JDUARR
JDUARR
JDUARR
suara hujan deras menemani setiap langkah seorang pemuda yang membawa bucket bunga dandelion di tangan kanannya tangan kirinya memegang payung untuk melindunginya dari hujan sesekali pemuda itu mencium aroma bunga dandelion yang ia letakan di depan dadanya tak lama kaki jenjangnya berhenti di depan sebuah makam kecil
"kakak datang"
_________________________
___________________
"HAHAHA" tawa keras seorang gadis kecil bergaun putih tulang dengan rok selutut dan tanpa lengan.
"hey sakit tau" sewot bocah laki laki berbaju biru muda yang berusaha bangkit dari duduknya yang tidak elite.
bocah berbaju biru muda tadi mengejar gadis bergaun putih yang kini sedang berlari sambil meledeknya dengan senyuman menyebalkan mereka berdua kejar kejaran di hamparan bunga dandelion yang indah,serpihan bunga dandelion terbawa angin menerbangkan bunga bunga itu dengan indah kedua bocah itu masih kejar kejaran dengan senang.
"HAHAHA...am..pun..kak" Lea tertawa keras karena tubuhnya di kelitikin oleh jemari kecil Leo "makannya jangan usil lagi" ucap Leo menyudahi acara menggelitik adik kembarnya yang mukanya sudah merah karena tertawa terus menerus.
masih dengan sisa tawanya Lea memeluk Leo dengan erat Lea tidak tahu kenapa Lea merasa seperti akan berpisah dengan kembarannya, Leo membalas pelukan adik kembarnya sekarang kedua bocah itu berpelukan di hamparan bunga dandelion angin menerpa halus keduanya membuat rambut mereka bergoyang goyang kecil mau Lea ataupun Leo tidak ada yang mau melepaskan pelukannya seolah jika mereka melepasnya mereka akan berpisah.
..................
Leo melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Lea yang kini sudah jatuh dari pelupuk matanya "kenapa menangis apa kau terluka?apa kau ingin pulang?" tanya Leo khawatir Lea menggeleng cepat dan kembali memeluk Leo.
Leo yang tidak mengerti tingkah adiknya membawa Lea ketempat rumah pohon mereka berdua duduk di pinggiran rumah pohon menikmati pemandangan matahari terbenam yang sangat indah membiarkan angin dan serpihan bunga dandelion menerpa mereka "indah ya kak" lirih Lea "iya ku harap besok kita masih bisa melihat matahari terbenam bersama" lirih Lea sambil mengeratkan pelukannya "kita akan selalu bersama ok kakak janji" Leo menaikan jemari kelingkingnya Lea menautkan kelingkingnya dengan kelingking Leo "janji" tanya Lea "janji Lea sayang"
pemandangan yang indah senja dan taman bunga dandelion, rumah pohon dan kedua bocah kembar yang sedang berpelukan
mereka bahkan tidak tahu kalau ini akan jadi akhir untuk
mereka berdua
##########
langit sudah mulai gelap dan mendung pertanda akan datangnya hujan Leo dan Lea berjalan untuk pulang kerumah mereka yang cuman beberapa meter dari taman bunga dandelion
"kak kita tidak akan berpisahkan?" tanya Lea sambil menyebrang jalan bersama Leo yang sedang memegang tangannya tiba-tiba
BRUKK PRANG BUK KRAK
Leo dan Lea terlempar jauh hingga mereka kembali ketaman bunga dandelion yang baru saja mereka tempati mobil yang tadi menabrak mereka menabrak pembatas hingga terpental
darah segar mengalir dari tubuh Leo dan Lea baju bersih mereka kini di ganti dengan warna merah darah "ki...ta..kan...su..dah...ber...Jan..ji" lirih Leo terbata bata berusaha bangkit untuk melihat adiknya sayup sayup mereka mendengar suara teriakan kedua orang tuanya lalu semuanya gelap
sungguh tragis kedua bocah berumur 6 tahun kini terhampar di antara bunga bunga dandelion dengan keadaan terluka parah dan mengeluarkan darah segar dan hebatnya kini mereka masih berpegangan tangan dan tersenyum sungguh kejam nasib kedua bocah itu
========================
9 tahun kemudian
Ting
Ting
Ting
suara alat monitor mendengung di ruangan itu perlahan matanya sedikit terbuka berusaha menyesuaikan cahaya agar contras dengan matanya sedikit demi sedikit matanya terbuka dan melihat jelas ruangan serba putih yang beraroma obat obatan khas rumah sakit
kriett
pintu terbuka menampilkan sosok ibu dan ayahnya yang sudah mulai menua melihat anaknya membuka mata sang ibu menghampirinya dengan air mata yang berjatuhan di pipi keriputnya sedangkan sang ayah berlari memanggil dokter
dokter memeriksa keadaan remaja laki laki tadi dan mengatakan bahwa pasien "baik baik saja"
lalu pergi keluar dari ruangan membuat sepasang orang tua itu mengeluarkan cairan bening dari matanya senyuman terpaut di wajah mereka
remaja tadi ingin menjawab tapi mulutnya tidak bisa di gerakan seakan badannya seperti batu
'apa ini kenapa mulutku tidak bisa di gerakkan kanapa aku tidak bisa bergerak,ayah ibu di mana Lea kenapa kalian sudah menua?'
