Juli 29, 2020
Pagi hari yang cerah, embun pagi yang segar, suasana yang sunyi dan tenang, hanya terdengar suara kicauan burung yang saling menyahut serta, suara traktor pembajak sawah. Di suatu pedesaan yang dikelilingi oleh banyak sawah dan pegunungan, hidup seorang remaja berdarah campuran Indonesia-Inggris berusia 19 tahun yang hidup berdampingan bersama adiknya yang usianya selisih 3 tahun dengan Amy dan ibunya. Dia adalah Amy John-Ekarahandi. Ibunya yang merupakan penduduk asli Indonesia bernama, Ayu Ekarahandi. Adik Amy yang sering menganggu Amy bernama Andromeda John-Ekarahandi, ayah Amy merupakan penggemar Harry Potter, itu sebabnya ia menamai putri keduanya yang terinspirasi dari salah satu karakter Harry Potter, Andromeda Tonks. Meskipun Andromeda sering menganggu Amy, Andromeda sangat sayang dengan Amy. Ayah Amy yang berkebangsaan Inggris, Aurelius John meninggal karena kecelakaan pesawat di saat Amy berusia 4 tahun. Namun, keluarga dari ayah Amy sering berkunjung ke Indonesia dan Amy selalu menunggu hadiah dari kakek neneknya. Tetapi, seluruh penerbangan di dunia ditutup karena COVID-19, keluarga Amy dari Inggris tidak bisa datang ke Indonesia.
Amy beranjak dari tempat tidurnya, ia menuju ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok gigi. Terdengar suara piring, ibu Amy sedang menyiapkan masakan untuk Amy.
“Amy!!” teriak ibu Amy.
“Sebentar, Bu!! Amy masih di kamar mandi.” teriak Amy.
“Sekalian mandi juga, sayang!!”
“Ok!!”
Amy selesai mandi, ia bergegas turun menuju ke meja makan. Sesampainya di ruang makan, Amy mengambil piring dan sendok, ia akan mengambil nasi dari penanak nasi itu.
“Eittt..” tangan ibu Amy tiba tiba menghalangi penanak nasi.
“Ada apa, Bu?” tanya Amy
“Cuci tangan.”
“Ohhh.. Oke.”
Amy meletakkan piring dan sendoknya, ia pergi ke wastafel dekat penanak nasi miliknya dan mencuci tangannya.
“Sudah.”
“Baiklah. Mari makan!”
Amy dan ibu Amy duduk dan sarapan pagi bersama
-----
Malam tiba, jam menunjukkan pukul 23.00, suasana rumah Amy sedikit menyeramkan, hanya terdengar suara burung hantu. Namun, Amy masih begadang di kamarnya, ia tak takut dengan hal itu, baginya itu sudah biasa. Amy sedang bermain HP miliknya lebih tepatnya, ia sedang melihat video dari aplikasi yang lagi viral di masa pandemi ini, Tiktok.
Jam menunjukkan pukul 23.35, Amy masih tidak mengantuk. Tiba tiba, ia mendengar seseorang yang seperti berbicara dari luar, Amy mengintip dari jendela kamarnya, ia tidak melihat orang itu, Amy melanjutkan bermain HP. Tak selang beberapa menit, suara orang itu muncul lagi, Amy mengintipnya sekali lagi dan orang itu tidak ada. Amy bingung, ia mematikan HP nya dan membalut dirinya dengan selimut lembut miliknya. Suara itu datang lagi, Amy memberanikan dirinya untuk mengintip. Namun, saat akan mengintip, terdapat seseorang bertubuh besar dan hitam mencekik Amy dan menutup mulutnya. Amy tak bisa berteriak, tangannya seperti diikat. Seseorang itu membawa Amy pergi dari rumahnya.
-----
April 4, 2120
Pagi hari yang cerah, tak secerah yang dibayangkan, suasana kota yang langsung disambut oleh suara klakson dan deru mesin kendaraan serta asap pabrik dan kendaraan dimana – mana. Di suatu kota yang padat hidup seorang remaja berkebangsaan Indonesia yang berusia 17 tahun bernama Andy John-Witoko. Ia dan keluarganya hidup di Inggris sejak Andy berusia 4 tahun. Andy memiliki 1 adik laki laki terpaut jarak usia selisih 2 tahun yang bernama Abimanyu John-Witoko yang sering menganggu Andy. Ibu Andy bernama Agatha Sariyaningsih dan ayahnya bernama Abraham John-Witoko.
Andy pergi keluar bersama adiknya untuk membeli beberapa keperluan rumah. Tak lupa, mereka mengenakan masker karena adanya virus bahaya yang menyerang seluruh dunia. Sesampainya di sebuah toserba, Andy melihat daftar belanjaan dari HP yang canggih miliknya. Abimanyu sibuk melihat - lihat makanan ringan.
