.
Aku tidak ingin pindah ke tempat baru. Semua mainanku ada di dalam kotak dan kami tidak memiliki TV. Ibu menyuruhku bermain di luar tetapi dia selalu sibuk dan ayah sedang bekerja. Lagipula tidak ada anak-anak di sekitar sana. Ibu menyuruhku menjelajahi rumah, tetapi aku tidak suka. Rumah itu kosong kecuali kotak. Ruang bawah tanahnya gelap dan lotengnya juga gelap dan aku juga tidak suka bau aneh di sana. Penghuni lama meninggalkan beberapa harta karun di rumah dan itu menyenangkan. Aku menemukan beberapa paku mengkilap yang ibu sebut Jacks. Dia bilang itu untuk permainan tetapi aku butuh bola untuk memainkannya. Aku tidak bisa menemukan bolanya tetapi Jack senang berputar seperti gasing. Aku menemukan Teddy bear tua di loteng juga ketika aku pergi ke sana bersama ayah. Boneka itu kehilangan satu matanya dan memiliki senyum yang lebar. Aku tidak memberi tahu ayah tentang boneka itu karena dia tidak suka mainan kotor. Dia menutupi apapun yang sudah tua dengan selimut. Dia tidak pernah mengatakan itu padaku, tapi aku tahu dia melakukannya.
.
Menyenangkan bermain di hutan itu, tetapi ibu bilang jangan bermain terlalu jauh. Aku menemukan sebuah rumah kecil yang tampak seperti gudang tua milik ayah. Itu memiliki daun dan tumbuhan yang tumbuh di atasnya dan itu tampak rusak dan benar-benar tua. Ada sebuah jendela kecil dengan palang besi di atasnya dan aku tidak menyukainya. Aku menjauh dari rumah itu karena aku tidak berpikir ada harta karun di sana. Terkadang aku melempar batu ke rumah itu. Aku berpikir aku mungkin akan menghancurkannya, tapi rumah itu masih cukup kuat. Aku menemukan katak di hutan. Mereka sulit ditangkap. Aku juga melihat anak-anak lain di hutan, tetapi mereka semua bersembunyi di balik pohon dan memperhatikanku. Mereka tidak mengatakan apa-apa dan aku tidak suka mereka yang memperhatikanku. Mereka semakin dekat dan lebih dekat jika aku tinggal terlalu lama di hutan.
.
Pada malam hari aku mendengar suara-suara. Mereka membuatku sangat takut. Aku harus menyembunyikan Teddy dari ayah dan ibu jadi aku menyembunyikannya di bawah tempat tidur, tetapi ketika suara-suara itu semakin keras aku akan memeluk Teddy erat-erat dan dia akan membuatku merasa lebih baik. Suara-suara menjadi sangat buruk ketika malam semakin larut. Suara anak-anak yang menangis di hutan. Mereka semakin keras ketika mereka lebih dekat ke rumah. Aku tidak pernah memberi tahu ayah atau ibu tentang mereka karena orang dewasa selalu berpikir aku hanya bermimpi. Aku merasa aman dengan Teddy, jadi aku tidak perlu tidur di kamar mereka.
.
Aku mulai mendengar suara mereka suatu malam. Mereka berbisik sangat pelan di luar, tapi aku bisa mendengar mereka. Mereka ada di luar di bawah jendelaku dan mereka melihat ke atas ke kamarku. Di malam hari mereka bersinar hijau pucat seperti stiker bintangku, tetapi lebih cerah. Aku tidak ingin melihatnya. Mereka memiliki lubang di matanya. Ketika mereka semakin keras, aku memeluk Teddy lebih dekat. Mereka pergi di pagi hari.
.
Suatu malam aku mendengar Teddy berbicara. Dia memiliki suara lembut. Aku menangis karena bisikan itu semakin keras. Dia bilang kepadaku kalau semuanya akan baik-baik saja. Dia berjanji akan membuatku tetap aman. Di pagi hari ketika anak-anak kembali untuk bersembunyi di hutan, aku berbicara dengan Teddy.
.
"Apa kau anak yang baik?" Aku bertanya pada Teddy. Aku melihat kalau ayah dan ibu sedang sibuk sehingga mereka tidak akan menemukan kami.
.
