"Seakan ini adalah suatu permainan takdir."
.
.
Hari itu ....
Aku berdecak kesal begitu keluar dari rumah dengan kantong kresek yang memiliki bau harum di tanganku.
Tentu saja bukan kresek itu yang wangi melainkan isi di dalamnya, saking menggodanya aku bahkan hampir berpikir mencicip sedikit. Tidak apakan?
Tangan ku baru akan mendarat ke sebuah cake cokelat berkrim putih dihiasi keju putih di atasnya, dan jika bukan karena sebuah suara yang familiar. Sudah ku pastikan kalau cokelat empuk dengan keju itu sudah bahagia di dalam perutku.
Mengurungkan niatku dan lebih memilih mencari pemilik suara cempreng itu.
"Gak, mau. Kayra gak mau ikut kakak". Mataku terbelalak melihat adegan penculikan.
Bisa diajuki jempol penculik anak itu, dia begitu berani menculik seorang anak di komplek kami yang terbilang cukup ramai. Terlebih lagi anak yang diculiknya adalah Kayra, anak tetangga sebelah yang memiliki suara cempreng kedua setelahku.
Sadar dengan situasi aku mengedarkan pandanganku mencari seseorang yang bisa diminta tolong namun tidak ada. Pantas saja dia berani menculik anak orang di siang bolong.
Aku mengela nafas, sudah saatnya seorang pahlawan bertindak. Aku melepas sendal swallow yang kupakai dan melemparnya ke arah pria itu.
Dan sempurna, sendal hijau karet itu mendarat mulus dan wajah penculik anak itu.
Dia mengaduh dan mengusap wajahnya, mencoba mengurangi rasa sakit atau bau tak sedap dari sandal itu, yang pasti aku tak mau menghilangkan kesempatan emas. Aku mendekati Kayra, menarik tangan anak itu dan berlari ke arah rumahnya.
"Assalamu'alaikum, tante Tiara," teriakku panik, aku berjinjit untuk melihat apakah dia mengejar kami atau tidak. Dan sialnya pria dengan kaos putih dan celana jins itu mengikuti kami, kulihat dia berlari cepat dan membawa sandalku di tangannya.
"Kak, kok kita lari sih?" tanya Kyara padaku. Aku yang panik hanya terus mengetuk pintu berharap pintu cepat di buka dan kami bisa masuk.
"Bunda gak ada, Kak. Dia ke pasar," ucap gadis kecil itu, masih dengan nada yang santai.
"Lah, kok kamu gak bilang sih, Ra? Terus kamu sama siapa di rumah?" tanyaku bingung, mencoba membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
"Yuk, Ra masuk!" ajakku menarik tangan gadis itu ke dalam dan menguncinya rapat-rapat.
Aku mengintip dari kaca jendela, melihat pria itu masuk ke perkarangan rumah Kyara dan mengedor-ngedor pintu.
"Woi, buka!" serunya.
"Gak."
"Buka gak! Lo itu udah culik anak orang, terus mau maling rumahnya lagi," teriaknya masih dengan gedoran pintu yang tak ramah. Aku tak terima di anggap penculik + maling malah bukannya aku ini seorang pahlawan?
Mungkin aku sudah menjadi bagian dari super hero MARVEL. Bukan anggota preman pasar.
Aku melirik Kyara yang sedang asik menikmati cake yang ku bawa dengan santai. "Ra," tegurku.
Ia mendongak, "Kenapa kak?" tanyanya singkat lalu lanjut menikmati cake itu.
"Telpon bunda mu gih, bilang ada penjahat depan rumah," bujuk ku, harusnya aku membawa ponsel tadi.
"Bentar lagi, Bunda pulang kok kak. Oh ya kak, bukain aja tu pintu kasian kakak ganteng," ucapnya menjilati krim cokelat di jemari kecil lentiknya.
"Ih, bisa-bisa kita jadi korban nanti, Ra. Dia itu jahat."
