"Kenalin gue Ardhana Kavin Abiputra, panggil aja Ardhan." Ardhan mengulurkan tangannya dan disambut dengan baik oleh gadis di depannya.
"Aku Leilani Arsanti Janeeta, temen-temen manggil aku Leila." Leila tersenyum ramah pada laki-laki yang berdiri di depannya.
"Eh-hampir aja lupa, ini punya lo?" Ardhan mengangsurkan sebuah kartu pada Leila.
"Ahhh...makasih banget ya. Aku udah nyari kartu ini dari tadi tapi gak ketemu-temu." Leila tersenyum bahagia setelah menemukan kartu pelajarnya yang hilang dari tadi pagi.
"Iya sama-sama, kalau gitu aku pergi dulu ya." Ardhan tersenyum sekilas kemudian lanjut berjalan menuju kelasnya.
Leila menatap Ardhan yang berjalan menjauh dengan masih menyunggingkan senyum manisnya.
"Cieee..." goda Leah, sahabatnya yang ternyata menguping pembicaraannya dengan Ardhan.
"Apaan sih." Pipi Leila memerah samar kemudian meninggalkan Leah masih menggodanya dengan menaik-naikan alisnya.
"Dia kakak kelas kita kan?" tanya Leah pada Leila yang sudah duduk manis di mejanya.
"Kayaknya sih iya, emang kenapa?" Leila mengendikkan bahunya.
"Dia ganteng ya." Leah bertopang dagu membayangkan wajah laki-laki itu.
"Ck, dasar!" Leila mengeleng-gelengkan kepalanya.
Suara bel yang berbunyi membuat Leah segera duduk di samping Leila. Benar saja, 5 menit kemudian seorang guru masuk dan mulai mengajar.
~•~•~
"Leila."
Seorang laki-laki menyapa Leila yang menunggu jemputannya di di depan gerbang sekolah.
Alis Leila terlihat berkerut mencoba mengingat laki-laki yang berdiri di depannya.
"Ah, Ardhan." Leila tersenyum karena telah berhasil mengenali laki-laki yang menyapanya tadi.
"Lo ngapain disini?" Ardhan mengedarkan pandangannya ke jalanan yang padat akan kendaraan.
"Aku nunggu ayah jemput." Leila menunduk memainkan jari-jarinya yang tertaut.
"Ooh, gue temenin mau gak?" Ardhan menatap Leila dengan senyum ramahnya.
"Gak usah, nanti ngerepotin kamu." Jawab Leila dengan pipi yang merona.
"Gapapa, daripada lo sendirian," jawab Ardhan sedikit khawatir.
"Em, oke deh," jawab Leila, kepalanya mengangguk pelan.
Senyuman tersungging di bibir Ardhan. Matanya memandang wajah cantik Leila dari samping. Rambut sepunggungnya bergoyang pelan ditiup angin.
Sungguh baru pertama kali ia merasakan begitu tertarik pada seorang gadis. Dan mengapa pada gadis ini, entahlah Ardhan juga tak mengerti ada apa dengan hatinya.
"Ardhan, kamu melamun?" tanya Leila bingung sebab perkataannya tak mendapat respon.
"Ah maaf, ada apa?" tanya Ardhan linglung.
"Kubilang duluan ya, tuh ayahku udah jemput," tuturnya lagi.
Ardhan mengangguk pelan. "Iya, hati-hati."
Leila melambaikan tangannya lalu segera duduk di jok motor matic milik ayahnya.
Tatapan Ardhan mengikuti siluet Leila yang perlahan menjauh dan hilang dari pandangannya.
"Dhan, astaga gue tungguin juga daritadi," decak seorang laki-laki, Derrel namanya.
Ardhan berbalik, di depannya berdiri Derrel bersidekap dada dengan muka malas.
"Bentar napa," cibir Ardhan lalu mengikuti Derrel yang sudah melangkah menuju parkiran motor.
