Kami terdiam.. Tubuh kami berdekatan, seintim ini..
"Kenapa..?" tanya dia.
Aku ragu menjawab. Tangannya membentang, aku masuk ke dalam dekapannya. Hangat, mengusir sedikit hawa dingin di kamar ini.
Tangannya menangkup wajahku. Pelan dia kikis jarak kami. Menyatukan bibirnya lembut ke bibirku. Ku sambut dengan penuh perasaan.
Tiba-tiba ketakutan menjalari pikiranku. Dan.. Bersamaan kami menjauh.
"Sebentar ya, aku ke kamar mandi dulu.."
Dia bergegas tanpa melihat reaksiku. Aku mendesah lalu duduk di tepi tempat tidur. Pikiranku resah menerawang.
Lamunanku terputus melihat dia menghampiriku lalu duduk di sisiku. Kami terdiam cukup lama dengan pikiran kami masing masing.
"Kau marah?" tanyanya sejurus kemudian.
"Tidak" kataku menoleh padanya.
"Kalau lapar nanti ku carikan makan. Ku kira kau marah."
"Tidak.. Aku takut.." kataku pelan. Ku tatap ujung bajuku dan meremasnya.
"Hei.. akupun takut.. kita tidak akan melakukan itu.. dengarkan aku baik-baik. Jika apa yang setelah kita lakukan itu akan membuahkan cinta dalam rahimmu. Dalam perjalanan pulang kita, aku mati karena suatu sebab. Bagaimana nasibmu? Nasib anak kita? Kau melahirkan tanpa suami. Anakku lahir tanpa aku menyambutnya. Menjadi beban dosa yang kita berdua tanggung selamanya." jelasnya panjang lebar.
"Tidakkah kau akan berpikir kalau ku tolak berarti aku tidak mencintaimu sepenuhnya?" tanyaku cemas.
Dia tersenyum.
"Kau tau? Aku terpaksa menyewa kamar ini karena ku lihat kau kelelahan. Ku kira kau butuh istirahat. Aku bukan ingin berbuat itu."
"Ku kira.. heeeh.. kita hampir saja."
"Tidak.. tidak akan" katanya tegas.
"Syukurlah.." jawabku lega.
"Kita berdua bukan dari keluarga yang benar benar taat, tapi paling tidak jangan berbuat yang menyimpang. Pelan-pelan kita benahi diri. Aku masih ingin menjadikanmu pendamping hidupku. Dan memimpikan kehormatan dapat kita raih bersama saat kita menikah nanti. Itu akan menjadi kenangan terindah untuk kita berdua."
"Trima kasih ya.. kita akan saling jaga.."
Dia tersenyum menentramkanku juga membuatku yakin. Memelukku ringan dan mengusap puncak kepalaku. "Tentu.." bisiknya.
"Lapaar.. " bisikku.
Dia tersenyum. "Kau istirahat saja, aku cari makan dulu, setelahnya kita pulang".
Aku menatapnya dan mengangguk perlahan.
Setelah makan kami bersiap pulang.
Itu akan menjadi wisata terakhir kami sebelum menikah.
Kami pulang dengan tanpa beban dan keyakinan akan satu pilihan.