"jadi kamu mau nggak jadi pacar aku?"
gelengan pelan dan tenang itu membuat sang pengaku tersenyum masam. malu? lebih dari itu, sakit hatinya seperti tidak bisa di gambarkan. gadis yang menarik perhatiannya sejak awal semester satu kelas sebelas itu memang cukup susah di dekati.
"kalo boleh tau kenapa Kal?"
Kalana Ameera, gadis itu menatap lawan bicaranya. siap meluncurkan kalimat mematikan andalannya untuk menolak rasa tertarik lawan jenis padanya.
"gue nggak suka!" Ucap Kalana simple.
kakinya melangkah pergi meninggalkan kerumunan. berjalan tenang keluar dari gerbang tanpa memperdulikan bisikan bisikan para murid SMA Bina Mulia.
terlepas dari kejadi seminggu yang lalu. Kalana menjalankan hari-harinya seperti biasa.
"Hai" Kalana mendongkak matanya menatap tanya pemuda dihadapannya itu.
"Kalana kan? kenalin gue Kalandra" Kalana masih diam. tidak ada reaksi berlebih seperti yang di harapkan Kala.
Kalana mengangguk mengiyakan. tangannya kembali sibuk menari di atas laptop.
"lagi apasih sampe gue di cuekin" Kalana tidak menjawab. Cara Kalandra terlalu biasa untuk basa basi dan Kalana terlalu terbiasa menghadapi.
"gue boleh kenalan sama lo kan? kenal lebih jauh" Kalana menoleh kepada pemuda yang kini duduk di sampingnya. dengan santai Kalana menopang dagu, tatapannya menilai ringan.
"buat?" Kalandra tersenyum mendengar suara gadis itu.
"Gue" Kalandra menjeda. menyusuri setiap lekukan wajah cantik gadis itu. "Tertarik sama lo"
Kalana mengangguk tenang, seolah sudah memperkirakan maksud Kalandra.
"oke Kalandra. salam kenal panggil gue Lana" Kalandra membulatkan matanya sejenak agak terkejut dengan sikap menerima gadis itu.
sesaat kemudian bibirnya melengkung membentuk senyuman.
singkat cerita keduanya menjadi dekat, dua bulan sejak perkenalan itu. Kalandra dan Kalana bahkan menjadi pasangan favorit seluruh murid. diam-diam para cowok yang pernah di tolak oleh Kalana kecewa tapi tak menyangkal kalau Kalandra memang sepadan untuk gadis itu.
Kalana tengah duduk sendirian di kantin. tangannya satu sibuk mengetik cepat. satu tangannya lagi memegang roti coklat yang menjadi sarapannya.
kegiatan porseni membuat banyak waktu luang untuk Kalana yang tidak memiliki kesibukan. Kalandra menghampiri gadis itu. tangannya meraih jus Stroberi milik Kalana di botol khususnya.
"Lan bisa ikut gue ke lapangan nggak? temenin gue tanding basket" Kalana mengangguk tanpa berucap. menutup laptop dan memeluknya. keduanya berjalan beriringan ke lapangan.
sorakan ramai menyambut keduanya. Kalandra dengan senyum tampannya, Kalana dengan wajah tenangnya.
satu jam berlalu, Kalandra menghampiri Kalana di samping lapangan. gadis itu duduk dengan menatap pergerakan Kalandra. seolah tau apa yang Kalandra lakukan. Kalana menatapnya lebih intens, terlebih saat pemuda itu berlutut dihadapnnya yang tengah dalam posisi duduk.
"Lana" Kalana menunggu sambil menopang dagu. menyambut perlakuan manis pemuda itu.
sangat terlihat kalau kalau Kalandra gugup. tangannya meraih pergelangan tangan Kalana, Kalana pun tidak menolak, masih menunggu.
"lo mau nggak jadi pacar gue" Kalana diam, matanya menatap pemuda itu. seluruh perhatian murid tersita pada pasangan itu. KalaCouple kata mereka.
Kalana tersenyum. tersenyum manis membuat Kalandra sedikit terpesona.
"gue dapet apa?" tanya Kalana. Nada suaranya terdengar riang tapi agak aneh
mendadak situasinya jadi terlihat asing. Kalana tidak pernah bersikap aktif seperti ini, menunjukkan senyumnya saja, Kalana memang ramah tapi menunjukkan senyum selebar ini sangat jarang. senyum khas Kalana itu, sebata menarik kedua sudut bibirnya sehingga membentuk lengkungan dan kedua mata yang menyorot ramah
"maksudnya Lan?" kini Kalandra menyahuti kebingungan semuanya.
