Di hutan belantara, seorang jenderal kerajaan sedang menolong seorang pendekar perempuan, sepertinya perempuan tersebut sedang menderita kekalahan di medan pertempuran. Sang jenderal saat ini sedang mendapatkan mandat menjelajahi perbatasan daerah terluar, untuk menyelidiki buron kerajaan yang diduga bersembunyi di tempat ini.
"Kamu tidak apa apa?" Kata jenderal sambil melangkah ke arah perempuan, tampaknya ia sedang tidak berdaya.
Perempuan itu hanya tertunduk, tidak berani menatap wajah sang jenderal, apalagi untuk menjawab pertanyaan nya. Namun, tiba tiba Sang Jenderal kaget, ketika tahu siapa perempuan di depannya.
Perempuan itu, merupakan temannya, saat sama sama belajar di perguruan halilintar merah. Kendati begitu, persahabatan antar keduanya retak, hancur berantakan. Karena sang perempuan pemikirannya saat itu terlalu sempit, menilai sesuatu hanya dengan secuil upil, mata satu.
"Aku tidak menyangka, kita bertemu lagi di tempat ini, di daerah perbatasan yang sangat jauh dari keramaian (kota)." Kata sang jendral
"Aku dengar, engkau sekarang sudah menikah dengan orang perbatasan ini? Lanjutnya.
"Benar, aku telah menikah! Maafkan bila selama ini aku terlalu menyakitimu, tak memberi ruang (kesempatan) pada masa itu!" Sesal si perempuan.
Sang jenderal mendesah, lalu berdiri. Ia sebenarnya tak ingin mengilas balik masa lalu, masa lalu biarlah jadi pembelajaran, tak harus dikenang. Baik pahit maupun manis. Sebab Sang Jenderal tak akan pernah mengingatnya kembali.
"Maaf, aku tidak tertarik bahas itu lagi! Biarkan semuanya berlalu! Namun ada satu hal yang perlu engkau evaluasi, terkait tatakrama komunikasi. Saat itu, antara ego dan hatimu selalu bertentangan. Kau lebih menonjolkan amarah! Dulu kau mendambakan sesosok orang berharta, mewah - punya segalanya! Tapi sekarang apa yang kau dapatkan? Kau malah membuang diri ke tempat terpencil macam begini." ucap jenderal
Sejenak jadi hening, keduanya diam. Sang jenderal mengambil beberapa keping uang mas dalam sakunya, kemudian ia memberikan kepada si perempuan. Sementara si perempuan, memandang Sang Jenderal, sambil meresapi perkataannya.
"Untuk apa uang ini?" tanya perempuan itu, pura pura tidak paham. Padahal hatinya jelalatan.
"Ambil saja, barangkali engkau membutuhkan!" Jawab Sang Jenderal
"Dari mana uang ini kau dapatkan?" Tanya si perempuan ketus
"Aku sekarang jadi jenderal, hal sebenarnya tak pernah aku duga, tak pernah disematkan dalam panjang angan angan ku, sebab aku menganggap panjang angan-angan menurutku itu percuma. Karena hidupku sudah ada yang ngatur, bukan diatur sendiri, atau dibayangkan oleh piciknya tipu daya kita sendiri." Tegas sang jenderal lalu melangkah meninggalkan si perempuan tersebut.
Namun, perempuan itu berupaya mengejar sang jenderal, punggawa kerajaan tersebut akhirnya menoleh kebelakang dan menghampiri perempuan yang masih kesakitan itu.
Kemudian ia melanjutkan bicaranya, memberikan arahan kepadanya. Ia sudah paham akan krakternya, dan apa yang ia mau saat ini. Berbeda dengan dulu, ia diacuhkan tak dianggap keberadaannya. Lantaran menganggap hidup bersamanya tak akan bahagia. Tapi nyatanya pilihan dia tak sesuai ekspektasinya yang tinggi. Ia mendapatkan orang yang biasa saja, bahkan di tempat yang jauh dari keramaian kota.
