Gedung sekolah yang sepi di hari minggu. Cuaca berawan. Serta angin sepoi-sepoi yang menerpa.
Dengan pakaian bebas, Mina datang ke sekolah dan bertemu dengan seseorang di depan pintu kelasnya.
Sebuah janji sebelumnya dibuat, dan kini telah di tepati oleh Mina.
"Aku sudah datang sesuai janji." ucap Mina pada orang yang ada di depannya.
Seorang perempuan berdiri di depan pintu. Dikenal dengan nama Ana. Mengenakan pakaian seragam sekolah rapi serta sebuah tas yang di sandangnya.
"Baiklah. Mari masuk ke dalam." ajak Ana.
Mereka berdua masuk ke dalam ruang kelas dan duduk berhadapan.
"Cukup mudah. Kamu hanya mengatakan apa maumu, lalu menjalaninya selama beberapa masa tanpa melanggar sebuah aturan." jelas Ana terhadap Mina.
"Aturan? Aturan apa?" tanya Mina.
"Sebelum itu, sebutkan dulu keinginanmu padaku." kata Ana.
Menghela nafas sejenak, kemudian lanjut bicara.
"Aku ingin...."
Setelah menyebutkan keinginannya, Ana pun mengangguk, lalu berkata.
"Itu akan terwujud. Namun, kamu tetap tidak boleh melanggar aturannya."
Ana pun mengatakan perihal aturan tersebut pada Mina.
"Aturannya... Kamu tidak boleh menjatuhkan orang lain."
"Hanya itu?" tanya Mina.
"Ya." jawab Ana singkat.
Mina setuju dengan aturan itu. Mereka berdua pun sepakat. Lalu Ana meminta Mina menandatangani surat persetujuan yang telah ia ajukan. Surat tertanda tangani dan Mina menunggu prosesnya.
"Sudah. Dengan begini, kamu akan mendapatkannya." ujar Ana pada perempuan bernama Mina itu.
"Baiklah. Aku pergi dulu kalau begitu."
Mina meninggalkan ruangan kelas dengan ekspresi senang.
Ke esokan harinya...
Mina datang ke sekolah dan sesampainya di gerbang, ia di hampiri oleh banyak siswa.
"Hey Mina. Kamu cantik sekali hari ini."
"Tampak anggun. Ada waktu luang untuk malam ini?"
Begitulah rayu dari para siswa lelaki di sekolah Mina pagi itu. Awalnya dia terkejut. Tetapi setelah menyadari bahwa keinginannya terwujud, Mina pun merasa senang dan mulai merasa tinggi akan derajatnya sekarang.
Di ruang kelas, para teman sekelasnya datang menyambut layaknya orang penting. Suasana yang berbeda itu dirasakan oleh seorang Mina.
"Ternyata benar adanya. Keinginanku sudah terkabul saat ini. Dan saatnya menjadi populer di sekolah ini." Mina berjalan menuju bangku.
Kegiatan sekolahnya penuh sambutan hangat dan berbagai hal yang membuatnya merasa tinggi.
Para murid di sekolah banyak yang menghampiri dan juga melayani dirinya bagai sang ratu.
"Ini sangat menyenangkan."
Berbagai pujian dilayangkan kepada perempuan bernama Mina itu. Dengan gayanya, ia menikmati setiap momen yang ada dengan rasa yang baru.
Sepulang sekolah, Mina pergi keluar kelas diikuti para siswa-siswi yang berjalan di belakangnya.
"Menjadi populer di sekolah ternyata begini ya. Sangat menyenangkan!" Mina tersenyum lebar.
Saat melangkah menuju gerbang sekolah, tiba-tiba seseorang menabrak Mina dengan cukup kuat. Hal itu membuat Mina terjatuh dan mengagetkan para murid yang mengikutinya.
"Aduh sakit! Apa-apaan sih!"
Mina mulai marah, dan bergerak mendekati orang yang menabraknya barusan.
"Heh! Apa yang kamu lakukan hah?! Tidak kah kamu punya mata? Kemana matamu itu hah?!"
bentak Mina.
"Maaf. Aku tidak sengaja."
"Tidak sengaja? Heh gadis mata empat! Kau tahu sedang menabrak siapa?!"
"Aku minta maaf."
"Maaf maaf. Makanya lain kali lihat-lihat kalau jalan itu!" lanjut Mina dengan suara keras.
"Dasar manusia rendahan! tidak berguna! Pergi sana!" usir Mina terhadap orang tersebut.
Dalam sekejap suara tepuk tangan terdengar dari belakang. Mina yang mendengarnya pun merasa heran dan bertanya-tanya. Seseorang datang dari balik para murid yang tengah berkumpul itu.
"Ternyata kamu tetap melanggar hal mudah itu."
Ana datang seiring berjalan mendekat.
"Ana?" kejut Mina.
"Aku mengagetkanmu ya? Haha. Tetapi aku harus menghampirimu sekarang ini."
"Ada apa?" tanya Mina.
"Kamu masih bertanya ada apa padaku? Apa jangan-jangan kamu lupa perihal kemarin?"
"Ternyata kepopuleran itu telah menghilangkan ingatanmu tentang perjanjian kita ya." lanjut Ana.
"Perjanjian? ucap Mina sembari mengingat-ngingat lagi.
"Ya. Karena perjanjian sudah dilanggar, maka akan ada akibatnya. Benar kan, ratu?" Ana tersenyum dengan tatapan tajam.
Mata Mina terbelalak dan selangkah mundur.
"Saatnya menerima konsekuensinya, Mina."
Ana tertawa dan mulai mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Para murid lain yang ada di belakangnya hanya menatap dengan tajam dan merubah suasana seketika.
Pujian, rayuan, dan semacamnya sudah hilang. Dan kini Mina di hadapkan dengan Ana yang berada di depan matanya.
"Katakan selamat tinggal pada kepopuleran."
"Ti...Ti..Tidak!"
Mina berteriak dan beberapa saat kemudian suasana sekolah mulai senyap.
Langit jingga mewarnai hari. Tetesan cairan bewarna merah pekat itu telah menyentuh tanah dan bertebaran di dekatnya.
"Sore yang indah. Benar kan, ratu kepopuleran?"
Senyum unjuk gigi dari seorang Ana.
-----SELESAI-----