghuni sebelah udah tidur kecapean nari" ucap ku sambil terkekeh.
Lalu aku berbalik dan melihat Krystal terjatuh duduk dengan nafas terengah-engah menatap seram ke arah lubang itu.
Karena panik aku membawanya untuk kembali ke kasur dan menenangkannya. "Nih minum dulu" ucap ku memberi Krystal air putih.
"Ya udah deh kita tidur aja Tal, udah lebih tenang kan?" ucap ku saat melihat Krystal sesekali masih melirik lubang kecil itu.
Akhirnya kami memutuskan untuk tidur, sekitar jam 2 malam aku kembali terbangun, namun anehnya kali ini aku tidak bisa bergerak. Saat membuka mata aku melihat wanita berbaju merah penghuni kamar sebelah sedang berdiri tepat di depan sambil tersenyum dengan wajah hancur melihat aku dan Krystal yang masih terbaring di kasur.
Aku melihat Krystal yang gemetar, sepertinya dia juga tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Tiba-tiba kasur bergoyang sangat kencang membuat ku terkejut hingga ingin menangis.
Karena sebenarnya wanita penari di kamar sebelah itu lah yang sedang mengguncang kasur ku sambil tertawa mengerikan. Suara tawanya benar-benar kasar dan sangat menyakitkan untuk di dengar.
Sambil menangis aku membaca doa berusaha untuk bisa bergerak. Namun keadaan kamar semakin kacau, bersamaan dengan hantu wanita yang sedang mengguncang kasur itu, tv tiba-tiba hidup dan berganti chanel dengan sendirinya, barang-barang di atas meja terjatuh dan terlempar dengan sendirinya.
Gagang pintu bergerak tak karuan seperti saat malam sebelumnya dan suara gedebuk kembali terdengar ikut memekakkan telinga bersama suara cekikikan hantu wanita itu. Hawa di kamar terasa semakin dingin dan dingin.
Akhirnya setelah beberapa menit menahan ketegangan yang mengerikan ini, aku bisa menggerakkan tubuhku, begitu juga Krystal yang tiba-tiba langsung memelukku sambil ikut menangis.
Lanjut part terakhir ya