"Kau tahu aku telah menyukaimu sejak lama?" tanya Jen pada Nita yang duduk di sebelahnya.
"Ya. Dari sikapmu itu sudah menampilkan bahwa dirimu menyukaiku." balas Nita.
"Akhirnya engkau sadar juga."
Duduk berduaan di sebuah kursi memanjang yang terdapat di halaman sekolah, Jen dan Nita mengisi waktu istirahat disana sambil mengobrol.
Obrolan sebelumnya sudah berbeda dibanding sekarang ini. Terlebih setelah Jen membicarakan soal perasaannya terhadap Nita. Perempuan itu menghadapi ungkapan perasaan dari Jen, walau dirinya sudah tahu sejak lama bahwa lelaki itu menyukainya.
"Wajar bila dirimu tidak terkejut setelah mendengarnya ya." kata Jen di selingi tawa kecil.
"Ya begitulah." balasnya singkat.
"Bagaimana aku harus mengatakannya ya?" bingung Jen.
"Kenapa malah bertanya? Bukankah sudah kamu katakan sebelumnya?"
"Katakan apa?" tanya Jen.
"Bahwa dirimu menyukaiku? Lalu apalagi yang ingin kamu katakan sampai kebingungan begitu?" tanya Nita sekaligus sedikit heran.
Jen terdiam sejenak sebelum akhirnya lanjut bicara.
"Aku hanya bingung menyusun kata yang tepat seperti yang orang-orang lakukan." ucap Jen.
"Nembak?"
"Ya. Tapi bila sudah diketahui begini. Jadi tidak ada gunanya kan?"
"Benar. Sudah kebaca soalnya dari awal."
"Haha aku benar-benar payah ya." kata Jen dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Jen dan Nita diam beberapa saat. Hingga Jen langsung menembak Nita seketika itu juga.
"Mau kah kamu menjadi pacarku?" tanya Jen pada Nita.
Nita menoleh ke arahnya dengan tatapan biasa.
"Apakah kamu melihat sesuatu di raut wajahku?" tanya Nita.
"Hmm maksudmu?" Jen bingung.
Nita menghela nafas dan menunjuk wajahnya.
"Aku tidak merasa senang atau gembira. Kamu menyadarinya kan?" Nita menekan perkataannya.
Jen melihat wajah perempuan di sebelahnya itu dan dilanjuti dengan sebuah anggukan kepala.
"Aku mengerti."
"Baguslah jika kamu mengerti. Lagian kamu tahu kan bahwa saat ini aku sudah memiliki kekasih." ujar Nita pada lelaki yang ada di sebelahnya.
"Ya. aku tahu itu."
"Lalu kenapa lagi kamu malah nekat untuk menembakku?"
"Maaf." balas Jen singkat.
Nita mengambil tasnya dan berangsur tegak.
"Seharusnya kamu memahaminya sejak awal. Aku tidak akan menerimamu karena dirimu bukan tipeku. Dan juga aku tidak bakal sudi untuk menjadi pacarmu." Ungkap Nita yang menusuk hati.
Jen mendengar perkataan dari Nita tersebut. Menusuk hati dan cukup tajam. Membuat seorang Jen merasa kesal dan api asmara yang sudah terpendam dalam hatinya seketika padam dan menyisakan abu.
"Sial."
"Apa kamu bilang?" tanya Nita.
Jen langsung bergerak dan mendekat ke arah Nita yang berada di depannya. Seketika itu juga....
Shheeett!
"Apa yang kamu lakukan, Jen?" tanya Nita menoleh dengan pelan.
"Bisa-bisanya kamu berkata seperti itu."
"Seharusnya kamu mengerti..." ucapan Nita terputus.
"Mengerti apa? Sedangkan kamu tidak mengerti perasaanku yang sudah lama menyukaimu. Akan tetapi...."
Jen menghela nafas sejenak dan lanjut bicara.
"Semenjak dia ada. Kamu menjauhiku yang mana dulu cukup dekat sebagai teman."
"Tapi..."
"Cukup. Aku tidak mau lagi kamu menusukku dengan kata-kata tajam itu." tegas Jen pada perempuan tersebut.
Kemudian, Nita pun terjatuh dan berbaring di tanah dengan luka tusukan yang berada di punggungnya.
"Aku punya yang lebih tajam dari mulutmu itu. Yaitu pisau ini."
Jen pun pergi meninggalkan Nita di halaman sekolah yang sepi tersebut.
-----SELESAI-----