“Kak, gue boleh beli ini?” tanya Abimanyu.
“Apa yang lu beli?” Andy bertanya balik.
“Makanan ringan.. Ya… Untuk keperluan kalau gak ada makanan.”
“Hmmm.. Beli dua, satu buat lo dan satu buat gue.”
“Ok..”
Andy melanjutkan mencari belanjaan yang diperlukan ibunya.
“Dimana minyak sayur ini?” kocehnya.
“Ada yang bisa saya bantu?” Robot pelayan itu tiba tiba datang menghampiri Andy.
“Oh, hai. Bisakah kau membantuku mencarikan minyak sayur?”
“Tentu, ada di rak H6.”
“Oh oke, baiklah, terima kasih.”
“Sama – sama.”
Andy selesai beberlanja, ia keluar dari toserba itu. Ia dan adiknya terbang dengan teknologi canggih yang ada di punggungnya. Banyak orang sudah menggunakan teknologi ini, dan orang orang menganggapnya ini hal biasa.
Andy sampai di rumah, ia membuka pintu rumahnya, ibunya sudah menunggu di dapur.
“Andy pulang.” ucap Andy.
“Oh, cepatnya.” Ibu Andy menghampiri Andy dan Abimanyu.
“Karena virus, Bu.”
“Oh iya, ibu lupa. Baiklah, ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kalian berdua, makanlah!”
“Terima Kasih, Bu.”
“Masak apa, Ibu?” tanya Abimanyu
“Opor ayam dan Ratatouille.”
“Apa itu? Aku belum pernah mendengarnya” tanya Andy.
“Itu masakan Prancis, ibu mencoba membuatnya.”
“Apakah enak?”
“Coba sendiri saja, Abi.”
Abimanyu berlari menuju ke meja makan. Namun, ibunya memberhentikannya.
“Eitt.. Cuci tangan. Jangan lupa! Kalian habis keluar tadi.”
“Ok..”
“Ngomong ngomong, dimana ayah, Bu?”
“Tak tahu, mungkin sedang bekerja di atas.”
“Bukankah ayah bilang, dia libur?”
“Ibu kurang tahu, sayang. Ayahmu tidak pernah cerita tentang pekerjaannya. Sekarang, makanlah! Ibu mau tidur sebentar, punggung ibu sakit.”
“Hmmm.. Istirahat saja, ibu!”
Ibu Andy pergi ke atas untuk beristirahat. Ia terbangun di jam subuh, dan membersihkan rumahnya. Keluarga Andy memiliki robot pembantu, tetapi itu rusak. Ayah Andy berjanji akan memperbaikinya. Tetapi, itu tidak tahu kapan.
-----
Tengah malam tiba, Andy tak sengaja terbangun. Ia merasa ingin buang air kecil dan bergegas turun untuk pergi ke kamar mandi. Saat ingin turun, Andy melihat ayahnya sedang tertidur di meja kantornya. Andy menyelinap masuk ke dalam. Ia melihat ayahnya tertidur sangat pulas, hal itu terbukti meskipun lampu dan laptopnya menyala, ayahnya tidur tanpa ada gangguan. Andy melanjutkan mengecek kamar ayahnya. Tiba tiba, pandangan Andy tertuju oleh salah satu album masa kecil milik ayahnya di meja kecil dekat tempat sampah. Andy membuka album itu, terlihat terdapat tulisan ‘Andromeda John-Ekarahandi & Thomas Witoko’ mereka adalah nenek dan kakek Andy dan Abimanyu.
Di tengah album terdapat tulisan lagi yang bertuliskan ‘COVID-19’. Andy bertanya tanya tentang apa itu. Ia mengecek tulisan itu di laptop yang ada di meja ayahnya. Ia sedikit terkejut tentang COVID-19, itu juga mirip seperti virus yang sekarang melanda dari seluruh dunia. Andy mengecek album milik ayahnya. Melihat ada seorang perempuan cantik di fotonya, Andy lagi lagi bingung.
“Siapa dia?” tanyanya. Andy membalikkan fotonya bertuliskan ‘Amy John-Ekarahandi’. “Dia saudara nenek? Aku baru tahu.”. Karena dulunya nenek Andy memiliki sosial media, Andy mencoba untuk mengecek sosial media milik neneknya. Ia terkejut melihat, saudara neneknya ada di foto sosial media neneknya. Jiwa ingin tahunya keluar, Andy mengecek semua data pribadi sosial media milik neneknya. Saat ingin mencari, jari Andy tak sengaja melipat foto itu. Andy seperti ditarik oleh sesuatu. Ia menengok ke belakang. Betapa terkejutnya, ia melihat ada sebuah lubang hitam menarik dirinya. Andy berteriak “AYAH! TOLONG AKU!!”. Tetapi, ayahnya tak bisa mendengarnya. Andy terus berteriak dan ia masuk ke dalam lubang hitam itu.
