Waktu terus berjalan tanpa ada kata mundur atau berhenti sedikit pun. Langit semula gelap berubah menjadi cerah, dan kembali lagi menuju gelap. Serta musim demi musim, terus berganti mengubah latar suasana setiap tempat yang dilalui.
Selama itu pula, seorang siswa bernama Jeri selalu mengulur waktunya. Sebuah deadline tugas sekolah yang sudah di tetapkan jauh hari mulai semakin dekat. Hari terus berganti, dan hal itu tidak terasa baginya. Sampai pada saat mendekati deadline yang sudah begitu mepet, Jeri baru mulai bergerak untuk menyelesaikan tugas sekolahnya.
Laki-laki itu berpikir bahwa dengan mengerjakan sesuatu yang mendekati deadline, maka pekerjaan yang dibuatnya akan menjadi cepat selesai hingga bisa memanfaatkan tenggang waktu untuk melakukan hal lain. Namun, suatu hari terjadilah sesuatu. Dimana deadline berubah secara sepihak hingga Jeri melewatkan hal satu itu. Sebuah tugas yang menjadi bagian penentu semester yang dijalaninya tersebut, kini telah terlewatkan.
Di koridor sekolah, Jeri berdiri sambil meminum sebotol minuman. Ia tampak merenung di tengah lalu lalang orang-orang. Hanya karena satu hal kecil, membuat dirinya gagal mendapat nilai sempurna dan juga impian yang telah di cita-citanya.
Seorang gadis yang merupakan teman sekelas Jeri datang menghampiri. Dengan tangan menyentuh pundak dari lelaki itu, sang gadis langsung mengajaknya pergi ke suatu tempat.
Gadis bernama Nola tersebut menanyai perihal apa yang di pikirkan oleh Jeri sebelumnya. Karena Nola melihat bahwa Jeri asik diam ditengah keramaian orang-orang yang sedang berlalu lalang. Kemudian laki-laki itu menjelaskan masalahnya. Setelah bercerita, Nola hanya tersenyum dan berkata.
"Ini masalah sepele. Yang mana hanya melewatkan sebuah tugas. Tapi kamu sudah merasa sebegitu hancurnya." kata Nola pada Jeri.
"Aku ingin mendapatkan hasil sempurna."
"Hasil sempurna? Dengan uluran waktu yang telah kamu lakukan?" ujar Nola sedikit heran.
"Apa salahnya? Selagi tetap mengerjakan." ucap Jeri.
"Disitu letak kesalahanmu." balas Nola dengan menyilangkan tangan.
Nola menjelaskan seperti apa yang dimaksud kesempurnaan itu pada Jeri.
"Walau begitu, meskipun kamu tidak mengulur waktu dan mengerjakan semuanya, tetap saja tidak ada yang namanya sempurna."
"Kata siapa?"
"Kamu hanya sekedar melihat angka?" tanya Nola sedikit menekan.
Jeri terdiam dan menunduk.
Kemudian Nola menghampirinya dan lanjut bicara.
"Kamu tahu kan siapa juara satu di kelas kita?"
Jeri mengangguk tanpa berkata.
"Itu aku. Dan aku pun tidak bisa mendapat hasil sempurna. Pasti tetap ada kesalahan. Dan ini bukan berarti aku menyombongkan diri atau apa ya. Hanya saja aku tidak merasa bahwa diriku ini hancur setelah melewatkan atau mendapat hasil yang tidak dinginkan." katanya pada Jeri.
"Jadi jangan hanya karena satu kesalahan membuatmu menjadi terpuruk begini. Aku tahu kamu itu selalu mengerjakan tugas dan bahkan nilaimu juga bagus meski pengerjaannya terdesak begitu."
"Nola..."
Gadis itu langsung menutup mulut Jeri dengan telunjuknya.
"Sstt cukup. Sekarang lakukan yang terbaik untuk berikutnya dan jangan mengulur waktu lagi. Impianmu masih bisa tercapai kok."
Mendengar perkataan dari Nola tersebut, Jeri pun memahaminya dan mengiyakannya.
-----SELESAI------