"Baik kok kak, Ta-," Kyara tak melanjutkan ucapannya karena terpotong oleh suara salam dari seseorang yang ku kenal. "Tante Tiara," ucapku bahagia.
"Wa'alaikumussalam, tan," aku membuka kunci pintu, membukanya dengan pelan dan sedikit mengintip.
"Nes, Tante bisa masuk?" tanyanya dengan tersenyum. Aku melirik ke samping dimana pria itu sedang menatapku sinis.
"Tan, dia..."
"Dia keponakan tante, Nes. Angga," ucap wanita itu lembut dengan senyum di wajahnya yang cantik walau sudah berkepala 3.
Aku langsung membuka pintunya lebar-lebar, tersenyum kikuk ke arahnya. "Maaf," ucapku salting.
Ia tak menyahut, malah masuk lebih dulu ke dalam rumah. Aku yang melihatnya hanya bisa pasrah, salahku karena langsung menyimpulkan sesuatu, itu pun karena aku tidak pernah melihatnya di komplek kami.
"Maafin, Anes tante. Anes kira tadi orang jahat," sesalku. "Gak apa, salah Angga juga gak pernah keluar." Aku yang merasa tak enak berlama-lama pun berniat mengundurkan diri untuk pamit pulang.
Minggu, Agustus 2020
Hari libur terasa membosankan jika sudah terlalu sering. Besok adalah senin dan kami akan masuk lembali seperti biasa setelah libur semester ini.
Aku mengotak-atik ponselku mencari sesuatu untuk menghilangkan bosan.
Jari lentikku pun tertarik untuk membuka sebuah aplikasi game, yang banyak anak muda mainkan apalagi kalau bukan ML.
Sebenarnya aku tidak terlalu tertarik dengan permainan itu, hanya saja karakternya yang banyak dan unik membuatku malah ikut menginstal game itu.
Asik bermain, sebuah panggilan dari no tak di kenal masuk dan mengganggu permainanku. Aku yang merasa kesal lebih memilih menekan tombol merah, dan mengabaikan panggilan itu.
Namun tak lama, karena panggilan itu terus-menerus masuk dan mengganggu permainanku hingga membuatku turut tingkat.
Menyebalkan.
Aku menekan tombol hijau, dan panggilannya tersambung.
"Siapa sih, gangguin aja orang lagi sibuk tau gak?" bentakku tanpa peduli siapa orang di seberang sana.
"Lo Anes cewek aneh yang gak bisa diam waktu itukan?" Alis berkerut mendengar pertanyaannya. Itu suara pria tapi siapa? Gak mungkin Bima, kalau anak itu yang nelpon pasti teriak teriak dan ini enggak.
"Maaf siapa ya?" tanyaku penasaran.
"Angga."
Aku mengatup mulutku yang ternganga lebar, tak percaya. Bahkan kenangan memalukan kemarin belum hilang di benakku kenapa dia harus mengingatkan ku lagi?
"Iya, kenapa?" tanya mencoba membuat suaraku setenang mungkin, walau wajahku sudah memerah saking malunya.
"Lo gak mau minta maaf, buat kemarin?" tanyanya dari seberang sana.
"Kan udah kemarin," belaku, dan itulah kenyataannya. Aku sudah meminta maaf kemarin, tapi dia malah masuk dan tidak menghiraukanku.
"Gak denger. Kalau pun mau minta maaf harus dengan cara yang baik."
Perasaanku mulai tidak enak. "Gue ikhlas kok kemarin." Tidak ada suara, aku menatap ponselku dan panggilannya masih terhubung.
"Temenin gue jalan-jalan, sebagai permintaan maafnya!"
"Heh, enak aja. kemarin kan udah minta ma-"
Tut tut
Aku menatap ponselku dengan kesal karena pria itu memutuskan panggilannya tanpa menunggu ku menyelesaikan kalimat. Padahal aku berniat menolak.
Tok tok tok
"Sayang, kok gak di bukain pintu?" tanya mamaku yang baru saja dari dapur membawa beberapa camilan untuk di santap pagi hari.
