Namaku calaudia anastaya usiaku 7 tahun, ini kisahku beberapa waktu lalu.
Di malam yang gelap hujan membasahi bumi, petir menggelagar memekakkan telinga.
aku dan ibuku (luna agustina) sedang berada diruang tamu, menunggu kepulangan ayahku.
malam sudah datang sejak tadi, namun ayahku masih belum pulang. aku menatap jendela hujan mengguyur tanah dengab deras, banyak pohon2 yang tumbang karna petir.
tak lama ayahku datang, dia basah kuyup. aku berlari mengambilkan handuk untuknya, lalu memberikannya.
"claudi ke kamar ya sayank! nanti ibu nyusul" ibuku menyuruhku ke kamar, aku hendak menurutinya tapi.....
"kenapa? biarin dia tahu apa yang udah dia perbuat" ucap ayahku membentak pada ibuku
"mas kamu itu apa2an sih? claudi itu gk sengaja, kenapa kamu marah2 gtu?" balas ibuku yang jga mulai marah
"kaalau aja dia gk ngelakuin hal itu, mana mungkin bakal kek gini?"
"ya bukan berarti kamu bisa gtu donk"
pertengkaran demi pertengkaran mulai terjadi antara ayah dan ibuku, aku hanya bisa menangis. ini semua terjadi karena kejadian beberapa hari sebelumnya. saat itu ibu menyuruhku membawakan bekal untuk ayahku di tempat kerjanya, tapi ketika aku sampai dan memberikan makanan untuk ayahku aku malah tak sengaja membuat ayahku dinarahi.
aku menjatuhkan bahan bangunan ketika aku bermain, benar.....yahku adalah seorang kuli bangunan.
karna kejadian hari itu ayahku dipecat, selama beberapa hari ini dia mencari pekerjaan keberbagai tempat namun tak jga ada lowongan.
karna kesal tak mendapat pekerjaan dia pun pergi minum dan berjudi.
ayahku tau bahwa itu salah tapi dia melakukannya untuk melampiaskan amarahnya, setiap malam aku dan ibuku menunggu ayahku.
dulu kalau aku berbuat salah ayahku akan memukulku, bahkan kalaupun bukan aku yang salah pada awalnya. aku sering bertanya pada ibuku "ibu....apa ayah tak pernah menginginkanku? kenapa setiap aku membuat masalah dia aelalu memukulku? padahal ayah tau bukan akulah penyebabnya"
"tidak sayank, ayah melakukan hal itu justru karna dia sangat mencintaimu. kau tau? dulu... saat ayahmu tau bahwa ibu hamil dirimu dia begitu senang" ibu mendekapku dan menangis.
aku tau maksud ibu, sejak awal keluarga kami memang sudah miskin jadi ayahku tak pernah menginginkanku. saat ayahku tau bahwa ibu hamil ayah langsung menyuruh ibu untuk abors, namun ibu menolaknya.
aku mengetahui hal itu saat aku tak sengaja mendengar pertengkaran mereka ketika aku pulang sekolah. namun ketika aku datang, aku datang seolah olah aku tak tau apapun.
di malam yang hujan ini pertengkaran mereka sudah tak terbendung. aku mengenggam erat boneka taddy bear ku lalu berkata " ayah....hiks ibu.... kumohon jangan bertengkar! aku minta maaf atas apa yang terjadi hari itu.....hiks.... aku sungguh tak sengaja....hiks....." aku menangis tersedu2.
"sayank.....ini bukan karena kamu kok, ayah sama ibu cuma lagi ada masalah aja kok. kamu buruan kekanar gih!" ucap ibuku dengan lembut
"itu tuh.... anak yang kamu manja, makanya dia selalu jadi pembuat onar." ucap ayahku lagi
"mas..... udah deh diem!" ucap ibuku menampar ayahku. karna kesal ayahku mendorong ibuku hingga terjatuh ke lantai, aku mendekap kaki ayahku "ayah.... jangan sakitin ibu!"
"pergi kamu!" ayahku menendang tubuhku.
lalu menarik tanganku keluar rumah.
"kamu dihukum tidur diluar karna berani ikut campur" ayahku mengunci pintu dan mengambil kuncinya.
ibuku menangis memohon agar aku diperbolehkan masuk lagi "mas aku mohon mas, kamu jangan surub claudi tidur diluar! sekarang lagi hujan mas, petir jga banyak banget. claudi pasti kedinginan dan ketakutan." ucap ibuku
"ayah....bukain pintunya! claudi takut....ayah" ucapku menangis dari depan pintu.
"mas....kumohon buka pintunya, kamu bisa lakuin apa aja ke aku...... kalo nggak aku aja yang gantiin claudi ya mas. boleh ya mas?" ucap ibuku lagi memohon.
"nggak boleh! jangan harap" ayahku pergi kekamar, mengganti bajunya lalu tidur. sedangkan ibuku setia menungguku dibalik pintu.
"claudi sayank.... maafin ibu ya nak! inj semua salah ibu" ucap ibu menangis tersedu2
"nggk bu, ini bukan salah ibu. ini emg salah claudi. ibu mending kekamar abis itu tidur" ucapku kenenangkan ibuku yang entah kenapa ibuku menangis makin terdengar begitu sengsara.
"nggk nak. ibu temanin kamu!" ucap ibuku setelahnya. aku hanya diam, lalu aku tertidur.
pagi hari menjelma, entah kenapa setelah badai semalam matahari masih enggan muncul. ayahku membuka pintu mau pergi berangkat mencari pekerjaan, lalu dia menemukanku didepan pintu. ibuku berlari menghampiriku lalu dia mendekapku.
"mas badan claudi panas mas. kita anterin kerumah sakit ya!" ucap ibuku merasakan bahwa aku demam tinggi.
"rumah sakit.... kamu pikir kita ada uang?" lalu ayahku pergi
ibuku meninggalkanku dirunah sendirian, lalu dia mencari pinjaman ketetangga tetangga lainnya. namun lingkungan kami adalah lingkungan misikin tak ada yang bisa menolong kami.
ibuku kembali dengan sedih, namun saat ibuku datang sayangnya aku sudah pergi.
ibuku menangis begitu keras membuat para tetangga berdatangan, melihat tubuhku yang sudah begitu dingin.
ibuku tak henti2nya menangis, para tetangga mencoba menanangkan ibuku. namun apalah daya, tak ada ibu yang menderita saat kehilangan anaknya.
para tetangga dan ibuku menyiapkan pemakamanku. ayahku diberitahu bahwa aku telah pergi, dia berlari kerumah sekencang kencangnya.
sesampainya ayahku dirumah, dia tertegun
ibuku hanya diam membisu, para tetangga hanya melihat keheningan yang tercipta.
ayahku menghampiri tubuhku, lalu mendekapku dan mengatakan "caludi.....maafin ayah sayank! harusnya ayah gk begitu.... claudi cuman bercanda kan? caludi gk mungkin ninggalin ayah sama ibu kan?" namun semua itu sia2. aku telah pergi untuk selama2nya.
aku sadar tuhan lebih menyayangiku hingga dia merenggut nyawaku, tapi aku sedih andaikan aku bisa dapat kasih sayank ayahku walaupun hanya sebentar.
TAMAT
Cerita diatas hanya fiktif belaka.