"kalo gue terima elo. gue dapat apa dari taruhan kalian?" tanya Kalana. Sikapnya kembali tenang.
semuanya saling lirik dan berbisik. Kalana menatap Kalandra dengan tatapan menantang namun tetap terlihat seperti sikapnya.
Kalana melarikan matanya menatap keempat teman Kalandra yang berdiri canggung di sudut lapangan, tak jauh dari posisi mereka. Kalana tersenyum untuk mereka.
Kalandra terdiam, mencerna semuanya. Tidak menyangkal. Matanya menatap Kalana yang juga menatapnya. gosip itu itu benar-benar fakta.
Kalandra pikir dia sudah mendapatkan Kalana. sudah bisa menggapai gadis itu. nyatanya, Kalana Ameera tetap Kalana Ameera. gadis introvert penuh rahasia. sikapnya tertutup dan tenang. interaksinya dengan orang lain sangat terjaga. alih-alih menjauhi Kalana yang terlihat ansos, para murid segan untuk berinteraksi lebih dengan gadis itu.
sikapnya sempurna. Kebaikannya, cara bersikapnya, penampilannya dan masih banyak lagi. Kalana ramah walau tak memiliki teman dekat layaknya sahabat. gadis itu memiliki semua perkumpulan, tidak berusaha mencari muka tetapi sikapnya yang anggun dan terlihat seperti gadis yang keluar dari negeri dongeng. baik, ramah, cantik, peduli dan masih banyak lagi. suka mendengarkan curhatan orang lain tanpa berkomentar membuat siapapun nyaman dengannya. alasan kenapa mereka segan, karena Kalana Ameera memang se perfect itu.
"Gue dapet apa?"
Kalandra mengepalkan tangannya. tiba-tiba saja merasa kecewa, matanya menyorot Kalana dengan dingin dan tajam. situasinya makin tegang dan tajam.
"elo tau?" bisiknya lirih, matanya berubah sayu dan terlihat bersalah.
"its okey, gue bisa nerima elo kalo gue dapet bagian seandainya elo menang dari taruhan kalian" Kalana tersenyum ringan. seperti biasa.
"tapi kayaknya elo terlalu kecewa gue tau" nada suara Kalana terdengar bersalah. tapi Kalandra mengartikan itu sebagai ejekan.
Kalandra hendak membalas. tapi dering ponsel gadis membuat perhatian keduanya beralih.
Kalandra bisa melihat kontak "Dokter Gee". tanpa pikir panjang Kalana menerima panggilan seraya meninggalkan Kalandra dan kerumunan.
flashback on
"Kal lo tau Kalana sicantik dari Ipa itu ya?" Adit memulai obrolan
"kemarin gue liat dia nolak cowok lagi anjir" Seto ikut menimbrung
"kali ini siapa lagi?" Kalandra mulai merespon
"si Kapten futsal, Fazra" Aldo menyahuti
"mau taruhan?" kini keempatnya menatap kepada satu orang. Grian.
keempatnya tau, Grian pernah menjadi salah satu dari mereka.
"gue aja yang maju. kalo gue menang, hadiahnya masih gue pikirin" ucap Kalandra semuanya tergelak.
tanpa menyadari ada seorang gadis yang tengah menutup mata yang bersandar di tenang di balik tembok samping mereka berkumpul.
flashback off
seminggu berlalu, kehidupan Kalana di sekolah kembali seperti sedia kala. Dimana saat belum pernah dekat dengan Kalandra.
Kalana memasuki gedung olahraga yang nampak sepi. kakinya melangkah kearah tempat duduk penonton, lengannnya memeluk laptop dan membawa sekantung kresek putih berisi makanannya.
tangannya mulai sibuk mengetik cepat diatas keyboardnya. terlalu fokus sampai tak sadar seluruh murid kelas sebelas Ips 2 baru saja memasuki gadung itu. kelas dimana Kalandra bertempat dengan keempat kawannya.
