Pagi hari di sudut kantin sekolah Chenle dan kedua sahabatnya sedang bersenda gurau sambil menyeruput bubble tea di tangan masing-masing. Mereka tertawa terbahak-bahak entah sedang menceritakan apa, hanya mereka bertigalah yang tahu dan tentu Tuhan pun tahu.
Di ruangan yang sama dimeja yang lain sepasang mata terus saja memperhatikan ke tiga laki-laki itu dengan senyuman yang tak lepas dari wajah cantiknya. Mungkin kalian berpikir gadis itu gila, tapi inilah kesukaannya atau mungkin (bisa) dibilang menjadi suatu kebiasaannya setiap pagi.
Jung Hye Min ya begitulah nama yang tertera di nametag tergantung manis di blazer sebelah kanan. Hye Min adalah junior di sekolah itu, sedangkan Chenle adalah Senior yang berada ditingkat akhir, dengan kata lain Chenle berada dikelas duabelas dan Hye Min dikelas sepuluh.
‘Lihatlah. Bukankah dia begitu manis dan menawan’. Suara hati Hye Min dengan menopang dagunya.
‘Oh. Neomu kyeopta, Sunbae’. Ungkapnya lagi.
“Hei. Sedang apa kau disini?”. Seseorang memukul pundaknya. Dan tanpa izin dia bersentak dan_
“YAK!”. Hye Min yang menyadari teriakannya telah menyebabkan polusi suara di pagi yang cerah langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
“YA! Kenapa kau membentakku”. Ucap seorang yeoja –yang mengagetkannya tadi.
“Mian, Ehhm….” Hye Min menenenggelamkan kepalanya ke kiri. “Sunbae. Aku benar-benar tidak sengaja. Jeongmal Mianhae”. Maaf Hye Min karena membentak orang tadi yang ternyata seorang senior. Karena pada lambang sekolahnya itu menunjukkan warna merah –yang menandakan bahwa yeoja itu berada dikelas dua belas –yang sama dengan Chenle–Sunbae idolanya.
“Siapa yang kau lihat? Apa kau memata-matai namchinku?”. Sunbae dengan nama lengkap Park Miryeo itupun menolehkan kepalanya kearah ketiga namja yang di awasi ketat oleh Hye Min.
“Ani”. Hye Min menolehkan kepalanya menatap kearah Namja itu –Chenle.
Hye Min membulatkan matanya dan langsung membuang jauh pandangannya dari sana. Ternyata karena teriakannya tadi, Chenle langsung menoleh ke asal suara dan mulai menatap tetap disana tanpa berpaling sedikitpun. Dengan kata lain, dia juga menyaksikan pertengkaran kecil yang di buat oleh Yeochinnya dengan Hoobae nya itu.
“Hei. Tidak bisakah kau jawab, apa yang sedang kau lakukan disini? Kenapa kau harus besembunyi disini? Bukankah kantin masih kosong? Siapa yang kau mata-matai?”. Hal yang paling menyebalkan adalah menjawab pertanyaan. Apalagi yang berubi-tubi seperti ini. ‘Kau fikir aku penjahat’. Hye Min memanyunkan bibirnya.
“Ani, Miryeo sunbae. Aku hanya sungkan saja masuk kekantin karena rata-rata yang menempati semua bangkunya adalah Sunbaenim. Aku hanya tidak pantas saja”. Hye Min menurunkan sedikit egonya kali ini. dia hanya tidak ingin berakhir sebagai siswi bully-an sunbae-sunbaenya.
“Baguslah kalau kau mengerti. Lain kali, lihatlah keadaan kantin sebelum kau masuk. Pergi sana”. Wony mendorong pelan tubuh mungil itu untuk menjauh dari kantin itu.
‘Dia fikir, kantin ini punya nenek moyangnya apa? huh. Dasar, sunbae galak. Tapi aku heran kenapa Chenle sunbae bisa menjalin hubungan dengannya’. Hye Min mendumel. Dan yang lebih parah, dia sama sekali tidak mengindahkan perintah sunbaenya tadi.
“Hei. Kau mengejekku? Kenapa bibirmu itu komat kamit tak tentu? Aku bilang pergi sana”. Wony mulai jengkel dengan yeoja ini. ‘Aish. Dia tuli atau apa’. fikir Wony.