"Nih, lo yang bawa." Derrel melempar kunci motornya ke arah Ardhan.
Ardhan dengan sigap menangkapnya, kemudian memutar bola matanya malas. Laki-laki itu berusaha mengeluarkan sepeda motor Derrel, yang berada paling pojok lalu menaikinya.
Ia memakai helm, dihidupkannya sepeda motor itu lalu menghampiri Derrel yang sibuk menggoda gadis dekat parkiran.
Ardhan berdecak, diklaksonnya Derrel yang langsung saja menoleh padanya. Derrel menghampirinya, baru saja ia berniat naik Ardhan langsung melajukan sepeda motornya menjauhi Ardhan.
"WOII, ARDHAAN!" pekik Derrel kesal lalu berlari mengejar Ardhan yang sudah cukup jauh darinya mengabaikan suara tawa yang menggema dari gadis-gadis yang digodanya tadi.
'Rasain.' kekeh Ardhan dalam hati. Ia menghentikan motor dan menatap Derrel yang berlari ngos-ngosan dengan mata melotot tajam.
"Lho ... lo belum naik rel?" tanya Ardhan sok polos, padahal batinnya terbahak puas.
"Bego! Lo sengaja kan?!" Tudingnya marah.
"Aduh gue gak tau kalo lu belum naik. Yok dah pulang," ajak Ardhan dengan wajah tanpa dosanya.
Derrel menggeram marah namun tak ayal tetap menuruti ajakan Ardhan. Ia tak ingin meladeni Ardhan kali ini, tapi lain kali awas saja.
Ardhan lalu melajukan motornya kembali membelah jalanan ibu kota meninggalkan kawasan sekolah mereka.
°~°~°~
"Leila, lo mau gak jadi pacar gue?" tanya Ardhan pada Leila yang duduk santai pada suatu sore di kafe langganan mereka.
Leila terdiam. Matanya memandang Ardhan tak percaya, Ardhan tersenyum sambil menatapnya.
Sungguh ia tak percaya Ardhan akan menembaknya, dengan senyum ceria Leila mengangguk setuju.
"Iya aku mau," cicit Leila malu-malu.
Ardhan bersorak riang dan membuat mereka menjadi pusat perhatian sejenak.
"Ih Ardhan, malu!" pekik Leila lalu menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Ardhan tertawa riang waktu itu berbeda dengan sekarang, Ardhan berdiri di depannya dengan wajah tak percayanya menatap Leila.
Bagaimana tidak, ini pertemuan pertama mereka setelah sebulan tak bertemu karena sibuk menghadapi Ujian Nasional.
Tapi yang membuat Ardhan membeku adalah pernyataannya beberapa menit yang lalu.
"Dhan, a-aku...dijodohkan oleh ayahku," kata Leila 10 menit yang lalu dengan wajah menunduk.
"A-Apa? K-kamu bercanda?" tanya Ardhan setelah jeda yang cukup lama.
"Gak lucu, sumpah!" sambung Ardhan dengan tawa yang terdengar begitu dipaksakan. Namun kebungkaman Leila membuatnya sadar kalau gadis di depannya tak bercanda.
"Aku serius Ardhan." Air mata perlahan mengalir turun dari pipi mulus Leila.
"T-tapi bagaimana bisa? Kita? Bagaimana dengan kita?" tanya Ardhan, tangannya mengepal kuat.
"Ayahku gak merestui hubungan kita Dhan." Leila makin terisak di tempatnya.
"Aku akan berusaha La, beri aku kesempatan. Lagipula kita baru lulus." Ardhan memelas.
"Hiks ... Kalau gitu lamar aku pada ayahku sebelum terlambat Dhan." Leila mengusap air matanya kasar.
Ardhan terdiam. Bagaimana ia akan menjelaskan ini pada orang tuanya? Ia bahkan belum bekerja.
"Aku beri kamu waktu Dhan. Dua hari lagi temui aku di taman dekat rumahku, Hiks-hiks." Leila berlalu pergi masih dengan isakan yang lolos dari mulutnya.
