Derita rakyat harus diakhiri. Ayo..., semua segera berlari, menuju alun alun kademangan! Teriak seorang warga memberikan woro-woro kepada rakyat untuk merapat kesana.
Mendapat imbauan itu. Rakjat segera tumpah ruah, berduyun duyun berlarian menuju alun alun. Baik tua - muda, laki - perempuan, penuh kekompakan bersatu padu. Sebagian ada yang bawa seutas daun lontar. Tapi mayoritas, mereka membawa bekal makan - minum.
Sebelumnya, dikabarkan agenda bulanan ini gagal digelar. Penyebabnya beberapa personel inti tidak bisa mementaskan agenda pertunjukkan. Rakyat sudah dikonfirmasi agar menunggu woro-woro berikutnya.
Apakah, pertunjukan jadi diadakan atau tidak. Namun, pertunjukan akhirnya tetap digelar dengan menimbang beberapa alasan. Pertama, semakin menguatnya tekad satu-padu rakjat melawan ke zaliman demang.
Kedua, rakjat kali ini akan diarahkan untuk mengepung lalu melakukan gerakan kudeta terhadap kepemimpinan demang yang sah. Karena kesewenang-wenangan demang bersama perangkatnya sudah diluar batas. Tidak bisa membangun wilayah distrik dengan baik.
Padahal dana untuk membangun infrastuktur kademangan sudah cair, sejak 3 tahun lalu. Kemudian disusul tahun berikutnya dan tahun saat ini.
Namun, dana itu diselewangkan. Tidak dipergunakan untuk membangun kemajuan dan kepentingan rakyat. Uang itu hanya digunakan untuk poya poya, nongkrong di tempat hiburan, tempat perjudian, tempat mantap-mantapan, dan lainnya.
"Ki sanak, ada apa gerangan, banyak warga berduyun - duyun berlarian kesuatu tempat?" Tanya seorang pertapa yang kebetulan melewati tempat ini.
"Mereka ingin menyaksikan pertunjukan tuan," ujar warga itu.
"Emang pertunjukan apa? " Tanya pertapa penasaran.
Warga itu, lalu menjabarkan bahwa saat ini, rakjat mengadakan show of force, melakukan perlawanan kepada Ki Demang, yang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Rakjat sudah muak, ingin menuntut pertanggung jawabannya.
Rakyat akan memaksa demang untuk meletakkan jabatannya. Ia menyatakan selama ini tuntutan rakjat selalu diabaikan, tidak digubris sama sekali.
Padahal rakjat telah memberikan ultimatum, tapi sia sia. Tiada guna, rakjat melalui perwakilannya, sudah melakukan segalanya. Mulai duduk berembuk, melalui surat terbuka. Tapi selalu dicampakkan. Pembangunan infrastruktur kademangan tetap seperti semula. Bantuan dari kerajaan, tidak pernah digunakan sebagaimana mestinya.
Tidak hanya itu, untuk menyadarkan demang. Kami sering kali buat pertunjukan wayang kulit, dengan lakon 'Korupsi dan Penyeleweangan'. Tujuannya, menyampaikan pesan moral, kepada demang agar menjalankan tanggungjawab, memperhatikan rakjat jelata. Rakjat butuh infrastruktur bagus, dan bantuan dari kerajaan bisa tersalurkan dengan baik.
"Lantas, cara apa lagi setelah semuanya gagal? " Tanya pertapa lagi.
"Melalui pertunjukan syair perlawanan,”
“Kami dipimpin, oleh seorang pendekar. Pendekar itu, dijuluki Pendekar Syair Bermasyalah (PSB),” lanjutnya.
"Bermasyalah.... Apanya yang bermasalah? " Pertapa coba menerka.
"Syair perlawanannya, syair syairnya dianggap bermasalah, bagi demang dan perangkatnya." terang warga itu,
Dijelaskan pula, bahwa sudah beberpa bulan, Pendekar Syair Bermasyalah melakukan parade syair perlawanan, dengan membuka mimbar bebas, bagi warga yang ingin menumpahkan kemarahannya, dengan ciptaan syair nya. Hingga momentum perlawanan ini, berjalan sampai sekarang. Dan warga, banyak antusias, membacakan syair perlawanannya.
Maka, sejak saat itulah, sang pendekar, dijuluki Pendekar Syair Bermasyalah, dan sekarang merupakan puncak kemarahannya. Bersama warga akan mengadakan mimbar bebas lagi, dengan menggeber parade syair perlawanan, yang dianggap bermasalah bagi demang.
Selanjutnya, mereka akan bergerak ke rumah dinas demang, melakukan pemberontakan dan menurunkan jabatan demang secara paksa.
"Jadi, parade itu tujuannya untuk menggulingkan demang yang sah? " Kata pertapa.
"Kalau begitu, ayo kisanak kita percepat langkah kita. Aku penasaran, terhadap Pendekar Syair Bermasyalah. Jangan jangan dia orang yang kucari," demikian pertapa, lalu mereka bergegas, menuju arah alun alun. Menyaksikan parade syair perlawanan, oleh warga, dikomandani oleh pendekar syair bermasyalah.