Kesedihan, kemarahan, kebencian, ketakutan, semua rasa itu terbelenggu di dalam jiwa. Rasa yang hadir teramat menyesakan seakan.
Seakan-akan ada sebuah gunung berapi aktif yang siap meletus dan menyemburkan lahar panasmya. Hanya menunggu waktu.
Hanya ada dua pilihan terburuk menghilangkan jiwa atau membebaskan jiwa sendiri. Namun, keduanya adalah sebuah kesalahan yang entah apa hukumanya.
Hati yang rapuh dan mulai hancur ini seakan membelu tiada rasa yang teramat hangat. Rasa duka, rasa iba, rasa sayang, rasa-rasa yang harusnya dirasakan dan di ekspresikan kini hanya terasa semu, hambar, bak kabut tak berarti.
Pikiranya, rencanaya, cita-citanya masih ada. Tapi, hati, jiwanya tak lagi utuh. Sakit, hanya ada rasa sakit, yang memuakan. Setiap waktu yang dilalui hanya berusaha untuk mengekang gunung api yang ingin memuntahkan lahar panahnya yang menandakan seorang iblis akan bangkit. Dia akan melupakan jiwa manusianya, menghancurkan semua tembok kekang dan segel yang dipasang.
Mengamuk, terus mengamuk bak pemangsa yang haus darah dan kepuasan untuk membebaskan hasrat gelap dari kebencian dan kemarahanya.
Iblis yang tersembunyi didalam tempat sunyi dan gelap itu terus meronta untuk keluar , berusaha menghempas dan menghancurkan tembol dan pintu besi yang mengurungnya.
Tidak! Tidak akanmudah untuk terus menahanya, jika ia bebas maka jiwa yang membelenggu iblis itu telah punah dan digantikan oleh iblis beraga manusia.
Bersama pengisi raga baru hatinya pun menjadi beku dan dingin sedingin es abadi yang tak dapat dilelehkan.
Hanya ada satu kata dibenaknya.
Bebaskan! ....
Bebaskan! ...
Bebaskan!....
By Author B joy