"Kata orang, hubungan baik harus beriringan berjalan dua arah. Dan itupun harus dimulai, dari awal pendekatan." Beber Ali Imron, kepada Syakila. Wanita yang dulu membuatnya luluh, saking cinta nya, bayangan Syakila. Selalu ada di pelupuk matanya.
Ia tidak pernah pernah lupakan Syakila. Dia baru bisa melupakannya saat matanya terlelap. "Sikapmu saat itu,sungguh keterlaluan. Kau begitu sombong dan egois. Kau tak pernah mengerti aku. Tiap kali aku selalu kontak kamu. Kau tak pernah menjawabnya. Kau apatis." Lanjut Ali Imron.
"Hingga, aku berbalik arah. Karena perjuangan (sesungguh) nya, bukan mengejar sesuatu yang belum pasti. Perjuangannya sesungguhnya, adalah ketika engkau (hidup) bersamaku." Ali Imron menatap ke depan, lalu meneruskan pembeberan nya.
"Mengejar cinta itu bukan tujuan utama. Tapi memperjuangkan cinta sebenarnya merupakan tujuan utama. Mengejar dan memperjuangkan itu beda. Mengejar, itu sama saja melelahkan, dan mudah orang berubah pikiran. Apa pasal, mengejar cinta, itu perbuatan buruk. Banyak waktu terbuang, menyita pikiran, dan sakit hati tiada terkira. Sedangkan memperjuangkan, seorang lelaki tidak akan pernah memalingkan wajah. Kendati, banyak godaan. Karena perjuangan itu, jelas objeknya. Bukan absurd. Itulah mengapa, saat engkau selalu berlari. Maka engkau tanpa sadar, aku telah berbalik arah. Dan menghitamkan segalanya." Tegas Ali Imron,l.
"Sekarang, kau menyelasali sikap sombong mu. Dan itupun tidak mudah mengembalikan segalanya, seperti masa lalu. Kau telah rusak dalam berkomunikasi. Semua itu, bermuara pada hatimu yang kotor. Kau tidak mampu menjaganya dari nafsu angkara. Hingga pikiran mu juga rusak. Akhirnya, perilakumu dalam berinteraksi juga rusak. Karena yang ada difikiranmu hanya selera (materi) belaka." Tegas Ali Imron.
Ali Imron menghela nafas panjang. Kemudian ia mengambil rokok kreteknya, dan menyulutnya dengan korek api yang dirogoh dari kantong celananya. Setelah itu, ia mulai menghardik lagi Syakila
"Begitulah, penyesalan tidak pernah kita temukan dititik awal. Kita menemukannya dikemudian waktu. Saat semuanya terlambat. Aku tidak bisa menyalahkan mu. Kapasitasku bukan itu. Sekarang, semuanya tidak mungkin terulang kembali." Demikian Ali Imron
"Tunggu, bukankah kita masih bisa bicara baik baik." Kata Syakila.
"Semuanya sudah rinci, tidak usah dibahas lagi. Percuma, kau terlalu menuruti hawa nafsumu kala itu. Tidak bisa berkomunikasi dengan baik. Pola Komunikasimu rusak. Pikirianmu saat itu menilai ku dengan sesuatu yang mewah, mata duitan. Lalau kau bilang, itu realistis. Bagi orang mata duitan itu benar. Tapi dari sudut pandang berbeda. Itu tindakan merendahkan harkat martabat manusia. Manusia, sebab manusia diberi kemampuan tidak sama. Maka disitulah kita, dituntut hidup harus berinteraksi tanpa membedakan status sosial. Sembari menebar kasih sayang, berikut saling melengkapi. Berjuang bersama, untuk mendapatkan kelayakan hidup." beber dia
"Dan sekarang, ketika aku sudah boleh dikata mentereng. Kau datang merayuku. Itu rayuan palsu, karena niatmu tidak tulus. Yang kau pikirkan, hanya kata nyaman. Banyak uang untuk menuruti seleramu yang terlalu tinggi. Jadi jelas, kau bukan terbaik bagiku. Dan aku baru sadar hal itu. Padahal sejak dulu, Gusti telah memberikan kesadaran." Demikian Sang Jenderal