aku akan menceritakan kisahnya dia adikku yang manis dan pendiam.
aku dan adikku adalah anak yang terbuang, kami diadopsi oleh para tentara dari markas besar, untuk dijadikan senjata yang kuat, kami ditempa setiap hari dilatih agar kebal terhadap semua racun dan dapat mengunakan semua senjata, umur ku dan adik perempuan hanya berselang satu tahun.
dulu adikku begitu periang dan ceria tapi sekarang dia begitu pendiam dan selalu memasang wajah dingin jarang bicara dan tersenyum, sikapnya berbanding terbalik dengan diriku, dan pangkat adikku setara denganku kami berdua di beri julukan si jenius muda karena kami sangat jarang gagal dalam misi.
hari ini kami mendapat libur selama satu bulan penuh entah apa yang akan kami lakukan selama satu bulan, tapi ditengah tengah libur kami markas utama menelfon mereka bilang markas utama diserang pihak musuh, kami langsung bergegas menuju markas utama.
sesampainya disana kami melihat rekan rekan dan senior senior kami mati tergeletak bersimbah darah bersama dengan mayat para prajurit musuh, adikku yang pendiam tiba tiba bertanya kepada ku dengan risau "kakak dimana para atasan dan senior kita yang lain, dan dimana Li", Li adalah sahabat adikku dan satu satunya orang yang dekat dengan adikku selain diriku.
lalu kami mendengar tembakan peluru yang sangat keras, kami berlari mendekati sumber suara dan kami lihat jendral musuh sedang menembak salah satu atasan, dan yang ia tembak adalah atasan yang selama ini baik kepada kami, dengan perasaan marah aku menyerang jendral yang sangat kuat itu bukan dengan pistol tapi dengan pedang yang aku bawa.
aku sibuk bertarung sedangkan adikku hanya duduk lemas tanpa bersuara melihat sahabatnya yaitu Li tergeletak tak bernyawa dan bersimbah darah, aku yang terlalu gegabah hampir mati terkena tebasan pedang besar yang dibawa jenderal musuh, tapi adik perempuan ku menghalangi nya, beberapa saat kemudian adikku mulai kelelahan dan aku bisa melihat banyak luka di tubuhnya aku menyuruh adikku beristirahat sejenak dan buar aku yang melawan jenderal itu.
tapi kami berdua terlalu lemah jika kami menunggu bantuan datang itu terlalu lama, senior juga sudah terluka parah, aku bertarung sendirian sambil menjaga adikku yang sudah tak bertenaga tapi di Ahir pertarungan aku berfikir aku akan kalah dan mati disini bersama adikku tapi tidak , adikku mengambil pedang dan langsung menyerang jendral itu dia terkena tusukan pedang yang menembus dirinya tapi usahanya tak siasia.
adikku berhasil menusuk jantung jendral itu, seketika Jendra itu mati tergeletak, aku menangkap adik perempuan ku yang telah sekarat, aku berkata kepadanya semua akan baik baik saja dan aku minta dia untuk bertahan, tapi nasib berkata lain dia mati dalam pangkuanku tepat saat tim penolong tiba.
jangan lupa like dan komen ya#