"Iya ini juga mau di bukain," jawabku, meletakkan hp ku di atas meja kopi dan melangkah mendekat ke arah pintu.
Aku diam, mendapati Angga sudah ada di depanku begitu aku membuka pintu.
Ia menggunakan Kaos putih di tutup jaket berbahan jins dan celana jins hitam yang sedikit sobek di bagian lututnya. Menambah kesan pada pria tampan di depanku ini.
Tunggu, apa aku baru saja terpesona?
"Udah siap?" tanyanya, mata hitamnya menatapku dari atas ke bawah lalu naik ke atas lagi.
Aku yang hanya memakai kaos kebesaran milik Bima dengan celana pendek yang tertutup kaos menjadi malu. Apa pria di depanku ini tidak tahu malu?
"Siapa, kak?" tanya mamaku yang berjalan mendekat ke arahku karena penasaran.
"Eh, ada nak Angga." Aku mengerutkan alis, bagaimana bisa mamaku mengenal pria itu?
"Mama kenal?" tanyaku yang tak bisa menahan rasa penasaran. Mama ku mengangguk, ia lalu menyuruh untuk menyingkir dari depan pintu agar pria itu bisa masuk.
"Mau ngajak, Anes keluar?" tanya Mamaku. Angga mengangguk membenarkan, Mamaku lalu menatapku menyuruhku untuk lekas berkemas. Aku mencoba menolak tapi mamaku malah menyuruhku untuk naik ke atas, dan lekas mengemasi diri. Aku yang pasrah hanya bisa menganggukkan kepala. Toh, bosan juga di rumah 2 minggu.
Aku memutuskan memakai dress putih di atas lutut dan jaket berbahan jins milik Bima saudara kembarku.
Warnanya senada dengan jaket yang di kenakan Angga, yah biar di bilang couple oleh orang-orang.
Aku mengambil ikat rambut berwarna kuning, dan menuruni tangga sambil mengikat rambut dengan gaya ekor kuda.
Ku lihat dia sedang asik berbincang-bincang dengan mamaku sambil sesekali meminum susu yang sudah pasti itu di buat untukku.
"Udah?" tanyanya yang ternyata mengetahui kehadiranku. Aku hanya mengangguk lalu memakai sepatu, lalu keluar lebih dulu.
"Kita naik apa?" tanyaku saat di sudah ada di sampingku, "Pakai bus lah, mau pakai apa lagi?"
Aku mengembungkan pipiku menatap pria itu kesal, bagaimana ia bisa secuek itu padaku tapi tidak kepada mamaku?
Kami menunggu di halte bus dekat komplek, ia lebih memilih berdiri dan aku duduk. Entah hanya perasaanku saja atau pria itu terlihat sedang melamun.
Aku memandang wajahnya yang ternyata cukup tampan, mungkin bisa di masukan ke daftar gebetan pikirku yang cekikan sendiri.
Suara dering ponsel membuatku menghentikan fantasi liarku, aku cepat merogoh tas kecil yang ku bawa dan mengeluarkan ponselku. Sebuah pesan dari Kyara, aku lekas membuka pesan itu. Aku tak habis pikir setelah membaca pesan dari bocah kecentilan itu, pantas saja pria di depanku ini mengajakku keluar, ia menjadikan ku pelampiasan perasaannya setelah di putuskan pacarnya. Tapi tak apa di hitung wajahnya yang tampan jadi aku tak perhitungan.
Bus yang kami tunggu sudah tiba, aku mendekatinya yang sudah menungguku untuk masuk, aku menarik tangannya yang bebas yang membuat wajah sendu itu terjingkak kaget. Dan aku masa bodoh, yang penting aku tidak boleh mengakui kalau aku adalah seorang pelampiasan. Biar Angga tahu pesona dari Anes Putri Mulan.
Kondisi Bus cukup penuh hingga kami memilih untuk berdiri. Bus terus melaju dan kami hanya diam, dalam keadaan canggung.
