𝙻𝚎𝚋𝚒𝚑 𝚋𝚊𝚒𝚔 𝚍𝚒 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒 𝚍𝚊𝚛𝚒𝚙𝚊𝚍𝚊 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒, 𝚊𝚔𝚞 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒𝚖𝚞 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚔𝚞 𝚝𝚊𝚑𝚞 𝚑𝚊𝚝𝚒𝚖𝚞 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚜𝚒𝚊𝚙𝚊, 𝚔𝚎𝚋𝚎𝚛𝚜𝚊𝚖𝚊𝚊𝚗 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚓𝚊𝚕𝚒𝚗 𝚋𝚎𝚛𝚝𝚊𝚑𝚞𝚗-𝚝𝚊𝚑𝚞𝚗 𝚕𝚊𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚗 𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚋𝚊𝚛𝚞 𝚍𝚊𝚝𝚊𝚗𝚐. 𝚂𝚊𝚔𝚒𝚝 𝚛𝚊𝚜𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚋𝚊𝚐𝚊𝚒 𝚝𝚎𝚛𝚝𝚞𝚜𝚞𝚔 𝚜𝚎𝚖𝚋𝚒𝚕𝚞, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚎𝚗𝚝𝚊𝚑 𝚖𝚒𝚝𝚘𝚜 𝚊𝚙𝚊 𝚏𝚊𝚔𝚝𝚊 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚞𝚕𝚞𝚜 𝚋𝚊𝚔𝚊𝚕 𝚊𝚋𝚊𝚍𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚜𝚎𝚖𝚊𝚢𝚊𝚖 𝚍𝚒 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚍𝚊𝚍𝚊 , 𝚍𝚊𝚗 𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚑𝚒𝚕𝚊𝚗𝚐 𝚊𝚙𝚊𝚋𝚒𝚕𝚊 𝚊𝚍𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚎𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚓𝚞𝚐𝚊 𝚝𝚞𝚕𝚞𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒 𝚔𝚒𝚝𝚊.
🎶🎶𝚃𝙴𝙽𝙶... 𝚃𝙴𝙽𝙶.. 𝚃𝙴𝙽𝙶... 🎶🎶🎶
Bel istirahat telah berbunyi
" Baiklah anak-anak cukup sampai disini pembelajaran hari ini, dan jangan lupa tugas nya di kumpulkan minggu depan ".
" Baik Bu".
Setelah Bu Fauziah keluar kelas, teman sekelas juga ikut keluar untuk ke kantin.
" Er, ke kantin enggak?", tanya Melisa.
" iya tunggu sebentar", jawabku sambil mengetik pesan di HP.
" Lama amat Neng aku lapar ini loh, lagian nunggu apa lagi?".
" Erik belum balas chat aku Mel".
" ya elah kan bisa ketemu di sana Ervina"
" Iya..iya.. ya sudah ayo, tapi kok tumben ya Mel chat aku gak dibalas, nyamperin ke kelas juga enggak".
" Positif thinking saja lah Er ".
Akhirnya aku dan Melisa keluar kelas menuju ke kantin yang terletak di ujung koridor kelas 3 yang lumayan jauh dari kelas. Sesampainya di kantin kita bagi tugas Melisa memesan makanan, sedangkan aku mencari kursi kosong.
Aku mengedarkan pandangan sampai aku melihat seseorang yang tadi ku tunggu balasan chat yang aku kirim, ternyata sudah ada di kantin sedang bersenda gurau bersama teman-teman nya.
Dengan memasang wajah masam aku berjalan ke arahnya yang kebetulan ada kursi kosong yang tak jauh dari mereka.
DEG
Tak sengaja aku mendengar apa yang mereka bicarakan.
" Eh... Rik tumben kamu gak sama si Ervina", tanya Bagus
" Iya tumben.. apa karena sudah ada Intan kamu jadi melupakan Ervina? ", sahut Tomi
" Lah apa hubungannya Intan sama Ervina?", Erik balik bertanya.
" Bukan nya Ervina pacar kamu ya? ", kali ini si gandung yang bertanya.