“YA!”. Teriakan Wony barusan berhasil menyadarkan Hye Min dari komat kamit tak jelasnya.
“Hei. Ada apa ini?”.
DEG
‘Suara itu?’. Hye Min menoleh keasal suara itu. ‘Sunbae?’.
“Ani. Lihat hoobae ini. tidak tahu diri sekali. Kau lihatkan kalau dia sama sekali tidak menghormatiku. Aku kesal sekali”.
“Mian sunbaenim. Aku sama sekali tidak sengaja. Kalau begitu aku permisi”. Hye Min membungkukkan tubuhnya kemudian beranjak menjauh.
Ada yang dilupakan disini. Hye Min –Hoobae dari Chenle adalah cinta monyetnya pada saat di bangku sekolah dasar. Bukannya lupa atau tidak ingat. Hanya saja Chenle tidak mengenalnya. Dan juga Hye Min tidak tahu Chenle adalah Sunbaenya disekolah dasar, tapi Hye Min lebih menyukainya sekarang ini daripada saat mereka disekolah dasar. Dengan kata lain –Chenle berbeda.
-^-^-
Siang ini hujan turun dengan deras.Ini sudah hampir sebulan, sejak penerimaan siswa-siswi baru disekolah ini, dan baru hari ini hujan mengguyur sederas ini.
“Biasanya juga gerimis. Tapi kenapa kali ini deras sekali? Bagaimana aku bisa pulang?”. Hye Min meletakkan telapak tangan putihnya di tengah rintikan hujan yang menetes dari genting sekolah.
“Eotteokkae? Eomma? Appa?”. Hanya itu yang bisa diucapkan Hye Min saat ini bahkan sejak dulu.
“Tidak bisa pulang? Atau takut hujan?”. Suara berat seorang namja mengangetkan Hye Min yang sedang menikmati indahnya suara hujan dan dinginnya telapak tangannya kali ini.
“Eoh?”. Hye Min menoleh. “Sunbae? Sedang apa disini?”. Dengan kata lain, hanya itu yang bisa Hye Min ucapkan karena jantungnya berdetak tak karuan. ‘Mungkinkah?’. Fikirnya Hye Min tersenyum dalam hayalnya.
“Hm. Bukankah hujannya deras sekali? Bagaimana kau bisa pulang dengan keadaan seperti ini? kalau kau takut hujan, kenapa kau memainkan air hujan itu?”.
“Hm? Takut hujan? Siapa yang bilang kalau aku takut dengan hujan?”.Hye Min menggelengkan kepalanya menatap Chenle sambil menaikan alisnya bingung.
“Lantas, kenapa kau tidak menerobosnya saja kalau kau tidak takut hujan?”. Ucap Chenle tanpa menoleh sedikitpun pada Hye Min.
“Bukan begitu. Aku sama sekali tidak takut hujan. Tapi aku takut suara yang ditimbulkan saat hujan”. Hye Min menunduk memainkan sepatunya kedepan dan kebelakang.
Chenle menundukan kepalanya. Ia melihat tingkah aneh gadis ini. sepertinya dia pernah melihatnya. Tapi kapan dan dimana? Dia juga tidak jelas mengingat itu.
“Sunbae, sepertinya aku harus menerobos hujan ini. aku tidak ingin sampai rumah dalam keadaan hari yang gelap. Aku phobia kegelapan. Anniyeong sunbae?”.
‘Petir? Gesekan sepatu? Gelap’. Semua kata itu terniang dikepala Kai. ‘Siapa gadis itu’. Fikirnya.
-^-^-
Kali ini Hye Min harus rela mengantungi banyak tissue di kantung blazernya. Dia terserang flu sudah tiga hari ini akibat menerobos hujan kemarin.
“Aish, kalau aku tahu aku bakalan sakit seperti ini, aku tidak akan nekad waktu itu. Hacim”. Hye Min menggosok hidungnya dengan tissue yang di genggamnya.
Hye Min berjalan keperpustakaan untuk meminjam sebuah novel ‘Love Story’ untuk mengisi kelas kosong siang ini.
Sembari berajalan menyusuri setiap rak buku, Hye Min melihat sepasang kaki terjulur di sudut ruangan.
‘Kaki siapa itu? Hantu kah?’. Dasar polos. Mana ada hantu disiang bolong.