-----
Juli 29, 2020.
Andy terjatuh dari langit. Anehnya, ia masih hidup. Andy memperhatikan sekitar, ia berada di sebuah desa dengan pemandangan yang indah, banyak hutan, sawah, pegunungan, dan pemandangan senja yang indah
“Dimana aku?” tanyanya. Andy tiba tiba melihat sebuah rumah tingkat berada di dekat sawah. Ia pergi kesana, tetapi itu terhalang oleh seorang remaja perempuan.
“Halo, mas nya tersesat?” tanya perempuan itu.
“Oh, hai. Tidak, aku hanya ingin pergi ke rumah itu.” jawab Andy sembari menunjuk ke rumah itu.
“Rumah Ibu Inggris?”
“Ibu Inggris?”
“Iya, kita disini kadang memanggilnya Ibu Inggris. Karena, dia menikah dengan seorang warga asing dari Inggris. Nama asli ibu itu, Ibu Ayu John-Ekarahandi. Anaknya cantik, lho, mas.”
“Siapa nama anaknya?”
“Namanya Amy John-Ekarahandi dan satunya Andromeda John-Ekarahandi. Agak susah, mas, ngomongnya. Maklum darah campuran mereka berdua.”
“Suami ibu itu? Ada?”
“Sayang sekali mas, suaminya sudah meninggal.”
“Turut berduka cita, saya.”
“Sudah lama, kok, mas, meninggalnya. Ngomong – ngomong mas nya, kok, nggak pakai masker? Nanti Pak Lurah datang, lho.”
“Oh, maaf. Tadi di mobil saya lepas.” Andy meraba saku celananya, untungnya ia membawa masker.
“Bagus banget maskernya, beli dimana, mas?”
“Oh, ini buatan ibu saya.”
“Bagus.”
“Udaranya bagus juga disini.”
“Iya, mas. Semenjak pandemi ini, memang udaranya bagus, biasanya pengunungan itu, mas, tertutup sama asap kendaraan atau pabrik. Sekarang tidak.”
“Ohhh..”
“Tapi, ya.. Ekonomi kita turun, mas. Karena kita disuruh pemerintah untuk tetap di rumah. Jadinya, pekerjaan dimana mana diliburkan. Sekolah juga diliburkan. Jadinya, murid murid seperti saya belajar di rumah.”
Andy kemudian berpikir, ini seperti virus yang terjadi di masanya. Tiba tiba, nenek Andy muda keluar dari rumahnya, Andy bergegas mengikutinya dari belakang..
“Maaf, ya, saya pamit dulu.” ucap Andy meninggalkan perempuan itu sendiri
“Lho, mas!”
Andy mengikuti neneknya sedang berjalan ke tengah hutan. Andy tak biasa berada di suasana seperti ini, ia harus membuat agar suara ia melangkah tidak terdengar olehnya. Nenek Andy berhenti di sebuah sumur tua, ia melihat neneknya seperti sedang berdoa mengelilingi sumur tua itu. Tak lama, muncul wujud hitam dan besar, Andy terkejut dan bersembunyi.
“Ada yang bisa dibantu, nyonya?” tanya sosok hitam itu.
“Nyonya?” Andy bingung.
“Datang ke rumahku dan bunuh seseorang yang ada di rumahku.”
Andy terkejut dan panik, siapa sangka neneknya ingin membunuh keluarganya sendiri. Andy berlari dengan sangat kencang. Mendengar ada seseorang, nenek Andy mengejar Andy bersama sosok hitam itu.
“Siapa disana? Tunjukkan dirimu sekarang!!” teriak nenek Andy
Andy panik ia berlari dengan sangat kencang. Ia baru sadar jika ia membawa alat canggih untuk terbang. Ia terbang dan pergi bergegas ke tempat aman.”
Andy turun di sebuah sawah, terlihat perempuan yang ia temui ada disana. Ia menghampirinya.
“Hei!!” panggilnya.
“Lho, masnya. Ada apa lagi, mas?”
“Bantu aku.”
“Ada apa, toh, mas? Kok, kayak kelihatan capek gitu. Habis ngapain?”
“Tolong bantu aku.”
“Ada apa mas? Cerita!”
“Ada seseorang yang mau bunuh di rumah Ibu Inggris itu.”
“Ha?? Beneran, mas? Jangan bohong.”
“Ini beneran, tolong aku!”
“Ok, ok.. Aku percaya, mas. Tunggu tunggu, ke rumahku sebentar. Aku mau ambil sesuatu.”
Andy dan seorang perempuan itu sampai di rumah perempuan itu. Ia masuk ke dalam, dan berkata ke orang tuanya bahwa ada pembunuhan di rumah Ibu Inggris. Orang tua perempuan itu keluar dan ikut bersama mereka.