seakan tau apa yang ada dipikiran anaknya sang ibu hanya menunduk dan sang ayah mati Matian menahan air matanya
"maafkan ayah Leo, kau koma selama 9 tahun Lea awalnya selamat tapi 3 hari setelah kecelakaan dia meninggal dunia karena pendarahan hebat di kepalanya" lirih ayah sambil menangis
DEG
tubuh Leo seakan mati rasa dirinya ingin sekali pergi menemui adiknya tapi bicarapun dia tidak bisa air matanya mengalir begitu saja
'ngak..mung..kin...Lea' Leo berusaha untuk bangun tapi dia tidak bisa bergerak 'siapapun tolong bilang ini hanya mimpi' Leo terus berusaha gerak sehingga orang tuanya khawatir dan memanggil dokter kembali
dokter datang dengan cepat dan memberikan obat penenang untuk Leo dan bilang pada kedua orangtuanya bahwa Leo terpukul mentalnya karena kenyataan pahit yang baru saja dia dengar dan juga badannya harus di terapi karena tidak bisa di gerakan karena Leo telah tertidur selama 9 tahun
🐼🐼🐼
3 tahun kemudian
"kakak datang"
Leo merjongkok untuk mencium batu nisan yang basah terkena hujan tangannya terulur untuk mengusap tulisan di nisan tersebut di situ tertulis nama 'Lea Azkara' nama orang yang sangat dia sayang perlahan ia menaruh bucket bunga dandelion tadi ke atas makam tangannya merogoh kantong sakunya dan mengambil sebuah coklat sil*er Qu*en lalu menaruhnya bersama bunga dandelion
air matanya kembali terjatuh "maafkan kakak Lea kakak tidak menepati janji kakak"
tiba tiba
ada dua tangan kecil yang menyentuh pipinya untuk menghapus air mata yang keluar dari pria itu sehingga Leo mendongak ke atas dan melihat gadis kecil bergaun putih di depanya tangan gadis itu menghapus kembali air mata yang jatuh di pipi kembarannya Lea tersenyum manis "jangan menangis kau jelek" ucap Lea yang menunjuk nunjuk wajah Leo, Leo tertawa sumbang menyadari dirinya mulai berhalusinasi tapi jika memang nyata dia ingin sekali memeluknya Leo mencoba menampar wajahnya tapi gadis di depanya tidak menghilang dan justru tertawa ngakak
"kakak" suara cempreng itu sangat di rindukan oleh Leo "SELAMAT HARI KELULUSAN" teriak Lea dan memeluk Leo lagi lagi leo menangis
"kakak selamat hari kelulusan kau sakarang semakin tampan dan tinggi aku jadi iri" ucap Lea sambil mengukur tingginya yang cuman sampai pinggang Leo
"Lea bukanya kamu sudah meninggal?" tanya Leo yang masih belum percaya dengan apa yang dia lihat "iya aku sudah meninggal tapi entah kenapa aku tidak bisa tenang dan seperti melupakan sesuatu" ucap Lea sambil menaruh jari telunjuknya di kepala seolah dia sedang mikirin sesuatu seketika leo teringat sesuatu dan langsung memeluk Lea sehingga payungnya terlepas dan baju kelulusannya basah karena hujan Lea membalas pelukan Leo dan kembali menghapus air mata Leo yang berkamuflase dengan hujan
"maafkan kakak, kakak tidak bisa menepati janji kakak Lea kalau saat itu kajak menjagamu dengan baik pasti kamu ngak akan kayak gini maafin kakak" Lea mengusap usap punggung Leo yang basah "jadi itu yang aku lupain sekarang aku ingat kak" lirih Lea setelah melamun mengingat beberapa jam sebelum mereka kecelakaan "kak, kakak tidak bersalah kita akan tetap bersama walaupun kini kita berbeda alam aku akan selalu di sisi kakak dan bersama kakak terus karena aku ada di dalam hati kakak" ucap Lea sambil tersenyum manis perlahan tubuhnya menerang Leo bahkan harus menutupi matanya karena silau saat Leo membuka mata
DEG
Lea berubah menjadi remaja dengan gaun putihnya yang sama namun beda ukuran "kak tinggi aku sama kayak kakak" ucap Lea sambil tertawa girang melihat dirinya juga besar Leo mengecup kening Lea dan memberikan senyum manisnya bersamaan dengan air mata yang jatuh
"terimakasih kakak" ucap Lea lalu menghilang dan menjadi serpihan dandelion indah namun juga menyedihkan
"terimakasih Lea"
sungguh perpisahan yang singkat namun berharga