"itu Kalana" bisikan itu menarik perhatian Kala dan kawan-kawan. angel yang bagus, Kalana duduk menyerong dengan memangku laptopnya. tangan menopang dagu di satu tempat duduk diatasnya yang memang tempat duduk penonton itu seperti menyerupai tangga. tatapannya serius dengan kacamata yang bertengger cantik di hidung mancungnya. lebih dari itu, yang makin membuat para lelaki kelas itu terpesona adalah rambutnya yang terikat asal dengan anak rambut berjatuhan. tampak seperti gadis gambaran dunia novel.
Kalandra berdehem kesal menatap datar seluruh teman kelasnya. semuanya langsung berpura-pura tak melihat, takut Kalandra kelepasan dan mereka menjadi korban.
Grian terkekeh melihat itu, sepertinya Kalandra mulai menyukai Kalana, si ratunya sekolah.
"cantik banget anjir. gue nggak bohong" Ucap Seto diangguki setuju oleh Adit dan Aldo.
"Kal sorry kalo taruhan itu bikin lo jauh sama Kalana" ucap Grian membuat keempatnya menoleh.
"elo suka sama Kalana Kal. keliatan kok" ucap Grian kalem.
Kalandra menghela napas pelan. sebelum memutuskan menghampiri gadis itu yang sepertinya masih tidak sadar dengan kehadiran orang lain di gedung itu. matanya menyipit sejenak, pantas saja. gadis itu memakai sesuatu di telinganya. Kalandra mendengus kecil tapi tak urung terkekeh.
Kalana sedikit tersentak saat seseorang menarik ikat rambutnya sampai rambutnya itu tergerai.
Kalana melepas headset di telinganya. menatap Kalandra dengan bingung. tatapannya beralih mendengar keributan kecil.
"kamu sengaja kesini?" Kalana diam sejenak. kamu?
"iya, lagi nulis sesuatu" balas Kalana ramah seperti biasa.
Kalandra cukup takjub atau memang sangat menganggumi sikap pertahanan gadis ini. Atau mungkin karena memang kedekatan mereka beberapa waktu lalu bukanlah hal berarti jadi Kalana menganggap semuanya hanyalah lelucon.
"maaf" Kalandra menunduk, merasa tak mampu menatap gadis itu lebih lama.
"Why?" tanya Kalana tenang.
"soal taruhan" balas Kalandra. gadis itu mengangguk ringan sambil menutup laptop dan memasukan sampah bungkus makanannya ke kantung kresek.
"Kalandra. Aku gak menghakimi, setiap manusia punya kesalahan. tapi kamu nggak akan tau seberapa sakit dibohongi terlebih di perlakukan seperti barang" Kalandra mendongkak. untuk pertama kali mendengar kekecewaan gadis itu walau tersampaikan dengan sikap tenang dan santai nya, khas seorang Kalana.
"terima kasih memberikan waktumu untukku beberapa waktu lalu"
Kalandra hendak berucap sebelum panggilan telepon Kalana mengusik. merasa dejavu. panggilan dengan kontak yang sama, 'Dokter Gee'. Makin membuat Kalandra penasaran apa yang di sembunyikan gadis itu
Kalana berlalu dari hadapan Kalandra dengan terburu-buru masih dengan ponsel yang menempel di telinga. raut wajahnya terlihat cemas. membuatnya cukup menarik perhatian anak kelas Kalandra bahkan guru olahraga mereka pun ikut penasaran.
setelah pertemuan singkat di gedung olahraga. Kalana tidak pernah masuk sekolah, sudah seminggu berlalu. Kalandra masih setia datang ke ke kelas Kalana, bertanya pada teman-temannya yang juga ikut penasaran kemana gadis cantik itu.
"Katanya Kalana udah pindah sekolah" Kalandra terhenti diikuti keempat kawannya itu.
"bentar Gin" Grian mencegah kedua gadis yang tengah berbincang itu, salah satunya merupakan kenalan Grian.
"maksudnya Kalana pindah, bener?" kedua gadis itu mengangguk.
"iya. tadi wali kelas ngeluarin namanya dari absen. pas kita nanya, katanya Kalana udah resmi pindah hari ini" jawab Gina tanpa di minta menjelaskan panjang.
"kemana?" Kalandra maju bertanya. kedua gadis itu nampak salah tingkah sebelum berdehem menjawab.
"Katanya dia pindah ke Korea ikut Bokapnya" Ucap Gadis satunya, samping Gina.
"lah gue malah taunya dia pindah ke Italia ikut Oma Opanya" Gina bersuara.