“Aku adalah teman untuk semua anak-anak, gadis kecil. Aku adalah penjaga mereka di malam hari dari kejahatan si Mata Cerah. Aku telah melindungi banyak anak dari makhluk-makhluk itu dan aku juga akan melindungimu.”
.
"Siapa mereka?" Aku bertanya pada Teddy.
.
"Mereka ingin membawamu pergi, gadis kecil. Mereka ingin menyakitimu. Aku sudah tua dan aku lemah, tetapi aku bisa melindungimu untuk sementara waktu. Aku menampakkan diri kepada anak-anak yang membutuhkanku. Mereka yang diluar sana bukanlah anak-anak, mereka yang sebenarnya bersembunyi di dalam kulit anak-anak. Aku telah bertarung dengan mereka untuk waktu yang lama, tetapi mereka tumbuh semakin kuat saat aku semakin lemah.”
.
Setiap malam Teddy selalu bersamaku. Mereka, si Mata Cerah semakin mendekat dan semakin mendekat. Mereka akan melayang ke jendela dan menatap ke dalam. Mereka membisikkan suara mereka kepadaku, dan Teddy mengatakan kepadaku untuk menutup telingaku dengan tanganku, sementara dia mencegah mereka masuk. Dia bilang kepadaku kalau dia semakin lemah dan itulah sebabnya anak-anak itu mencoba untuk menangkapku. Suatu malam mereka masuk ke rumah. Mereka menaiki tangga dan mulai mencakar pintuku. Kami harus duduk di pintu agar mereka tidak masuk. Bisikan mereka cukup keras sehingga aku bisa mendengar mereka. Mereka terus berkata,
.
“Datang dan bermainlah, datang dan bermainlah. Ayo, ayo datang."
.
Teddy menjagaku ketika aku sedang tidur. Di pagi hari, Ibu menemukanku tidur di lantai. Dia bertanya apa yang terjadi, tapi aku takut dia akan mengambil Teddy, jadi aku tidak mengatakannya.
.
Teddy memberi tahuku di pagi hari kalau dia terlalu lemah untuk bisa melindungiku. Dia mengatakan kalau hanya ada satu cara untuk mencegah si Mata Cerah untuk menangkap kami.
.
“Ada kunci di ruang bawah tanah. Kita membutuhkan kunci itu untuk menjaga kita tetap aman. Aku tidak bisa pergi denganmu. Mereka kuat dalam kegelapan itu. Mereka bisa merasakanku jika aku pergi ke sana dan mereka akan menangkapku. Tetapi mereka tidak akan melihatmu. Mereka tertidur saat matahari pagi terbit. Aku ingin kau turun dan mengambil kunci itu."
.
"Aku tidak ingin pergi ke sana, Teddy." Aku memberitahunya, memeluknya. "Bagaimana jika mereka mencoba menyakitiku?"
.
"Aku minta maaf, gadis kecil, tetapi tanpa kunci itu, tidak satu pun dari kita akan aman lebih lama. Kau bisa mendapatkan kuncinya, tapi aku tidak bisa."
.
"Bagaimana aku bisa menemukannya?" Aku bertanya kepadanya.
.
“Mereka pasti menjaganya. Mereka tahu kalau dengan kunci itu, kita bisa aman dari mereka. Salah satu dari mereka memegangnya. Kau harus mengambilnya tanpa membangunkan mereka. Aku akan menunggumu di sini.”
.
Aku tidak ingin pergi ke sana, tetapi aku tidak bisa membiarkan mereka membawa Teddy pergi. Aku takut, tetapi aku menuruni tangga dengan tenang. Teddy menunggu di puncak tangga sambil mengawasiku. Dia juga diam sehingga dia tidak akan membangunkan mereka.
.
Aku menemukan mereka di sudut ruang bawah tanah, bersembunyi di balik banyak kotak. Mereka bersinar dalam gelap dan mereka meringkuk bersama. Mereka bergetar seperti kedinginan dan terdengar seperti menangis. Aku takut. Mereka tidak melihatku. Mata mereka tertutup seperti yang dikatakan Teddy. Salah satunya memegang tali yang diikat ke kunci. Aku menyelinap diantara mereka, bersembunyi di balik kotak. Aku ingin menangis tanpa Teddy di sana bersamaku. Aku semakin dekat dengan mereka. Aku menahan napas dan terdiam.
.
