Sharing ke Psikiater
By Waliya Inang Sari
Jumkat cerpen 1484
Suasana pagi komplek A nampak sepi habis dicumbu hujan lebat. Dalam rumah ibu-ibu lain sibuk memasak, mageran, makan, notbar, dan ngeyutuber tapi tidak dengan Aya. Dia menghujani kasur pernikahannya dengan airmata tak jelas.
Sudah dari sebelum hujan tadi Aya menangis, bukan menangisi tangannya yang lebam akibat sekuat hati meninju mejanya jualan depan rumah sampe hancur lebur. Entah Aya berkeinginan menjadi terusan Cris Jhon atau memang dianya lagi krisis pemikirannya.
Hal itu membuat suaminya Ustadz Ali minggat dari rumahnya. Kini Aya menangis terus-terusan, ia tak mengubris nyeri di tangan kanannya juga tak mengubris teriakan bak petir bersahutan. Teriakan kucing-kucing kampung hasil pungutan suami istri itu yang sama gak tegaan melihat kucing butuh pertolongan.
Ketika selesai menangis Aya menghapus airmatanya yang tersisa lalu ia menuju dapur, langsung Aya disambut pelukan anabulnya bahkan ada yang kesel kelamaan Aya mengurung diri di kamar sampai jari-jari kaki Aya di gigit anabul-anabul kecil.
Aya diam memasak nasi dan merebus sedikit ikan tanpa campuran apa-apa untuk sarapan anabulnya. Dan ia masak sedikit karena tak berhasrat makan. Dengan tersenyum Aya menatap anabulnya makan, ia tertawa ada yang rebutan sampai nasi tumpah dan berantem deh beberapa anabulnya. Aya tak memisah anabulnya lagi ribut karena itu kebiasaan yang sudah ia fahami.
Keributan anabulnya membuat Aya terdiam dan lagi menangis.
'Huuuuuuuu'
Terdengar suara Aya berlari ke kamarnya lagi membuat semua anabul berhenti baik makan, rebutan, atau berantem tingan tadi. Anabul membulatkan matanya dengan pandangan berfikir kenapa majikan lari gak ikut makan dan ganggu suaranya lalu anabul lanjut makan.
Di kamar Aya scrol koleksi fotonya ia lama menatap wajah foto suaminya dan mengklick pilihan delete, namun hati gak bisa bohong. Walau awal mau delete Aya gak jadi malah nangis meluk gawai bututnya.
Kemudian Aya membuka google seperti kebiasaanya akan cari info di sana baik info seputar anabulnya atau juga info-info lain yang ia rasa penting.
Aya sebelum mengetik keinginannya mencari info apa terlebih ia melihat deretan info yang dulunya ia cari.
'Info manisan pepaya'
'Info manisan asem jawa'
'Info tape ketan'
'Info menangani tulang kucing retak'
'Info makanan pilihan sederhana buat kucing bebas dari gejala cacingan'
'Info malam pertama yang baik'
'Info bahagiakan suami di ranjang'
'Info ngambek sama suami'
'Info membuktikan cinta sudah tumbuh setelah nikah dari taaruf'
Aya membaca pelan satu persatu info yang dulu ia cari dan ia nangis lagi. Ketika sampai di info bawah dan ia sudah tak mau membuka info lalu ia mengklick.
'Info cara menangani sikap tak terima dibully dan kecemasan akut'
Terserak suara Aya membacakan info yang ia ketik karena kelamaan menangis dan setelah google muter-muter sebentar alis Aya mengerut membuatnya berfikir dengan mata menatap ke jendela yang masih basah.
Aya membuka akun sosial media birunya mencari gc grub chat sesuai info dari google tadi. Menarik nafas panjang-panjang dan Aya langsung daftar dari gc tersebut. Tak berapa lama Aya diterima ia tersenyum bahagia dan mulailah jari jemarinya mengetik yang ia rasakan.
