Saat liburan setelah ujian semester aku berniat untuk pergi ke sebuah tempat wisata yang menyediakan suasana jepang yang berada di salah satu kota. Awalnya aku berniat untuk pergi dengan salah seorang sepupuku, sebut saja Irene (bukan nama sebenarnya) karena aku adalah anak tunggal, dan Ayah dan Mamah ku adalah orang yang cukup sibuk. Namun, kebetulan tanteku menerima telfon bahwa Kakek dari pihak keluarga ayahnya Irene tiba-tiba jatuh sakit.
Alhasil karena aku sudah terlanjur memesan tiket untuk berangkat dan terlalu sayang untuk tidak digunakan maka aku pun berangkat sendiri. Intinya aku mau liburan ku kali ini harus benar-benar terlaksana meski harus sendiri, aku terlalu bosan di rumah, toh Ayah dan Mamah juga jarang di rumah bersamaku.
Setelah sampai aku berniat mencari sebuah hotel untuk menginap. Lalu aku menemukan sebuah hotel yang yaa.. Aku rasa ini yang paling bagus untuk hotel di dekat tempat-tempat wisata yang aku tuju. Hanya saja... Hotel A ini sedikit terasa suram atau memang hanya karena cuaca sedang mendung dan juga hawanya sangat dingin.
Akhirnya aku memutuskan check in di hotel A ini, dan mendapatkan kunci kamar hotel bernomor 665, tepat disebelah kamar bernomor 666, seketika aku teringat angka-angka terkutuk yang selalu diceritakan banyak orang, namun setelah itu aku juga tidak terlalu memperdulikan rumor seperti itu.
Setelah mandi dan beres-beres, tiba-tiba aku mendengar suara musik yang mengalun sangat lembut dari kamar sebelah, ya tepatnya kamar nomor 666. "Apa tembok kamar hotel ini begitu tipis hingga suara musik bisa sangat terdengar" ucapku yang lalu segera menelfon resepsionis.
"Mbak, tolong yang di kamar 666 di minta jangan terlalu berisik ya, suaranya sangat mengganggu" ucap ku melalui telepon hotel.
"Ha? Oh... Itu... Iya, iya mbak, akan saya sampaikan..." ucap mbak resepsionis dengan nada yang agak aneh.
Namun...
Aku bahkan sudah 3 kali menelepon resepsionis dan ruangan sebelah masih saja menyetel musik di tengah malam.
"Aduh! Gimana sih ini hotel!" ucapku dengan kesal lalu mencoba mendekati tembok yang bersebelahan dengan kamarku itu. Saat itu aku melihat sebuah lubang kecil yang cukup digunakan untuk melihat dengan sebelah mata.
Di kamar bernomor 666 itu terlihat seorang wanita berbaju merah di tengah remang-remang kamar sedang menari dengan luwesnya.
Tiba-tiba aku merasa seperti sedang dilihat oleh wanita itu dengan tatapan mata tajam yang mengerikan, karena terkejut akhirnya aku terjatuh duduk.
Karena aku merasa takut untuk mengganggu penghuni sebelah akhirnya aku memutuskan untuk tidur dan mengabaikan suara musik di kamar sebelah.
Namun anehnya saat sedang setengah tertidur aku seperti mendengar suara gagang pintu yang dibuka paksa. Aku terdiam tiba-tiba tak bisa bergerak, hal pertama yang aku fikirkan adalah apakah mbak di kamar sebelah merasa kesal karena merasa terganggu saat menari.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk mendekati pintu yang masih saja bergerak dan membuat kebisingan seperti seseorang yang sedang memaksa masuk.
Saat aku menyentuh gagang pintu, gagang pintu itu tiba-tiba berhenti bergerak dan perlahan aku membuka pintu...
Lanjut part 2 ya