"nyokapnya?" tanya Seto spontan.
"loh kalian nggak tau? Nyokapnya Kalana baru aja meninggal seminggu yang lalu. padahal ya dengar-dengar Kembarannya Kalana juga baru aja meninggal. kalo nggak salah pas kejadian di lapangan itu" Kelima sekawan itu Terkejut bukan main.
"Kalana punya kembaran?" tanya Gina ikut kaget dengan fakta itu.
"Iya, spupu gue pernah dekat gitu sama kembarannya Kalana. namanya Kalano, panggilannya Lano. mereka kecelakaan dua tahun lalu, Lano sama nyokapnya koma. kejadian itu di jakarta. Kalana itu nggak tinggal sama keluarganya sejak umur sepuluh tahun. Lana tinggal di Korea terus keluarganya disini. dengar-dengar kecelakaan itu pas mereka mau jemput Kalana di bandara karena kabur dari korea.
"kabur?"
"Iya kabur. Kalana kabur karena disana dia tinggal sama suster-suster dan pembantu serta pengawalnya gitu. katanya sih itu buat ngelindungin dia karena Kalana pernah hampir di culik sama lawan bisnisnya papanya. paham sih gue, siapa coba yang nggak pengen posisi mereka. Kalana cukup dapat posisi besar di saham keluarganya apalagi sekarang dia jadi anak tunggal. pastinya dia satu-satunya pewarin GN Grup"
"PEWARIS GN GRUP?!!!" Gina ikut syok bersama lima sekawan itu.
mereka nggak bodoh, sekolah mereka tersokong dari GN Grup. Kerajaan bisnis terkaya yang susah di jabarkan. Kalandra menciut, merasa kurang percaya diri. tetapi sedetik kemudia ingatannya kembali diwaktu kontak Dokter Gee itu menelpon Kalana
pulang sekolah Kalandra dan kawan-kawan masih duduk di parkiran dengan pikiran kosong. masih syok dengan fakta tentang Kalana.
"jadi apa yang bakal elo lakuin?" Tanya Grian diikuti tatapan penasaran Semuanya.
Kalandra diam
ting! ponselnya berbunyi
Kalana: Mau ketemu nggak? ke bandara ya"
"ke bandara sekarang" ucap Kalandra menaiki motornya cepat. semuanya mengikuti.
bandara terlihat ramai, tapi sepertinya untuk menemukan sosok cantik itu tidak sulit. Kalana berdiri anggun di keliling pria-pria berbaju hitam serta seorang wanita di sebelahnya dengan seragam yang sama.
"Lana" panggil Kalandra.
Kalana tersenyum anggun, matanya menyipit. benar-benar senyum tulus yang membuat Kalandra terpesona kesekaian kalinya. ya, Kalandra jatuh cinta dengan gadis ini.
Penampilannya bak princces melangkah mendekati. tanpa aba-aba maju memeluk Kalandra yang terdiam.
"mau dengar satu pengakuanku?" Kalandra mengangguk tanpa bicara.
"Aku suka kamu bahkan sebelum kamu bertaruh dengan teman-temanmu. ingat waktu kamu menolongku bersembunyi dari beberapa kejaran orang sepulang sekolah?" Kalandra mengingatnya, tapi tak menjawab tapi tak menjawab masih terkejut
"aku selalu anggap kamu sebagai penyelamat aku walau akhirnya aku tetap dapat hukuman di rumah" Kalana terkekeh.
"tapi aku mendapatkan moment spesial beberapa waktu lalu. walau aku tau itu taruhan, tapi aku menikmatinya. Terima kasih aku harap kita bertemu lagi nanti, kalau berjodoh" Ucap Kalana dengan senyum manisnya.
tangannya memakaikan kalung oleh Kalandra. dengan liontin berbentuk bulat tipis yang tertuliskan 'KalaCouple'
kakinya mundur teratur masih melemparkan senyumnya sebelum berbalik dengan langkah anggun diikuti ajudan keluarganya.
"aku berharap yang sama Lan" bisik Kalandra menatap kepergian gadis itu
tak akan ada yang tau perpisahan seperti apa yang akan terjadi, tapi Kalandra tidak menyesal mengenal Kalana walau dengan cara yang salah. jika bertemu lagi Kalandra berjanji akan memulainya dengar benar
Selesai....