Hari mulai gelap Aya masih ngetik dan natap lama layar gawainya sampai batre gawai sekatar. Aya menangis lalu mencharge gawainya dan ia menyalakan satu persatu lampu rumahnya rumah orangtuanya yang sudah tiada, berlama Aya menatap jalanan malam hari dari atas balkon kamarnya dan ia tersentak kaget melihat rombongan tetangganya bapak-bapak pulang dari masjid seperti biasanya.
Langsung Aya mandi dan habis mandi ia mengingat perkataan suaminya soal yang harus ia kerjakan saat ini. Tapi nampak Aya kebingungan karena ia tak fokus dijelaskan suaminya karena tipe Aya saat bicara dengan suaminya ia mengagumi ketampanan suaminya sampai tak tahu suami ngomong apa.
Membuka google lagi dan Aya mencari info tentang shalat qodho. Setelah mendapat info yang cukup ia gc di apk hijaunya di gc yang sudah bertahun-tahun ia gabung yang ia buka saat lagi dalam keadaan galau saja. Aya menanyakan langsung benarkan info dari google itu dan ia minta bimbingan, tentu dibantu semua anggota gc hijrah itu membuat Aya semangat shalat qodhonya.
Habis shalat qodho dzhur, lanjut asar, lanjut magrib, kini shalat isya ia habis shalat isya baru berdoa. Kembali Aya menangis, ia bukan menangisi masalah tadi siang tapi menangis masalah membuatnya lupa Tuhan dan ia menyadari kini meski terlewat banyak waktu ia tak mau hari itu tidak shalat meski terlambat tetap ia kerjakan.
"Makasi suamiku engkau berkata qodholah Aya daripada enggak dan kini aku kerjakan." Lirih Aya masih di atas sajadah birunya yang tebal nan indah mahar dari suaminya berapa bulan lalu karena mereka masih manten baru.
Lalu habis ngaji dibantu cahaya layar gawai yang udah full karena Aya pandangannya memang minus, Aya kembali ke gc apk sosmed birunya. Ia berinteraksi dengan netizen sambil manggut-manggut sampai matanya terkantuk-kantuk.
Keesokan harinya Aya merapikan hijab sederhananya dan ia mendatangi rumah-rumah tetangga yang berseteru denganya kemarin sampai tangan Aya lebam dan ia menangis bombay sampai melupakan waktu shalat wajibnya. Ini kali pertama Aya datangi rumah tetangga selain lebaran karena Aya tertutup dan benci beribteraksi dengan orang asing tapo setelah nasihat di gc kemarin membuatnya tahu interaksi itu perlu itu buat melenyapkan keegoisan tinggi dalam diri sendiri. Aya ingin hidup lebih baik lagi, hidup tanpa keegoisan.
"Aya tahu Aya salah jika enggak salah gak mungkin Ibu Ani ngomong begitu, maafkan Aya bu Ani selalu emosi tidak bersyukur tetangga peduli mengingatkan kesalahan Aya untuk tidak diulangi." Akunya Aya habis bersalaman dengan Ani tetangganya.
"Aku sebel sama kamu Ya kemarin sampe tuh suami kamu kabur liet kamu mukul meja jualan esmu tapi sekarang kamu sadar aku juga minta maaf buat hati kamu gak enak kemarin juga tanganmu lebam gitu."
"Iya Bu si Ali malu saya sudah dewasa ditambah istrinya Ustadz tingkah begini."
"Oh suami kamu sering nasihati kamu ya?"
"Sedikit bu walau gak banyak alhamdulillah dia peduli dan tak ingin istrinya kembali berbuat salah. Kini dia sudah pergi."
"Sabar Aya dalam pernikahan pasti ada masalah tinggal kalian menyikapinya dan kamu juga berubahlah dari penampilan ya kamu berubah hanya kurangi emosimu marena sering suudzan makanya kita tetanggaan sering berantem."