Malam tiba, mereka baru sampai di rumah Ibu Inggris, taka da satupun orang ada disana. Orang tua perempuan itu mengendap endap masuk ke dalam rumah Ibu Inggris, sementara Andy dan perempuan itu di luar untuk berjaga jaga.
“Oh iya, namanya siapa?” tanya Andy.
“Oh, kenalin, aku Raya Sasongko asli sini.”
“Ohhh.. Aku Andy John-Witoko.”
“Lhoo.. Kok sama kayak Ibu Inggris ada John, John nya.” ucap Raya dengan sangat keras.
“Shhhh..”
Terdengar suara jendela dibuka, Andy dan Raya dengan cepat bersembunyi di semak semak. Andy dan Raya melihat Amy masih ada disana. Itu artinya pembunuhan belum terjadi.
“Itu Amy.”
“Diamlah, nanti mereka terbangun.”
“Ya, nggak apa apa, toh, mas. Sebenarnya ada pembunuhan apa nggak, toh, mas?” suara Raya sangat keras, membuat Amy mengecek keluar jendela.
Andy hanya diam, ia melihat sosok hitam masuk ke dalam rumah Ibu Inggris itu. Andy bergegas berlari menuju rumah itu, Raya mengikutinya dari belakang. Saat masuk, untungnya orang tua Raya bersembunyi.
“Apa kalian melihatnya juga?” tanya Andy.
“Iya, sosok hitam.” jawab ibu Raya.
“Sosok hitam?” tanya Raya.
“Sebaiknya kita panggil Pak Lurah atau tidak Pak Ustadz.”
Tiba tiba terdengar suara seseorang terjatuh, suara itu dari atas. Andy bergegas pergi ke atas. Ia melihat Amy tergeletak di atas lantai. Tak lama, nenek Andy keluar dan menghampiri Andy.
“Siapa kau?” tanya nenek Andy.
“A-Andy.” jawabnya dengan gugup. Raya dan orang tuanya datang dengan tepat.
“Oh, hai, Raya.”
“Apa yang kau lakukan?” tanya Raya.
“Apa kau tak melihatnya?”
“Beraninya kau membunuh kakakmu sendiri? Mana ibumu? Ayu! Ayu!” ucap ibu Raya.
“Tidak perlu repot repot memanggil, tante. Ibu Inggris ada disini.”
Ibu Inggris itu juga sudah tak sadarkan diri di depan pintu kamarnya.
“Mengapa kau melakukan ini?” tanya Andy.
“Karena mereka terkena COVID. Aku sudah tahu itu sejak tadi siang. Mereka batuk batuk dan aku bisa melihat mereka terkena penyakit apa.”
“Kau bisa pergi dari sini, Andro! Tak perlu kau untuk membunuh. Kau juga bisa membawa mereka ke rumah sakit.” ucap Raya
“SIAPA PEDULI!! AKU BENCI KELUARGAKU!! IBUKU HANYA SAYANG KEPADA AMY!!” teriak nenek Andy.
“Tenanglah, Andro!”
“AKU TIDAK BISA TENANG PAMAN!!”
Nenek Andy melihat Andy memegang sebuah foto.
“Apa itu?”
“Tak ada.” jawab Andy
“Jawab, apa itu!! Black! Bunuh dia!” perintah nenek Andy. Sosok hitam itu menghampiri Andy dan saat ingin menyerang Andy, Andy melindungi Raya dan keluarganya dan ia melipat foto yang ia bawa. Andy tertarik ke dalam lubang hitam itu, sedangkan Raya dan keluarganya menghilang.
-----
Gedebug. Andy terjatuh di ruang kerja ayahnya. Ayahnya terkejut dan bangun.
“Andy! Ada apa?”
Andy tiba tiba memeluk ayahnya dan menangis.
“Ada apa, Andy? Mengapa kau tiba tiba menangis?”
“Jadi ayah tahu tentang nenek dan nenek Amy?”
Ayah Andy terkejut karena anaknya mengetahui hal itu.
“Jadi, kau sudah tahu.”
“Mengapa ayah tak bilang kepadaku.”
“Ayah ingin agar kau sendiri yang tahu.”
“Aku seperti keturunan dari pembunuh.”
“Hei! Hei! Jangan seperti itu, ayah bukan pembunuh. Lihat! Ayah tak meniru nenekmu. Jadi, tak ada yang perlu di pikirkan. Kemari! Peluk ayah.”
Andy memeluk ayahnya. Merasa sangat nyaman dan sudah tahu apa yang terjadi, Andy mendapatkan pelajaran bahwa tak seharusnya seseorang menghilangkan orang sakit dengan keji, lebih baik jika orang itu diobati dengan segera.