Sedang Ardhan terdiam kaku di tempatnya. Kepalanya sibuk memikirkan cara untuk mendapat jalan keluar.
"Ibu, Ayah," panggil Ardhan lemas lalu mendekati orang tuanya yang duduk di depan tv.
"Ada apa Dhan? Kamu sakit?" tanya Ibunya saat melihat Ardhan yang terlihat pucat.
Ardhan menggeleng. Tangannya berkeringat, terlalu gugup untuk menyampaikan permintaannya.
"Dhan?" panggil Ayahnya bingung.
"Ayah, a-aku ada permintaan," kata Ardhan tergagap.
"Apa sayang?" Kali ini ibunya yang menjawab, senyuman masih tersungging di bibirnya.
"A-aku ingin a-ayah melamar Leila untukku," kata Ardhan sambil memejamkan matanya kuat.
"Apa? Ardhan, kamu masih terlalu muda untuk menikah. Lagipula kamu juga baru lulus kan?" jawab Ayahnya dengan tak percaya.
"T-tapi yah-"
"Kamu belum ada pekerjaan Ardhan, mau makan apa nanti menantu Ayah?" tanyanya yang langsung membuat Ardhan terdiam seribu bahasa.
"Ayah ingin kamu punya pekerjaan tetap dulu baru menikah. Banyak tanggung jawab yang harus diemban nantinya, menikah bukan main-main nak," nasihat Ayahnya.
Ardhan masih terdiam sambil menahan rasa sesak yang tiba-tiba hadir di hatinya. Lihatlah ia tak berdaya sekarang, bagaimana hubungannya dengan Leila ke depannya kalau begini.
"Ibu setuju dengan ayahmu Ardhan, dengarkan nasihat beliau," kata Ibunya menenangkan sambil sesekali mengusap bahu putranya yang perlahan melemah.
Ardhan mengangguk terlalu lemas rasanya untuk menjawab perintah ibunya.
~°~°~
"Jadi Ardhan, gimana?" tanya Leila cemas saat dilihatnya kekasihnya ini menatapnya dengan lirih.
"A-aku gak bisa." Ardhan menggeleng lemah, membuat harapan yang sempat hadir di hati Leila layu seketika.
"J-jadi kita sampai disini saja?" tanya Leila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ardhan di depannya tak kalah hancur, 2 tahun kebersamaan mereka terpaksa berhenti begitu saja.
Mata Ardhan ikut berkaca-kaca, saat dilihatnya Leila menangis terisak-isak sambil meremas kaos di dadanya.
"M-maafkan aku, Leila." Ardhan memeluk tubuh mungil Leila dengan tangan gemetar. Leila memukul dadanya beberapa kali dengan lemah.
Keduanya menangis sambil berpelukan hingga Leila terpaksa melepasnya karena suara hanphonenya.
Diliriknya sebentar dan sebuah pesan masuk yang berisi perintah ayahnya menyuruhnya segera pulang.
Leila menatap Ardhan dengan mata sembab, ia memeluk Ardhan sekali lagi, lalu bangkit dari duduknya.
"Good Bye, Ardhan," kata Leila lirih sambil menahan isakannya yang ingin lolos.
Ardhan tersenyum tipis saat tubuh Leila sudah hilang dari pandangannya.
Sehari setelah pertemuan mereka, sebuah surat undangan pernikahan diberikan ibunya pada Ardhan.
Ardhan membacanya, undangan pernikahan Leila. Laki-laki itu tersenyum miris lalu menenggelamkan wajahnya pada bantal.
Seminggu kemudian hari itu tiba, hari pernikahan Leila dengan laki-laki pilihan orang tuanya.
Ardhan mengurung dirinya di kamar hari itu, kenangan ini tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
Saat dimana cinta pertamanya berakhir, Ardhana Kavin Abiputra dengan Leilani Arsanti Janeeta.
~°~°~