Hingga hari ini masih terselip rindu pasien. Wanita gila yang meninggalkanku, ketika sebuah keyakinan sudah datang untuk menghabiskan sisa hidupku bersamanya.
Seperti guntur yang datang tanpa memberi pertanda kilat cahaya wanita gila itu mencampakanku. Mengakhiri semua mimpi dan harapan yang kami susun bersama.
Sejak saat itu, wanita yang mungkin masih kucintai hari ini itu kusebut wanita gila. Wanita tergila yang pernah kutemui, hingga saat ini aku belum menemui wanita yang mampu menggetarkan hatiku, seperti saatku bersamanya. Hanya dia wanita yang bisa mempermainkan perasaanku sesuka hatinya.
Bagaimana aku tidak disebut gila, dia mengakhirinya setelah dia menerima lamaranku dan di saat satu per satu persiapan itu berjalan. Bahkan tanpa menjelaskan apapun.
“Aku hanya ingin mengakhirinya,” ujar wanita gila itu padaku.
Haruskah aku menyebutkan namanya? Rina Safina, itu nama wanita itu. Tentu saja aku masih mengingat namanya, nama orang menanamkan luka yang mungkin kini telah berakar kuat.
Aku yang ingin membencimu selalu gagal, karena merindu lebih kuat. Berkali-kali aku sudah meyakinkan hatiku untuk menerima bahwa aku telah berjalan tanpamu. Tapi kenyataannya itu tidak mudah.
Masih ada terselip harap untuk melanjutkan mimpi yang pernah kita rangkai. Tapi setiap kali aku ingin maju, aku teringat kekejaman hatimu
“Semakin besar usahamu untuk kembali, maka aku akan membencimu sebesar usahamu itu,” semua itu dikatakannya tanpa ada segurat rasa yang tersisa untukku.
Sejak kepergianmu, aku terpuruk dalam jurang kesakitan, tidak bisa tidak ada apapun untuk mempertahankanmu. Berjalan tanpamu hidupku begitu hampa.
Dulu yang begitu mudah kugapai, "be begitu sulit sekeras" apa pun aku ". Aku yang dulu melejit tinggi kembali pada titik terendah, karena sebuah kehilangan.
Berjalan tanpamu, membawa banyak arti yang kehadiranmu selama ini mungkin tidak pernah aku sadari sebelumnya.
Kini aku sadar bahwa ternyata aku telah kehilangan tiang doa yang kokoh, sejak kepergianmu. Doamu yang mengantarkanku setiap hari.
“Rin, entah sampai kapan aku akan berjalan tanpamu dengan rindu yang masih saja menggebu seperti ini.”
Jika kelak kita masuk ke dalam pusaran takdir yang masuk ke kita bertemu lagi, ketahuilah aku sudah melakukan upaya untuk melupakanmu, tapi aku belum bisa melepaskan bayangmu. Hatiku masih saja belum siap untuk menerima penerimaan untuk perpisahan kita.
Aku lelaki lelaki bodoh yang tak mampu berjalan tanpamu, karena lelaki lelaki bodoh yang masih saja merindu, aku lelaki lelaki bodoh yang terus berupaya melupakan ini selalu gagal untuk melepaskanmu.
Jika masih ada rindumu untukku, masih bisakah kita bertemu?
Kau biarkan biarkan lelaki bodoh ini menangis dalam sakitnya Kehilanganmu, tapi tetap bisa berjalan denganmu. Karena berjalan tanpamu, aku tak mampu. **