Aku menjadi sangat dekat dan aku meraih kunci ketika anak yang memegangnya membuka matanya. Dia menatapku. Matanya kosong. Aku menjerit, tetapi aku meraih kunci dan berbalik, menariknya hingga talinya putus. Mereka semua bangkit dan mulai mengejarku sambil berteriak,
.
"Tidak! Berhenti!"
.
Mereka mengejarku. Aku tersandung di tangga dan aku mendengar mereka merangkak di belakangku seperti ular. Aku berdiri kembali dan berlari menaiki tangga secepat mungkin ketika mereka mencoba meraih kakiku. Aku naik ke atas di depan mereka dan menutup pintu. Aku mendengar mereka di balik pintu. Mereka masih berteriak dan membentur ke pintu. Aku memegang kunci dengan erat. Aku melihat, kunci itu hitam dan polos seperti jenis model lama. Aku tidak suka tampilannya. Kemudian aku perhatikan kalau Teddy sudah pergi. Aku memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab. Aku tidak tahu ke mana dia pergi, dia bilang dia akan menunggu tetapi dia sudah pergi. Aku mulai menangis.
.
Ayah menemukanku ketika si Mata Cerah berhenti membuat suara. Dia bertanya kepadaku apa yang terjadi dan mengapa aku berteriak. Aku tidak menjawab. Aku menyembunyikan kuncinya sehingga dia tidak menemukannya. Aku tahu kalau Teddy juga harus bersembunyi. Itu sebabnya dia tidak ada di sana. Ayah sangat marah. Dia bilang kepadaku untuk tidak berteriak kecuali jika itu darurat. Dia bilang kepadaku kalau dia menemukan Teddyku dan dia mengambilnya dan membuangnya. Aku menangis dan bilang kepadanya kalau aku membutuhkan Teddy, tetapi dia tidak mendengarkan. Ayah bilang akan memberiku yang baru, tetapi aku tidak menginginkan Teddy baru. Aku takut tanpanya dan ayah tidak akan mendengarkan!
.
Aku bersembunyi dari ibu dan ayah sepanjang hari. Mereka tidak tahu tetapi mereka tidak bisa membantuku. Tapi Teddy kembali pada waktu malam ketika aku di tempat tidur. Aku melihat pintu terbuka dan aku khawatir itu adalah si Mata Cerah, tetapi aku melihat kalau itu adalah dia.
.
"Teddy! Kau kembali!"
.
"Ya, gadis kecil. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Ayahmu mencoba membawaku pergi. Dia dikendalikan oleh si Mata Cerah, tapi aku masih cukup kuat untuk melarikan diri dari kekuatan mereka. Kita tidak punya banyak waktu. Apa kau mendapatkan kuncinya?"
.
"Iya." Kataku. Aku berdiri dari tempat tidur dan menunjukkan kuncinya.
.
“Kau anak yang sangat berani, tapi kau harus berani sekali lagi. Kali ini, aku tidak akan meninggalkanmu. Kita harus pergi ke hutan. Ada tempat di mana mereka tidak bisa masuk."
.
"Tapi aku tidak diizinkan keluar di malam hari. Jika ibu dan ayah mengetahuinya, mereka mungkin tidak akan membiarkan kita bersama lagi.” Kataku, tetapi aku merasa tidak enak karena aku takut pergi ke hutan.
.
"Setelah malam ini, kau akan aman, tapi kita harus pergi sekarang sebelum terlambat."
.
Aku mendengar si Mata Cerah menangis di ruang bawah tanah. Mereka memukul pintu lagi.
.
"Kumohon, gadis kecil. Ini satu-satunya kesempatan kita."
.
"Kau akan bersamaku sepanjang waktu?"
.
"Ya, gadis kecil. Aku akan selalu bersamamu sampai kau aman.”
.
Kami menyelinap keluar dari kamar. Aku memegang erat Teddy dan kunci itu. Kami turun dan harus melewati pintu ruang bawah tanah sebelum kami bisa keluar. Aku melihat cahaya hijau melalui celah-celah dan aku berlari. Aku mendengar pintu terbuka di belakang kami ketika aku berada di luar, dan aku melihat si Mata Cerah mendorong keluar, menangis dan berteriak.
.
"Tidak! Berhenti! Datang dan bermainlah!"
.
