(Disarankan terlebih dahulu membaca PART 1)
07 Agustus 2016
:
:
:
:
:
"Iya Sayang."
:::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
"Saya terima nikah dan kawinnya Dara Eline Meisie binti Abu Hakim Meisie dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan tiga puluh gram perhiasan emas dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi. Sah?"
"SAH!"
Hari itu kini tiba, mulai detik ini aku bukan lagi seorang gadis yang bisa berhura-hura riya. Sekarang aku sudah menjadi istri dari dosenku, bertanda waktunya aku menjadi lebih dewasa. Dan siap untuk menjalankan kewajibkanku sebagai seorang istri.
Setelah sesi berdoa, bersambung dengan saling menukar cincin atau memasangkannya kepada pasangan. Pertama Pak Fairel memasangkan cincinnya kejariku, dengan senyuman yang memancar dari wajahnya yang ceria. Dengan lembut dia berhasil memasangkan cicin emas bertulisan D&F dijari manisku.
Setelahnya aku memasangkan cincin yang juga serupa kejari manis suamiku. Dengan wajah yang ingin tersenyum disertai dengan sedikit gelisah, aku berhasil memasangkan cincin itu kejari manisnya.
Dia menjulurkan tangannya, dengan ikhlas aku mencium tangan itu. Mulai sekarang, aku akan menjadi istri orang, seluruh baktiku hanya untuk suamiku.
Setelahnya dia meletakkan kedua tangannya diatas bahuku, sekarang dia mendekatkan dirinya padaku. Entah apa yang akan dia lakukan, aku hanya memejamkan mata.
Cup
Kecupan manis itu mendarat didahiku. "Saya tahu kalimat ini sedikit basi. Tapi, I Love You my wife."
Getaran apakah ini? Rasanya ini sangat asing.
"Wajah kamu sudah memerah karena saya." Ucap pak Fairel yang berada disampingku, kami sedang sesi pemotretan dengan menampaikan cincin kawin serta buku nikah yang sudah kita tandatangani.
Aku hanya diam tak bergerik, bibirku terasa kelu saat ingin membalas ucapannya.
Kata orang menjadi pengantin bagaikan menjadi putri dalam semalam, aku rasa itu memang benar.
Lihatlah pakaianku sekarang. Setelah selesai melaksanakan akad nikah, aku berganti pakaian seperti putri dari sebuah kerajaan didongeng. Dengan gaun panjang yang melebar dibagian bawahnya, serta berlian yang mengihasi seluruh permukaan baju, ditambah mahkota yang menghiasi rambutku yang digerai bebas.
Begitu pula dengan pak Fairel yang memakai Tuxedo yang berwarna Silver, serupa dengan warna gaun yang aku kenakan sekarang.
Pak Fairel dan aku kini duduk bersebelahan diatas singgasana. Resepsi pernikahan ini dilaksakan dihotel, setelah melaksanakan akad dimasjid kami langsung berganti baju dan menuju hotel tempat resepsi.
Dekorasinya pun juga menyamakan dengan warna silver, serta ditambah bunga-bungaan palsu yang berwarna lembut yang mengantung diatas langit-langit.
Aku memperhatikan orang-orang yang sedang memilih menu makanan yang sudah sediakan secara plasmanan, dan melihat anak-anak kecil yang lari keriangan karena keindahan ruangan pernikahan kita, aku sempat ingin tertawa melihat ada anak kecil yang ingin terjatuh tapi gagal karena keseimbangannya yang bagus.
"Mereka menggemaskan, bukan? Saya jadi tidak sabar ingin memiliki anak," Bisik pak Fairel, hal itu membuatku terkejut.
Aku perlahan menoleh kearah pak Fairel, "Bapak pengen punya anak? Sama saya?" Tanyaku yang disertai jantung yang berdetak cepat.
Pak Fairel menyerngitkan dahinya, "Pertama-tama, kamu tadi memanggil saya tadi apa? Bapak? Saya bukan bapak kamu. Sekarang saya adalah suami kamu, jadi kamu harus manggil saya 'Mas'. Coba sekarang kamu panggil saya 'Mas',"
"Mas Fairel?" Panggilku mengikuti perintah Mas Fairel.
"Iya sayang," Sahutnya yang membuatku blushing, dan menundukkan kepala karena malu.
"Yang kedua. Saya cuman mau bikin anak sama kamu, bukan sama yang lain." Sambung Mas Fairel yang membuatku tambah blushing.
~TBC