Disebuah rumah yang ada di pinggiran Kota Britania tepatnya Di London Island Of Dogs.
Tuts - tuts piano berbunyi merdu disebuah ruang tengah rumah itu, disusul dengan bunyi gerimis yang kian makin deras.
"ah, kenapa harus hujan?" gerutu seorang gadis muda yang mengenakan dress pendek berwarna biru langit.
Hujan telah berhenti, jam menunjukkan pukul 01.00 A.M.
Seorang gadis yang mengenakan dress kesayangannya itu berjalan menuju ruang tengah. Ruang dimana alat musik kesukaannya berada, yaitu piano.
Dia mulai duduk didepan piano itu, lalu menekan tuts - tuts itu dengan pelan dan penuh perasaan. Sehingga menghasilkan suara yang merdu pula, membuat siapapun yang mendengarnya ikut terhanyut.
"Come Here Olivia.... " suara serak mengagetkan gadis yang sedang bermain piano, sehingga dia menghentikan permainannya.
"Siapa?" pekik Olivia. Lalu dia berdiri dari duduknya dan melihat sekeliling yang memiliki penerangan minim.
'Deng... '
Bunyi Piano mengagetkan Olivia, lalu dia menolehkan kepalanya kearah piano kesayangannya yang baru ia beli 3 hari lalu.
Kerutan di dahinya mulai terlihat, pertanda ia bingung dengan apa yang dia lihat sekarang. Dia melihat tuts - tuts piano yang biasanya berwarna putih kini berubah menjadi berwarna merah.
"apa ini? " kata Olivia berjalan mundur.
Darah segar mulai bercucuran dari dalam piano itu.
Rasa takut dirasakan oleh Olivia, kakinya terasa lemas sehingga dia jatuh ke lantai.
Seorang perempuan tiba - tiba datang dengan membawa pisau dan mengenakan dress putih panjang.
"Olivia, temani aku, " Kata perempuan itu berjalan menghampiri Olivia.
"No, No, please," teriak Olivia sambil mengangkat kedua tangannya.
Perempuan itu melemparkan pisaunya kearah Olivia, dan mengenai dada kirinya.
"Aaaakkkhh..... " Teriakan Olivia mengema di ruang tengah.
"Olivia, How are you doing?" Kata Seorang gadis muda berambut pendek yang memakai dress selutut dan baru saja turun melewati tangga.
"I'm playing piano," Jawab gadis yang dipanggil Olivia itu sambil menghentikan permainannya.
"Come Here Olivia," Panggil gadis berambut pendek itu.
Lalu Olivia berjalan menghampiri gadis itu, dan duduk disofa yang berada Didepan televisi.
"Kapan Mommy akan pulang?" tanya gadis berambut pendek itu.
"I don't care, " gumam Olivia.
"What? Olivia , you are why?" Tanya gadis berambut pendek heran dengan tingkah Olivia saudara kembarnya itu.
"I'm okey," jawab Olivia cuek.
"Apa kamu tidak merindukan Mommy?" tanya gadis berambut pendek.
"No, she is die," jawab Olivia sambil mendelikkan mata.
"What? Are you kidding me?" tanya gadis berambut pendek.
"No Alexa, She is die," kata Olivia sambil memegang tangan Alexa.
"Kamu bohong, ken... kenapa tanganmu digin?" tanya Alexa.
"I don't know, tadi aku bermimpi dibunuh tapi ternyata aku ketiduran," jawab Olivia sambil menunjuk tempat dimana dia ketiduran.
'Tok... tok... ceklek.... ' pintu rumah terbuka menampakkan seorang perempuan.
"Kamu siapa?" tanya Alexa menatap orang yang baru saja membuka pintu.
"I'm is your friend," kata perempuan itu.
"no, aku tidak mengenalmu," kata Alexa sambil berjalan mundur.
"Olivia, dia siapa?!! " Tanya Alexa ketakutan.
"She is your friends," kata Olivia.
"No Olivia, aku tidak mengenalnya. Kamu jangan bercanda!!! " kata Alexa terpojok.
Alexa terus berjalan mundur menjauh dari perempuan yang sedang berjalan maju menghampirinya.
"aku tidak bercanda," kata Olivia berjalan mendekati Alexa.
"I'm sorry Alexa, This is my promise," Bisik Olivia.
Olivia menempelkan kukunya yang tiba - tiba panjang dan meruncing keperut Alexa. Lalu dia menancapkan kukunya itu.
"Aaaakkkhh.... Help Me, " Teriak Alexa.
"Good Olivia Good," seorang perempuan yang berdiri di belakang Olivia.
Dan Olivia menarik tangannya, sehingga daging di perutnya berserta usus dan organ lainnya ikut keluar.
"Ol.... Olivia," gumam Alexa.
"She is die," bisik Olivia.
Televisi yang berada di ruang tengah itu hidup tapi tidak ada gambarnya.
"dreet.... ckrak... dreett... dreet... dreet.. krak.. krak.. dreet... The... game.. over. "
"Dreeet.... ckrak... dreet.. dreet.. krak.. krak.. We.. all.. die. "
"Hell I will come with a lot of people."
"This world will be destroyed."
"This world will be blessed."
___ ___ ___
TAMAT