Ketika perang meletus. Para perwira disuruh untuk pergi berperang ke daerah konflik. Lelaki bernama Jinja adalah salah seorang dari sekian banyaknya perwira yang dipanggil. Berpamitan dengan sang kekasih yaitu Leva. Mencium tangan dan mengucapkan salam perpisahan, membuat suasana tampak penuh haru.
"Aku akan pergi. Jaga rumah ini baik-baik ya." kata Jinja pada wanita yang ada di depan matanya.
"Iya. Kamu juga jaga dirimu. Kembalilah secepat mungkin. Aku akan menunggumu disini."
pesan Leva sambil memegang perutnya yang sudah membesar.
"Ya. Aku akan segera kembali."
Jinja mengelus perut dari Leva dan mencium kening dari perempuan yang merupakan istrinya.
Lambaian tangan Jinja, dibalas pula dengan hal yang sama oleh Leva. Kini mereka sudah berpisah untuk beberapa waktu kedepan.
Hari demi hari. Hingga menembus pergantian bulan. Leva terus menunggu sang suami. Menatap dari balik jendela, ia terus berharap akan keselamatan suaminya tersebut. Sampai Leva melahirkan anak pertamanya.
Beberapa waktu sudah berlalu. Leva tengah duduk di depan rumah sembari menggendong anaknya. Hari begitu cerah dengan suasana sepi.
"Cuaca sangat berbanding terbalik dengan suasana yang ada saat ini. Sangat aneh." gumam Leva.
Tidak lama berselang, seseorang datang menghampiri kediaman Leva.
"Apakah masih menunggu seseorang?" tanya orang yang datang menghampiri.
"Eh?" Leva memandang dan seketika ingat.
"Jinja!" saut Leva pada orang yang merupakan suaminya tersebut.
"Leva. Aku sudah kembali."
Jinja memeluk Leva serta anak semata wayangnya. Kebahagian menyelimuti mereka berdua. Dan Jinja merasa senang bahwa mereka sudah dikaruniai seorang anak. Begitu pula Leva yang sangat senang dengan kehadiran Jinja sekarang ini.
"Wajahnya mirip seperti ibunya. Ku harap kau bisa menjadi lelaki kuat nak." kata Jinja pada anaknya itu.
Leva tersenyum melihat interaksi antara ayah dan anak tersebut. Setelah itu, Leva mengajak suaminya masuk ke dalam rumah untuk menyantap hidangan yang telah dibuatnya hari ini.
-----SELESAI-----