Aku berlari ke hutan. Itu sangat dingin. Teddy memberitahuku ke mana harus pergi. Itu sangat gelap dan aku selalu tersandung. Mata Cerah terus datang, terbang mengikuti kami. Aku berlari lebih jauh dan lebih jauh dan aku jatuh dan melukai lututku. Aku menjatuhkan Teddy. Teddy berlari ke hutan.
.
"Tunggu Teddy! Jangan tinggalkan aku sendiri!" Aku berteriak.
.
“Sebelah sini, gadis kecil! Ikuti suaraku!"
.
Aku berdiri dan memegang kunci. Aku berlari mengejar Teddy. Dia terus memberitahuku di mana dia berada dan aku mengejarnya. Aku terus menangis. Mata Cerah begitu dekat di belakang, masih membuat suara-suara mengerikan.
.
"Disini." Kata Teddy. Aku berhenti dan melihat kalau dia berdiri di rumah hutan tua. Pintunya terbuka. Itu tampak jauh lebih kecil dalam kegelapan.
.
“Aku bisa melindungimu di sini. Kau akan aman dari Mata Cerah, gadis kecil.”
.
Aku memandang Teddy, dengan senyum lebar. Aku balas tersenyum, tapi aku takut. Ruangan itu sangat gelap.
.
"Apa kita harus masuk ke sana?"
.
Teddy tampak sedih. Aku merasa tidak enak karena takut.
.
"Jika kau tidak cepat, mereka akan menemukanmu, mereka akan membawamu pergi. Mereka akan menyakitimu. Aku ingin melindungimu, gadis kecil. Kau harus masuk ke sana dan menutup pintunya. Mereka tidak bisa masuk ke sini ketika aku di sini untuk melindungimu."
.
Aku berbalik. Anak-anak yang cerah dengan wajah pucat melayang mengikuti kami. Cairan gelap menetes dari mata kosong mereka. Mereka terbang ke depan dengan tangan terentang sambil berteriak,
.
"Tidak! Kemarilah! Kemarilah! Datang dan bermainlah!"
.
Aku berlari masuk ke rumah dan menutup pintu.
.
“Cepat! Kunci pintu itu dengan kuncinya, sebelum mereka bisa masuk! ”
.
Aku berjinjit untuk meraih lubang kunci dan memasukkan kuncinya. Aku memutarnya secepat mungkin. Tepat ketika aku berhenti, anak-anak mulai memukul pintu dengan sangat keras, meneriakiku. Aku menjatuhkan kunci ke lantai.
.
"Tidak! Datang dan bermainlah!"
.
Aku lari dari pintu ke sudut ruangan. Aku tersandung dan jatuh ke tumpukan benda-benda keras yang kental. Aku berbalik dan melihat Teddy berjalan ke pintu. Dia membungkuk dan mengambil kunci.
.
"Teddy, apa ini yang ada di lantai?" Aku bertanya kepadanya. Aku takut karena dia tidak mengatakannya.
.
Mata Cerah memukul pintu, tetapi terkunci dan mereka tidak bisa masuk, seperti yang dikatakan Teddy. Dia berjalan ke arahku. Aku mendengar sesuatu yang robek dan mata kancingnya jatuh dan berguling di lantai. Bulu di wajahnya mulai robek dan dua lubang merah menyala muncul. Mereka menjadi sangat lebar dan cerah dan menyinari wajahnya. Dia tersenyum sangat besar dan mulutnya mulai terbuka juga. Dia membuat suara seperti kakek yang sedang sakit.
.
Aku menangis. Aku menjauh dari Teddy dan mulai memukul pintu dengan tinjuku. Terkunci rapat. Mata Teddy menjadi sangat cerah dan menerangi ruangan seperti cahaya malam. Dua lengan panjang yang retak dengan pisau, yang keluar dari mulutnya dan mulai mencakar lantai, melempar Teddy ke arahku. Aku merangkak kembali ke sudut. Aku jatuh pada salah satu benda kental di bawahku dan melukai tanganku. Mereka berkulit putih dan keras dan memiliki goresan di seluruh tubuh mereka. Ada banyak dari mereka.
.
"Apa yang kau lakukan Teddy? Tolong hentikan! Kau membuatku takut!" Aku menangis ketika dia mendekat.
.
Anak-anak berteriak kepadaku dari kegelapan. Mereka menjangkau tangan mereka melalui jeruji jendela. Aku akhirnya tahu apa yang mereka katakan. Mereka tidak mengatakan, "Datang dan bermainlah," mereka berkata, "Larilah."