" Enggak lah Ervina itu sahabat ku, kita berteman sudah dari SD, rumah kami dulu bersebelahan tapi pas SMP orang tua aku pindah rumah karena sebelumnya kontrak dan alhamdulillah bisa beli rumah sendiri, tapi sekolah nya kita sama-sama terus sampai sekarang, dan aku cuman mengganggap dia sahabat gak lebih. Kalau Intan lain lagi ceritanya, ibarat nya yah Intan itu cinta pada pandangan pertama", jelas Erik dengan mata berbinar.
" Awas loh Rik, kalau si Vina cinta sama kamu gimana?", tanya Tomi
" Gak mungkin lah Tom, dia juga tau kok aku jalan sama Intan dan dia senang aku sudah punya pacar", jawab Erik.
" Gak mungkin lah Rik, persahabatan itu mesti salah satunya pasti ada rasa, entah itu yang cowok apa yang cewek", sahut Gandung.
" Wahhh Kalau gitu Ervina buat aku saja ya Rik, sudah cantik, pinter lagi", jawab Bagus dengan menaik turunkan alis matanya.
" Enak saja gak rela aku Ervina dapat buaya cap kadal kayak kamu Gus", jawab Erik sambil melempar sendok.
"Sadis amat Bang, tuh sendok kalau kena jidat ya benjol lah", sewot Bagus yang berhasil menghindari sendok yang di lempar Erik.
" Hahaha "
𝙴𝚗𝚝𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚊𝚙𝚊 𝚜𝚎𝚜𝚊𝚔 𝚍𝚊𝚍𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚜𝚎𝚝𝚎𝚕𝚊𝚑 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛 𝚜𝚎𝚖𝚞𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚊𝚙𝚊 𝚒𝚗𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚍𝚒 𝚗𝚊𝚖𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚍𝚎𝚗𝚐𝚊𝚛 𝚔𝚊𝚝𝚊 "𝚜𝚊𝚑𝚊𝚋𝚊𝚝" 𝚋𝚎𝚛𝚊𝚜𝚊 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚝𝚊𝚔 𝚋𝚎𝚛𝚍𝚊𝚛𝚊𝚑. 𝚃𝚊𝚙𝚒 𝚔𝚎𝚗𝚊𝚙𝚊 𝚁𝚒𝚔, 𝚍𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚓𝚊𝚔 𝚔𝚊𝚙𝚊𝚗 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚙𝚊𝚌𝚊𝚛𝚊𝚗 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝙸𝚗𝚝𝚊𝚗? 𝚝𝚎𝚛𝚞𝚜 𝚜𝚒𝚔𝚊𝚙 𝚔𝚊𝚖𝚞 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚙𝚘𝚜𝚎𝚜𝚒𝚏 𝚔𝚎 𝚊𝚔𝚞 𝚊𝚙𝚊 𝚊𝚛𝚝𝚒𝚗𝚢𝚊 𝚁𝚒𝚔?
" Kamu gak papa Er? " tanya Melisa.
Reflek aku menoleh tak sadar Melisa sudah berdiri di sampingku dan aku lihat gak ada makanan di tangannya.
" Gak papa kok Mel, aku balik kelas ya kok mendadak kenyang aku Mel, " jawab ku sambil memaksakan tersenyum.
Aku tinggal kan Melisa sendirian di kantin, dan entah mengapa kaki ini berjalan menuju taman belakang sekolah, aku duduk di bawah pohon tak terasa air mata sudah membasahi pipi.
.•♫•♬•Dino POV•♬•♫•.
Seperti biasa aku duduk di pojokan kantin sendiri sambil makan Bakso, yang entah kenapa menjadi makanan favorit ku sejak aku lihat gadis yang membuat ku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ya dia adalah Ervina anak kelas 2 IPA 1. Tak sengaja aku menabrak dia waktu aku mau terlambat masuk kelas, karena kelas 3 masuk lebih awal untuk mendapatkan tambahan pelajaran untuk menghadapi ujian nanti. Sebenarnya ada banyak yang naksir aku semua aku tolak secara halus dan entah mengapa Ervina itu berbeda, tak hanya cantik dan pintar tapi juga sederhana gak memandang teman, humble dan baik hati.