Hye Min mendekat untuk memastikan itu dan_
“Sunbae?”. Hye Min mengerjapkan matanya berkali kali kemudian jongkok dekat dengan raga yang ruhnya entah terbang kealam mimpi mana.
“Sunbae, kau tahu, kau begitu tampan sekarang. Aku fikir kau akan tetap seperti dulu. Ya, walaupun kulitmu yang hitam itu tidak pudar sedikitpun, setidaknya kau terlihat lebih seksi sekarang”. Hye Min tersenyum. Dia mengamati setiap inchi wajah Chenle. ‘Bukankah sangat berbeda’. Fikirnya.
“Andai saja kau setampan ini sejak dulu, mungkin aku sudah menyukaimu sejak dulu”. Tiba-tiba mata yang terpejam rapat itu kini membuka cepat.
“Eoh? Sunbae?”. Hye Min membelalakkan matanya. ‘Mati aku kali ini. ya Tuhan, cabut nyawaku sekarang’. Hye Min memukul-mukul kepalanya pelan. Meruntuki kebodohnya.
“Aku mendengarmu, Jung Hye Min.
“Eoh? Cheosonghamnida sunbaenim. Aku benar-benar tidak bermaksud apapun”. Hye Min menangkup kedua tangannya di dada.
Berharap kata ‘kumaafkan’ keluar dari mulut Chenle.
“Apa maksudmu? Dengan sejak dulu?”. Chenle menaikan alisnya heran.
‘Dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu’. Fikir Hye Min
“Ani... Animnida, sunbaenim. Annenyeong”. Dengan secepat kilat tangan mungil itu tertahan oleh lengan besar Chenle.
“Jelaskan sebelum kau pergi atau_”. Chenle mendekatkan wajahnya pada Hye Min.
“Eoh? Sunbae? Waegeurae?”. Hye Min mengerjapkan matanya berulang kali.
“Jelaskan atau kau ku_”. Karena tindakan horror Chenle, Hye Min menyerah.
“Baiklah. Sunbae. Maksudnya, sunbae lebih terlihat keren di sekolah menengah daripada di sekolah dasar. Aku tidak bermaksud apapun. Aku bersumpah”. Hye Min mengacungkan kedua jarinya yang membentuk ‘V’.
“Maksudmu?”. Chenle lebih heran. ‘Apa maksud yeoja ini”. Fikirnya.
“Maksudku, Sunbae itu pernah menjadi sunbaeku saat di sekolah dasar. Apa sunbae tidak ingat padaku? Aku saja mengingat sunbae. Sunbae lupa kejadian waktu itu?”.
“Kejadian apa?”. Chenle mencoba mengigat.
Flashback On
“Wah hujannya deras sekali. Kenapa aku tidak bawa payung tadi. Dasar pabo”. Yeoja kecil –Hye Min sedang berdiri didepan sekolahnya sambil memainkan rintikan hujan dengan tangannya dan sesekali kakinya menghentak pelan genangan air hujan itu atau menendangnya pelan. Kebiasaan yang sulit dirubah.
“Kenapa kau tidak membawa payung. Bukankah sudah diramalkan bahwa hari ini akan hujan?”. Suara imut seorang namja menghentikan aktifitas Hye Min dengan hujannya.
“Iya. Tapi aku tidak begitu percaya dengan ramalan cuaca. Bisa sajakan ramalan meleset. Lagi pula aku suka hujan”. Hye Min kembali mengulurkan tangannya menerima rintikan hujan itu.
“Jinjja? Aku juga suka hujan jika kau menyukainya”. Namja kecil itu memandang Hye Min intens. ‘Bukankah dia yeoja yang sangat manis’. Fikirnya.
“Apa kau juga menyukai suara yang di timbulkan saat hujan? Aku membenci itu. Itu membuatku takut”. Hye Min menarik tangannya dari rintikan hujan itu kemudian berbalik menatap Chenle kecil.
“Sunbae kenapa kita tidak menerobos hujan ini saja? kau bawa payung kan? Aku bisa menumpang sampai halte. Eotte?”. Hye Min tersenyum manis. Dan itulah salah satu alasan kenapa Chenle begitu menyukai yeoja lucu ini.
“Baiklah. Kajja”. Chenle mengembangkan payung yang di pegangnya sejak tadi, kemudian menarik tubuh mungil Hye Min mendekat padanya. ‘Aku harap waktu berhenti saat ini’. ungkap Chenle sambil menggenggam kecil jemari mungil Hye Min. merekapun melewati hujan bersama.