"Terima kasih bu Ani."
"Sekarang kamu mau kemana Ya?"
"Ke rumah mertuaku Bu menjemput suamiku."
"Minta maaf pada suami dan ibunya karena anak luka pasti ibunya merasa apalagi kamu gak punya ibu lagi cintai mertuamu maka kamu tak sadar akan mencintai suamimu sendiri seperti saudara yang gak akan kamu sakiti lewat hal terkecil."
Brugh!
Aya memeluk Ani dan menangis mendengar kepedulian wanita yang kerab bermasalah dengannya, ya karena Aya tak terima dibully. Kini Aya pamit menuju rumah mertuanya.
Di rumah mertua Aya menatap ibu mertuanya diam bermata sinis lalu ia yakin akan ada Allah di sisinya dan dihadapannya ini ibunya ibunya ibunya bukan ibu Ali saja karena Aya di sambut jadi menantu berapa bulan lalu.
Aya bersimpuh memohon ampun pada ibunya dan menceritakan masalahnya.
"Aku enggak marah sama Abi Bu hanya bermasalah dengan tetangga tapi abi malu masa udah gede marah segitunya dan Abi gak mau kembali ke rumah." Rengek Aya.
"Iya dalam rumah tangga pasti ada masalah dan ibu sama bapak juga ada masalah tapi kalian enggak tahu 'kan karena kami sembunyikan masalah kami diam-diam dan hanya dibicarakan di tempat tidur selain itu kami tetap makan bersama seolah tak terjadi apa-apa."
Aya mengangguk dan memeluk ibu mertuanya lagi. Setelah itu Aya pamit pulang, ia menatap pintu kamar Ali yang terkunci karena Ali begitu marah padanya sampai enggan menemuinya walau sekejap.
'Bi ... maafkan aku selalu membuatmu malu karena aku hanya insan biasa tak luput dari dosa'
'Bi ... jika saat ini kamu marah silahkan jika kamu sakit hati silahkan'
'Kita manusia biasa tapi maafkan aku esok hari bi'
'Abi katakan jangan menyimpan dendam tak ingin dijauhi dari petunjuk Allah'
'Jika ini pilihan abi, aku ikhlas'
'Aku tak mungkin memaksa semua atas izin Allah'
'Aku menikah karena ibadah bukan pada nafsu belaka'
'Semoga kita bertemu di syurga suamiku'
Aya menitikkan airmata keluar dari rumah mertuanya. Sampai di rumah pun Aya melakukan aktifitasnya. Ia menyapu halaman dan baru mencuci lalu jemur pakaian. Lagi Aya mendengar ghibah tetangganya lebih heboh karena ia mendatangi rumah mereka buat minta maaf, tapi tak sedikit pun Aya marah.
Aya ingat dirinya mengalami gangguan kecemasan dari emosi dipelihara, semua dari sharring di gc psykolog dan psikiater membuatnya tahu apa yang ia rasakan dan cara menghadapinya. Tapi Aya orang biasa yang tidak sempurna seperti Rasulallah. Ia tetap mengalami berbagai rasa dengan efek kadang luka kadang tawa. Dan ia jalani sendiri tanpa suami yang ia rindukan dan ia juga anak tunggal jadi tak ada saudara bantu mengatasinya lewat media sharring dan lain-lain. Jika galau Aya menata hatinya dan tetap bersujud di atas sajadahnya juga ia tak tertutup lagi, ia berteman dengan siapa saja selama itu untuk kebaikan.
Tamat.
Cerpen buat kamu iya kamu, kamu yang alami gangguan kece.asan jangan panik selama kita punya Tuhan curhatlah padanya. Terbukalah jangan tertutup membuat ego semakin menggebu-gebu. Ide dari baca psotingan salah satu temen fb maaf ya teman dan buat kamu ayo bangkit kamu pasti bisa ada kami temanmu dan ada Allah Tuhan kita.