Saat itu adalah cinta.
Ya. Awalnya kita memang saling jatuh cinta.
Saling bersikap manis satu sama lain.
Tak peduli apa kata orang ataupun bagaimana orang lain menganggap kita.
Kita... berdua... banyak melakukan hal-hal yang menurut kita membahagiakan tapi bisa jadi memuakkan bagi mereka yang melihatnya.
Kita bisa saja melontarkan celotehan gombal yang terasa menyenangkan meski itu terasa norak untuk orang lain.
Ya. Begitulah kita kala itu seakan dunia hanya milik berdua.
Hari demi hari berlalu, kita yang dulu pernah saling percaya dan meyakini, tak peduli seberapa lama dan apapun keadaannya cinta kita tak akan pernah memudar justru akan semakin tumbuh dan semakin kuat.
Namun nyatanya tanpa kita sadari seiring berjalannya waktu cinta kita semakin mengering terkikis oleh ego masing-masing.
Dahulu duduk berdua terasa menyenangkan dan selalu menjadi hal yang dinantikan. Saling bercanda, menggoda dan tertawa bersama.
Namun akhirnya kita berada dititik bertemu hanya untuk saling adu pendapat,
bertengkar dan terus salah paham. Seolah jalan yang dulu selalu kita lalui bersama telah berbeda.
Dahulu kita pernah berharap segera bertemu dan tak ingin berpisah.
Tapi lama-lama kita mulai saling enggan untuk berbicara.
Merasa paling lelah, merasa paling terluka.
Sejak kapan semua terasa salah?
Benarkah kita tak menyadari bahwa perasaan perlahan berubah?
Atau kita hanya mengabaikan segala pertanda karena tak ingin kehilangan?
Entahlah.
Semakin hari semua terasa semakin memburuk seolah tak ada lagi jalan untuk kembali.
Hari-hari yang begitu membahagikan menghilang begitu saja. Perlahan-perlahan rasa itu memudar. Perlahan kenangan-kenangan indah yang kita lukiskan bersama berubah menjadi sebuah penyesalan. Tak ada lagi tempat, tak ada lagi cara. Semakin kita berusaha untuk bersama semakin ada jarak diantara kita. Hingga akhirnya sebuah keputusan harus kita terima. Perpisahan. Seolah itulah satu-satunya cara untuk mendamaikan kita. Meski sakit kita harus memilihnya.
Aku dan kamu yang dulu pernah bersama pada akhirnya harus berpisah dan pergi ke jalan yang berbeda.
Meski tak lagi bersama dan meskipun meninggalkan luka setidaknya semua perasaan kita saat itu nyata.
Ya. Itu adalah Cinta.