Tapi yang buat aku tak berani mendekat karena dia selalu bersama Erik yang notabene ketua OSIS sekarang. Bukan aku tak mau memperjuangkan cinta tapi aku tak mau merusak hubungan seseorang karena aku tau bagaimana rasanya kalau hubungan itu kandas seperti orang tuaku yang bercerai karena perselingkuhan.
Gadis yang aku tunggu akhirnya datang bersama teman nya, kulihat dia menuju ke arah Erik yang berada di depan ku. Dan demi apapun aku kaget mendengar apa yang mereka bicarakan, antara senang, kecewa dan marah.
Dia berhenti, aku rasa dia juga mendengar apa yang mereka bicarakan, ku amati perubahan wajahnya. Dan aku lihat dia pergi meninggalkan kantin setelah ijin ke teman nya. Tanpa pikir panjang aku berdiri dan mengikuti kemanapun dia pergi dan disinilah aku, di taman belakang sekolah melihat dia menangis. Ku langkahkan kaki dan duduk di sebelah nya.
" Butuh bahu buat bersandar? ", kataku
Dia mengangguk langsung saja ku rengkuh bahunya, ku tenggelam kan wajahnya di dadaku dan kubiarkan dia menangis, kupeluk dia sambil mengelus rambut dan punggung nya untuk menenangkannya.
.•♫•♬•Melisa POV•♬•♫•.
Aku dan Ervina masuk kantin dan seperti biasa kita bagi tugas aku pesan makanan dia cari bangku kosong, dan aku sudah tau makan favorit nya apa langsung saja aku menuju stand bakso dan ku lihat antrian ya gak seberapa hanya 3 anak yang antri.
Sambil menunggu antrian ku sapu pandangan sampai pada sosok yang berdiri mematung yang dekat dengan bangku Erik dan kawan-kawan.Ku amati gerak -geriknya, ada apa dengan Ervina? tanya ku dalam hati.
Aku keluar dari antrian menuju Ervina yang masih berdiri, sayup-sayup aku mendengar percakapan mereka, dan ketika sampai di sebelah Ervina jelaslah apa yang sedang mereka bicarakan.
Apa ini, tak aku sangka ternyata Erik menganggap Vina hanya sebatas sahabat padahal semua tau dimana ada Erik di situ ada Vina dan tak hanya satu kelas bahkan 1 sekolah tau. Aku menoleh ke arah Vina dan aku lihat matanya sudah berkaca-kaca tinggal menunggu waktu untuk keluar.
" Kamu gak papa Er? ", tanyaku.
" Gak papa kok Mel, aku ke kelas dulu ya Mel kok mendadak kenyang ", jawab nya.
Belum sempat aku menjawab dia sudah pergi meninggalkan aku sendiri.
" Er... Ervina ", panggil ku sambil sedikit berteriak.
Belum sempat aku menyusul Vina, ku mendengar namaku di panggil.
" Eh ada Melisa, yayang Vina mana? ", Bagus bersuara.
" Kampret jangan manggil sayang ke Er, Gus", protes Erik.
" Selow Rik, kan katanya cuman sahabat boleh dong kita-kita deketin Vina, asli Rik semua cowok di sini yang mau deketin Vina pada takut sama kamu dan sekarang setelah pengakuan kamu boleh dong kita pdkt sama yayang Vina, iya gak... iya gak?", lanjut Bagus.
" Benerrrr"
" Sampai kapanpun enggak akan aku biarkan Ervina dekat sama siapapun", kata Erik.
Plak
" Kurang ajar kamu Rik, kalau kamu memang sudah memiliki pacar lepaskan Ervina, jangan egois kamu Rik, dan asal kamu tau ya Rik, kamu itu segalanya bagi Vina dan kamu bakal menyesal nantinya", kataku sambil menahan amarah.
setelah ku lampiaskan amarahku, aku langsung kembali mencari keberadaan Vina, di kelas gak ada, UKS gak ada, toilet gak ada, kemana kamu Vin jangan bikin aku cemas. Batinku sambil berpikir kemana lagi aku harus mencari. Ahhh iya taman belakang sekolah.