Bus berhenti di halte dan beberapa orang keluar, meninggalkan bus namun segera terisi kembali dengan orang orang yang ingin berpergian. Ini hari minggu jadi tidak heran kalau bus dalam keadaan ramai.
Seorang anak berlari masuk ke bus dan menabrakmu hingga membuatku kehilangan keseimbangan jika saja Angga tidak menahan tanganku, sudah kupastikan bahwa aku akan terjatuh dengan menahan malu.
Ia menarik tanganku ke pelukannya, hingga membuat wajahku menabrak dada bidangnya. Harum parfum khas pria menyeruak ke hidungku, wangi harum dan membuat candu, bahkan lebih wangi dari parfum Bima. Aku mendongak berusaha menatap wajah tampannya. Untuk beberapa saat aku terpesona dengan wajah itu, wajah yang dingin dan kaku itu.
Tiba-tiba dia menoleh ke arahku, aku yang merasa malu terciduk memandanginya langsung menunduk. Namun masih bisa ku lihat kalau pria itu sedang tersenyum karena tingkahku.
Ia memanggil namaku, membuatku mendongak untuk kedua kalinya. Menunggu kalimat yang akan ia sampaikan.
"Kayaknya kita gak jadi jalan-jalan deh," aku diam. Apa dia baru saja membatalkan jalan-jalannya secara langsung?
"Kita ngedate aja," tambahnya cepat. Aku yang terkejut tak bisa menahan senyumku lagi. Ia ikut tersenyum dan mengacak-acak rambutku. Percaya atau tidak rasanya ada hal aneh di benakku, jantungku tiba-tiba berdetak dengan cepat.
Bus kembali terhenti di halte, ia menarik tanganku. Menggenggamnya dengan erat, berjalan turun dari bus. Kami memutuskan untuk ke taman hiburan, bermain berbagai macam permainan dan wahana di sana. Kami juga mengunjungi kafe yang menurut kami menarik, memesan menu apa saja yang kami suka. Sungguh hari yang sempurna.
Kami berakhir di taman, duduk di kursi taman menikmati sore hari yang terasa lebih menyenangkan dari biasanya.
"Aku akan memesan eskrim," ucapnya menunjuk tukang es krim yang sedang melayani beberap pembeli.
Aku sadar, seharian bersamanya ternyata dia adalah seorang yang menyenangkan. Angga sosok yang ramah, humoris, juga romantis. Ia sosok yang sempurna untuk di jadikan seseorang yang spesial.
Aku tersenyum dan melambai ke arahnya yang sedang membawa es krim di kedua tanganya. "Nih," ucanya memberikan es krim vanila kepadaku.
Aku mengambilkan dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Kami memakannya dengan lahap, sambil menikmati taman yang ramai. "Punya mu rasa apa, Ga?" tanyaku penasaran karena melihat es krimnya yang memiliki warna yang berbeda dengan ku. "Pisang," ucapnya singkat lalu melanjutkan makannya.
"Enak?" tanyaku penasaran. Ia mengaguk mendekatkan es krimnya kepadaku, menyuruhku untuk mencicipinya sedikit. "Enak, Ga," ucapku jujur, aku baru belum pernah merasakn es krim rasa pisang sebelumnya. Dan benar saja, es krim itu cukup enak. Tapi Vanila lebih enak.
Ia menarik tanganku yang memegang es krim, lalu mendekatkannya ke mulutnya. Jiwa jahilku pun mode on. Aku memajukan tanganku dengan cepat hingga membuat es krim itu berlepotan di wajahnya hingga mengenai hidung mancungnya.
Ia menatap ku dengan mata memincing, lalu kami tertawa menertawakan tingkah kami.
Wajah tampannya yang sedang tertawa return to. Berganti dengan wajah yang serius. Ia menatap ke dalam mataku, lalu tangannya perlahan mendekat. Menarik ikat rambutku, hingga membuat rambutku tergerai berantakan.
"Aku lebih suka, kamu dengan rambut yang terurai," ucapnya dengan senyum lembut yang berhasil membuat jantungku maraton kembali.