“Sunbae?”. Panggil Hye Min saat mereka berada di dalam satu bus dan duduk di bangku bersebelahan.
“Hm?”.
“Apa yang paling kau takuti?”.
“Tidak banyak. Tapi ada satu hal yang paling aku takuti, yaitu_”. Chenle menggantung kalimatnya.
“Apa itu?”. Tanya Hye Min penasaran saking penasarannya Hye Min sampai menelengkan kepalanya menatap Chenle.
“Aku sangat takut jika aku harus menyakiti dan kehilangan orang yang aku sayang”. ‘Termasuk kau’. Chenle menatap dalam Hye Minkemudian tersenyum.
“Kalau kau apa yang paling kau takuti?”. Chenle kembali bertanya.
“Kalau aku sangat takut pada kegelapan. Karena kegelapanlah aku kehilangan benda kesayanganku” Hye Min menunduk.
“Benda kesayanganmu? Apa itu?”. Tanya Chenle bingung.
“Kalungku. Aku kehilangan kalung itu saat aku terkunci di gudang sekolah. Saat itu hujan deras dengan petir menyambar yang menimbulkan suara dentuman yang memacu jantung lebih cepat dari biasanya. Tidak hanya itu, lampunya pun tiba-tiba padam. Ah, aku tidak bisa membayangkan hal itu dan aku mencoba keluar dari jendela dan akhirnya aku kehilangan kalungku. Aku tidak tahu kalung itu jatuh dimana”.
“Lalu?”. Tanya Chenle heran.
“Ya sejak saat itu, aku membenci ketiga hal itu”.
Flashback Off
“Benda ini?”. Chenle mengeluarkan kalung dari saku blazernya.
Hye Min membelalakan matanya. “MWO? Itu kan?”.
“Ini kalungmu? Kau?”. Chenle tidak bisa menghilangkan kekagetannya. ‘Mungkinkah gadis ini adalah…’.
“Itu milikku. Bagaimana sunbae menemukannya?”.Yoo Mi mengambil kalung itu dari tangan Chenle.
“Would you be my girlfriend, Hye Min-ah?”.
Hye Min membelalakan matanya tak menyangka. ‘Apa aku tidak salah dengar? Bukankah dia sudah memiliki Yeochin?’.
“Would you be my girlfriend?”. Ulang Chenle
“Ne? ah, bukankah sunbae sudah…”.
“Punya pacar? Wony bukan pacarku, dia hanya mantan pacar. Aku sudah putus dengannya seminggu lalu”. Ucap Chenle jujur, tanpa motif apapun.
‘Benarkah?’. Pekik Hye Min dalam hati. “Tapi kenapa Sunbae mengatakan hal ini padaku? Sunbae saja tidak mengenalku, bagaimana bisa sunbae menyukaiku?”. Hye Min menaikan alisnya menunggu jawaban.
“Karena kau adalah cinta monyet sekaligus cinta pertamaku”. Chenle terlihat serius kali ini. ‘Maksudnya’. Hye Min masih bingung dengan ucapan Kai.
“Maksudnya, aku menyukaimu saat di bangku sekolah dasar dan bisa di bilang..”. Chenle mendekatkan wajahnya dengan Hye Min.
“Sampai sekarang”. Chenle menangkup wajah Hye Min yang membuat kedua pipinya terlihat chubby.
“Sunbae?”. Ucap Hye Min dengan keadaan pipi sedikit menggembung.
“Would you be my girlfriend?”. Chenle menatap manic mata Hye Min seakan menuntut jawaban.
“Ne. aku mau”. Chenle melepaskan tangkupan tangannya dari pipi Hye Min kemudian tersenyum senang.
‘Bukankah cinta pertama itu sangat indah’. Ucap Chenle dalam hati.
‘Aku sempat berfikir akan menjadi fansnya selamanya tapi ternyata tidak’. Ucap Hye Min dalam hati.
Mereka berdua saling tatap sebelum akhirnya Chenle mencium kening Hye Min
“Saranghae, nan Cheosarang”.
“Nado saranghea Sunbae”.
_SELESAI_
Maafkan penulisannya kurang rapi serta EYD yang sangat kacau semoga menghibur jangan lupa vomen yah tunggu cerita selanjutnya
Jangan lupa follow