Aku berada dalam ruangan tanpa cahaya. Pupil mataku rasanya melebar sempurna untuk mencari cahaya, tapi apa yang kudapat hanya gelap. Ketika aku ingin berteriak suaraku tenggelam dalam ruangan ini.
"Tolong aku...aku tak mau terus disini," aku berteriak sangat keras sambil memukul dinding yang mengungkungku.
Sekali-sekali memang terlihat makhluk-makhluk terang bercahaya yang membuat mataku menjadi sakit. Aku yang harusnya senang mendapat cahaya malah semakin merapatkan mataku menghindari rasa sakit.
Makhluk-makhluk putih itu sering datang tanpa wajah. Mereka selalu membawa senjata di lipatan tangan atau disembunyikan dalam wadah-wadah yang berbunyi nyaring. Setiap kali mereka datang, mereka suka sekali menusuk-nusuk tubuhku dengan berbagai jenis senjata dan itu menyakitkan.
"Apalagi yang kamu cari, kita sudah meneliti dan melihat bagian yang itu," suara salah satu dari mereka masuk ke telingaku.
"Tapi masih belum ketemu apa yang kita butuhkan, kita harus tahu dari mana asalnya dia, dan apa membuat dia berada di sini," sahut yang lain.
"Aku manusia kalau kau ingin tahu, kau tak harus membuka tubuhku untuk mencari tahu siapa aku. Aku yang harusnya bertanya makhluk apa kalian, membuat mataku tak bisa terbuka karena cahaya kalian menyakitkan."
Teriakanku tak pernah mereka dengar, atau memang mereka tak mau mendengar. Setelah mendengar aku berteriak biasanya mereka akan mendekat dan menyentuh semua bagian tubuhku.
Pernah sekali aku hampir berhasil meraih pintu, tapi aku mendengar suara alarm tiba-tiba keras berbunyi, tit...tit...tit. Alarm sialan, akhirnya aku gagal melarikan diri, karena semua makhluk bercahaya itu mengerubuti ku. Memasang alat pengikat pada seluruh tubuhku.
Mereka memasang alat-alat yang membuatku lemas tak bergerak. Kadang aku jengkel dengan alat-alat modern yang mereka miliki. Alat-alat itu selalu menggagalkan rencanaku untuk melarikan diri....sialan.
Hari ini aku sudah merencanakan pelarian ku dengan matang, aku lelah menjadi tawanan mereka. Enak saja mereka menguasai aku tanpa memberi aku kesempatan untuk menghirup kebebasan hanya karena ingin tahu.
Aku mendengar mereka bicara akan membawaku ke ruang tindakan, mereka akan membuka kepala dan dadaku. Aku heran apa lagi yang mereka cari, padahal aku sangat ingin membebaskan diri.
Ketika makhluk-makhluk itu datang nanti aku akan berteriak dan berontak.
Nah itu mereka, "menjauh dariku...jauhi aku, aku tak ingin ikut kalian," teriakku keras tapi seperti biasanya mereka tak peduli.
Makhluk-makhluk itu semakin mendekat, wajah mereka ditutup menggunakan masker penyaring udara, aku yakin tujuannya hanya satu, mereka ingin menyembunyikan identitasnya dariku. Jadi aku tak bisa melaporkan mereka jika aku bebas suatu saat nanti.
Aku masih ingat bagaimana awal mula aku sampai terkurung disini. Kepala dan dadaku tiba- tiba seperti tersengat listrik ketika aku bicara dengan ayah dan ibu. Beberapa saat kemudian aku dikelilingi makhluk putih yang mengurungku dengan paksa di sini.
Kali ini jumlah mereka lebih banyak dari biasanya. Aku sudah bersiap untuk melawan menggunakan sisa kekuatanku untuk melarikan diri. Aku menggerakkan seluruh tubuhku dan berusaha membawa kakiku berlari menuju pintu ketika mereka masuk.
"Cepat pasang alatnya, kita tidak boleh kehilangan dia sekarang."
"Hitung sampai tiga kejut..."
"Satu, dua, tiga...kejut."
Aku masih berusaha memberontak, "aku tak mau lagi mengikuti kemauan kalian aku sudah lelah kalian jadikan objek penelitian, bebaskan aku sekarang" teriakku kuat-kuat.
"Lihat di layar, dia tidak boleh pergi dari sini," aku mendengar mereka berbicara berusaha untuk menghentikan usahaku melarikan diri.
"Aku tak akan kalah dari kalian kali ini, kita lihat saja nanti," ketika aku hampir meraih pintu, kembali salah satu dari mereka menancapkan jarum pada pergelangan tanganku dan membuatku kembali lemas.
Mereka menggotong tubuhku dan meletakkannya di atas sebuah bed single berwarna hijau. Mengikat kedua tanganku pada pinggiran ranjang. Mereka suka sekali menguasai tubuhku.