Aku berlari sepanjang Koridor kelas 1, aku ingin berada di sampingnya, aku ingin menenangkan nya karena aku tahu bagaimana sifat Vina dia kuat di luar padahal dia rapuh di dalam. Sesampainya di sana aku melihat Vina di peluk oleh seorang laki-laki yang aku gak tau siapa dia.
Dengan emosi yang masih on fire ku datangi mereka, setelah sampai di tempat...
" Apa yang kamu la.. ku.. kan", belum selesai aku berkata ku lihat Vina sedang tertidur.
◦•●◉✿Author POV ( heleh author segala 😒)✿◉●•◦
" Shuuutt... Vina tidur, boleh aku gendong buat di bawa ke UKS biar dia tidur di sana, " kataku.
" Boleh Kak".
Akhirnya aku bopong Vina menuju ruang UKS, dalam perjalan sesekali aku lihat wajahnya, cantik... batin ku dan setelah apa yg aku lihat tadi ku mantapkan untuk memperjuangkan seorang Ervina.
Setelah kejadian itu hubunganku sama Erik mulai renggang, Erik yang biasanya selalu menomor satukan aku mendadak hilang entah kemana.
Seperti hari ini, tak sengaja ku lihat dia sedang menunggu Intan selesai kegiatan klub, ingin sekali aku menghampiri hanya untuk menanyakan kabar, karena semua akunku di blok sama Erik.
Hingga suatu hari...
kring... kring.. kring
" Ya hallo Tom,"
" Hallo Vin minta tolong ijinkan ke wali kelas kita ya, Erik kecelakaan ", jawab Tomi.
" Sekarang Erik di bawa ke mana?".
" Di RS XYZ Vin, sudah ya makasih banyak Vin",
Ku masukan HP ke dalam tas dan berlari keluar menuju ruang Guru, belum sampai ke ruang Guru...
" Hei.. hei..Vin.. Vina ada apa? kok nangis? ", kak Dino bertanya.
" Kak... Erik Kak... Erik kecelakaan kak, ini aku mau ijin ke wali kelas Erik dan wali kelas ku Kak, aku mau ke sana, antar aku ya Kak?", kataku panjang lebar sambil terus menangis.
" Apa.. Erik kecelakaan dan kamu mau ke sana? setelah apa yang dia lakukan ke kamu? dan kamu janji apa ke aku hahh? jangan kayak gitu Vin".
" Aku mohon Kak untuk yang terakhir kali ini Kak, meski sakit akhirnya tapi aku pernah merasakan manis sama dia Kak, ya Kak antar aku ya kak", kataku sambil meremas tangan nya.
" Ya sudah ayo, kita ijin sama-sama ",
" Terimakasih banyak Kak ", sahutku dan tanpa sadar ku tarik tangan ya.
Sesampainya di Rumah sakit aku langsung lari menuju UGD dan kulihat Tomi, Gandung dan Bagas berada di ruang tunggu. Dan Tomi menceritakan kronologi kecelakaan, belum selesai Tomi bercerita..
" Keluarga pasien atas nama Erik".
" kami temannya Dok".
" Begini, kita kekurangan stok darah mungkin salah satu dari kalian bisa mengusahakan nya?".
" Ambil darah ku saja Dok, golongan darah kami sama", sahutku mantap.
semua mata menatap ku, tak terkecuali Kak Dino
" Vin"
" Aku gak papa Kak, untuk terakhir kalinya biarkan aku menolong orang yang aku cintai ", jawabku sambil tersenyum menenangkan Kak Dino.
Aku masuk ke ruangan dimana Erik berada, sambil berbaring aku menangis tak kuasa melihat orang yang aku cinta menderita, mungkin ini yang terakhir aku melihatmu, semoga bahagia dengan pilihanmu.
Rela tak rela aku harus undur diri dari kehidupan mu, terima kasih atas semua rasa nyaman yang kamu berikan, ke posesifan dirimu dan semua rasa yang telah kamu hadirkan di hatiku.
Selamat tinggal kenangan yang tak bisa kulupakan meski saat ini aku pergi jauh meninggalkan dirimu, meninggalkan kota bahkan negara tercinta, kamu masih ada di hatiku yang paling dalam.