Sampai di ruang tindakan mereka mulai menyiapkan alat-alat untuk membelahku. Mereka mulai menghidupkan gergaji listrik di depan mataku. Gergaji itu berputar mengeluarkan suara yang mengerikan. Seperti suara teriakan seorang kanibal yang siap melahap dan menerkam korbannya.
Perlahan tapi pasti gergaji itu menyentuh tengkorak kepalaku, darah mengucur deras dari sana dan aku bisa melihatnya, "hai aku bisa melihat darahku tahu, rasanya sakit...sakit...," teriakku, tapi suaraku tercekat hanya sampai di tenggorokan.
Air mataku mulai mengalir, "hai kalian, lihatlah aku sebentar, lihatlah air mataku mengalir mewakili rasa sakit ku."
Setelah mereka mengergaji, aku melihat mereka mengambil alat yang berbentuk bor, tak lama kemudian aku mendengar suara nging...nging...nging suara mesin berputar menembus batok kepalaku. Entah apa yang mereka cari, apapun itu sepertinya mereka sudah menemukannya dan memasukkannya dalam sebuah toples.
"Cantik sekali bukan, simpan dengan baik," aku lihat salah satu dari mereka mengamati isi toples sambil tersenyum miring dengan tatap mata sadis."
"Sekarang kita bisa langsung buka dadanya."
Aku kembali mendengar suara gergaji berputar, sekali lagi cairan merah mengucur deras di area dadaku. Semua basah karena darah.
"Hentikan...sudah, hentikan semua. Apakah belum cukup buat kalian hai makhluk-makhluk durjana," teriakku lagi. Air mataku kembali memancar deras.
"Aaaaa sakit, tolong aku tuhan," Tuhan pun tak bersahabat denganku.
Baiklah kita lihat sekarang siapa yang akan menang. Aku menggerakkan tubuhku dengan kuat, aku merasa ranjangku bergerak kuat.
Makhluk-makhluk itu blingsatan berusaha menghentikan pemberontakan tubuhku.
"Jangan biarkan dia pergi sekarang, masih belum waktunya, tambahkan cairan agar dia kembali."
Aku tertawa lepas, aku ingin bebas...bebaskan akau sekarang, apa kau pikir kau akan menguasai aku selamanya hah...
Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuhku lebih tenang, lemas. Ah...aku kalah lagi dalam pertarungan ini.
Waktu berjalan lambat. Tapi aku pikir mereka masih baik, masih mau menutup batok kepala dan tulang kerangkaku yang tadi mereka obral abrik. Untuk hari cukup sudah pemberontakanku, aku lelah, aku ingin tidur dulu sebentar. Dalam tidur aku merasa ranjangku dibawa lagi ke dalam penjaraku biasanya.
Diluar ruangan di depan pintu ada lampu merah yang sudah berhenti berkedip menandakan bahwa operasi sudah selesai. Para keluarga pasien yang menunggu di luar segera menghampiri dokter yang keluar untuk mendengarkan penjelasan tentang jalannya operasi.
"Bagaiman kondisi Rinda dok, apakah operasinya sukses?"
"Alhamdulillah kondisinya stabil ibu, hari ini memang kondisinya beberapa kali menurun, beberapa kali pula kita hampir kehilangan Rinda. Tapi semua sudah teratasi."
"Apa yang harus kami lakukan selanjutnya dokter?"
"Untuk kedepanya, kita hanya bisa menunggu, semoga Tuhan memberikan keajaiban."
"Apakah Rinda bisa kembali seperti dulu dokter?"
"Banyak berdoa ya Bu, banyak berdoa. Sebagai tim dokter kami sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk mengembalikan kondisi pasien."
"Terimakasih dokter, terimakasih."
"Sama-sama Ibu, baiklah kalau begitu saya permisi dulu, masih banyak operasi yang harus saya selesaikan."
Beberapa hari kemudian mata Rinda terbuka. Keluarga merasa lega atas perkembangan yang dialami Rinda. Yang keluarga tidak tahu adalah apa yang Rinda rasakan sekarang, betapa dia ingin bebas pergi ke angkasa.
"Mengapa kalian menahanku di sini, aku ingin pergi bebas ke angkasa. Kalian kejam, kalian tahu tidak kalau kalian menyiksaku. Aku bisa melihat kalian sekarang, tapi siapa kalian, aku sama sekali tak mengenali kalian. Mengapa kalian pegang-pegang tanganku. Ayah, ibu dimana kalian, mengapa kalian tinggalkan aku..."
"Lihat yah, Rinda membuka matanya, dia melihat kita yah. Cepat sembuh ya nak...ayah dan ibu merindukan ceriamu nak."
Ayah menitikkan air matanya, " maafkan ayah nak karena ayah kamu mengalami kecelakaan itu. Sudah cukup bagi ayah melihatmu membuka mata, meskipun kau masih belum bisa bicara."
"Ayah..." ibu menggenggam erat tangan ayah dengan harapan semoga Rinda kembali seperti dulu suatu saat nanti.